Rekrutmen Pegawai BLUD RSUD Dr. Soetomo Formasi Operator Layanan Operasional menjadi peluang bagi pelamar yang ingin bekerja di lingkungan pelayanan rumah sakit. Posisi ini menuntut ketelitian, kemampuan administrasi, komunikasi, pelayanan, serta kesiapan menangani berbagai kebutuhan operasional secara cepat dan tepat.
Melalui artikel Soal Rekrutmen Pegawai BLUD RSUD Dr. Soetomo Operator Layanan Operasional + Materi Lengkap, Anda dapat mempelajari materi yang relevan sekaligus berlatih mengerjakan soal untuk meningkatkan kemampuan analisis, ketelitian, dan kesiapan menghadapi seleksi.
Daftar Isi
ToggleMengenal Rekrutmen Operator Layanan Operasional (Pemulasara Jenazah) RSUD Dr. Soetomo
Rekrutmen Pegawai BLUD RSUD Dr. Soetomo Formasi Operator Layanan Operasional (Pemulasara Jenazah) merupakan proses seleksi untuk menjaring tenaga yang mampu mendukung pelayanan pemulasaraan jenazah secara profesional, aman, tertib, dan sesuai prosedur rumah sakit. Posisi ini membutuhkan ketelitian, kedisiplinan, kemampuan bekerja sesuai SOP, serta kesiapan menghadapi kondisi kerja yang menuntut tanggung jawab tinggi.
Peserta perlu memahami dasar pemulasaraan jenazah, penggunaan alat pelindung diri, pencegahan dan pengendalian infeksi, pengelolaan ruang jenazah, identifikasi jenazah, administrasi, komunikasi dengan keluarga, etika pelayanan, serta keselamatan dan kesehatan kerja. Kemampuan tersebut penting agar pelayanan dapat dilakukan dengan tetap menjaga martabat jenazah, keamanan petugas, dan ketertiban proses operasional rumah sakit.
Materi Seleksi Operator Layanan Operasional (Pemulasara Jenazah) RSUD Dr. Soetomo
Materi seleksi untuk formasi Operator Layanan Operasional (Pemulasara Jenazah) dapat mencakup pengetahuan dasar pemulasaraan, pencegahan infeksi, K3, administrasi jenazah, komunikasi dengan keluarga, serta kemampuan bekerja sesuai SOP rumah sakit. Pelayanan forensik dan pemulasaraan jenazah sendiri merupakan bagian dari layanan rumah sakit. Materi yang perlu dipersiapkan meliputi:
- Konsep Dasar Pemulasaraan Jenazah
Pengertian pemulasaraan, tujuan, tahapan penanganan jenazah, penghormatan terhadap martabat jenazah, serta peran petugas kamar jenazah. - Identifikasi Jenazah
Verifikasi identitas, pencocokan gelang identitas dan dokumen, pemberian label, pencatatan data, serta pencegahan tertukarnya jenazah. - Penerimaan dan Serah Terima Jenazah
Prosedur penerimaan dari ruang perawatan atau IGD, pengecekan dokumen, kondisi jenazah, barang pribadi, serta serah terima kepada keluarga atau pihak berwenang. - Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
Kewaspadaan standar, kebersihan tangan, penggunaan APD, pencegahan kontak dengan darah dan cairan tubuh, dekontaminasi alat, serta desinfeksi lingkungan. Kementerian Kesehatan juga menempatkan PPI sebagai salah satu kompetensi utama dalam pelatihan pemulasaraan jenazah penyakit infeksi emerging. - Penggunaan Alat Pelindung Diri
Pemilihan sarung tangan, masker, pelindung mata atau wajah, apron atau gaun pelindung, serta teknik memakai dan melepas APD dengan benar sesuai tingkat risiko. - Penanganan Jenazah dengan Penyakit Menular
Prinsip pengamanan hayati, penggunaan kantong jenazah, pencegahan kebocoran cairan tubuh, pembatasan manipulasi jenazah, serta desinfeksi lingkungan setelah tindakan. - Penanganan Cairan Tubuh Jenazah
Pencegahan paparan darah dan cairan tubuh, penutupan luka atau akses invasif, penanganan kebocoran, serta penggunaan bahan dan alat yang sesuai prosedur. - Penggunaan Kantong Jenazah
Pemilihan kantong kedap cairan, pemasangan yang benar, pengecekan kebocoran, pelabelan, serta prosedur pemindahan jenazah yang aman. - Pemindahan dan Transportasi Jenazah
Teknik pemindahan dari tempat tidur ke troli, penggunaan alat bantu, ergonomi petugas, pencegahan cedera, serta penggunaan kendaraan jenazah sesuai kebutuhan. - Pengelolaan Ruang Pemulasaraan Jenazah
Kebersihan ruangan, pemisahan area bersih dan kotor, penyimpanan peralatan, sistem limbah, pengendalian kontaminasi, dan kesiapan fasilitas. - Dekontaminasi dan Desinfeksi
Pembersihan troli, meja, alat kerja, permukaan, serta area yang terkontaminasi setelah pemulasaraan. Pedoman Kemenkes menekankan bahwa lingkungan dan alat yang berkontak dengan jenazah perlu didekontaminasi sesuai risiko. - Pengelolaan Limbah Infeksius
Pemilahan limbah medis, limbah tajam, APD bekas, bahan yang terkontaminasi cairan tubuh, serta pembuangan limbah sesuai kategori dan prosedur rumah sakit. - Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Identifikasi risiko biologis, kimia, ergonomi, benda tajam, terpeleset, serta paparan cairan tubuh. Petugas perlu memahami tindakan ketika mengalami pajanan atau kecelakaan kerja. - Ergonomi dan Pemindahan Beban
Teknik mengangkat dan memindahkan jenazah dengan aman untuk mencegah cedera punggung atau muskuloskeletal, termasuk penggunaan alat bantu dan kerja tim. - Administrasi Pemulasaraan Jenazah
Pencatatan identitas, waktu masuk dan keluar, asal ruangan, tujuan penyerahan, dokumen kematian, barang pribadi, serta dokumentasi proses serah terima. - Pengelolaan Barang Pribadi Jenazah
Inventarisasi, pencatatan, penyimpanan sementara, serta penyerahan barang kepada pihak yang berhak dengan bukti serah terima. - Etika Pelayanan Jenazah
Menjaga martabat jenazah, privasi, kerahasiaan informasi, sikap hormat, tidak melakukan tindakan yang tidak perlu, serta menjaga profesionalisme dalam seluruh proses. - Komunikasi dengan Keluarga
Menyampaikan informasi dengan sopan dan empatik, menjelaskan prosedur, menangani keluarga yang sedang berduka, serta menghindari komunikasi yang dapat memperburuk kondisi emosional. - Penghormatan terhadap Agama dan Budaya
Pelayanan sebisa mungkin mempertimbangkan keyakinan, adat, dan kebutuhan keluarga selama tidak bertentangan dengan keselamatan dan ketentuan PPI. Prinsip penghormatan terhadap praktik budaya dan keagamaan juga ditekankan dalam pedoman penanganan jenazah berisiko infeksi. - Penanganan Jenazah Forensik
Pemahaman dasar mengenai jenazah yang berkaitan dengan kepentingan hukum, pentingnya menjaga kondisi barang bukti, larangan melakukan tindakan yang dapat mengubah temuan, serta koordinasi dengan petugas berwenang. - Penanganan Jenazah Tidak Dikenal
Identifikasi, pemberian kode, dokumentasi, penyimpanan, dan koordinasi dengan pihak terkait agar tidak terjadi kesalahan identitas. - Kesiapsiagaan Kejadian Korban Massal
Penataan jenazah, identifikasi, pelabelan, dokumentasi, penyimpanan sementara, serta koordinasi tim ketika jumlah jenazah meningkat dalam waktu singkat. - Keselamatan Psikologis Petugas
Petugas pemulasaraan dapat terpapar situasi yang secara emosional berat. WHO menekankan perlunya dukungan bagi pekerja yang menangani jenazah karena pekerjaan tersebut dapat menimbulkan dampak psikologis. - SOP dan Kepatuhan Kerja
Kemampuan mengikuti instruksi, checklist, alur pelayanan, pelaporan insiden, serta tidak mengambil tindakan di luar prosedur yang telah ditetapkan. - Problem Solving Operasional
Penanganan kondisi seperti identitas tidak sesuai, kantong jenazah rusak, cairan tubuh bocor, dokumen belum lengkap, keluarga menolak prosedur tertentu, atau terjadi paparan pada petugas. - Pelayanan dan Profesionalisme
Disiplin, tanggung jawab, ketelitian, kerja sama tim, kerahasiaan, integritas, kesiapan bekerja dalam kondisi tidak nyaman, serta kemampuan menjaga sikap profesional.
Kisi-Kisi Seleksi Operator Layanan Operasional (Pemulasara Jenazah) RSUD Dr. Soetomo
Kisi-kisi seleksi untuk formasi Operator Layanan Operasional (Pemulasara Jenazah) dapat difokuskan pada kemampuan teknis pemulasaraan, keselamatan kerja, pencegahan infeksi, identifikasi jenazah, administrasi, komunikasi keluarga, serta penanganan situasi operasional di kamar jenazah.
Kementerian Kesehatan melalui kurikulum Pelatihan Pemulasaran Jenazah Penyakit Infeksi Emerging bagi Petugas Kesehatan di Rumah Sakit menetapkan enam kompetensi utama, yaitu memahami konsep dasar, melakukan manajemen pemulasaraan, menerapkan PPI, melakukan tata laksana pemulasaraan, memberikan edukasi kepada keluarga, serta melakukan monitoring dan evaluasi.
| Kisi-Kisi | Materi yang Perlu Dikuasai |
| Konsep Pemulasaraan Jenazah | Tujuan, prinsip penghormatan, tahapan pelayanan, keamanan petugas, serta perlakuan bermartabat terhadap jenazah. |
| Alur Penerimaan Jenazah | Serah terima dari IGD atau ruang rawat, verifikasi dokumen, identitas, waktu penerimaan, kondisi jenazah, dan pencatatan. |
| Identifikasi Jenazah | Gelang identitas, label, pencocokan nama dan data, nomor registrasi, dokumen pendukung, serta pencegahan salah identifikasi. |
| Pelabelan Jenazah | Ketepatan informasi, posisi label, keterbacaan, konsistensi dengan dokumen, dan verifikasi sebelum penyimpanan atau penyerahan. |
| PPI Dasar | Kewaspadaan standar, kebersihan tangan, APD, teknik aman saat kontak dengan darah dan cairan tubuh, serta pencegahan kontaminasi silang. |
| Pemilihan APD | Sarung tangan, masker, pelindung wajah atau mata, apron atau gaun pelindung, serta penyesuaian APD berdasarkan risiko. |
| Donning dan Doffing APD | Prinsip memakai dan melepas APD tanpa mencemari diri, lingkungan, maupun petugas lain. |
| Jenazah Infeksius | Prinsip pengamanan hayati, pembatasan manipulasi, penggunaan kantong jenazah, perlindungan petugas, dan desinfeksi lingkungan. |
| Paparan Darah dan Cairan Tubuh | Penanganan tumpahan, pajanan mukosa, luka tusuk, pelaporan insiden, dan tindak lanjut sesuai SOP. |
| Kantong Jenazah | Indikasi penggunaan, pemeriksaan kebocoran, penutupan, pelabelan, serta pemindahan secara aman. |
| Pemindahan Jenazah | Teknik transfer dari tempat tidur ke troli atau meja pemulasaraan, penggunaan alat bantu, kerja tim, dan pencegahan jatuh. |
| Ergonomi Kerja | Posisi tubuh saat mengangkat, mendorong, atau memindahkan beban serta pencegahan cedera muskuloskeletal. |
| Penanganan Luka dan Alat Invasif | Pengamanan area luka, cairan tubuh, kateter, infus atau alat medis lain sesuai SOP sebelum pemulasaraan. |
| Dekontaminasi | Pembersihan dan desinfeksi troli, meja, alat, permukaan, serta area yang terpapar cairan tubuh. |
| Pengelolaan Limbah | Limbah infeksius, APD bekas, benda tajam, bahan terkontaminasi, pemilahan, wadah, dan alur pembuangan. |
| K3 Kamar Jenazah | Risiko biologis, kimia, ergonomi, benda tajam, lantai licin, alat listrik, dan penggunaan APD sesuai bahaya. |
| Pengelolaan Ruang Jenazah | Area bersih dan kotor, kebersihan, ventilasi, penyimpanan alat, akses terbatas, dan kesiapan sarana. |
| Penyimpanan Jenazah | Penempatan jenazah sesuai identitas, pencatatan lokasi, pengendalian akses, dan pencegahan tertukar. |
| Serah Terima kepada Keluarga | Verifikasi identitas, dokumen, pihak penerima, pencatatan waktu, dan bukti serah terima. |
| Barang Pribadi Jenazah | Inventarisasi, pencatatan, pengamanan, penyimpanan, dan penyerahan kepada pihak yang berhak. |
| Administrasi Kematian | Pencatatan data, waktu masuk-keluar, asal unit, tujuan penyerahan, dan kelengkapan dokumen. |
| Kerahasiaan Data | Menjaga informasi medis, identitas, dokumentasi, serta pembatasan akses kepada pihak yang tidak berwenang. |
| Etika Pemulasaraan | Menghormati martabat jenazah, menjaga privasi, tidak memperlakukan jenazah secara tidak pantas, dan profesionalisme petugas. |
| Komunikasi Keluarga | Empati, penyampaian prosedur, penanganan keluarga berduka, komunikasi risiko, dan pengelolaan keberatan. |
| Agama dan Budaya | Menghormati ritual dan kepercayaan sejauh tidak bertentangan dengan keselamatan dan ketentuan PPI. |
| Komunikasi Risiko Infeksi | Menjelaskan alasan pembatasan prosedur atau kontak kepada keluarga dengan bahasa yang jelas dan tidak menimbulkan stigma. |
| Jenazah Forensik | Menjaga kondisi jenazah, barang bukti, identifikasi, dokumentasi, dan koordinasi dengan pihak berwenang. |
| Jenazah Tidak Dikenal | Pemberian kode, dokumentasi, identifikasi, penyimpanan terpisah jika diperlukan, dan koordinasi lintas pihak. |
| Korban Massal | Pelabelan, identifikasi, pencatatan, penyimpanan sementara, penataan ruang, serta koordinasi ketika jumlah jenazah meningkat. |
| Monitoring dan Evaluasi | Penggunaan checklist, pemeriksaan kepatuhan SOP, pencatatan insiden, evaluasi proses, dan perbaikan pelayanan. |
| Problem Solving Operasional | Identitas tidak sesuai, kantong bocor, dokumen kurang, APD rusak, alat tidak tersedia, atau gangguan fasilitas. |
| Situational Judgment | Menentukan respons paling aman saat keluarga menolak prosedur, terjadi tekanan kerja, atau ditemukan pelanggaran SOP. |
| Kerja Sama Tim | Koordinasi dengan perawat, dokter, petugas PPI, forensik, keamanan, sopir ambulans jenazah, dan petugas administrasi. |
| Integritas dan Profesionalisme | Disiplin, ketelitian, tanggung jawab, kepatuhan SOP, menjaga rahasia, serta tidak menyalahgunakan akses terhadap jenazah atau barang pribadi. |
Contoh Soal Seleksi Operator Layanan Operasional (Pemulasara Jenazah) RSUD Dr. Soetomo
Contoh soal berikut disusun dalam bentuk pilihan ganda A–E dengan pendekatan HOTS. Soal menekankan kemampuan peserta dalam menerapkan SOP, menjaga identitas jenazah, mencegah infeksi, menerapkan K3, berkomunikasi dengan keluarga, serta mengambil keputusan pada situasi operasional.
Soal 1
Saat jenazah diterima dari ruang rawat, petugas menemukan nama pada label tidak sesuai dengan gelang identitas. Dokumen pengantar juga menunjukkan nama yang berbeda. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Mengikuti nama yang tertulis pada dokumen pengantar
B. Mengganti label berdasarkan informasi keluarga
C. Menghentikan proses sementara dan melakukan verifikasi identitas dengan unit pengirim
D. Menempatkan jenazah di ruang penyimpanan lalu memeriksa kemudian
E. Memilih identitas yang paling sering muncul
Jawaban: C
Pembahasan:
Ketidaksesuaian identitas merupakan risiko serius. Proses harus dihentikan sementara sampai identitas dapat dipastikan melalui verifikasi dengan unit terkait dan dokumen yang sah.
Soal 2
Ketika memindahkan jenazah, kantong jenazah mengalami kebocoran cairan tubuh. Langkah pertama yang paling tepat adalah ….
A. Melanjutkan pemindahan agar pekerjaan cepat selesai
B. Mengamankan area, menggunakan APD sesuai risiko, dan menangani kebocoran mengikuti SOP
C. Menutup kebocoran dengan kain biasa
D. Meminta keluarga membersihkan area
E. Menaruh jenazah di lantai
Jawaban: B
Pembahasan:
Kebocoran cairan tubuh berpotensi menimbulkan paparan biologis. Area harus diamankan, petugas menggunakan APD, kemudian dilakukan penanganan dan dekontaminasi sesuai prosedur.
Soal 3
Seorang petugas tertusuk benda tajam yang sebelumnya digunakan pada pasien sebelum meninggal. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Mengabaikan jika luka kecil
B. Menutup luka tanpa melapor
C. Melakukan pertolongan awal pajanan dan segera melaporkan insiden sesuai prosedur
D. Menunggu hingga muncul gejala
E. Mengonsumsi antibiotik sendiri
Jawaban: C
Pembahasan:
Pajanan benda tajam harus segera ditangani dan dilaporkan agar dapat dilakukan penilaian risiko serta tindak lanjut sesuai protokol pajanan kerja.
Soal 4
Keluarga meminta membuka kembali kantong jenazah berisiko infeksi untuk melakukan ritual tertentu. Petugas menilai tindakan tersebut dapat meningkatkan risiko pajanan. Respons yang paling tepat adalah ….
A. Menolak tanpa penjelasan
B. Mengizinkan semua permintaan keluarga
C. Menjelaskan risiko secara empatik dan menawarkan alternatif yang tetap menghormati keyakinan tanpa mengabaikan keselamatan
D. Meminta keluarga mengambil keputusan sendiri
E. Menghentikan komunikasi dengan keluarga
Jawaban: C
Pembahasan:
Pelayanan harus menghormati nilai budaya dan agama, tetapi keselamatan tetap menjadi prioritas. Komunikasi empatik dan alternatif yang aman merupakan pendekatan terbaik.
Soal 5
Dua jenazah memiliki nama depan yang sama dan berasal dari unit yang berbeda. Salah satunya akan diserahkan kepada keluarga. Langkah paling aman adalah ….
A. Mengandalkan nama depan
B. Menggunakan nomor tempat penyimpanan saja
C. Melakukan verifikasi menggunakan beberapa identitas dan dokumen sebelum serah terima
D. Meminta keluarga memilih sendiri
E. Menyerahkan berdasarkan urutan kedatangan
Jawaban: C
Pembahasan:
Identifikasi tidak boleh menggunakan satu data saja. Verifikasi berlapis diperlukan untuk mencegah salah penyerahan.
Soal 6
Petugas akan memindahkan jenazah dengan berat badan tinggi dari tempat tidur ke troli. Tindakan yang paling tepat adalah ….
A. Memindahkan sendiri agar lebih cepat
B. Meminta bantuan petugas lain dan menggunakan alat bantu dengan teknik ergonomis
C. Menarik jenazah dari bagian lengan
D. Mengangkat menggunakan kekuatan punggung
E. Memindahkan tanpa mengunci roda troli
Jawaban: B
Pembahasan:
Pemindahan beban berat harus memperhatikan ergonomi, jumlah petugas, dan penggunaan alat bantu untuk mencegah cedera petugas maupun insiden jatuh.
Soal 7
Setelah proses pemulasaraan, ditemukan cairan tubuh pada meja kerja. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Membiarkannya mengering
B. Menutup meja dengan kain
C. Membersihkan dan mendesinfeksi permukaan sesuai prosedur serta jenis kontaminasi
D. Menunggu petugas kebersihan tanpa mengamankan area
E. Menggunakan meja untuk jenazah berikutnya terlebih dahulu
Jawaban: C
Pembahasan:
Permukaan yang terkontaminasi harus segera didekontaminasi agar tidak menjadi sumber paparan atau kontaminasi silang.
Soal 8
Barang pribadi jenazah berupa perhiasan ditemukan saat proses pemulasaraan. Langkah paling tepat adalah ….
A. Menyimpannya di loker pribadi petugas
B. Memberikan langsung kepada anggota keluarga yang pertama datang
C. Mencatat, mengamankan, dan menyerahkan melalui prosedur serah terima resmi
D. Membiarkannya melekat pada jenazah tanpa dokumentasi
E. Menyerahkan kepada petugas keamanan tanpa catatan
Jawaban: C
Pembahasan:
Barang pribadi harus diinventarisasi dan diserahkan secara terdokumentasi agar akuntabel dan mencegah sengketa.
Soal 9
Seorang petugas melepas sarung tangan terkontaminasi lalu langsung membuka pintu tanpa melakukan kebersihan tangan. Risiko utama dari tindakan tersebut adalah ….
A. Cedera muskuloskeletal
B. Kontaminasi silang pada lingkungan
C. Kesalahan identitas jenazah
D. Kerusakan dokumen
E. Gangguan komunikasi keluarga
Jawaban: B
Pembahasan:
Sarung tangan tidak menggantikan kebersihan tangan. Kontaminasi dapat berpindah ke permukaan lingkungan setelah APD dilepas.
Soal 10
Dokumen serah terima jenazah belum lengkap, sementara keluarga mendesak agar jenazah segera dibawa pulang. Sikap petugas yang paling tepat adalah ….
A. Mengizinkan karena keluarga sedang berduka
B. Mengabaikan dokumen
C. Menjelaskan kebutuhan kelengkapan administrasi dan membantu mempercepat penyelesaiannya sesuai prosedur
D. Meminta keluarga datang keesokan hari
E. Menyerahkan jenazah tanpa pencatatan
Jawaban: C
Pembahasan:
Empati kepada keluarga tetap penting, tetapi proses administrasi dan identifikasi tidak boleh diabaikan.
Soal 11
Dalam kasus forensik, keluarga meminta petugas membersihkan luka secara menyeluruh agar jenazah terlihat lebih baik. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Melakukan sesuai permintaan keluarga
B. Mengubah kondisi luka agar lebih rapi
C. Menjaga kondisi jenazah sesuai prosedur dan berkoordinasi dengan pihak berwenang sebelum melakukan tindakan
D. Menutup seluruh luka tanpa dokumentasi
E. Menolak semua bentuk pemulasaraan
Jawaban: C
Pembahasan:
Pada kasus forensik, tindakan yang dapat mengubah temuan harus dihindari karena dapat memengaruhi kepentingan pemeriksaan hukum.
Soal 12
Ruangan penyimpanan jenazah mengalami gangguan pendinginan. Pada saat yang sama terdapat beberapa jenazah yang harus disimpan. Prioritas petugas adalah ….
A. Menunggu teknisi tanpa melakukan tindakan lain
B. Memindahkan jenazah sembarangan
C. Melaporkan gangguan dan menjalankan rencana kontingensi penyimpanan sesuai SOP
D. Membuka pintu ruang penyimpanan agar suhu menyesuaikan
E. Menyerahkan semua jenazah kepada keluarga
Jawaban: C
Pembahasan:
Gangguan fasilitas harus direspons dengan pelaporan dan rencana kontingensi agar kualitas penyimpanan tetap terjaga.
Soal 13
Seorang keluarga marah karena harus menunggu proses administrasi. Respons petugas yang paling tepat adalah ….
A. Membalas dengan nada tegas
B. Mengabaikan keluarga
C. Mendengarkan keluhan, menjelaskan proses secara tenang, dan membantu mencari penyelesaian
D. Meminta keluarga keluar
E. Menyalahkan unit lain
Jawaban: C
Pembahasan:
Komunikasi empatik membantu meredakan ketegangan sekaligus menjaga profesionalisme pelayanan.
Soal 14
Petugas menemukan rekan kerja tidak menggunakan APD yang diwajibkan saat menangani jenazah berisiko infeksi. Tindakan terbaik adalah ….
A. Membiarkan karena rekan sudah berpengalaman
B. Mengingatkan dan memastikan prosedur keselamatan dipatuhi serta melaporkan jika diperlukan
C. Ikut melepas APD agar pekerjaan lebih cepat
D. Menunda sampai shift berikutnya
E. Merekam dan menyebarkan kejadian tersebut
Jawaban: B
Pembahasan:
Kepatuhan PPI merupakan tanggung jawab bersama. Pelanggaran harus segera dikoreksi karena dapat membahayakan petugas lain.
Soal 15
Saat membuka ruang penyimpanan, petugas menemukan label pada salah satu jenazah terlepas. Tindakan yang paling tepat adalah ….
A. Memasang label berdasarkan ingatan
B. Menggunakan posisi rak sebagai satu-satunya dasar
C. Menahan proses pemindahan dan melakukan identifikasi ulang dari catatan serta sistem yang tersedia
D. Meminta keluarga menentukan identitas
E. Mengganti label dengan nama yang paling mungkin
Jawaban: C
Pembahasan:
Identitas tidak boleh ditentukan berdasarkan perkiraan. Verifikasi ulang diperlukan sebelum proses apa pun dilanjutkan.
Soal 16
Pada situasi korban massal, banyak jenazah tiba hampir bersamaan. Langkah operasional paling penting adalah ….
A. Mengutamakan jenazah dari keluarga yang paling mendesak
B. Menerapkan sistem identifikasi, pelabelan, pencatatan, dan penyimpanan secara terstruktur
C. Mengurangi dokumentasi agar proses lebih cepat
D. Menyatukan barang pribadi dalam satu tempat
E. Menyerahkan jenazah tanpa verifikasi
Jawaban: B
Pembahasan:
Pada kejadian korban massal, identifikasi dan dokumentasi yang sistematis sangat penting untuk mencegah kesalahan dan kehilangan informasi.
Soal 17
Sebuah tumpahan bahan desinfektan terjadi di lantai ruang pemulasaraan. Petugas mencium bau menyengat. Tindakan yang paling tepat adalah ….
A. Membersihkan dengan tangan kosong
B. Mengabaikan sampai mengering
C. Mengamankan area, menggunakan APD yang sesuai, dan menangani tumpahan berdasarkan prosedur bahan kimia
D. Mencampur dengan bahan lain
E. Menutup tumpahan dengan kertas
Jawaban: C
Pembahasan:
Bahan kimia dapat menimbulkan risiko inhalasi, kulit, atau reaksi berbahaya. Penanganannya harus mengikuti SOP dan informasi keselamatan bahan.
Soal 18
Petugas menyadari bahwa satu tindakan pemulasaraan belum dicatat, padahal proses telah selesai satu jam sebelumnya. Langkah yang benar adalah ….
A. Mengabaikan karena pekerjaan sudah selesai
B. Meminta rekan menulis atas namanya
C. Membuat catatan tambahan secara jujur sesuai prosedur dokumentasi
D. Mengubah waktu agar tampak dicatat langsung
E. Menghapus catatan sebelumnya
Jawaban: C
Pembahasan:
Dokumentasi harus akurat dan jujur. Pencatatan terlambat tetap perlu dibuat sesuai prosedur tanpa memalsukan waktu.
Soal 19
Keluarga meminta informasi rinci tentang penyebab kematian, tetapi petugas pemulasaraan tidak memiliki kewenangan memberikan penjelasan medis. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Memberikan penjelasan berdasarkan perkiraan
B. Menyampaikan informasi dari percakapan petugas lain
C. Mengarahkan keluarga kepada tenaga atau unit yang berwenang memberikan informasi medis
D. Membuka rekam medis
E. Menolak berbicara sama sekali
Jawaban: C
Pembahasan:
Petugas harus memahami batas kewenangan. Informasi medis perlu diberikan oleh pihak yang memiliki otoritas sesuai prosedur.
Soal 20
Ketika akan menyerahkan jenazah, data pihak penerima tidak sesuai dengan data yang sebelumnya didaftarkan. Langkah terbaik adalah ….
A. Tetap menyerahkan karena mengaku sebagai keluarga
B. Meminta tanda tangan saja
C. Melakukan verifikasi hubungan dan kewenangan pihak penerima sebelum serah terima
D. Menyerahkan kepada siapa pun yang membawa kendaraan jenazah
E. Menghapus data penerima lama
Jawaban: C
Pembahasan:
Serah terima harus dilakukan kepada pihak yang berhak dan dapat diverifikasi untuk menjaga keamanan serta akuntabilitas.
Soal 21
Petugas mengalami nyeri punggung setelah berkali-kali memindahkan jenazah dengan teknik yang salah. Upaya pencegahan paling tepat adalah ….
A. Mengangkat lebih cepat
B. Menggunakan teknik ergonomis, alat bantu, dan kerja tim
C. Mengurangi penggunaan troli
D. Membungkuk lebih dalam saat mengangkat
E. Menghindari meminta bantuan
Jawaban: B
Pembahasan:
Pencegahan cedera muskuloskeletal membutuhkan teknik ergonomis dan alat bantu, bukan peningkatan beban kerja secara individual.
Soal 22
Jenazah tidak dikenal diterima tanpa dokumen identitas yang memadai. Petugas harus ….
A. Memberikan nama sementara berdasarkan perkiraan
B. Mengabaikan pencatatan
C. Memberikan kode identifikasi, mendokumentasikan ciri dan informasi yang tersedia, serta mengikuti prosedur koordinasi
D. Menempatkan tanpa label
E. Menggabungkannya dengan jenazah lain
Jawaban: C
Pembahasan:
Jenazah tidak dikenal membutuhkan sistem identifikasi khusus agar seluruh proses tetap dapat dilacak.
Soal 23
Saat terjadi antrean pekerjaan, seorang rekan menyarankan melewati checklist agar proses lebih cepat. Sikap paling tepat adalah ….
A. Mengikuti saran karena kondisi sibuk
B. Mengurangi tahapan verifikasi
C. Tetap menggunakan checklist dan mengatur prioritas tanpa mengorbankan keselamatan
D. Menyerahkan seluruh keputusan kepada keluarga
E. Menghapus pencatatan sementara
Jawaban: C
Pembahasan:
Tekanan kerja tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan prosedur keselamatan dan identifikasi.
Soal 24
Setelah proses pemulasaraan jenazah infeksius, petugas akan melepas APD. Tujuan utama prosedur doffing yang benar adalah ….
A. Menghemat APD
B. Mencegah petugas mencemari dirinya sendiri saat APD dilepas
C. Mempercepat proses kerja
D. Menjaga APD tetap terlihat rapi
E. Mengurangi kebutuhan desinfeksi ruangan
Jawaban: B
Pembahasan:
Permukaan luar APD dapat terkontaminasi. Teknik pelepasan yang benar membantu mencegah perpindahan kontaminan ke kulit, pakaian, dan lingkungan.
Soal 25
Petugas menghadapi dua kondisi bersamaan: keluarga meminta informasi administratif tentang serah terima, sedangkan petugas lain melaporkan adanya tumpahan cairan tubuh di ruang pemulasaraan. Prioritas yang paling tepat adalah ….
A. Menjawab keluarga terlebih dahulu
B. Mengutamakan pengendalian risiko biologis lalu memastikan keluarga tetap mendapat informasi melalui petugas lain jika memungkinkan
C. Menunda penanganan tumpahan hingga keluarga pulang
D. Meminta keluarga membersihkan tumpahan
E. Mengabaikan kedua masalah
Jawaban: B
Pembahasan:
Risiko biologis dapat langsung membahayakan petugas dan lingkungan sehingga harus diprioritaskan. Pelayanan keluarga tetap dijaga melalui koordinasi tim.
Ingin Latihan Soal Pemulasara Jenazah Lebih Banyak?

Perkuat persiapan Anda menghadapi seleksi Operator Layanan Operasional (Pemulasara Jenazah) dengan latihan soal yang mencakup PPI, K3, identifikasi jenazah, administrasi, etika, komunikasi keluarga, hingga studi kasus operasional berbasis HOTS. Kunjungi fungsional.id untuk mengakses latihan soal lebih banyak dan coba simulasi CAT sekarang.


