Uji Kompetensi Dokter Spesialis Obgyn 3D ke 4A menuntut kemampuan klinis yang lebih matang dalam menangani kasus obstetri dan ginekologi, mulai dari penegakan diagnosis, interpretasi pemeriksaan penunjang, tata laksana, hingga penanganan kegawatdaruratan maternal dan ginekologis. Peserta juga perlu menunjukkan kemampuan clinical reasoning, pengambilan keputusan, keselamatan pasien, serta penerapan evidence-based medicine pada kasus yang semakin kompleks.
Melalui artikel Soal Uji Kompetensi Dokter Spesialis Obgyn 3D ke 4A: Kisi-Kisi, Materi & Pembahasan, Anda dapat mempelajari ruang lingkup materi yang perlu dikuasai sekaligus berlatih menghadapi soal berbasis kasus. Latihan ini membantu mengasah kemampuan menentukan prioritas, memilih pemeriksaan dan terapi yang tepat, serta mengevaluasi risiko dan komplikasi pada berbagai kondisi obstetri dan ginekologi.
Ruang Lingkup Uji Kompetensi Dokter Spesialis Obgyn 3D ke 4A
Uji Kompetensi Dokter Spesialis Obgyn 3D ke 4A menilai kesiapan dokter spesialis untuk menangani kasus obstetri dan ginekologi dengan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. Pada level ini, peserta tidak hanya dituntut mampu mengenali diagnosis, tetapi juga harus mampu menentukan prioritas, memilih pemeriksaan penunjang, merencanakan tata laksana, serta mengevaluasi risiko dan komplikasi secara lebih komprehensif.
Ruang lingkup kompetensi dapat mencakup kehamilan risiko tinggi, kegawatdaruratan obstetri, persalinan kompleks, perdarahan maternal, hipertensi dalam kehamilan, gangguan pertumbuhan janin, infertilitas, gangguan menstruasi, endokrinologi reproduksi, onkologi ginekologi, infeksi, hingga tindakan operatif dan perioperatif.
Selain aspek klinis, peserta juga perlu menunjukkan kemampuan clinical reasoning, interpretasi CTG dan ultrasonografi, pengambilan keputusan berbasis bukti, keselamatan pasien, komunikasi risiko, informed consent, serta koordinasi multidisiplin pada kondisi yang memerlukan penanganan cepat maupun perencanaan jangka panjang.
Karena itu, persiapan Uji Kompetensi Obgyn 3D ke 4A sebaiknya diarahkan pada soal berbasis kasus yang menuntut peserta untuk membedakan diagnosis yang mirip, mengenali red flag, memilih tindakan pertama, menentukan terapi definitif, serta menilai kapan pasien membutuhkan intervensi segera, operasi, atau kolaborasi dengan disiplin lain.
BAB 2. Materi Uji Kompetensi Dokter Spesialis Obgyn 3D ke 4A
Materi Uji Kompetensi Dokter Spesialis Obgyn 3D ke 4A berfokus pada kemampuan menangani kasus obstetri dan ginekologi yang lebih kompleks, termasuk diagnosis, interpretasi pemeriksaan, pengambilan keputusan, tata laksana definitif, kegawatdaruratan, dan keselamatan pasien.
Materi utama yang perlu dikuasai meliputi:
- Kehamilan Risiko Tinggi
Preeklamsia-eklamsia, hipertensi kronis, diabetes gestasional, penyakit maternal, kehamilan multipel, dan komplikasi antenatal. - Perdarahan Antepartum
Plasenta previa, solusio plasenta, vasa previa, rupture uteri, stabilisasi, diagnosis, dan penentuan waktu persalinan. - Perdarahan Postpartum
Atonia uteri, trauma jalan lahir, retensio jaringan, gangguan koagulasi, uterotonik, tamponade, transfusi, dan intervensi operatif. - Persalinan Preterm dan KPD
Diagnosis, usia gestasi, kortikosteroid antenatal, tokolisis sesuai indikasi, antibiotik, monitoring infeksi, serta waktu terminasi. Kolegium Obgin juga menempatkan ketuban pecah dini dan persalinan preterm dalam panduan klinis obstetri risiko tinggi. - Distosia dan Persalinan Sulit
Arrest disorder, malpresentasi, distosia bahu, disproportion, induksi, augmentasi, serta indikasi persalinan operatif. - Fetal Well-Being
Interpretasi CTG, fetal movement, doppler, profil biofisik, fetal compromise, dan keputusan terminasi. - Fetal Growth Restriction
Diagnosis, biometrik, doppler, monitoring, risiko hipoksia, dan penentuan waktu persalinan. - Kegawatdaruratan Obstetri
Eklamsia, perdarahan masif, prolaps tali pusat, ruptura uteri, inversio uteri, emboli cairan ketuban, syok, dan maternal collapse. - Resusitasi Maternal
ABCDE, perubahan fisiologi kehamilan, resusitasi, transfusi masif, dan koordinasi multidisiplin. - Operasi Obstetri
Sectio caesarea, persalinan operatif vaginal, indikasi, kontraindikasi, komplikasi, serta perawatan perioperatif. - Infeksi Obstetri
Korioamnionitis, endometritis, sepsis maternal, infeksi puerperium, antibiotik, dan source control. - Kehamilan Ektopik
Diagnosis, β-hCG, ultrasonografi, expectant management, terapi medikamentosa, dan tindakan operatif. - Penyakit Trofoblastik Gestasional
Diagnosis, klasifikasi, evakuasi, monitoring β-hCG, serta risiko neoplasia trofoblastik. - Gangguan Menstruasi
AUB, amenore, dismenore, kelainan ovulasi, klasifikasi penyebab, dan tata laksana. - Endokrinologi Reproduksi
PCOS, gangguan ovulasi, hiperprolaktinemia, gangguan hormonal, dan kelainan pubertas. - Infertilitas
Evaluasi pasangan, ovulasi, tubal factor, male factor, ovarian reserve, serta pilihan terapi reproduksi. - Menopause
Gejala vasomotor, osteoporosis, terapi hormonal, kontraindikasi, dan individualisasi terapi. - Endometriosis dan Adenomiosis
Diagnosis klinis dan imaging, terapi konservatif, hormonal, pembedahan, serta fertilitas. - Mioma Uteri
Klasifikasi, gejala, infertilitas, terapi medikamentosa, miomektomi, histerektomi, dan pilihan konservatif. - Onkologi Ginekologi
Kanker serviks, ovarium, endometrium, vulva, staging dasar, diagnosis, imaging, operasi, kemoterapi, radioterapi, dan follow-up. - Lesi Pra-Kanker Serviks
Skrining, HPV, sitologi, kolposkopi, biopsi, serta tata laksana lesi prakanker. - Massa Adneksa
Diferensiasi benign-malignant, ultrasonografi, tumor marker, torsio ovarium, dan indikasi operasi. - Uroginekologi
Prolaps organ panggul, inkontinensia urine, disfungsi dasar panggul, terapi konservatif, dan operatif. - Infeksi Ginekologi
PID, servisitis, vaginitis, abses tubo-ovarium, IMS, dan komplikasi reproduksi. - Kontrasepsi
Pil, suntik, implant, AKDR, kontrasepsi darurat, metode permanen, indikasi, kontraindikasi, dan konseling. - Ultrasonografi Obstetri-Ginekologi
Biometri, lokasi plasenta, cairan amnion, anatomi janin, massa pelvis, dan korelasi klinis. - Interpretasi CTG
Baseline, variabilitas, akselerasi, deselerasi, kontraksi, klasifikasi, serta tindakan berdasarkan pola. - Farmakoterapi Obgyn
Uterotonik, tokolitik, antihipertensi, magnesium sulfat, antibiotik, antikoagulan, hormonal, dan obat reproduksi. - Transfusi dan Hemostasis
Massive bleeding, blood products, koagulopati, fibrinogen, monitoring, dan massive transfusion protocol. - Patient Safety
Identifikasi pasien, komunikasi, keselamatan operasi, medication safety, PPI, serta pelaporan insiden. Standar Akreditasi Rumah Sakit yang berlaku saat ini masih merujuk Kepmenkes HK.01.07/Menkes/1596/2024. - Evidence-Based Obstetrics & Gynecology
Interpretasi guideline, critical appraisal, risk-benefit, penggunaan bukti terbaru, dan individualisasi keputusan klinis. - Etik dan Mediko-Legal
Informed consent, maternal autonomy, fetal interest, confidentiality, penolakan tindakan, dokumentasi, dan batas kewenangan. - Komunikasi Klinis
Menjelaskan risiko kehamilan, pilihan persalinan, infertilitas, keganasan, prognosis, breaking bad news, dan shared decision making. - Kolaborasi Multidisiplin
Koordinasi dengan anestesi, neonatologi, penyakit dalam, ICU, radiologi, onkologi, urologi, dan disiplin terkait.
Kisi-Kisi Uji Kompetensi Dokter Spesialis Obgyn 3D ke 4A
Kisi-kisi Uji Kompetensi Dokter Spesialis Obgyn 3D ke 4A perlu difokuskan pada kemampuan menangani kasus obstetri dan ginekologi dengan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. Pada level ini, peserta tidak hanya dituntut mengenali diagnosis, tetapi juga mampu menentukan prioritas, memilih pemeriksaan penunjang, melakukan interpretasi hasil, merencanakan tata laksana, serta mengantisipasi komplikasi.
| Kisi-Kisi | Materi yang Perlu Dikuasai |
| Kehamilan Risiko Tinggi | Hipertensi, diabetes, penyakit maternal, kehamilan multipel, penyakit autoimun, dan komplikasi antenatal. |
| Preeklamsia dan Eklamsia | Diagnosis, severe features, magnesium sulfat, antihipertensi, monitoring, dan timing of delivery. |
| Perdarahan Antepartum | Plasenta previa, solusio plasenta, vasa previa, rupture uteri, diagnosis, stabilisasi, dan terminasi. |
| Perdarahan Postpartum | Atonia, trauma, tissue, thrombin, uterotonik, tamponade, transfusi, dan tindakan operatif. |
| Persalinan Preterm | Diagnosis, kortikosteroid, tokolisis, neuroproteksi, antibiotik, dan penentuan waktu persalinan. |
| Ketuban Pecah Dini | Diagnosis, usia kehamilan, infeksi, antibiotik, monitoring, dan terminasi. |
| Fetal Growth Restriction | Biometri, Doppler, surveillance, risiko hipoksia, serta waktu dan cara persalinan. |
| Fetal Distress | CTG abnormal, monitoring, resusitasi intrauterin, dan keputusan terminasi. |
| Interpretasi CTG | Baseline, variabilitas, akselerasi, deselerasi, kontraksi, klasifikasi, dan tindak lanjut. |
| Distosia Persalinan | Power, passenger, passage, arrest disorder, CPD, induksi, augmentasi, dan tindakan operatif. |
| Distosia Bahu | Recognition, manuver, komplikasi maternal-neonatal, dan tindakan yang harus dihindari. |
| Prolaps Tali Pusat | Diagnosis, mengurangi kompresi tali pusat, posisi ibu, dan persalinan segera. |
| Ruptura Uteri | Faktor risiko, tanda klinis, fetal compromise, syok, dan laparotomi emergensi. |
| Inversio Uteri | Diagnosis, stabilisasi, reposisi, uterotonik setelah reposisi, dan kontrol perdarahan. |
| Emboli Cairan Ketuban | Kecurigaan klinis, hipoksia, syok, DIC, resusitasi, dan multidisciplinary care. |
| Maternal Collapse | ABCDE, resusitasi maternal, penyebab reversibel, dan koordinasi tim emergensi. |
| Sepsis Maternal | Sumber infeksi, antibiotik, kultur, source control, monitoring organ, dan eskalasi. |
| Operasi Caesar | Indikasi, kontraindikasi relatif, persiapan, komplikasi, dan perawatan pascaoperasi. |
| Persalinan Operatif Vaginal | Indikasi, syarat, pilihan instrumen, komplikasi, dan kegagalan tindakan. |
| Kehamilan Ektopik | Diagnosis, β-hCG, USG, expectant, methotrexate, dan pembedahan. |
| Penyakit Trofoblastik Gestasional | Mola, evakuasi, monitoring β-hCG, risiko GTN, dan follow-up. |
| AUB | PALM-COEIN, evaluasi, stabilisasi perdarahan, terapi medikamentosa, dan tindakan. |
| Amenore | Primer-sekunder, pregnancy test, hormon, imaging, dan evaluasi etiologi. |
| PCOS | Diagnosis, gangguan ovulasi, metabolik, fertilitas, dan terapi. |
| Infertilitas | Evaluasi pasangan, ovulasi, tubal factor, male factor, ovarian reserve, dan ART. |
| Endometriosis | Diagnosis, nyeri, infertilitas, terapi hormonal, konservatif, dan pembedahan. |
| Adenomiosis | Diagnosis imaging, gejala, terapi hormonal, dan pilihan operatif. |
| Mioma Uteri | Lokasi, gejala, fertilitas, terapi medikamentosa, miomektomi, dan histerektomi. |
| Massa Adneksa | USG, karakteristik malignansi, torsio, tumor marker, dan indikasi eksplorasi. |
| Torsio Ovarium | Nyeri akut, imaging, urgensi operasi, dan preservasi ovarium. |
| Kanker Serviks | Skrining, diagnosis, staging, operasi, radioterapi, kemoterapi, dan follow-up. |
| Kanker Ovarium | Massa adneksa, tumor marker, staging, cytoreduction, dan terapi sistemik. |
| Kanker Endometrium | Perdarahan postmenopause, biopsi, staging, operasi, dan terapi adjuvan. |
| Lesi Prakanker Serviks | HPV, sitologi, kolposkopi, biopsi, CIN, eksisi, dan follow-up. |
| Uroginekologi | Prolaps, inkontinensia stres, urge incontinence, pemeriksaan dasar panggul, dan terapi. |
| Infeksi Ginekologi | PID, abses tubo-ovarium, servisitis, vaginitis, IMS, dan komplikasi. |
| Kontrasepsi | Pil, suntik, implant, IUD, kontrasepsi darurat, sterilisasi, dan pemilihan metode. |
| Menopause | Gejala, osteoporosis, terapi hormonal, kontraindikasi, dan risk-benefit. |
| USG Obstetri | Biometri, cairan amnion, plasenta, presentasi, anatomi janin, dan growth assessment. |
| USG Ginekologi | Uterus, endometrium, ovarium, massa pelvis, serta korelasi klinis. |
| Farmakoterapi Obgyn | Uterotonik, tokolitik, MgSO4, antihipertensi, antibiotik, hormonal, dan antikoagulan. |
| Transfusi dan Hemostasis | Massive bleeding, produk darah, fibrinogen, DIC, MTP, dan evaluasi respons. |
| Patient Safety | Identifikasi pasien, medication safety, surgical safety, komunikasi, PPI, dan insiden. |
| Evidence-Based Medicine | Guideline, PICO, critical appraisal, risk-benefit, dan applicability. |
| Etik dan Mediko-Legal | Informed consent, maternal autonomy, confidentiality, penolakan tindakan, dan dokumentasi. |
| Komunikasi Klinis | Breaking bad news, konseling infertilitas, risiko maternal-fetal, dan shared decision making. |
Contoh Soal Uji Kompetensi Dokter Spesialis Obgyn 3D ke 4A
Soal 1
Perempuan 34 tahun G2P1 usia kehamilan 35 minggu datang dengan nyeri kepala hebat, pandangan kabur, nyeri epigastrium, tekanan darah 176/112 mmHg, trombosit 82.000/µL, AST meningkat, dan CTG menunjukkan variabilitas minimal dengan deselerasi lambat berulang. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Observasi 24 jam sambil menunggu maturasi paru
B. Memberikan tokolitik dan mengulang CTG enam jam kemudian
C. Melakukan stabilisasi maternal, magnesium sulfat, kontrol tekanan darah, lalu terminasi kehamilan
D. Menunggu trombosit meningkat sebelum memutuskan terminasi
E. Melakukan induksi tanpa stabilisasi maternal terlebih dahulu
Jawaban: C
Pembahasan:
Kasus mengarah pada preeklamsia berat dengan kemungkinan HELLP syndrome disertai fetal compromise. Prioritas adalah stabilisasi maternal, pencegahan kejang dengan magnesium sulfat, kontrol hipertensi berat, kemudian terminasi. Menunda persalinan meningkatkan risiko maternal dan fetal.
Soal 2
Perempuan 30 tahun G1P0 usia kehamilan 33 minggu mengalami ketuban pecah sejak 10 jam lalu. Suhu 38,6°C, nadi 118 kali/menit, nyeri tekan uterus, cairan ketuban berbau, dan DJJ 175 kali/menit. Tata laksana yang paling tepat adalah ….
A. Tokolisis dan kortikosteroid lengkap sebelum persalinan
B. Observasi hingga usia kehamilan 34 minggu
C. Antibiotik dan terminasi kehamilan setelah stabilisasi
D. Amniosentesis sebelum menentukan terapi
E. Pemberian antibiotik profilaksis kemudian rawat jalan
Jawaban: C
Pembahasan:
Demam, takikardia maternal-fetal, nyeri tekan uterus, dan cairan berbau mengarah pada infeksi intraamnion. Dalam kondisi ini, terminasi lebih diprioritaskan daripada mempertahankan kehamilan.
Soal 3
Perempuan 36 tahun G3P2 usia kehamilan 37 minggu datang dengan perdarahan merah segar tanpa nyeri. Tekanan darah stabil, DJJ normal, dan USG menunjukkan plasenta menutupi ostium uteri internum. Langkah berikutnya yang paling tepat adalah ….
A. Pemeriksaan vaginal digital untuk menilai pembukaan
B. Induksi persalinan dengan prostaglandin
C. Persiapan sectio caesarea
D. Amniotomi
E. Observasi sampai kontraksi spontan
Jawaban: C
Pembahasan:
Plasenta previa total pada kehamilan aterm merupakan indikasi persalinan dengan sectio caesarea. Pemeriksaan vaginal digital harus dihindari karena dapat memicu perdarahan berat.
Soal 4
Perempuan 29 tahun G2P1 usia kehamilan 39 minggu sedang dalam kala II. Setelah kepala lahir, kepala tampak tertarik kembali ke perineum dan bahu tidak segera lahir. Tindakan awal paling tepat adalah ….
A. Fundal pressure
B. Manuver McRoberts disertai tekanan suprapubik
C. Traksi kepala kuat ke bawah
D. Vakum ekstraksi ulang
E. Sectio caesarea segera
Jawaban: B
Pembahasan:
Gambaran turtle sign khas untuk distosia bahu. Manuver awal yang dianjurkan adalah McRoberts dan tekanan suprapubik. Fundal pressure justru dapat memperburuk impaksi bahu.
Soal 5
Perempuan 28 tahun G1P0 usia kehamilan 39 minggu mengalami bradikardia janin mendadak setelah ketuban pecah. Pada pemeriksaan vaginal teraba tali pusat di samping kepala janin. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Mendorong tali pusat kembali ke dalam uterus
B. Mengurangi kompresi bagian terendah janin dan mempercepat persalinan definitif
C. Memberikan oksitosin dosis tinggi
D. Menunggu DJJ membaik spontan
E. Melakukan amnioinfusi saja
Jawaban: B
Pembahasan:
Prolaps tali pusat merupakan kegawatdaruratan. Tujuan awal adalah mengurangi kompresi tali pusat dengan elevasi bagian terendah dan mempersiapkan persalinan segera, umumnya dengan sectio caesarea bila persalinan vaginal tidak imminen.
Soal 6
Perempuan 31 tahun satu jam postpartum mengalami perdarahan sekitar 1.200 mL. Uterus teraba lembek. Setelah masase dan oksitosin, uterus tetap atonik dan perdarahan berlanjut. Langkah berikutnya paling tepat adalah ….
A. Menunggu respons selama 30 menit
B. Melanjutkan resusitasi sambil memberikan uterotonik tambahan dan menilai kebutuhan intervensi berikutnya
C. Melakukan histerektomi langsung
D. Menghentikan cairan karena risiko overload
E. Memberikan antikoagulan
Jawaban: B
Pembahasan:
Atonia uteri yang tidak respons terhadap tindakan awal membutuhkan tata laksana bertahap dengan uterotonik tambahan, resusitasi, penilaian kehilangan darah, dan eskalasi ke tamponade atau tindakan operatif bila gagal.
Soal 7
Perempuan 35 tahun postpartum mengalami perdarahan aktif. Uterus teraba keras dan berkontraksi baik. Plasenta lengkap. Penyebab yang paling mungkin adalah ….
A. Atonia uteri
B. Retensio plasenta
C. Trauma jalan lahir
D. Inversio uteri
E. Koagulopati selalu merupakan penyebab utama
Jawaban: C
Pembahasan:
Jika uterus keras tetapi perdarahan terus berlangsung dan plasenta lengkap, penyebab trauma seperti laserasi serviks, vagina, atau perineum harus segera dipikirkan.
Soal 8
Perempuan 40 tahun G4P3 usia kehamilan 38 minggu dengan riwayat dua sectio caesarea mengalami nyeri abdomen mendadak saat persalinan, kontraksi menghilang, bagian janin mudah teraba, DJJ turun menjadi 70 kali/menit, dan pasien hipotensi. Diagnosis paling mungkin adalah ….
A. Solusio plasenta
B. Ruptura uteri
C. Plasenta previa
D. Distosia bahu
E. Emboli cairan ketuban
Jawaban: B
Pembahasan:
Nyeri mendadak, hilangnya kontraksi, fetal distress berat, bagian janin mudah teraba, dan syok pada pasien dengan bekas seksio sangat mengarah pada ruptura uteri.
Soal 9
Perempuan 27 tahun usia kehamilan 31 minggu ditemukan FGR. Doppler arteri umbilikalis menunjukkan absent end-diastolic flow. CTG masih belum menunjukkan pola terminal. Strategi paling tepat adalah ….
A. Pulangkan dan kontrol satu bulan
B. Lanjutkan pemantauan intensif dan pertimbangkan terminasi berdasarkan usia gestasi serta kondisi fetal
C. Tidak perlu monitoring karena CTG belum abnormal
D. Induksi segera tanpa persiapan neonatal
E. Hanya ulangi biometrik empat minggu lagi
Jawaban: B
Pembahasan:
Absent end-diastolic flow menandakan insufisiensi plasenta berat. Keputusan harus mempertimbangkan usia gestasi, surveillance, kortikosteroid, kesiapan neonatal, dan timing delivery.
Soal 10
Perempuan 32 tahun usia kehamilan 40 minggu sedang diinduksi. CTG menunjukkan baseline 170 kali/menit, variabilitas minimal, dan deselerasi lambat berulang. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Melanjutkan oksitosin dengan dosis sama
B. Meningkatkan dosis oksitosin
C. Menghentikan faktor pemicu, melakukan resusitasi intrauterin, dan menilai kebutuhan terminasi segera
D. Mengulang CTG empat jam kemudian
E. Memberikan analgesik dan observasi
Jawaban: C
Pembahasan:
Pola tersebut mengarah pada fetal compromise. Langkah awal adalah menghentikan stimulasi yang memperburuk, melakukan intrauterine resuscitation, dan mengevaluasi kebutuhan persalinan segera.
Soal 11
Perempuan 28 tahun terlambat haid 7 minggu mengeluh nyeri perut kanan bawah dan spotting. β-hCG 2.800 IU/L, USG transvaginal tidak menemukan kantung intrauterin tetapi tampak massa adneksa 2,5 cm. Hemodinamik stabil. Tata laksana paling tepat adalah ….
A. Langsung laparotomi pada semua kasus
B. Evaluasi kelayakan terapi medikamentosa atau operatif berdasarkan kriteria klinis
C. Observasi tanpa follow-up
D. Memberikan progesteron
E. Menunggu sampai β-hCG >10.000 IU/L
Jawaban: B
Pembahasan:
Pada kehamilan ektopik stabil, pilihan terapi bergantung ukuran massa, kadar β-hCG, aktivitas jantung embrio, kepatuhan follow-up, kontraindikasi, dan kondisi klinis.
Soal 12
Perempuan 33 tahun dengan kehamilan ektopik diterapi methotrexate. Pada hari ke-4 dan ke-7, penurunan β-hCG tidak adekuat. Langkah berikutnya adalah ….
A. Menganggap terapi berhasil
B. Menilai kebutuhan dosis tambahan atau tindakan operatif
C. Menghentikan pemantauan β-hCG
D. Memberikan progesteron
E. Menunggu sampai timbul syok
Jawaban: B
Pembahasan:
Respons methotrexate dinilai serial. Penurunan yang tidak adekuat membutuhkan reevaluasi dan dapat memerlukan dosis tambahan atau pembedahan.
Soal 13
Perempuan 42 tahun datang dengan perdarahan uterus abnormal. USG menunjukkan mioma submukosa 3 cm dan pasien masih menginginkan fertilitas. Tata laksana paling rasional adalah ….
A. Histerektomi total
B. Miomektomi histeroskopik bila sesuai karakteristik lesi
C. Observasi tanpa evaluasi anemia
D. Ooforektomi bilateral
E. Radioterapi
Jawaban: B
Pembahasan:
Mioma submukosa pada pasien yang masih menginginkan fertilitas dapat dipertimbangkan untuk miomektomi histeroskopik sesuai ukuran, lokasi, dan gejala.
Soal 14
Perempuan 25 tahun datang dengan nyeri pelvis akut, mual, dan massa adneksa 6 cm. USG menunjukkan ovarium membesar dengan aliran Doppler berkurang. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Observasi 24 jam
B. Operasi segera untuk detorsi dan evaluasi viabilitas ovarium
C. Antibiotik oral
D. Aspirasi massa secara rutin
E. Menunggu tumor marker
Jawaban: B
Pembahasan:
Torsio ovarium merupakan kegawatdaruratan ginekologi. Diagnosis klinis dan imaging yang mendukung harus diikuti eksplorasi segera untuk menyelamatkan ovarium.
Soal 15
Perempuan 54 tahun pascamenopause datang dengan perdarahan pervaginam. USG menunjukkan endometrium menebal. Langkah diagnostik paling tepat adalah ….
A. Memberikan terapi hormonal tanpa biopsi
B. Evaluasi endometrium dengan sampling/biopsi sesuai indikasi
C. Observasi satu tahun
D. Hanya pap smear
E. Tidak perlu pemeriksaan karena menopause
Jawaban: B
Pembahasan:
Perdarahan postmenopause merupakan red flag keganasan endometrium. Evaluasi endometrium diperlukan untuk menyingkirkan hiperplasia atau kanker.
Soal 16
Perempuan 38 tahun memiliki hasil HPV risiko tinggi persisten dan lesi serviks derajat tinggi pada pemeriksaan lanjutan. Pendekatan yang paling tepat adalah ….
A. Tidak perlu tindak lanjut
B. Evaluasi dan tata laksana eksisional sesuai temuan serta guideline
C. Menunggu lima tahun
D. Memberikan antibiotik
E. Melakukan histerektomi langsung pada semua kasus
Jawaban: B
Pembahasan:
Lesi derajat tinggi membutuhkan evaluasi dan terapi sesuai derajat lesi, usia, keinginan fertilitas, dan pedoman yang berlaku.
Soal 17
Perempuan 31 tahun dengan infertilitas dua tahun mengalami siklus tidak teratur, hiperandrogenisme, dan gambaran ovarium polikistik. BMI 32 kg/m². Langkah awal yang paling tepat adalah ….
A. IVF langsung
B. Evaluasi pasangan secara menyeluruh disertai intervensi gaya hidup dan tata laksana gangguan ovulasi
C. Histerektomi
D. Tidak perlu evaluasi pasangan pria
E. Memberikan estrogen saja
Jawaban: B
Pembahasan:
Infertilitas perlu dievaluasi sebagai masalah pasangan. Pada PCOS dengan obesitas, modifikasi gaya hidup dan penanganan gangguan ovulasi merupakan bagian penting tata laksana.
Soal 18
Perempuan 46 tahun mengeluh hot flush berat. Ia memiliki riwayat kanker payudara hormone-sensitive. Pilihan terapi yang paling tepat adalah ….
A. Terapi estrogen sistemik tanpa pertimbangan lain
B. Mempertimbangkan terapi nonhormonal dan evaluasi individual
C. Memberikan estrogen dosis tinggi
D. Tidak perlu terapi apa pun
E. Progesteron dosis tinggi rutin
Jawaban: B
Pembahasan:
Riwayat kanker payudara hormone-sensitive merupakan pertimbangan penting terhadap terapi hormonal. Pendekatan nonhormonal dapat lebih sesuai setelah evaluasi risiko-manfaat.
Soal 19
Pasien pasca sectio caesarea mengalami demam, nyeri uterus, lokia berbau, dan takikardia. Diagnosis paling mungkin adalah ….
A. Endometritis postpartum
B. DVT selalu merupakan diagnosis utama
C. Mastitis
D. Sistitis tanpa pemeriksaan lain
E. Normal postpartum physiology
Jawaban: A
Pembahasan:
Demam, nyeri tekan uterus, dan lokia berbau pascapersalinan mengarah pada endometritis postpartum.
Soal 20
Perempuan 36 tahun dengan perdarahan obstetri masif mengalami hipotensi, fibrinogen rendah, trombosit menurun, dan perdarahan dari tempat tusukan. Prioritas tata laksana adalah ….
A. Hanya transfusi PRC
B. Resusitasi hemostatik dengan koreksi komponen darah dan sumber perdarahan
C. Menunggu hasil laboratorium serial tanpa tindakan
D. Memberikan antikoagulan
E. Membatasi transfusi agar tidak terjadi overload
Jawaban: B
Pembahasan:
Gambaran menunjukkan koagulopati/DIC pada perdarahan obstetri masif. Tata laksana memerlukan koreksi hemostasis secara seimbang sambil mengendalikan sumber perdarahan.
Soal 21
Pasien dengan preeklamsia berat telah mendapat magnesium sulfat. Kemudian refleks patella menghilang, RR 8 kali/menit, dan urine output menurun. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Menambah dosis magnesium
B. Menghentikan magnesium dan memberikan kalsium glukonat sesuai indikasi
C. Memberikan diuretik tanpa evaluasi lain
D. Menunggu refleks kembali spontan
E. Memberikan oksitosin
Jawaban: B
Pembahasan:
Hilangnya refleks, depresi napas, dan oliguria mengarah pada toksisitas magnesium. Magnesium harus dihentikan dan antidotum dipertimbangkan.
Soal 22
Perempuan 34 tahun dengan kehamilan 39 minggu mengalami demam tinggi, hipotensi, takikardia, dan penurunan kesadaran setelah persalinan lama. Langkah prioritas adalah ….
A. Menunggu kultur darah
B. Memulai resusitasi sepsis, antibiotik spektrum luas, dan source control
C. Memberikan uterotonik saja
D. Memindahkan ke bangsal biasa
E. Menunda antibiotik sampai diagnosis pasti
Jawaban: B
Pembahasan:
Sepsis maternal membutuhkan tata laksana segera. Kultur penting, tetapi terapi antibiotik dan resusitasi tidak boleh ditunda secara tidak perlu.
Soal 23
Dalam konseling pada pasien dengan kanker ovarium, dokter mengetahui pasien masih memiliki kapasitas penuh tetapi keluarga meminta diagnosis tidak diberitahukan. Sikap paling tepat adalah ….
A. Menuruti keluarga tanpa menilai preferensi pasien
B. Mengutamakan otonomi pasien dan menilai bagaimana pasien ingin menerima informasi
C. Menyembunyikan diagnosis secara permanen
D. Memberikan informasi hanya kepada keluarga
E. Membatalkan semua terapi
Jawaban: B
Pembahasan:
Pasien yang kompeten memiliki hak atas informasi mengenai kondisinya. Preferensi komunikasi pasien perlu dieksplorasi secara langsung.
Soal 24
Pasien dengan placenta accreta spectrum telah terdiagnosis antenatal. Pendekatan terbaik adalah ….
A. Persalinan tanpa persiapan multidisiplin
B. Perencanaan persalinan terjadwal di pusat dengan tim multidisiplin dan kesiapan transfusi
C. Induksi di fasilitas tanpa bank darah
D. Menunggu persalinan spontan pada semua kasus
E. Melakukan ekstraksi plasenta manual rutin
Jawaban: B
Pembahasan:
Placenta accreta spectrum memiliki risiko perdarahan masif. Perencanaan antenatal, tim multidisiplin, anestesi, transfusi, dan strategi operatif sangat penting.
Soal 25
Pasien dengan preterm labor 30 minggu tanpa infeksi, tanpa perdarahan, dan tanpa fetal compromise datang dengan kontraksi teratur serta perubahan serviks. Tujuan utama tata laksana awal adalah ….
A. Terminasi segera pada semua kasus
B. Memperoleh waktu untuk kortikosteroid antenatal dan intervensi fetal benefit bila tidak ada kontraindikasi
C. Menunda semua terapi
D. Memberikan uterotonik
E. Melakukan amniotomi
Jawaban: B
Pembahasan:
Pada persalinan preterm terpilih tanpa kontraindikasi, tokolisis dapat digunakan secara terbatas untuk memperoleh waktu pemberian kortikosteroid dan intervensi lain yang memberi manfaat pada janin.
Mantapkan Persiapan Ujikom Obgyn 3D ke 4A

Perbanyak latihan soal berbasis kasus untuk mengasah clinical reasoning, interpretasi CTG dan USG, penentuan timing of delivery, penanganan kegawatdaruratan obstetri, serta pengambilan keputusan pada kasus ginekologi kompleks. Kunjungi fungsional.id untuk mengakses latihan soal lebih banyak dan coba simulasi CAT sebagai bagian dari persiapan Uji Kompetensi Dokter Spesialis Obgyn 3D ke 4A.