100+ Soal Uji Kompetensi Dokter Ahli Madya + Pembahasan Kisi-kisi

100+ Soal Uji Kompetensi Dokter Ahli Madya + Pembahasan Kisi-kisi

Uji Kompetensi Dokter Ahli Madya merupakan salah satu tahapan strategis dalam memastikan mutu, profesionalitas, dan kesiapan dokter dalam menjalankan praktik kedokteran pada jenjang keahlian yang lebih tinggi. Pada level ini, peserta tidak hanya dituntut menguasai ilmu klinis secara komprehensif, tetapi juga mampu menunjukkan ketajaman penalaran diagnostik, ketepatan pengambilan keputusan berbasis bukti, serta keterampilan manajerial dalam penatalaksanaan pasien. Kompleksitas kasus yang diujikan umumnya merefleksikan situasi klinis nyata, sehingga dokter diharapkan mampu mengintegrasikan aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara simultan dalam satu kerangka pelayanan kesehatan yang utuh.

Artikel ini disusun untuk membantu peserta mempersiapkan diri secara lebih terarah melalui penyajian soal-soal uji kompetensi Dokter Ahli Madya yang dilengkapi pembahasan mendalam serta kisi-kisi materi yang relevan dengan standar pengujian terkini. Dengan memahami pola soal, cakupan kompetensi, dan pendekatan analisis kasus yang sering muncul, diharapkan peserta tidak hanya berlatih menjawab, tetapi juga mengasah clinical reasoning dan critical thinking yang menjadi kunci kelulusan. Pembahasan yang disajikan dirancang sistematis agar dapat menjadi sarana belajar mandiri yang efektif sekaligus referensi penguatan kompetensi profesional.

Kisi-kisi Soal Uji Kompetensi Dokter Ahli Madya

Berikut kisi-kisi Soal Uji Kompetensi Dokter Ahli Madya yang disertai penjelasan singkat tiap poin. Kisi-kisi ini merepresentasikan kompetensi klinis, manajerial, dan profesional yang umumnya diujikan pada level ahli madya.

  1. Penalaran Klinis (Clinical Reasoning) Lanjut
    Menguji kemampuan menganalisis data anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang untuk menegakkan diagnosis kerja maupun banding secara komprehensif pada kasus kompleks/multisistem.
  2. Penegakan Diagnosis Berbasis Evidence-Based Medicine (EBM)
    Fokus pada pemilihan pemeriksaan penunjang yang tepat, interpretasi hasil lab/radiologi, serta penggunaan guideline klinis terkini sebagai dasar diagnosis.
  3. Tatalaksana Kasus Komprehensif
    Meliputi terapi farmakologis dan non-farmakologis, pemilihan regimen obat rasional, monitoring terapi, serta penyesuaian pada kondisi komorbid.
  4. Kegawatdaruratan Medik dan Life Saving Management
    Menguji respon cepat terhadap kondisi emergensi seperti syok, henti jantung, gagal napas, trauma, dan resusitasi sesuai protokol (ACLS/ATLS).
  5. Manajemen Penyakit Kronis dan Degeneratif
    Penatalaksanaan jangka panjang penyakit seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, PPOK, termasuk pencegahan komplikasi dan edukasi pasien.
  6. Keselamatan Pasien (Patient Safety) dan Mutu Layanan
    Prinsip keselamatan pasien, pencegahan medical error, pelaporan insiden, serta penerapan clinical governance di fasilitas kesehatan.
  7. Komunikasi Efektif dan Etik Kedokteran
    Menguji kemampuan komunikasi dokter-pasien, informed consent, breaking bad news, kerahasiaan medis, serta pengambilan keputusan etik-legal.
  8. Manajemen Pelayanan Kesehatan dan Kolaborasi Interprofesional
    Peran dokter ahli madya dalam koordinasi tim, rujukan, manajemen alur layanan, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.
  9. Promotif dan Preventif Berbasis Komunitas
    Strategi pencegahan penyakit, skrining, imunisasi, edukasi kesehatan masyarakat, serta pendekatan kedokteran keluarga/komunitas.
  10. Interpretasi Data Epidemiologi dan Program Kesehatan
    Kemampuan membaca data surveilans, indikator kesehatan, outbreak investigation, serta keterlibatan dalam perencanaan dan evaluasi program kesehatan.

Contoh Soal Uji Kompetensi Dokter Ahli Madya

Berikut Contoh Soal Uji Kompetensi Dokter Ahli Madya berbasis kisi-kisi yang ada. Soal dibuat panjang, berbasis kasus (HOTS), dengan opsi A–E, kunci jawaban, dan pembahasan mendalam.

Soal 1
Seorang laki-laki 58 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas memberat sejak 2 hari. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes tidak terkontrol. Pada pemeriksaan didapatkan RR 30x/menit, SpO₂ 88% RA, TD 170/100 mmHg, nadi 110x/menit. Auskultasi paru terdengar ronki basah bilateral. Foto toraks menunjukkan kardiomegali dengan gambaran edema paru. Laboratorium: BNP meningkat, troponin negatif. EKG: LVH tanpa elevasi ST.

Dokter jaga mempertimbangkan beberapa diagnosis dan tatalaksana awal.

Manakah pendekatan tatalaksana awal paling tepat berdasarkan kondisi pasien?

A. Pemberian cairan bolus cepat untuk meningkatkan perfusi
B. Oksigen, diuretik IV, vasodilator, dan posisi duduk
C. Antibiotik spektrum luas segera
D. Bronkodilator nebulisasi sebagai terapi utama
E. Trombolisis segera

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
Kasus mengarah ke acute decompensated heart failure dengan edema paru kardiogenik. Tatalaksana awal mengikuti prinsip LMNOP: Lasix (diuretik), Morphine (selektif), Nitrate (vasodilator), Oxygen, Position (duduk). Cairan bolus kontraindikasi karena memperberat overload. Tidak ada bukti infeksi → antibiotik bukan prioritas. Bronkodilator bukan terapi utama. Tidak ada STEMI → trombolisis tidak indikasi.

Soal 2
Seorang perempuan 32 tahun dibawa ke IGD pasca kecelakaan lalu lintas. Pasien tidak sadar, GCS 6, napas megap-megap. TD 80/50 mmHg, nadi 140x/menit, RR tidak adekuat. Terdapat perdarahan aktif paha kanan. Dokter melakukan primary survey sesuai ATLS.

Langkah prioritas setelah memastikan airway dengan cervical control adalah…

A. CT scan whole body segera
B. Pemasangan bidai ekstremitas
C. Intubasi endotrakeal dan ventilasi
D. Pemberian analgesik IV
E. Pemeriksaan laboratorium lengkap

Jawaban Benar: C

Pembahasan:
Primary survey ABCDE. Setelah airway dinilai tidak adekuat (napas megap-megap, GCS 6), maka definitive airway diperlukan → intubasi. Imaging, lab, dan tindakan lain dilakukan setelah stabilisasi airway & breathing. Analgesik bukan prioritas pada pasien tidak stabil.

Soal 3
Seorang pria 60 tahun kontrol rutin DM tipe 2 selama 12 tahun. Keluhan baal kaki, mudah lelah. TD 150/90 mmHg. HbA1c 9,2%. Kreatinin 2,1 mg/dL, eGFR 35 ml/menit. Saat ini menggunakan metformin dosis maksimal dan sulfonilurea.

Penyesuaian terapi paling tepat adalah…

A. Menambah metformin dosis
B. Menghentikan metformin dan mulai insulin
C. Menambah tiazolidindion
D. Mengganti sulfonilurea dengan acarbose
E. Hanya modifikasi gaya hidup

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
eGFR 35 → metformin kontraindikasi relatif (risiko asidosis laktat). HbA1c sangat tinggi → butuh intensifikasi insulin. OAD lain tidak cukup efektif pada kontrol buruk + gangguan ginjal. Jadi hentikan metformin dan mulai insulin.

Soal 4
Seorang pasien kanker stadium lanjut menanyakan langsung kepada dokter mengenai prognosis hidupnya. Keluarga sebelumnya meminta dokter tidak memberi tahu diagnosis sebenarnya karena takut pasien depresi. Pasien tampak kompeten secara mental dan meminta penjelasan jujur.

Sikap dokter paling tepat adalah…

A. Mengikuti permintaan keluarga sepenuhnya
B. Memberi informasi sebagian tanpa prognosis
C. Menolak menjawab dan merujuk ke keluarga
D. Memberikan informasi jujur dengan pendekatan empatik
E. Menunda informasi tanpa batas waktu

Jawaban Benar: D

Pembahasan:
Prinsip etik: autonomy & veracity. Pasien kompeten berhak tahu diagnosis & prognosis. Dokter wajib menyampaikan secara jujur, empatik, dan bertahap (SPIKES protocol). Permintaan keluarga tidak boleh menghilangkan hak pasien.

Soal 5
Di sebuah RS terjadi peningkatan infeksi luka operasi dalam 3 bulan terakhir. Dokter ahli madya diminta melakukan investigasi. Data awal menunjukkan kepatuhan cuci tangan rendah dan sterilisasi alat tidak terdokumentasi baik.

Langkah paling tepat sebagai intervensi awal berbasis patient safety adalah…

A. Menghentikan semua operasi elektif
B. Mengganti seluruh staf kamar operasi
C. Audit kepatuhan hand hygiene dan sterilisasi lalu intervensi sistem
D. Memberi antibiotik profilaksis dosis tinggi pada semua pasien
E. Menutup kamar operasi sementara tanpa investigasi

Jawaban Benar: C

Pembahasan:
Pendekatan patient safety berbasis system improvement, bukan menyalahkan individu. Langkah awal: surveillance, audit, identifikasi akar masalah (RCA), lalu perbaikan SOP. Menutup OK atau mengganti staf bukan solusi berbasis data. Antibiotik berlebihan meningkatkan resistensi.

Soal 6
Seorang perempuan 45 tahun datang dengan keluhan lemah, bengkak tungkai, dan penurunan jumlah urin sejak 1 minggu. Riwayat lupus eritematosus sistemik (LES) 8 tahun. TD 160/100 mmHg. Edema anasarka (+). Lab: Hb 9 g/dL, ureum 120 mg/dL, kreatinin 4,5 mg/dL, albumin 2,5 g/dL, urinalisis proteinuria ++++, hematuria +. ANA dan anti-dsDNA meningkat.

Diagnosis kerja paling tepat adalah…

A. Acute tubular necrosis
B. Nefropati diabetik
C. Lupus nefritis aktif
D. Sindrom nefrotik minimal change
E. Gagal ginjal prerenal

Jawaban Benar: C

Pembahasan:
Riwayat LES + proteinuria masif + hematuria + anti-dsDNA meningkat → khas lupus nefritis aktif. ATN tidak disertai autoimun marker. Nefropati diabetik tidak ada riwayat DM. Minimal change jarang hematuria & autoantibodi. Bukan prerenal karena ada kerusakan glomerulus.

Soal 7
Pria 50 tahun datang dengan nyeri dada 2 jam, menjalar ke lengan kiri. TD 90/60 mmHg, nadi 50x/menit. EKG menunjukkan elevasi ST inferior (II, III, aVF) disertai blok AV derajat II. RS tidak memiliki fasilitas PCI.

Tatalaksana reperfusi paling tepat adalah…

A. Aspirin saja menunggu rujukan
B. Trombolisis segera jika tidak kontraindikasi
C. Heparin tanpa trombolisis
D. Beta blocker dosis tinggi
E. Observasi serial EKG

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
STEMI <12 jam tanpa PCI → trombolisis indikasi kuat. Hipotensi & bradikardi sering pada inferior MI (RCA). Aspirin saja tidak cukup. Beta blocker kontraindikasi pada hipotensi/bradikardi. Reperfusi tidak boleh ditunda.

Soal 8
Pasien laki-laki 67 tahun dengan riwayat PPOK eksaserbasi sering, hipertensi, dan gagal jantung HFrEF. Saat ini menggunakan salbutamol inhalasi, amlodipin, dan furosemid. Dokter mempertimbangkan terapi tambahan untuk kontrol PPOK jangka panjang.

Pilihan paling tepat adalah…

A. Propranolol oral
B. LABA + LAMA inhalasi
C. Kortikosteroid oral jangka panjang
D. Teofilin dosis tinggi
E. Antihistamin rutin

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
PPOK moderat-berat → LABA + LAMA terapi pemeliharaan utama. Propranolol (beta blocker non selektif) memperburuk bronkospasme. Steroid oral jangka panjang banyak efek samping. Teofilin bukan lini utama. Antihistamin tidak relevan.

Soal 9
Seorang pasien menerima transfusi darah dan mengalami reaksi hemolitik akut akibat ketidaksesuaian golongan. Investigasi menemukan kesalahan pelabelan sampel di bangsal.

Pendekatan manajemen insiden paling tepat adalah…

A. Menghukum perawat yang bertugas
B. Menyembunyikan insiden untuk menjaga reputasi RS
C. Root Cause Analysis dan perbaikan sistem identifikasi pasien
D. Menghentikan layanan transfusi
E. Memberi kompensasi tanpa investigasi

Jawaban Benar: C

Pembahasan:
Patient safety menekankan no blame culture dan perbaikan sistem. Dilakukan RCA: identifikasi, pelabelan, double check, barcode system. Menghukum individu saja tidak mencegah kejadian ulang.

Soal 10
Di suatu wilayah terjadi peningkatan kasus TB paru. Cakupan penemuan kasus rendah dan banyak pasien putus obat. Dokter ahli madya ditunjuk memimpin intervensi program.

Strategi paling efektif menurunkan insiden TB adalah…

A. Hanya meningkatkan kapasitas RS rujukan
B. Skrining aktif kontak serumah + DOTS
C. Memberi vitamin massal
D. Menutup wilayah dengan lockdown
E. Mengobati hanya kasus berat

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
Pengendalian TB berbasis public health approach: penemuan kasus aktif, investigasi kontak, terapi terawasi (DOTS), kepatuhan obat. RS rujukan saja tidak menurunkan transmisi komunitas. Vitamin & lockdown tidak spesifik TB.

Soal 11
Seorang pria 40 tahun datang dengan demam 10 hari, nyeri kepala, dan penurunan kesadaran ringan. Riwayat HIV tidak terkontrol. Pada pemeriksaan didapatkan kaku kuduk (+). CT scan kepala menunjukkan lesi multipel dengan ring enhancement. CD4 80 sel/µL.

Diagnosis paling mungkin adalah…

A. Meningitis bakterial akut
B. Toksoplasmosis serebri
C. Limfoma primer SSP
D. Tuberkuloma otak
E. Abses bakteri multipel

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HIV dengan CD4 <100 + lesi multipel ring enhancement → paling khas toksoplasmosis serebri. Limfoma biasanya lesi soliter. TB bisa multipel tapi lebih jarang dan onset lebih kronik. Meningitis tidak memberi lesi fokal multipel.

Soal 12
Pasien laki-laki 65 tahun dirawat karena pneumonia berat. Hari ke-3 terjadi penurunan kesadaran. TD 70/40 mmHg, nadi 130x/menit, suhu 39°C, laktat meningkat. Setelah cairan 30 ml/kg, MAP tetap <65 mmHg.

Langkah berikut paling tepat adalah…

A. Tambah cairan tanpa batas
B. Mulai vasopressor norepinefrin
C. Dopamin dosis rendah
D. Diuretik IV
E. Steroid inhalasi

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
Ini syok septik refrakter cairan. Sesuai Surviving Sepsis Campaign → vasopressor lini pertama norepinefrin untuk capai MAP ≥65. Cairan berlebih → overload. Dopamin bukan lini utama. Diuretik kontraindikasi.

Soal 13
Pasien stroke masif, GCS 3, ventilator dependent, prognosis sangat buruk. Keluarga meminta penghentian ventilator. Tidak ada advance directive, namun pasien sebelumnya pernah menyatakan tidak ingin “dipertahankan dengan mesin” bila harapan hidup kecil.

Keputusan paling etis adalah…

A. Menolak permintaan keluarga
B. Menghentikan ventilator tanpa dokumentasi
C. Melanjutkan terapi maksimal tanpa diskusi
D. Melakukan ethical case conference & informed decision
E. Menyerahkan keputusan ke perawat

Jawaban Benar: D

Pembahasan:
Kasus end-of-life → perlu shared decision making, pertimbangan etik, hukum, komite etik, dan dokumentasi. Tidak boleh sepihak. Prinsip autonomy, beneficence, non-maleficence dipertimbangkan.

Soal 14
Sebuah studi menilai obat baru menurunkan mortalitas infark. Mortalitas kelompok obat 10%, plasebo 20%.

Berapakah Absolute Risk Reduction (ARR)?

A. 5%
B. 10%
C. 15%
D. 20%
E. 50%

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
ARR = Risiko kontrol − risiko terapi
= 20% − 10% = 10%
Ini juga berarti NNT = 1 / 0,10 = 10 pasien untuk mencegah 1 kematian.

Soal 15
Di ICU terjadi konflik antara dokter, perawat, dan farmasis terkait pemberian antibiotik broad spectrum jangka panjang tanpa evaluasi kultur. Angka resistensi meningkat.

Langkah kepemimpinan klinis paling tepat adalah…

A. Membiarkan praktik berjalan
B. Menegur staf secara individual
C. Membentuk antimicrobial stewardship program
D. Menghentikan semua antibiotik
E. Mengganti seluruh tim ICU

Jawaban Benar: C

Pembahasan:
Masalah resistensi → perlu pendekatan sistem: Antimicrobial Stewardship Program (ASP) meliputi audit antibiotik, de-eskalasi, kultur sebelum terapi, guideline RS, kolaborasi multidisiplin. Bukan menyalahkan individu.

Soal 16
Seorang pria 52 tahun dirawat karena demam tinggi, menggigil, dan nyeri pinggang kanan. Riwayat batu ginjal berulang. TD 95/60 mmHg, nadi 120x/menit, suhu 39,5°C. Pemeriksaan menunjukkan nyeri ketok CVA kanan (+). Lab: leukosit 19.000, prokalsitonin meningkat, kreatinin 2,0 mg/dL. USG: hidronefrosis kanan dengan obstruksi ureter.

Pendekatan tatalaksana paling tepat adalah…

A. Antibiotik oral dan observasi
B. Antibiotik IV saja tanpa tindakan urologi
C. Drainase obstruksi + antibiotik IV
D. ESWL segera
E. Analgesik dan hidrasi saja

Jawaban Benar: C

Pembahasan:
Kasus urosepsis akibat obstruksi. Prinsip: source control + antibiotik IV. Tanpa drainase (nefrostomi/stent), infeksi sulit teratasi. ESWL kontraindikasi saat infeksi aktif. Antibiotik saja tidak cukup.

Soal 17
Seorang pasien gagal jantung dirawat di ICU. Tekanan vena sentral tinggi, PCWP meningkat, curah jantung rendah, dan resistensi vaskular sistemik tinggi.

Profil hemodinamik ini paling sesuai dengan…

A. Syok hipovolemik
B. Syok kardiogenik
C. Syok distributif
D. Syok anafilaktik
E. Syok neurogenik

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
Ciri syok kardiogenik:

  • Preload ↑ (CVP, PCWP tinggi)
  • CO ↓
  • SVR ↑ (kompensasi vasokonstriksi)
    Hipovolemik → preload rendah. Distributif → SVR rendah.

Soal 18
Pasien 70 tahun dengan fibrilasi atrium mendapat warfarin. Ia juga diberi antibiotik kotrimoksazol untuk ISK. Seminggu kemudian terjadi perdarahan gusi dan INR 6,5.

Penyebab interaksi paling mungkin adalah…

A. Penurunan absorpsi warfarin
B. Induksi enzim hati
C. Inhibisi metabolisme warfarin
D. Peningkatan ekskresi ginjal
E. Kompetisi reseptor trombin

Jawaban Benar: C

Pembahasan:
Kotrimoksazol menghambat CYP2C9 → metabolisme warfarin turun → INR naik → risiko perdarahan. Ini contoh penting drug interaction patient safety.

Soal 19
Perempuan 60 tahun datang 1 jam setelah onset hemiparesis kanan dan afasia. TD 170/100 mmHg, GCS 14. CT scan non-kontras: tidak tampak perdarahan.

Tatalaksana reperfusi paling tepat adalah…

A. Aspirin dosis tinggi segera
B. Heparin drip
C. Trombolisis IV alteplase
D. Menunggu MRI
E. Observasi 24 jam

Jawaban Benar: C

Pembahasan:
Stroke iskemik onset <4,5 jam tanpa perdarahan → IV tPA (alteplase) indikasi. Aspirin diberikan setelah 24 jam pasca trombolisis. Heparin tidak rutin. Time is brain.

Soal 20
Angka kematian ibu di suatu kabupaten tinggi. Audit menunjukkan keterlambatan rujukan, kurangnya fasilitas PONED, dan distribusi dokter tidak merata.

Strategi intervensi sistem paling berdampak adalah…

A. Kampanye media sosial saja
B. Pelatihan kegawatdaruratan obstetri + penguatan sistem rujukan
C. Menambah RS tersier di ibu kota provinsi
D. Memberi insentif persalinan di rumah
E. Skrining anemia saja

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
Masalah AKI → pendekatan three delays model:

  1. Terlambat mengenali
  2. Terlambat mencapai fasilitas
  3. Terlambat mendapat layanan

Penguatan PONED, rujukan, SDM, dan pelatihan emergensi obstetri paling berdampak langsung menurunkan mortalitas.

Siap Lulus Uji Kompetensi Dokter Ahli Madya Tanpa Ragu? Saatnya Latihan dengan Soal yang Tepat!

Jangan hanya membaca teori, kunci kelulusan ada pada seberapa sering Anda berlatih mengerjakan soal berbasis kasus klinis nyata. Paket soal yang kami sediakan di fungsional.id dirancang khusus mengikuti kisi-kisi terbaru, level HOTS, dan pola soal ujikom riil, sehingga sangat relevan untuk persiapan Anda.

Kenapa Harus Paket Soal di fungsional.id?

📚 Soal lengkap & terstruktur sesuai blueprint ujikom
🧠 Berbasis kasus klinis mendalam (clinical reasoning oriented)
📝 Pembahasan detail, bukan sekadar kunci jawaban
📊 Bisa mengukur level kompetensi Anda secara objektif
⏱️ Cocok untuk latihan mandiri maupun simulasi tryout
🎯 Membantu memetakan kelemahan sebelum ujian sesungguhnya

🔥 Jangan tunggu sampai mendekati ujian!
Semakin cepat Anda berlatih, semakin matang kesiapan klinis dan analisis Anda.

👉 Kunjungi sekarang: fungsional.id
Dan temukan paket soal terbaik untuk menembus kelulusan Uji Kompetensi Dokter Ahli Madya tahun ini.

💡 Latihan yang tepat bukan hanya meningkatkan nilai, tapi menyelamatkan masa depan karier profesional Anda.

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Picture of Tim Asn

Tim Asn

Tim ASN adalah kelompok profesional yang terbiasa menyusun soal. Kami terdiri dari ahli berbagai bidang, berkomitmen menciptakan soal berkualitas tinggi yang relevan dengan kompetensi jabatan.
Butuh Paket Soal Ini?
Akses Sekarang!

Dapatkan Akses Sistem CBT dengan ratusan paket soal + pembahasan!

Butuh Bantuan?