Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya: Materi, Kisi-Kisi, Latihan Soal & Pembahasan

Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya merupakan salah satu tahapan penting dalam pengembangan karier Jabatan Fungsional Dokter Gigi. Melalui uji kompetensi ini, peserta dinilai berdasarkan penguasaan kompetensi teknis, profesionalisme, kemampuan klinis, pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based dentistry), serta penerapan standar pelayanan kesehatan gigi dan mulut sesuai ketentuan yang berlaku. Oleh karena itu, persiapan yang matang menjadi faktor utama untuk memperoleh hasil yang optimal.

Artikel “Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya 2026: Materi, Kisi-Kisi, Latihan Soal & Pembahasan” disusun sebagai referensi belajar bagi peserta yang akan mengikuti uji kompetensi. Di dalamnya terdapat rangkuman materi penting, kisi-kisi terbaru yang mengacu pada kompetensi Jabatan Fungsional Dokter Gigi Ahli Madya, serta contoh soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) lengkap dengan pembahasannya. Dengan mempelajari materi secara sistematis dan berlatih mengerjakan soal sesuai pola ujian, diharapkan peserta dapat meningkatkan pemahaman, mengasah kemampuan analisis klinis, dan lebih percaya diri dalam menghadapi Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya.

Mengenal Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya

Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya merupakan proses penilaian yang dirancang untuk mengukur kompetensi pejabat fungsional Dokter Gigi dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara profesional, aman, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Uji kompetensi ini menjadi salah satu persyaratan penting dalam pengembangan karier, khususnya bagi Dokter Gigi yang akan naik ke jenjang Ahli Madya. Melalui penilaian ini, instansi pembina memastikan bahwa setiap peserta telah memenuhi standar kompetensi sesuai tugas, fungsi, dan tanggung jawab jabatan.

Dalam pelaksanaannya, peserta akan diuji pada berbagai aspek kompetensi, mulai dari penguasaan ilmu kedokteran gigi, penegakan diagnosis, penyusunan rencana perawatan, pelaksanaan tindakan klinis, pencegahan dan pengendalian infeksi, keselamatan pasien, komunikasi profesional, hingga penerapan Evidence-Based Dentistry (EBD) dalam pengambilan keputusan klinis. Oleh karena itu, peserta perlu mempersiapkan diri dengan memahami materi sesuai kisi-kisi terbaru, memperbarui pengetahuan berdasarkan pedoman pelayanan terkini, serta rutin berlatih mengerjakan soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) agar lebih siap menghadapi Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya.

Aspek Penilaian dalam Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya

Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya diselenggarakan untuk menilai kemampuan peserta dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara profesional, sesuai standar kompetensi jabatan, standar pelayanan, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran gigi. Penilaian tidak hanya berfokus pada penguasaan teori, tetapi juga pada kemampuan berpikir kritis, menganalisis kasus klinis, menyusun rencana perawatan yang tepat, serta mengambil keputusan berdasarkan Evidence-Based Dentistry (EBD) dengan tetap mengutamakan keselamatan pasien.

Aspek yang dinilai dalam uji kompetensi meliputi kemampuan melakukan anamnesis, pemeriksaan klinis dan penunjang, menegakkan diagnosis, menyusun rencana perawatan komprehensif, melaksanakan tindakan kedokteran gigi sesuai indikasi, menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI), menjaga keselamatan pasien (patient safety), mengelola rekam medis, menerapkan komunikasi efektif dengan pasien dan tim kesehatan, serta menjunjung tinggi etika profesi dan profesionalisme. Selain itu, peserta juga diharapkan mampu mengevaluasi hasil perawatan, menyelesaikan permasalahan klinis yang kompleks, serta memberikan pelayanan yang berorientasi pada mutu, keselamatan, dan kepuasan pasien.

Strategi Persiapan Menghadapi Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya

Menghadapi Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya memerlukan persiapan yang terencana dan sistematis. Selain memahami teori dasar kedokteran gigi, peserta perlu memperdalam kompetensi klinis, menguasai pedoman pelayanan terkini, serta mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran gigi. Persiapan juga harus mencakup pemahaman terhadap standar operasional prosedur (SOP), keselamatan pasien (patient safety), pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI), serta penerapan Evidence-Based Dentistry (EBD) dalam praktik sehari-hari.

Selain mempelajari materi sesuai kompetensi jabatan, peserta disarankan untuk rutin berlatih mengerjakan soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang menguji kemampuan analisis kasus klinis, penegakan diagnosis, penyusunan rencana perawatan, serta pengambilan keputusan yang tepat berdasarkan kondisi pasien. Dengan persiapan yang matang, evaluasi mandiri secara berkala, dan latihan soal yang konsisten, peserta akan lebih siap menghadapi uji kompetensi serta meningkatkan peluang untuk naik ke jenjang Dokter Gigi Ahli Madya.

Kisi-Kisi Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya

Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya bertujuan mengukur kompetensi profesional, klinis, manajerial, dan etika profesi dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang aman, bermutu, efektif, serta berorientasi pada keselamatan pasien. Materi yang diujikan mengacu pada kompetensi Jabatan Fungsional Dokter Gigi, dengan penekanan pada kemampuan menganalisis kasus klinis, menegakkan diagnosis, menyusun rencana perawatan komprehensif, melaksanakan tindakan sesuai standar profesi, serta mengevaluasi hasil pelayanan berdasarkan Evidence-Based Dentistry (EBD).

NomorMateri UjiPokok Bahasan
1Regulasi Pelayanan Kedokteran GigiPeraturan perundang-undangan, standar pelayanan kedokteran gigi, kewenangan Dokter Gigi, rekam medis, informed consent, dan etika profesi.
2Jabatan Fungsional Dokter GigiTugas dan fungsi, jenjang jabatan, angka kredit, pengembangan kompetensi berkelanjutan (CPD), serta profesionalisme ASN.
3Anamnesis dan Pemeriksaan KlinisTeknik anamnesis, pemeriksaan ekstraoral dan intraoral, pemeriksaan jaringan keras dan lunak, identifikasi faktor risiko, serta interpretasi temuan klinis.
4Diagnosis dan Pemeriksaan PenunjangPenegakan diagnosis, interpretasi radiografi dental, pemeriksaan laboratorium penunjang, serta diagnosis banding penyakit gigi dan mulut.
5Penyusunan Rencana PerawatanPrioritas perawatan, penyusunan treatment plan komprehensif, penentuan prognosis, serta kolaborasi antarprofesi.
6Kedokteran Gigi KonservasiDiagnosis karies, restorasi gigi, perawatan pulpa, penggunaan bahan restorasi, serta evaluasi hasil perawatan.
7PeriodonsiaPenyakit periodontal, scaling dan root planing, pemeliharaan jaringan periodontal, serta pencegahan penyakit periodontal.
8Bedah MulutPencabutan gigi, penatalaksanaan komplikasi sederhana, tindakan bedah minor, serta penanganan kegawatdaruratan dasar.
9Kedokteran Gigi AnakPertumbuhan dan perkembangan gigi, manajemen perilaku anak, pencegahan karies, serta perawatan gigi anak.
10ProstodonsiaIndikasi gigi tiruan lepasan dan cekat, evaluasi fungsi pengunyahan, serta pemeliharaan prostesis.
11Ortodonsia DasarKelainan oklusi, deteksi dini maloklusi, dan indikasi rujukan kasus ortodonti.
12Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)Hand hygiene, sterilisasi alat, desinfeksi, penggunaan APD, pengelolaan limbah medis, dan kewaspadaan standar.
13Keselamatan Pasien (Patient Safety)Identifikasi pasien, pencegahan insiden keselamatan pasien, komunikasi efektif, pelaporan insiden, dan manajemen risiko klinis.
14Farmakologi Kedokteran GigiAnalgesik, antibiotik, anestesi lokal, interaksi obat, kontraindikasi, serta penggunaan obat secara rasional.
15Kedaruratan Medik di Klinik GigiSinkop, reaksi alergi, syok anafilaktik, henti napas, Basic Life Support (BLS), dan penanganan kegawatdaruratan.
16Promosi dan Pencegahan Kesehatan GigiEdukasi kesehatan gigi, promotif-preventif, pemberdayaan masyarakat, serta program kesehatan gigi berbasis komunitas.
17Evidence-Based Dentistry (EBD)Penelusuran literatur ilmiah, penilaian bukti ilmiah, penerapan hasil penelitian dalam praktik klinis, dan pengambilan keputusan berbasis bukti.
18Manajemen Pelayanan Kedokteran GigiManajemen mutu pelayanan, audit klinis, pengelolaan sarana dan prasarana, serta peningkatan kualitas pelayanan.
19Etika Profesi dan KomunikasiKode etik dokter gigi, komunikasi terapeutik, hubungan dokter-pasien, kolaborasi interprofesi, serta kerahasiaan informasi medis.
20Soal HOTS TerintegrasiStudi kasus yang mengintegrasikan anamnesis, diagnosis, interpretasi radiografi, penyusunan rencana perawatan, tindakan klinis, keselamatan pasien, PPI, etika profesi, dan pengambilan keputusan klinis sesuai standar pelayanan kedokteran gigi.

Materi yang Perlu Diprioritaskan

  • Kuasai anamnesis, pemeriksaan klinis, penegakan diagnosis, dan penyusunan rencana perawatan komprehensif sesuai standar pelayanan kedokteran gigi.
  • Pahami kedokteran gigi konservasi, periodonsia, bedah mulut, kedokteran gigi anak, prostodonsia, dan ortodonsia dasar sebagai kompetensi klinis utama.
  • Pelajari pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI), keselamatan pasien, farmakologi, serta penanganan kegawatdaruratan medik di praktik kedokteran gigi.
  • Tingkatkan pemahaman mengenai Evidence-Based Dentistry (EBD), etika profesi, komunikasi efektif, dan manajemen mutu pelayanan sebagai bagian dari kompetensi profesional.
  • Biasakan mengerjakan soal berbasis studi kasus (HOTS) yang menuntut kemampuan analisis, evaluasi, penalaran klinis, dan pengambilan keputusan berdasarkan standar profesi Dokter Gigi Ahli Madya.

Contoh Soal Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya

Berikut merupakan contoh soal pilihan ganda berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang disusun mengacu pada kisi-kisi sebelumnya, meliputi kompetensi klinis, keselamatan pasien, pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI), etika profesi, komunikasi, serta pengambilan keputusan berbasis Evidence-Based Dentistry (EBD) sesuai ruang lingkup Jabatan Fungsional Dokter Gigi Ahli Madya. Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya diterapkan pada fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, dan klinik sesuai kebutuhan layanan kesehatan.

Soal 1

Seorang pasien laki-laki berusia 45 tahun datang dengan keluhan nyeri hebat pada gigi molar bawah kiri sejak tiga hari terakhir. Pemeriksaan menunjukkan karies profunda disertai nyeri spontan, perkusi positif, dan radiograf memperlihatkan pelebaran ligamen periodontal di daerah apeks. Tindakan yang paling tepat adalah….

A. Memberikan analgesik saja.

B. Melakukan restorasi langsung.

C. Menegakkan diagnosis, menjelaskan pilihan terapi kepada pasien, dan menyusun rencana perawatan saluran akar sesuai indikasi.

D. Melakukan pencabutan tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

E. Menunda seluruh perawatan selama satu bulan.

Jawaban: C

Pembahasan:
Dokter Gigi Ahli Madya harus mampu mengintegrasikan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan radiograf untuk menentukan diagnosis serta menyusun rencana perawatan yang komprehensif berdasarkan indikasi klinis.

Soal 2

Seorang pasien diabetes melitus datang untuk pencabutan gigi dengan kadar glukosa darah yang belum terkontrol. Langkah paling tepat adalah….

A. Tetap melakukan pencabutan.

B. Memberikan antibiotik lalu langsung mencabut gigi.

C. Menunda tindakan elektif, berkoordinasi dengan dokter yang merawat, dan melakukan stabilisasi kondisi pasien.

D. Memberikan anestesi dosis ganda.

E. Meminta pasien datang kembali tanpa penjelasan.

Jawaban: C

Pembahasan:
Keselamatan pasien menjadi prioritas. Kondisi sistemik yang belum terkontrol harus dievaluasi sebelum tindakan invasif dilakukan.

Soal 3

Pada interpretasi radiografi periapikal ditemukan radiolusensi berbatas tegas di daerah apeks gigi non-vital. Diagnosis yang paling mungkin adalah….

A. Gingivitis.

B. Periodontitis kronis.

C. Lesi periapikal akibat infeksi pulpa.

D. Abrasi gigi.

E. Fluorosis.

Jawaban: C

Pembahasan:
Interpretasi radiografi merupakan kompetensi penting dalam menegakkan diagnosis penyakit gigi dan jaringan periapikal.

Soal 4

Seorang pasien anak berusia 6 tahun sangat takut menjalani perawatan gigi. Pendekatan yang paling tepat adalah….

A. Memaksa anak membuka mulut.

B. Menghentikan seluruh perawatan.

C. Menggunakan teknik komunikasi dan manajemen perilaku sesuai usia anak sebelum melakukan tindakan.

D. Memberikan anestesi umum tanpa indikasi.

E. Meminta orang tua memaksa anak.

Jawaban: C

Pembahasan:
Manajemen perilaku merupakan kompetensi dasar dalam pelayanan kedokteran gigi anak.

Soal 5

Dalam penerapan Evidence-Based Dentistry (EBD), sumber informasi yang paling kuat untuk menentukan pilihan terapi adalah….

A. Pendapat teman sejawat.

B. Pengalaman pribadi semata.

C. Bukti ilmiah terbaik yang dipadukan dengan kondisi klinis dan preferensi pasien.

D. Informasi media sosial.

E. Brosur produk.

Jawaban: C

Pembahasan:
EBD mengintegrasikan bukti ilmiah, pengalaman klinis, dan kebutuhan pasien dalam pengambilan keputusan.

Soal 6

Saat melakukan tindakan restorasi, Dokter Gigi mengalami luka tusuk jarum bekas anestesi. Langkah pertama yang paling tepat adalah….

A. Menutup luka dengan plester.

B. Mengabaikan luka.

C. Melakukan tata laksana pajanan sesuai prosedur PPI dan segera melaporkan kejadian.

D. Melanjutkan pelayanan tanpa tindakan.

E. Membersihkan alat terlebih dahulu.

Jawaban: C

Pembahasan:
Pajanan akibat benda tajam harus ditangani sesuai prosedur keselamatan kerja dan PPI.

Soal 7

Sebelum tindakan pencabutan gigi, pasien menyatakan belum memahami risiko tindakan. Dokter Gigi sebaiknya….

A. Tetap melakukan tindakan.

B. Meminta keluarga menandatangani persetujuan.

C. Memberikan penjelasan yang lengkap mengenai manfaat, risiko, alternatif tindakan, kemudian memperoleh informed consent.

D. Membatalkan seluruh perawatan.

E. Menyerahkan penjelasan kepada perawat.

Jawaban: C

Pembahasan:
Informed consent merupakan bagian dari etika profesi dan hak pasien.

Soal 8

Program pencegahan karies yang paling efektif di masyarakat adalah….

A. Memberikan antibiotik massal.

B. Edukasi kesehatan gigi, penggunaan pasta gigi berfluorida, dan pemeriksaan berkala.

C. Pencabutan seluruh gigi berlubang.

D. Mengurangi konsumsi air putih.

E. Memberikan obat kumur kepada seluruh masyarakat.

Jawaban: B

Pembahasan:
Promotif dan preventif merupakan strategi utama dalam meningkatkan kesehatan gigi masyarakat.

Soal 9

Pada evaluasi hasil perawatan saluran akar, pasien masih mengeluhkan nyeri setelah beberapa hari. Langkah yang paling tepat adalah….

A. Menyatakan perawatan gagal.

B. Mengabaikan keluhan pasien.

C. Melakukan evaluasi klinis dan radiograf, kemudian menentukan penyebab nyeri sebelum menetapkan terapi lanjutan.

D. Langsung mencabut gigi.

E. Mengulang seluruh prosedur tanpa pemeriksaan.

Jawaban: C

Pembahasan:
Evaluasi pascaperawatan harus dilakukan secara sistematis berdasarkan data klinis dan radiograf.

Soal 10

Seorang pasien lanjut usia memerlukan perawatan gigi tiruan, tetapi memiliki riwayat hipertensi dan penyakit jantung. Sebagai Dokter Gigi Ahli Madya, tindakan yang paling tepat adalah….

A. Mengabaikan riwayat penyakit.

B. Melakukan seluruh tindakan dalam satu kunjungan.

C. Menilai kondisi medis pasien secara menyeluruh, berkonsultasi bila diperlukan, lalu menyusun rencana perawatan yang aman dan sesuai kondisi sistemik pasien.

D. Menolak memberikan pelayanan.

E. Memberikan seluruh obat tanpa pemeriksaan.

Jawaban: C

Pembahasan:
Soal ini menguji kemampuan HOTS dalam mengintegrasikan kondisi sistemik, keselamatan pasien, dan penyusunan rencana perawatan yang tepat. Kompetensi tersebut merupakan bagian penting dari penilaian pada jenjang Dokter Gigi Ahli Madya.

Soal 11

Seorang pasien perempuan berusia 32 tahun datang dengan pembengkakan pada regio mandibula kanan disertai nyeri saat mengunyah. Pemeriksaan klinis menunjukkan gigi molar pertama non-vital, sedangkan radiografi memperlihatkan radiolusensi periapikal yang cukup luas. Sebagai Dokter Gigi Ahli Madya, langkah yang paling tepat adalah….

A. Langsung melakukan pencabutan gigi.

B. Memberikan analgesik tanpa pemeriksaan lanjutan.

C. Menegakkan diagnosis, mengevaluasi prognosis gigi, menyusun rencana perawatan berdasarkan kondisi klinis dan radiograf, serta menjelaskan pilihan terapi kepada pasien.

D. Menunda seluruh tindakan selama satu bulan.

E. Memberikan antibiotik tanpa diagnosis.

Jawaban: C

Pembahasan:
Penatalaksanaan kasus harus didasarkan pada hasil anamnesis, pemeriksaan klinis, radiograf, dan prinsip Evidence-Based Dentistry (EBD) untuk menentukan terapi terbaik.

Soal 12

Dalam audit mutu klinik gigi ditemukan tingginya angka kegagalan restorasi resin komposit dalam enam bulan terakhir. Langkah yang paling tepat dilakukan adalah….

A. Mengganti seluruh bahan restorasi.

B. Mengurangi jumlah pasien.

C. Melakukan audit klinis, mengidentifikasi penyebab kegagalan, mengevaluasi teknik operator, serta menyusun rencana perbaikan mutu pelayanan.

D. Menghentikan pelayanan restorasi.

E. Mengabaikan hasil audit.

Jawaban: C

Pembahasan:
Dokter Gigi Ahli Madya diharapkan mampu melakukan evaluasi mutu pelayanan melalui audit klinis dan perbaikan berkelanjutan.

Soal 13

Saat melakukan tindakan pencabutan gigi, pasien tiba-tiba mengalami sinkop. Tindakan awal yang paling tepat adalah….

A. Tetap melanjutkan pencabutan.

B. Memberikan antibiotik.

C. Menghentikan tindakan, memposisikan pasien dengan benar, memastikan jalan napas, serta memberikan penanganan kegawatdaruratan sesuai SOP.

D. Meminta pasien pulang.

E. Menunggu hingga pasien sadar sendiri.

Jawaban: C

Pembahasan:
Sinkop merupakan salah satu kegawatdaruratan medis yang harus segera ditangani dengan prinsip keselamatan pasien.

Soal 14

Seorang pasien membutuhkan pencabutan gigi, tetapi mengonsumsi antikoagulan secara rutin. Sebelum tindakan dilakukan, langkah yang paling tepat adalah….

A. Langsung melakukan pencabutan.

B. Menghentikan obat tanpa konsultasi.

C. Melakukan penilaian kondisi pasien, memeriksa riwayat pengobatan, serta berkoordinasi dengan dokter yang merawat sebelum menentukan tindakan.

D. Memberikan anestesi dosis tinggi.

E. Menolak pasien.

Jawaban: C

Pembahasan:
Riwayat penggunaan antikoagulan harus dipertimbangkan untuk mencegah komplikasi perdarahan.

Soal 15

Pada pemeriksaan radiografi panoramik ditemukan lesi radiopak berbatas tegas yang tidak sesuai dengan keluhan utama pasien. Sikap profesional yang paling tepat adalah….

A. Mengabaikan temuan tersebut.

B. Menghapus hasil radiografi.

C. Mendokumentasikan temuan, menjelaskan kepada pasien, serta melakukan pemeriksaan lanjutan atau rujukan bila diperlukan.

D. Langsung melakukan operasi.

E. Menunda seluruh pelayanan.

Jawaban: C

Pembahasan:
Dokter Gigi harus mampu mengenali incidental findings dan menentukan tindak lanjut sesuai indikasi klinis.

Soal 16

Dalam pelaksanaan program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), indikator yang paling tepat untuk mengevaluasi kepatuhan tenaga kesehatan adalah….

A. Jumlah pasien setiap hari.

B. Kepatuhan terhadap prosedur kebersihan tangan, penggunaan APD, serta sterilisasi instrumen.

C. Jumlah kursi gigi.

D. Lama pelayanan.

E. Banyaknya obat yang digunakan.

Jawaban: B

Pembahasan:
PPI berfokus pada kepatuhan terhadap prosedur yang mencegah terjadinya infeksi silang di fasilitas pelayanan kesehatan.

Soal 17

Seorang pasien meminta dilakukan pencabutan seluruh gigi yang mengalami karies, padahal sebagian besar masih dapat dipertahankan melalui perawatan konservatif. Sebagai Dokter Gigi Ahli Madya, tindakan yang paling tepat adalah….

A. Mengikuti seluruh permintaan pasien.

B. Menolak pasien.

C. Memberikan edukasi mengenai pilihan terapi yang lebih konservatif, manfaat mempertahankan gigi asli, serta menyusun rencana perawatan sesuai indikasi klinis.

D. Menunda seluruh tindakan.

E. Merujuk semua kasus.

Jawaban: C

Pembahasan:
Soal HOTS ini menguji kemampuan etika profesi, komunikasi efektif, dan pengambilan keputusan klinis yang mengutamakan kepentingan pasien.

Soal 18

Dalam penerapan Evidence-Based Dentistry, alasan utama melakukan telaah literatur ilmiah sebelum menentukan terapi adalah….

A. Mempercepat pelayanan.

B. Mengurangi komunikasi dengan pasien.

C. Memastikan keputusan klinis didasarkan pada bukti ilmiah terbaik yang tersedia.

D. Mengurangi biaya operasional.

E. Menghindari pemeriksaan klinis.

Jawaban: C

Pembahasan:
Evidence-Based Dentistry mengintegrasikan bukti ilmiah, pengalaman klinis, dan kondisi pasien dalam menentukan terapi.

Soal 19

Seorang Dokter Gigi ditunjuk menjadi koordinator peningkatan mutu pelayanan di puskesmas. Program yang paling tepat untuk meningkatkan kualitas pelayanan adalah….

A. Menambah jam praktik seluruh dokter.

B. Mengurangi jumlah pasien.

C. Melaksanakan audit rekam medis, evaluasi indikator mutu, pelatihan berkala, serta monitoring tindak lanjut hasil evaluasi.

D. Mengurangi penggunaan alat.

E. Menghapus evaluasi pelayanan.

Jawaban: C

Pembahasan:
Peningkatan mutu dilakukan melalui audit, evaluasi indikator, peningkatan kompetensi SDM, dan perbaikan berkelanjutan.

Soal 20

Dalam satu triwulan terakhir, angka keluhan pasien terhadap pelayanan kedokteran gigi meningkat. Hasil evaluasi menunjukkan penyebab utama adalah komunikasi yang kurang efektif, dokumentasi rekam medis yang belum lengkap, dan waktu tunggu yang panjang. Sebagai Dokter Gigi Ahli Madya, rekomendasi yang paling tepat adalah….

A. Menambah jumlah pasien setiap hari.

B. Mengurangi waktu konsultasi.

C. Melakukan analisis akar masalah, meningkatkan kompetensi komunikasi tenaga kesehatan, memperbaiki sistem dokumentasi rekam medis, serta melakukan evaluasi mutu pelayanan secara berkala.

D. Menghentikan pelayanan sementara.

E. Mengganti seluruh tenaga kesehatan.

Jawaban: C

Pembahasan:
Soal ini menguji kemampuan HOTS dalam manajemen pelayanan kesehatan. Dokter Gigi Ahli Madya dituntut mampu menganalisis masalah secara komprehensif, menyusun solusi berbasis mutu pelayanan, serta menerapkan perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan keselamatan dan kepuasan pasien.

Ingin lebih percaya diri menghadapi Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya

banner Uji Kompetensi Dokter Gigi Ahli Madya: Materi, Kisi-Kisi, Latihan Soal & Pembahasan

Fungsional.id menyediakan ratusan soal prediksi HOTS, materi sesuai kompetensi, kisi-kisi terbaru, serta pembahasan lengkap yang dirancang agar proses belajar menjadi lebih terarah, efektif, dan sesuai kebutuhan peserta uji kompetensi. 

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Picture of Tim Asn

Tim Asn

Tim ASN adalah kelompok profesional yang terbiasa menyusun soal. Kami terdiri dari ahli berbagai bidang, berkomitmen menciptakan soal berkualitas tinggi yang relevan dengan kompetensi jabatan.
Butuh Paket Soal Ini?
Akses Sekarang!

Dapatkan Akses Sistem CBT dengan ratusan paket soal + pembahasan!

Butuh Bantuan?