100+ Soal Uji Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Ahli Madya + Materi Lengkap

Persiapan menghadapi Uji Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Ahli Madya membutuhkan pemahaman menyeluruh terhadap berbagai kasus neurologis, mulai dari penegakan diagnosis hingga penentuan terapi dan evaluasi pasien. Kemampuan clinical reasoning menjadi bagian penting karena soal dapat menguji analisis gejala, hasil pemeriksaan, dan prioritas penanganan.

Artikel 100+ Soal Uji Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Ahli Madya + Materi Lengkap disusun untuk membantu Anda memperkuat penguasaan materi sekaligus membiasakan diri dengan soal berbasis kasus yang relevan dengan kompetensi dokter spesialis neurologi.

Materi Penting Uji Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Ahli Madya

Materi Uji Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Ahli Madya mencakup kemampuan diagnosis, clinical reasoning, pemilihan pemeriksaan penunjang, tata laksana, hingga evaluasi pasien dengan gangguan sistem saraf. Peserta perlu menguasai kasus neurologis akut maupun kronis serta mampu mengenali kondisi yang membutuhkan tindakan segera.

Materi utama yang perlu dipelajari meliputi:

  • Stroke dan Penyakit Serebrovaskular
    Stroke iskemik, stroke hemoragik, TIA, reperfusi, trombolisis, trombektomi, pencegahan sekunder, dan komplikasi pascastroke.
  • Epilepsi dan Status Epileptikus
    Klasifikasi kejang, diagnosis epilepsi, EEG, pemilihan obat antikejang, serta tata laksana status epileptikus.
  • Nyeri Kepala dan Nyeri Neuropatik
    Migren, tension-type headache, cluster headache, red flags nyeri kepala, neuralgia, dan pilihan terapi.
  • Gangguan Gerak
    Parkinson, tremor, distonia, chorea, parkinsonisme atipikal, serta komplikasi terapi dopaminergik.
  • Gangguan Neuromuskular
    Miastenia gravis, Guillain-Barré syndrome, neuropati perifer, miopati, penyakit motor neuron, serta interpretasi EMG dan nerve conduction study.
  • Infeksi Sistem Saraf
    Meningitis, ensefalitis, abses otak, neurotuberkulosis, dan infeksi oportunistik sistem saraf.
  • Neuroimunologi dan Demielinisasi
    Multiple sclerosis, NMOSD, autoimmune encephalitis, serta gangguan inflamasi sistem saraf.
  • Demensia dan Gangguan Kognitif
    Alzheimer, demensia vaskular, Lewy body dementia, frontotemporal dementia, delirium, dan penilaian fungsi kognitif.
  • Neuroonkologi
    Tumor otak primer, metastasis, edema serebri, peningkatan tekanan intrakranial, serta komplikasi neurologis keganasan.
  • Neurotrauma
    Cedera kepala, hematoma epidural, subdural, perdarahan intrakranial, cedera medula spinalis, dan tanda herniasi.
  • Gangguan Medula Spinalis
    Mielopati, kompresi medula, radikulopati, cauda equina syndrome, serta korelasi klinis dengan neuroimaging.
  • Vertigo dan Gangguan Vestibular
    Diferensiasi vertigo perifer dan sentral, nistagmus, pemeriksaan vestibular, serta red flags gangguan keseimbangan.
  • Kegawatdaruratan Neurologis
    Stroke akut, status epileptikus, peningkatan tekanan intrakranial, herniasi, krisis miastenik, gagal napas neuromuskular, dan infeksi SSP berat.
  • Pemeriksaan Neurologis
    Kesadaran, fungsi kortikal luhur, saraf kranialis, motorik, sensorik, refleks, koordinasi, gait, serta lokalisasi lesi.
  • CT Scan, MRI, dan Neuroimaging
    Interpretasi dasar CT kepala, MRI, DWI, FLAIR, angiografi, serta pola radiologis penyakit neurologis.
  • EEG dan Elektrofisiologi
    Gambaran epileptiform, aktivitas dasar EEG, EMG, serta nerve conduction study.
  • Pungsi Lumbal dan Cairan Serebrospinal
    Indikasi, kontraindikasi, tekanan pembukaan, sel, protein, glukosa, serta pola pada infeksi dan penyakit inflamasi.
  • Farmakologi Neurologi
    Antikejang, antiplatelet, antikoagulan, antiparkinson, terapi migren, kortikosteroid, imunoterapi, dan efek samping obat.
  • Rehabilitasi Neurologis
    Pemulihan pascastroke, spastisitas, disfagia, gangguan bicara, mobilisasi, fungsi sehari-hari, dan pencegahan komplikasi.
  • Etika dan Keselamatan Pasien
    Informed consent, kapasitas pasien, kerahasiaan medis, komunikasi prognosis, serta patient safety dalam pelayanan neurologi.
  • Clinical Reasoning Neurologi
    Menentukan lokasi lesi, menyusun diagnosis banding, memilih pemeriksaan paling tepat, menentukan tindakan pertama, serta mengevaluasi respons terapi.

Kisi-Kisi Uji Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Ahli Madya

Kisi-kisi Uji Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Ahli Madya sebaiknya tidak hanya menilai kemampuan mengenali penyakit, tetapi juga lokalisasi lesi, clinical reasoning, interpretasi pemeriksaan penunjang, penentuan terapi, penanganan kegawatdaruratan, keselamatan pasien, dan pengambilan keputusan pada kasus kompleks.

Panduan Kurikulum Neurologi Indonesia 2024 menempatkan kompetensi neurologi dalam berbagai area, mulai dari stroke dan neurovaskular, neurotrauma, neuroinfeksi, epilepsi, neuromuskular, neurobehavior, gangguan tidur, gangguan gerak, nyeri, hingga neuroemergensi dan neurorestorasi.

Kisi-KisiMateri yang Perlu Dikuasai
Lokalisasi Lesi NeurologisMenentukan lokasi lesi berdasarkan pola motorik, sensorik, refleks, saraf kranialis, fungsi kortikal, koordinasi, dan gait.
Pemeriksaan NeurologisStatus mental, GCS, nervus kranialis, motorik, sensorik, refleks patologis, koordinasi, cerebellar sign, dan fungsi luhur.
Stroke Iskemik AkutPenentuan onset, NIHSS, imaging awal, reperfusi, trombolisis, trombektomi, kontraindikasi, dan monitoring komplikasi.
Stroke HemoragikPerdarahan intraserebral, subaraknoid, pengendalian tekanan darah, reversal antikoagulan, peningkatan TIK, dan indikasi intervensi.
TIA dan Pencegahan SekunderStratifikasi risiko, antiplatelet, antikoagulan, kontrol faktor risiko, serta evaluasi sumber emboli.
Neurointervensi VaskularSeleksi pasien, konsep large vessel occlusion, imaging vaskular, dan prinsip terapi endovaskular.
EpilepsiKlasifikasi kejang, sindrom epilepsi, EEG, pilihan antikejang, interaksi obat, dan terapi jangka panjang.
Status EpileptikusDiagnosis, terapi lini awal dan lanjutan, status refrakter, monitoring EEG, serta neurointensif.
NeurotraumatologiCedera kepala, hematoma epidural/subdural, kontusio serebri, diffuse axonal injury, cedera medula, dan stabilisasi awal.
Peningkatan Tekanan IntrakranialTanda klinis, herniasi, neuroimaging, osmoterapi, ventilasi, posisi, dan indikasi intervensi.
NeuroemergensiKoma, status epileptikus, stroke akut, meningitis berat, krisis miastenik, GBS dengan gagal napas, dan gangguan neuromuskular akut.
NeurointensifMonitoring kesadaran, ventilasi, perfusi serebral, kejang nonkonvulsif, sedasi, dan komplikasi pasien neurologis kritis.
Penentuan Kematian dengan Kriteria NeurologisPrasyarat pemeriksaan, refleks batang otak, apnea test, faktor pengganggu, dan dokumentasi.
NeuroinfeksiMeningitis bakterial, virus dan jamur, ensefalitis, abses otak, neurotuberkulosis, neurosistiserkosis, dan infeksi oportunistik.
Neuro-AIDSGangguan neurokognitif, neuropati, mielopati, meningitis kriptokokus, dan neuro-IRIS.
NeuroimunologiMultiple sclerosis, NMOSD, MOGAD, autoimmune encephalitis, dan penyakit inflamasi sistem saraf.
Pungsi Lumbal dan CSSIndikasi, kontraindikasi, tekanan pembukaan, sel, protein, glukosa, kultur, serta pola pada infeksi dan inflamasi.
Gangguan NeuromuskularGuillain-Barré syndrome, miastenia gravis, neuropati perifer, miopati, motor neuron disease, dan gangguan neuromuscular junction.
EMG dan Nerve Conduction StudyMembedakan neuropati aksonal/demielinisasi, radikulopati, miopati, gangguan neuromuscular junction, serta interpretasi hasil.
Gangguan GerakParkinson, tremor, distonia, chorea, parkinsonisme atipikal, dyskinesia, dan komplikasi terapi.
Toksin BotulinumIndikasi pada distonia, spastisitas, gangguan gerak tertentu, serta prinsip pemilihan otot dan monitoring efek.
Nyeri Kepala PrimerMigren, tension-type headache, cluster headache, terapi akut, profilaksis, dan medication-overuse headache.
Nyeri Kepala SekunderRed flags, perdarahan subaraknoid, infeksi, massa intrakranial, hipertensi intrakranial, dan penyebab vaskular.
Nyeri NeuropatikNeuropati diabetik, neuralgia trigeminal, radikulopati, central pain, dan pemilihan farmakoterapi.
Neurobehavior dan KognitifAlzheimer, demensia vaskular, Lewy body dementia, FTD, MCI, delirium, dan pemeriksaan fungsi kognitif.
NeurogeriatriGangguan gait, jatuh, polifarmasi, demensia, stroke pada lansia, dan kompleksitas multimorbiditas.
NeuroonkologiTumor otak primer, metastasis, kejang terkait tumor, edema serebri, paraneoplastic syndrome, dan komplikasi terapi.
Gangguan Medula SpinalisMielopati servikal, transverse myelitis, kompresi medula, spinal cord infarction, serta cauda equina syndrome.
Neuro-oftalmologiPapiledema, neuritis optik, diplopia, gangguan lapang pandang, pupil abnormal, dan neuropati optik.
Neuro-otologi dan VertigoBPPV, neuritis vestibular, Ménière, stroke posterior, HINTS, nistagmus, dan rehabilitasi vestibular.
NeuropediatriKejang anak, developmental delay, neuromuskular pediatrik, cerebral palsy, dan pemeriksaan neurologis anak.
Gangguan TidurNarcolepsy, parasomnia, restless legs syndrome, gangguan tidur pada penyakit neurologis, dan dasar polisomnografi.
NeurotoksikologiKeracunan obat atau bahan neurotoksik, toxidrome, gangguan kesadaran, kejang, serta prinsip stabilisasi.
NeuroimagingCT kepala, MRI, DWI, ADC, FLAIR, GRE/SWI, angiografi, serta korelasi lokasi lesi dengan gambaran klinis.
EEGAktivitas epileptiform, pola fokal/general, status nonkonvulsif, artefak, dan indikasi monitoring EEG.
TCD dan USG KarotisEvaluasi aliran serebral, stenosis, vasospasme, dan penilaian vaskular noninvasif.
NeurorestorasiRehabilitasi pascastroke, spastisitas, disfagia, gangguan bicara, mobilitas, fungsi kognitif, dan reintegrasi aktivitas.
NeurofarmakologiAntikejang, antiplatelet, antikoagulan, antiparkinson, analgesik neuropatik, imunoterapi, dan terapi neuroemergensi.
Keselamatan PasienPencegahan medication error, identifikasi pasien, antikoagulan, antikejang, sedasi, risiko jatuh, dan adverse event.
Etika dan Medikolegal NeurologiKapasitas pengambilan keputusan, informed consent, prognosis buruk, gangguan kognitif, end-of-life care, serta kematian neurologis.
Evidence-Based NeurologyInterpretasi penelitian, guideline, sensitivitas-spesifisitas, manfaat-risiko terapi, dan penerapan bukti pada kasus individual.

Contoh Soal Uji Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Ahli Madya

Contoh soal berikut dibuat dalam format pilihan ganda A–E dengan pendekatan HOTS. Setiap kasus menuntut kemampuan melakukan lokalisasi lesi, menentukan diagnosis, menginterpretasikan pemeriksaan penunjang, memilih terapi, serta mengenali kondisi neurologis yang membutuhkan tindakan segera.

Soal 1

Seorang laki-laki 67 tahun datang 90 menit setelah mengalami kelemahan mendadak pada lengan dan tungkai kanan disertai afasia. NIHSS 13. CT kepala nonkontras tidak menunjukkan perdarahan. CTA tidak menunjukkan large vessel occlusion. Tekanan darah 172/96 mmHg dan tidak terdapat kontraindikasi mayor terapi reperfusi. Tindakan paling tepat adalah ….

A. Mempertimbangkan trombolisis intravena segera sesuai kriteria
B. Menunggu MRI sebelum memberikan terapi
C. Memberikan aspirin dan observasi selama 24 jam
D. Melakukan trombektomi mekanik meskipun tidak ada LVO
E. Menurunkan tekanan sistolik hingga di bawah 120 mmHg sebelum terapi

Jawaban: A

Pembahasan:
Pasien mengalami stroke iskemik akut dengan onset jelas dalam jendela trombolisis dan CT tidak menunjukkan perdarahan. Pedoman AHA/ASA 2026 tetap menempatkan trombolisis intravena sebagai terapi utama pada pasien yang memenuhi kriteria, dengan tenecteplase mendapat dukungan lebih luas dalam jendela 4,5 jam.

Soal 2

Pasien 59 tahun mengalami hemiparesis kiri dan neglect sejak 8 jam sebelumnya. CTA menunjukkan oklusi arteri serebri media proksimal. CT perfusi menunjukkan jaringan otak yang masih dapat diselamatkan meskipun terdapat area infark yang cukup luas. Tindakan selanjutnya yang paling tepat adalah ….

A. Tidak melakukan reperfusi karena sudah lebih dari 6 jam
B. Menilai kelayakan trombektomi mekanik berdasarkan imaging dan kondisi klinis
C. Memberikan antiplatelet ganda sebagai terapi definitif
D. Menunggu 24 jam dan mengulang CT
E. Memberikan antikoagulan intravena segera

Jawaban: B

Pembahasan:
Trombektomi mekanik tidak lagi dibatasi hanya pada jendela sangat awal. Pedoman 2026 memperluas kandidat EVT, termasuk sebagian pasien dengan large ischemic core berdasarkan seleksi klinis dan imaging.

Soal 3

Seorang perempuan 34 tahun mengalami kejang tonik-klonik selama 8 menit dan belum sadar penuh setelah kejang berhenti. Dua menit kemudian kejang kembali terjadi. Prioritas tata laksana adalah ….

A. Menunggu kejang berhenti spontan
B. Melakukan pungsi lumbal terlebih dahulu
C. Menangani sebagai status epileptikus dengan stabilisasi ABC dan terapi antikejang segera
D. Memberikan obat antikejang oral
E. Melakukan EEG sebelum terapi

Jawaban: C

Pembahasan:
Kejang berkepanjangan atau berulang tanpa pemulihan kesadaran harus dianggap sebagai status epileptikus. Penanganan awal menitikberatkan pada ABC dan penghentian kejang secepat mungkin.

Soal 4

Pasien 52 tahun datang dengan sakit kepala mendadak paling berat sepanjang hidup, muntah, dan kaku kuduk. CT kepala yang dilakukan 2 jam setelah onset menunjukkan darah pada cisterna basalis. Diagnosis paling mungkin adalah ….

A. Migren dengan aura
B. Meningitis bakterial
C. Hematoma subdural
D. Perdarahan subaraknoid
E. Tension-type headache

Jawaban: D

Pembahasan:
Thunderclap headache disertai darah di ruang subaraknoid pada CT sangat khas untuk perdarahan subaraknoid.

Soal 5

Pasien dengan cedera kepala mengalami penurunan GCS dari 13 menjadi 7, anisokor, hipertensi, dan bradikardia. Tindakan paling tepat adalah ….

A. Observasi neurologis setiap 6 jam
B. Memberikan analgesik dan menunggu CT elektif
C. Melakukan pungsi lumbal
D. Memobilisasi pasien untuk mencegah trombosis
E. Menangani sebagai peningkatan tekanan intrakranial dengan ancaman herniasi

Jawaban: E

Pembahasan:
Penurunan kesadaran, anisokor, hipertensi, dan bradikardia menunjukkan peningkatan tekanan intrakranial berat dengan kemungkinan herniasi. Stabilitas airway, breathing, circulation dan kontrol TIK menjadi prioritas.

Soal 6

Seorang laki-laki 45 tahun mengalami kelemahan kedua tungkai yang naik progresif ke lengan setelah infeksi saluran napas dua minggu sebelumnya. Refleks tendon menghilang. Kapasitas vital menurun dalam observasi serial. Tindakan paling tepat adalah ….

A. Melakukan pemantauan fungsi respirasi ketat dan mempertimbangkan terapi imunomodulator
B. Memberikan kortikosteroid oral sebagai terapi utama
C. Memulangkan pasien dengan fisioterapi
D. Memberikan levodopa
E. Membatasi pemeriksaan fungsi paru

Jawaban: A

Pembahasan:
Gambaran sesuai Guillain-Barré syndrome. Penurunan kapasitas vital merupakan tanda risiko gagal napas dan membutuhkan monitoring intensif serta terapi spesifik seperti IVIG atau plasma exchange sesuai indikasi.

Soal 7

Seorang perempuan 29 tahun dengan miastenia gravis datang dengan disfagia, suara sengau, kelemahan leher, dan napas pendek. Kemampuan menghitung dalam satu tarikan napas menurun. Prioritas adalah ….

A. Menaikkan dosis pyridostigmine tanpa pemantauan
B. Menilai kemungkinan krisis miastenik dan fungsi respirasi secara segera
C. Memberikan benzodiazepin
D. Melakukan pungsi lumbal
E. Mengobservasi di rawat jalan

Jawaban: B

Pembahasan:
Disfagia dan kelemahan respirasi pada miastenia gravis harus dicurigai sebagai krisis miastenik. Penilaian ventilasi dan kesiapan airway menjadi prioritas.

Soal 8

Pasien 40 tahun datang dengan demam, sakit kepala, perubahan perilaku, kejang fokal, dan gangguan memori. MRI menunjukkan lesi hiperintens pada lobus temporal medial. Diagnosis paling mungkin adalah ….

A. Multiple sclerosis
B. Migren kompleks
C. Ensefalitis herpes simpleks
D. Parkinsonisme
E. Subdural hygroma

Jawaban: C

Pembahasan:
Ensefalitis HSV sering melibatkan lobus temporal dan dapat menimbulkan perubahan perilaku, gangguan memori, serta kejang.

Soal 9

Perempuan 27 tahun mengalami neuritis optik berat dan mielitis longitudinal ekstensif. MRI medula menunjukkan lesi melibatkan lebih dari tiga segmen vertebra. Pemeriksaan antibodi AQP4 positif. Diagnosis paling sesuai adalah ….

A. Multiple sclerosis klasik
B. Acute disseminated encephalomyelitis
C. MOGAD pasti
D. Neuromyelitis optica spectrum disorder
E. Mielopati degeneratif

Jawaban: D

Pembahasan:
Neuritis optik berat, longitudinally extensive transverse myelitis dan antibodi AQP4 positif sangat mendukung NMOSD.

Soal 10

Laki-laki 74 tahun mengalami gangguan kognitif progresif, halusinasi visual berulang, fluktuasi perhatian, serta parkinsonisme. Diagnosis paling mungkin adalah ….

A. Alzheimer disease
B. Vascular dementia
C. Frontotemporal dementia
D. Delirium hiperaktif
E. Lewy body dementia

Jawaban: E

Pembahasan:
Kombinasi demensia, halusinasi visual, fluktuasi kognitif, dan parkinsonisme merupakan karakteristik dementia with Lewy bodies.

Soal 11

Pasien 63 tahun mengalami kelemahan wajah kanan, lengan kanan, dan tungkai kanan disertai afasia motorik. Pemeriksaan sensorik relatif baik. Lokasi lesi paling mungkin adalah ….

A. Hemisfer kiri dominan, wilayah arteri serebri media
B. Medula spinalis servikal
C. Cerebellum kanan
D. Batang otak kanan
E. Saraf perifer kanan

Jawaban: A

Pembahasan:
Hemiparesis kanan dengan afasia menunjukkan lesi supratentorial hemisfer dominan kiri, terutama wilayah MCA.

Soal 12

Pasien mengeluhkan vertigo akut, mual, dan sulit berjalan. Pemeriksaan menunjukkan nistagmus berubah arah sesuai arah pandang, skew deviation positif, dan head impulse test normal. Interpretasi paling tepat adalah ….

A. BPPV
B. Vertigo sentral yang membutuhkan evaluasi stroke posterior
C. Ménière disease
D. Neuritis vestibular perifer
E. Gangguan cemas

Jawaban: B

Pembahasan:
Pola HINTS berupa head impulse normal, nistagmus direction-changing, dan skew deviation mengarah pada penyebab sentral, terutama stroke sirkulasi posterior.

Soal 13

Pasien 68 tahun mengalami gangguan berjalan progresif, urgensi urin, dan penurunan kognitif. MRI menunjukkan ventrikulomegali yang tidak sebanding dengan derajat atrofi kortikal. Diagnosis paling mungkin adalah ….

A. Parkinson disease
B. Alzheimer disease
C. Normal pressure hydrocephalus
D. Progressive supranuclear palsy
E. Multiple system atrophy

Jawaban: C

Pembahasan:
Trias gait disturbance, gangguan kognitif, dan gangguan miksi dengan ventrikulomegali mendukung normal pressure hydrocephalus.

Soal 14

Seorang perempuan 31 tahun mengalami kelemahan tungkai, gangguan sensorik dengan sensory level di T8, dan retensi urin yang berkembang dalam dua hari. MRI menunjukkan lesi inflamasi medula. Diagnosis paling sesuai adalah ….

A. Guillain-Barré syndrome
B. Myasthenia gravis
C. Peripheral neuropathy
D. Transverse myelitis
E. Parkinson disease

Jawaban: D

Pembahasan:
Sensory level, gangguan motorik bilateral, dan disfungsi otonom mengarah pada lesi medula spinalis, sesuai transverse myelitis.

Soal 15

Pasien 58 tahun dengan kanker paru mengalami kelemahan tungkai progresif, nyeri punggung berat, dan gangguan berkemih. Prioritas adalah ….

A. Memberikan analgesik lalu kontrol seminggu lagi
B. Melakukan fisioterapi
C. Memberikan obat antikejang
D. Melakukan pungsi lumbal
E. Mencurigai kompresi medula spinalis dan melakukan evaluasi MRI segera

Jawaban: E

Pembahasan:
Riwayat kanker, nyeri punggung, defisit neurologis, dan gangguan sfingter merupakan red flags kompresi medula yang membutuhkan evaluasi segera.

Soal 16

Pasien Parkinson yang telah menggunakan levodopa selama bertahun-tahun mengalami periode “off” sebelum dosis berikutnya dan dyskinesia setelah dosis obat. Interpretasi paling tepat adalah ….

A. Komplikasi motorik terapi dopaminergik jangka panjang
B. Stroke baru
C. Miastenia gravis
D. Demensia vaskular
E. Gangguan somatoform

Jawaban: A

Pembahasan:
Wearing-off dan levodopa-induced dyskinesia merupakan komplikasi motorik khas terapi dopaminergik jangka panjang.

Soal 17

Pasien 48 tahun mengeluhkan nyeri kepala unilateral berat di sekitar mata, disertai lakrimasi dan kongesti hidung, berlangsung sekitar 60 menit dan terjadi pada waktu yang hampir sama setiap malam. Diagnosis paling mungkin adalah ….

A. Migren dengan aura
B. Cluster headache
C. Tension-type headache
D. Neuralgia oksipital
E. Sinusitis kronis

Jawaban: B

Pembahasan:
Nyeri orbital unilateral sangat berat dengan gejala otonom ipsilateral dan pola serangan berkelompok khas cluster headache.

Soal 18

EEG seorang pasien dengan episode staring singkat berulang menunjukkan generalized 3-Hz spike-and-wave complexes. Diagnosis paling mungkin adalah ….

A. Focal impaired awareness seizure
B. Psychogenic nonepileptic seizure
C. Absence seizure
D. Myoclonic status
E. Temporal lobe epilepsy

Jawaban: C

Pembahasan:
Pola generalized 3-Hz spike-and-wave merupakan temuan klasik pada absence seizure.

Soal 19

Nerve conduction study menunjukkan penurunan kecepatan hantaran yang nyata, prolongasi distal latency, dan conduction block. Temuan paling mendukung ….

A. Neuropati aksonal murni
B. Myopathy
C. Motor neuron disease
D. Neuropati demielinisasi
E. Neuromuscular junction disorder

Jawaban: D

Pembahasan:
Perlambatan konduksi, prolonged latency, dan conduction block merupakan karakteristik proses demielinisasi.

Soal 20

Pasien dengan meningitis bakterial dicurigai mengalami peningkatan tekanan intrakranial karena penurunan kesadaran dan defisit neurologis fokal. Langkah paling tepat sebelum pungsi lumbal adalah ….

A. Melakukan pungsi lumbal segera tanpa evaluasi
B. Memberikan antiplatelet
C. Menunggu seluruh hasil laboratorium
D. Melakukan EEG terlebih dahulu
E. Melakukan neuroimaging dan memulai terapi empiris tanpa menunda secara tidak perlu

Jawaban: E

Pembahasan:
Pada tanda yang mengarah ke massa atau peningkatan tekanan intrakranial, pungsi lumbal harus dipertimbangkan hati-hati. Terapi empiris infeksi SSP tidak boleh tertunda hanya karena menunggu pemeriksaan penunjang.

Soal 21

Pasien stroke iskemik yang berhasil menjalani trombektomi memiliki tekanan sistolik 165 mmHg setelah reperfusi lengkap. Tim mengusulkan penurunan agresif hingga di bawah 120 mmHg. Berdasarkan perkembangan rekomendasi terbaru, pendekatan paling tepat adalah ….

A. Menghindari penurunan tekanan darah yang terlalu agresif tanpa indikasi lain
B. Menurunkan tekanan sistolik hingga <100 mmHg
C. Membiarkan tekanan meningkat >220 mmHg
D. Memberikan vasopresor rutin
E. Menghentikan semua monitoring tekanan darah

Jawaban: A

Pembahasan:
AHA/ASA 2026 menyatakan penurunan sistolik intensif hingga <140 mmHg setelah EVT tidak memberikan manfaat dan dapat merugikan, bahkan setelah reperfusi lengkap.

Soal 22

Pasien dengan stroke iskemik akut mempunyai kadar glukosa 190 mg/dL. Tim merencanakan kontrol glukosa intensif pada target 80–110 mg/dL. Pertimbangan paling tepat adalah ….

A. Target tersebut wajib pada semua pasien stroke
B. Kontrol terlalu intensif tidak dianjurkan karena meningkatkan risiko hipoglikemia berat
C. Glukosa tidak perlu dipantau
D. Semua pasien harus diberikan insulin intravena
E. Hiperglikemia tidak memengaruhi stroke

Jawaban: B

Pembahasan:
Pedoman AHA/ASA 2026 tidak merekomendasikan kontrol glukosa intensif ke kisaran 80–130 mg/dL untuk memperbaiki luaran karena dapat meningkatkan risiko hipoglikemia berat.

Soal 23

Pasien berusia 36 tahun mengalami perubahan perilaku akut, psikosis, diskinesia orofasial, kejang, dan penurunan kesadaran. Pemeriksaan infeksi tidak mendukung. Diagnosis yang perlu dipertimbangkan kuat adalah ….

A. Alzheimer disease
B. Parkinson disease
C. Autoimmune encephalitis, termasuk anti-NMDA receptor encephalitis
D. Tension-type headache
E. Peripheral neuropathy

Jawaban: C

Pembahasan:
Kombinasi gejala psikiatrik akut, kejang, gangguan gerak, dan ensefalopati khas untuk spektrum autoimmune encephalitis, terutama anti-NMDA receptor encephalitis.

Soal 24

Seorang pasien dengan perdarahan intraserebral memburuk kesadarannya. CT ulang menunjukkan ekspansi hematoma dan tanda efek massa. Tindakan yang paling tepat adalah ….

A. Memulai antikoagulan
B. Menunda evaluasi karena ekspansi hematoma dapat berhenti spontan
C. Memberikan antiplatelet ganda
D. Melakukan evaluasi neurokritikal dan bedah saraf segera sesuai lokasi dan kondisi klinis
E. Memulangkan pasien setelah tekanan darah membaik

Jawaban: D

Pembahasan:
Deteriorasi neurologis dengan ekspansi hematoma dan efek massa membutuhkan evaluasi emergensi, termasuk kontrol fisiologis, neurointensif, serta penilaian kebutuhan intervensi bedah.

Soal 25

Pasien pascastroke memiliki hemiparesis residual, disfagia, afasia, dan ketergantungan aktivitas sehari-hari. Setelah fase akut stabil, strategi terbaik adalah ….

A. Menunda rehabilitasi sampai fungsi motorik kembali spontan
B. Hanya memberikan latihan kekuatan
C. Membatasi aktivitas agar tidak terjadi stroke berulang
D. Fokus hanya pada terapi farmakologis
E. Menyusun rehabilitasi multidisiplin berdasarkan gangguan motorik, komunikasi, menelan, kognitif, dan fungsi sehari-hari

Jawaban: E

Pembahasan:
Rehabilitasi stroke harus bersifat multidisiplin dan berorientasi fungsi. Pedoman AHA/ASA terbaru tahun 2026 juga menempatkan rehabilitasi dan pemulihan sebagai bagian penting continuum of stroke care.

Perbanyak Latihan untuk Mengasah Clinical Reasoning

Persiapan Uji Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Ahli Madya akan lebih maksimal jika disertai latihan soal yang variatif, mulai dari stroke, epilepsi, neuroinfeksi, neuromuskular, hingga neuroemergensi dan interpretasi pemeriksaan penunjang. Kunjungi fungsional.id untuk mengakses latihan soal lebih banyak, pembahasan, dan simulasi CAT yang dapat membantu Anda memperkuat kemampuan analisis sebelum ujian.

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Picture of Tim Asn

Tim Asn

Tim ASN adalah kelompok profesional yang terbiasa menyusun soal. Kami terdiri dari ahli berbagai bidang, berkomitmen menciptakan soal berkualitas tinggi yang relevan dengan kompetensi jabatan.
Butuh Paket Soal Ini?
Akses Sekarang!