Uji Kompetensi Bidan Terampil ke Mahir menjadi salah satu tahapan penting untuk menilai penguasaan kompetensi kebidanan, ketepatan pengambilan keputusan, serta kemampuan menerapkan standar pelayanan dalam berbagai kondisi klinis. Peserta perlu memahami materi yang mencakup pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, kesehatan reproduksi, hingga penanganan kondisi kegawatdaruratan sesuai kewenangan.
Melalui artikel Soal Uji Kompetensi Bidan Mahir ke Terampil: Materi, Kisi-Kisi & Latihan Soal, Anda dapat mempelajari ruang lingkup materi yang perlu dikuasai sekaligus berlatih menghadapi soal berbasis kasus. Latihan ini membantu mengasah clinical reasoning, kemampuan menentukan prioritas tindakan, serta ketelitian dalam memilih langkah yang paling sesuai dengan standar pelayanan kebidanan.
Mengenal Uji Kompetensi Bidan Terampil ke Mahir
Uji Kompetensi Bidan Terampil ke Mahir merupakan penilaian yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan kebidanan sesuai standar pelayanan. Materi yang diujikan tidak hanya menilai pemahaman teori, tetapi juga kemampuan menghadapi situasi klinis yang membutuhkan ketelitian, prioritas, serta keputusan yang tepat.
Dalam uji kompetensi ini, peserta perlu menguasai pelayanan kebidanan mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, kesehatan reproduksi, keluarga berencana, hingga deteksi dini komplikasi maternal dan neonatal. Selain itu, aspek keselamatan pasien, pencegahan infeksi, dokumentasi, etika profesi, dan komunikasi juga menjadi bagian penting dalam pelayanan kebidanan.
Soal yang diberikan dapat berbentuk kasus klinis. Peserta mungkin diminta menentukan diagnosis atau masalah kebidanan, memilih tindakan awal, menetapkan pemeriksaan yang diperlukan, melakukan pemantauan, hingga menentukan kondisi yang membutuhkan kolaborasi atau rujukan.
Karena itu, persiapan UKOM Bidan perlu diarahkan pada kemampuan memahami kondisi pasien secara menyeluruh. Penguasaan konsep harus diikuti dengan latihan clinical reasoning agar peserta terbiasa memilih tindakan yang aman, efektif, dan sesuai kewenangan serta standar pelayanan kebidanan.
Materi Uji Kompetensi Bidan Terampil ke Mahir
Materi Uji Kompetensi Bidan Mahir ke Terampil mencakup pelayanan kebidanan secara menyeluruh, mulai dari masa kehamilan hingga kesehatan reproduksi. Peserta perlu memahami teori sekaligus mampu menerapkannya pada kasus klinis. Materi yang perlu dipelajari meliputi:
- Asuhan Kehamilan
Pemeriksaan antenatal, perubahan fisiologis kehamilan, pemantauan pertumbuhan janin, tanda bahaya, dan edukasi ibu hamil. - Kehamilan Risiko Tinggi
Hipertensi dalam kehamilan, preeklamsia, anemia, diabetes gestasional, perdarahan, dan gangguan pertumbuhan janin. - Asuhan Persalinan
Tahapan persalinan, kemajuan persalinan, penggunaan partograf, pemantauan ibu dan janin, serta pertolongan persalinan normal. - Kegawatdaruratan Persalinan
Perdarahan, distosia bahu, prolaps tali pusat, partus lama, syok, serta kondisi yang membutuhkan rujukan segera. - Asuhan Masa Nifas
Involusi uterus, laktasi, pemantauan perdarahan, infeksi, kebutuhan nutrisi, dan edukasi pascapersalinan. - Bayi Baru Lahir
Penilaian kondisi bayi, menjaga suhu, pemberian ASI, perawatan tali pusat, serta deteksi tanda bahaya neonatal. - Kegawatdaruratan Neonatal
Asfiksia, hipotermia, hipoglikemia, infeksi, gangguan napas, serta tindakan awal sebelum rujukan. - Kesehatan Reproduksi
Gangguan menstruasi, infeksi saluran reproduksi, kesehatan seksual, serta edukasi kesehatan reproduksi. - Keluarga Berencana
Jenis kontrasepsi, indikasi, kontraindikasi, efek samping, konseling, serta pemilihan metode sesuai kondisi pasien. - Pelayanan Remaja
Edukasi pubertas, kesehatan reproduksi remaja, anemia, kehamilan remaja, dan konseling yang sensitif. - Deteksi Dini Komplikasi
Mengenali tanda bahaya ibu dan bayi, menentukan tingkat kegawatan, serta melakukan stabilisasi awal. - Rujukan Kebidanan
Menentukan indikasi rujukan, persiapan pasien, komunikasi dengan fasilitas tujuan, serta dokumentasi. - Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
Kebersihan tangan, penggunaan APD, teknik aseptik, sterilisasi alat, dan pengelolaan limbah medis. - Keselamatan Pasien
Identifikasi pasien, komunikasi efektif, pencegahan kesalahan tindakan, dan pelaporan insiden. - Dokumentasi Kebidanan
Pencatatan hasil pemeriksaan, tindakan, perkembangan kondisi pasien, serta evaluasi pelayanan. - Etika dan Profesionalisme
Kerahasiaan pasien, informed consent, tanggung jawab profesi, batas kewenangan, dan pelayanan tanpa diskriminasi. - Komunikasi dan Konseling
Penyampaian informasi kepada ibu dan keluarga, edukasi, komunikasi empatik, serta pengambilan keputusan bersama. - Clinical Reasoning Kebidanan
Menganalisis data, menentukan masalah prioritas, memilih tindakan awal, mengevaluasi respons, serta menentukan kebutuhan kolaborasi atau rujukan.
Kisi-Kisi Uji Kompetensi Bidan Terampil ke Mahir Berdasarkan Aturan Terbaru
Kisi-kisi Uji Kompetensi Bidan perlu mengacu pada kompetensi jabatan, bukan sekadar hafalan materi klinis. Berdasarkan Permenkes Nomor 1 Tahun 2025, Uji Kompetensi Jabatan Fungsional kesehatan digunakan untuk mengukur kompetensi teknis, kompetensi manajerial, dan kompetensi sosial kultural PNS yang menduduki Jabatan Fungsional bidang kesehatan.
Dalam standar kompetensi kebidanan, pelayanan mencakup siklus reproduksi perempuan mulai dari masa sebelum hamil, kehamilan, persalinan, pascakeguguran, nifas, bayi baru lahir, KB, kesehatan reproduksi hingga pelayanan pada masa klimakterium.
| Kisi-Kisi | Materi yang Perlu Dikuasai |
| Pengkajian Kebidanan | Anamnesis, pemeriksaan fisik, tanda vital, pemeriksaan obstetri dan identifikasi faktor risiko. |
| Asuhan Kehamilan | ANC, usia kehamilan, pertumbuhan janin, status gizi, imunisasi, suplementasi dan edukasi. |
| Kehamilan Risiko Tinggi | Hipertensi, preeklamsia, anemia, diabetes gestasional, perdarahan dan gangguan pertumbuhan janin. |
| Persalinan Normal | Tanda persalinan, kala I–IV, pemantauan kemajuan, kondisi janin dan pertolongan persalinan. |
| Partograf | Pembukaan serviks, kontraksi, DJJ, penurunan kepala serta identifikasi persalinan tidak maju. |
| Komplikasi Persalinan | Partus lama, distosia bahu, prolaps tali pusat, perdarahan dan kegawatdaruratan lainnya. |
| Perdarahan Pascapersalinan | Deteksi atonia, trauma, retensi jaringan, stabilisasi dan tindakan awal sesuai kewenangan. |
| Preeklamsia/Eklamsia | Tanda bahaya, evaluasi tekanan darah, kejang, pemberian MgSO4 sesuai kewenangan dan rujukan. |
| Asuhan Nifas | Involusi uterus, perdarahan, infeksi, laktasi, kondisi psikologis dan edukasi. |
| Bayi Baru Lahir | Penilaian awal, termoregulasi, ASI dini, perawatan tali pusat dan pemantauan neonatal. |
| Kegawatdaruratan Neonatal | Asfiksia, hipotermia, hipoglikemia, infeksi dan gangguan napas. |
| Keluarga Berencana | Konseling, pemilihan kontrasepsi, indikasi, kontraindikasi dan efek samping. |
| Kesehatan Reproduksi | Gangguan menstruasi, infeksi reproduksi, kesehatan seksual dan edukasi perempuan. |
| Remaja dan Prakonsepsi | Anemia, kesehatan reproduksi remaja, persiapan kehamilan dan faktor risiko prakonsepsi. |
| Pencegahan Infeksi | Hand hygiene, APD, teknik aseptik, dekontaminasi dan pengelolaan alat. |
| Patient Safety | Identifikasi pasien, komunikasi efektif, pencegahan kesalahan dan manajemen risiko. |
| Rujukan Kebidanan | Indikasi rujukan, stabilisasi, komunikasi fasilitas tujuan dan pendampingan. |
| Dokumentasi | Pencatatan pengkajian, diagnosis/masalah, intervensi, perkembangan dan evaluasi. |
| Etika Profesi | Kerahasiaan, informed consent, hak pasien dan batas kewenangan. |
| Komunikasi Kebidanan | Konseling, komunikasi empatik, edukasi dan pengambilan keputusan bersama. |
Contoh Soal Uji Kompetensi Bidan dan Pembahasan
Contoh soal berikut dirancang berbasis kasus untuk menguji clinical reasoning, prioritas tindakan, keselamatan pasien, kewenangan bidan, komunikasi, serta kemampuan menentukan kapan suatu kondisi dapat ditangani, dikolaborasikan, atau harus segera dirujuk.
Soal 1
Ibu hamil 36 minggu datang dengan keluhan nyeri kepala hebat dan pandangan berkunang-kunang. Tekanan darah 170/110 mmHg, nadi 92 kali/menit, DJJ 146 kali/menit, dan terdapat edema pada tungkai. Tindakan prioritas yang paling tepat adalah ….
A. Melakukan stabilisasi awal, mencegah kejang sesuai kewenangan, dan menyiapkan rujukan segera
B. Menyarankan istirahat di rumah dan kontrol ulang keesokan hari
C. Memberikan analgesik lalu mengevaluasi setelah 2 jam
D. Menunggu hasil protein urine sebelum menentukan tindakan
E. Meminta ibu berjalan untuk menilai toleransi aktivitas
Jawaban: A
Pembahasan:
Tekanan darah ≥160/110 mmHg disertai nyeri kepala dan gangguan visual mengarah pada preeklamsia berat dengan risiko eklamsia. Prioritas bukan menunggu pemeriksaan tambahan, tetapi melakukan stabilisasi, mencegah komplikasi, memantau ibu-janin, dan mempersiapkan rujukan atau kolaborasi sesuai sistem layanan.
Soal 2
Ibu inpartu kala I aktif menunjukkan pembukaan serviks 6 cm. Empat jam kemudian pembukaan baru 7 cm, kontraksi 2 kali dalam 10 menit dengan durasi 25 detik, DJJ 144 kali/menit, ketuban masih utuh. Interpretasi yang paling tepat adalah ….
A. Persalinan normal karena DJJ masih dalam batas normal
B. Kemajuan persalinan perlu dievaluasi karena kontraksi tidak adekuat
C. Fase laten memanjang
D. Tanda pasti disproporsi sefalopelvik
E. Persalinan harus segera diakhiri dengan tindakan operatif
Jawaban: B
Pembahasan:
Kemajuan pembukaan lambat harus dianalisis bersama kekuatan kontraksi, penurunan bagian terendah, posisi janin, dan faktor lain. Kontraksi hanya 2 kali/10 menit dengan durasi pendek menunjukkan aktivitas uterus belum adekuat. Belum dapat langsung disimpulkan sebagai CPD atau indikasi operasi.
Soal 3
Pada 10 menit setelah persalinan, ibu mengalami perdarahan sekitar 700 mL. Uterus teraba lembek, plasenta telah lahir lengkap, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 104 kali/menit. Tindakan awal paling tepat adalah ….
A. Segera eksplorasi jalan lahir sebagai tindakan pertama
B. Menunggu kontraksi spontan karena plasenta sudah lengkap
C. Melakukan masase uterus, pemberian uterotonika sesuai kewenangan, dan resusitasi awal
D. Memberikan minuman manis dan observasi
E. Menunda tindakan sampai jumlah darah mencapai 1.000 mL
Jawaban: C
Pembahasan:
Uterus lembek setelah persalinan menunjukkan kemungkinan besar atonia uteri. Penanganan harus segera diarahkan pada kontraksi uterus sekaligus penilaian sirkulasi dan kehilangan darah. Prinsipnya adalah mengenali penyebab berdasarkan 4T: Tone, Trauma, Tissue, Thrombin.
Soal 4
Bayi baru lahir tidak menangis, tonus lemah, dan frekuensi jantung 80 kali/menit setelah langkah awal resusitasi dilakukan dengan benar. Tindakan berikutnya yang paling tepat adalah ….
A. Melakukan observasi selama satu menit
B. Memberikan ASI segera
C. Melakukan kompresi dada langsung
D. Memberikan ventilasi tekanan positif yang efektif
E. Memberikan oksigen aliran bebas saja
Jawaban: D
Pembahasan:
Frekuensi jantung <100 kali/menit setelah langkah awal merupakan indikasi ventilasi tekanan positif. Kompresi dada dipertimbangkan bila frekuensi jantung tetap <60 kali/menit setelah ventilasi efektif.
Soal 5
Ibu postpartum hari keempat mengeluh demam, nyeri perut bawah, lokia berbau menyengat, dan uterus terasa nyeri saat dipalpasi. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Menganggap kondisi fisiologis masa nifas
B. Memberikan edukasi perawatan perineum saja
C. Menyarankan meningkatkan asupan cairan dan observasi
D. Memberikan antipiretik lalu pulangkan
E. Mencurigai infeksi puerperium dan melakukan kolaborasi/rujukan untuk terapi
Jawaban: E
Pembahasan:
Demam, nyeri uterus, dan lokia berbau merupakan tanda infeksi postpartum. Kondisi ini membutuhkan penilaian medis, antibiotik, dan pemantauan komplikasi, bukan sekadar terapi simptomatik.
Soal 6
Ibu hamil 32 minggu datang karena keluar cairan jernih dari vagina sejak 3 jam lalu. Belum ada kontraksi, suhu 36,8°C, DJJ 148 kali/menit. Tindakan yang paling tepat adalah ….
A. Menghindari pemeriksaan vaginal digital rutin, menilai kondisi ibu-janin, lalu menentukan kebutuhan rujukan
B. Melakukan pemeriksaan vaginal berulang untuk mengetahui pembukaan
C. Meminta ibu berjalan agar persalinan segera dimulai
D. Melakukan induksi tanpa evaluasi lebih lanjut
E. Memulangkan pasien karena tidak ada kontraksi
Jawaban: A
Pembahasan:
Pada dugaan ketuban pecah sebelum waktunya, pemeriksaan vaginal digital berulang meningkatkan risiko infeksi. Evaluasi harus fokus pada kondisi ibu, janin, tanda infeksi, usia kehamilan, dan kebutuhan rujukan.
Soal 7
Ibu hamil 28 minggu memiliki Hb 8,1 g/dL, mengeluh mudah lelah dan pusing. Tekanan darah normal dan tidak terdapat perdarahan aktif. Pendekatan paling tepat adalah ….
A. Menganggap kondisi normal karena anemia sering terjadi saat hamil
B. Menilai derajat anemia, mencari penyebab, memperbaiki terapi zat besi, dan menentukan kebutuhan kolaborasi
C. Langsung melakukan transfusi tanpa evaluasi
D. Menghentikan suplementasi zat besi karena dapat menyebabkan mual
E. Menyarankan istirahat saja
Jawaban: B
Pembahasan:
Anemia sedang-berat dalam kehamilan membutuhkan penilaian penyebab, kepatuhan terapi, status gizi, kemungkinan defisiensi lain, dan faktor risiko. Transfusi tidak otomatis diberikan hanya berdasarkan satu nilai Hb tanpa menilai kondisi klinis.
Soal 8
Setelah kepala bayi lahir, kepala tertarik kembali ke arah perineum dan bahu tidak segera lahir dengan tarikan normal. Tindakan awal yang paling tepat adalah ….
A. Melakukan tekanan fundus kuat
B. Menarik kepala bayi ke arah bawah
C. Melakukan manuver McRoberts disertai tekanan suprapubik sesuai prosedur
D. Menunggu kontraksi berikutnya tanpa tindakan
E. Segera menarik kedua lengan bayi
Jawaban: C
Pembahasan:
Temuan tersebut khas untuk distosia bahu. McRoberts dan tekanan suprapubik merupakan manuver awal yang lazim dilakukan. Tekanan fundus justru dapat memperburuk impaksi bahu.
Soal 9
Ibu postpartum 2 jam mengeluh pusing dan lemah. Uterus teraba keras, tetapi perdarahan aktif masih terlihat dari vagina. Penyebab yang perlu paling dicurigai adalah ….
A. Atonia uteri
B. Retensio plasenta
C. Koagulopati sebagai penyebab pertama
D. Trauma jalan lahir
E. Involusi uterus normal
Jawaban: D
Pembahasan:
Jika uterus sudah berkontraksi baik tetapi perdarahan tetap berlangsung, penyebab trauma seperti laserasi serviks, vagina, atau perineum harus dicurigai.
Soal 10
Bayi usia 12 jam tampak lemah, malas menyusu, suhu 35,8°C, dan ekstremitas dingin. Langkah paling tepat adalah ….
A. Menunggu sampai bayi merasa lapar
B. Memberikan air gula
C. Memandikan bayi dengan air hangat
D. Menempatkan bayi di ruang biasa dan observasi
E. Menghangatkan bayi secara tepat, menilai kemungkinan hipoglikemia dan infeksi, serta melakukan kolaborasi bila diperlukan
Jawaban: E
Pembahasan:
Hipotermia pada neonatus dapat berhubungan dengan gangguan adaptasi, hipoglikemia, maupun infeksi. Penanganan harus mencakup rewarming yang aman dan evaluasi penyebab.
Soal 11
Seorang ibu menyusui 6 minggu postpartum ingin menggunakan kontrasepsi. Ia memiliki riwayat hipertensi yang belum terkontrol. Prinsip pemilihan kontrasepsi yang paling tepat adalah ….
A. Memilih metode berdasarkan kondisi medis, status menyusui, kebutuhan, serta kontraindikasi
B. Memberikan metode yang paling populer tanpa konseling
C. Memilih kontrasepsi kombinasi sebagai pilihan pertama pada semua ibu postpartum
D. Menunda kontrasepsi sampai menstruasi kembali
E. Memilih berdasarkan usia saja
Jawaban: A
Pembahasan:
Pemilihan kontrasepsi harus individual. Kondisi hipertensi, status menyusui, waktu postpartum, preferensi pasien, dan risiko medis perlu dipertimbangkan bersama.
Soal 12
Ibu hamil 40 minggu datang dengan kontraksi kuat. Pemeriksaan menunjukkan pembukaan lengkap, kepala masih tinggi, DJJ menurun menjadi 90 kali/menit secara menetap. Prioritas adalah ….
A. Meminta ibu terus meneran selama 30 menit
B. Segera melakukan evaluasi kegawatan janin dan menyiapkan tindakan/rujukan definitif
C. Memberikan makanan untuk menambah tenaga ibu
D. Menunggu DJJ kembali normal secara spontan
E. Melakukan ambulasi
Jawaban: B
Pembahasan:
Bradikardia janin menetap merupakan tanda kompromi janin yang membutuhkan evaluasi dan tindakan segera. Keputusan harus mempertimbangkan posisi kepala, kemajuan persalinan, dan akses terhadap tindakan definitif.
Soal 13
Pada pemeriksaan antenatal, tinggi fundus uteri ibu hamil 32 minggu lebih kecil dari usia kehamilan, tetapi DJJ normal. Tindakan selanjutnya yang paling tepat adalah ….
A. Menyatakan janin pasti mengalami kelainan
B. Mengabaikan karena DJJ normal
C. Memverifikasi usia kehamilan, mengevaluasi pertumbuhan janin, dan merencanakan pemeriksaan lanjutan/rujukan bila perlu
D. Langsung melakukan terminasi
E. Meminta ibu meningkatkan aktivitas fisik
Jawaban: C
Pembahasan:
TFU yang lebih kecil dapat disebabkan kesalahan usia kehamilan, pertumbuhan janin terhambat, jumlah cairan ketuban, atau variasi pengukuran. Dibutuhkan evaluasi sistematis sebelum mengambil kesimpulan.
Soal 14
Saat melakukan pelayanan, bidan menemukan hasil pemeriksaan pasien yang mengarah pada kondisi di luar kewenangannya. Pasien meminta agar tetap ditangani di tempat karena takut dirujuk. Tindakan yang paling tepat adalah ….
A. Mengikuti keinginan pasien sepenuhnya
B. Menangani seluruh kasus agar pasien merasa aman
C. Meminta keluarga memutuskan tanpa penjelasan
D. Menjelaskan risiko, melakukan stabilisasi sesuai kewenangan, dan mengupayakan rujukan
E. Menghentikan semua tindakan
Jawaban: D
Pembahasan:
Hak pasien harus dihormati, tetapi tenaga kesehatan juga memiliki kewajiban menjelaskan risiko dan batas kewenangan. Pada kondisi yang membutuhkan pelayanan lebih tinggi, stabilisasi dan rujukan harus diupayakan.
Soal 15
Seorang remaja datang sendiri untuk berkonsultasi mengenai kesehatan reproduksi dan meminta agar informasinya tidak disampaikan kepada teman maupun pihak yang tidak berkepentingan. Prinsip yang paling tepat adalah ….
A. Menolak konsultasi karena tidak didampingi orang tua
B. Mengumumkan masalah kepada petugas lain
C. Mencatat informasi di tempat terbuka agar mudah diketahui
D. Menunda pelayanan sampai keluarga datang
E. Menjaga privasi dan kerahasiaan sesuai ketentuan serta memberikan konseling yang aman dan tidak menghakimi
Jawaban: E
Pembahasan:
Pelayanan kesehatan reproduksi remaja harus menjaga privasi, kerahasiaan, komunikasi yang sensitif, dan keselamatan pasien sesuai ketentuan.
Soal 16
Ibu hamil 34 minggu datang dengan perdarahan merah segar tanpa nyeri. Kondisi umum stabil, DJJ 142 kali/menit. Tindakan yang paling tepat adalah ….
A. Mencurigai plasenta previa, menghindari pemeriksaan vaginal digital, dan menyiapkan evaluasi/rujukan
B. Melakukan pemeriksaan vaginal digital segera
C. Menyuruh ibu pulang jika perdarahan berhenti
D. Memberikan uterotonika
E. Meminta ibu berjalan
Jawaban: A
Pembahasan:
Perdarahan merah segar tanpa nyeri pada trimester ketiga mengarah pada kemungkinan plasenta previa. Pemeriksaan vaginal digital dapat memicu perdarahan hebat sehingga harus dihindari sebelum lokasi plasenta diketahui.
Soal 17
Ibu postpartum mengalami perdarahan, tetapi setelah penanganan awal tekanan darah tetap 80/50 mmHg, nadi 128 kali/menit, kulit dingin, dan kesadaran mulai menurun. Prioritas selanjutnya adalah ….
A. Melanjutkan observasi tanpa perubahan tindakan
B. Menangani sebagai syok hemoragik dengan resusitasi agresif dan rujukan/kolaborasi segera
C. Memberikan makanan tinggi zat besi
D. Meminta ibu duduk agar lebih nyaman
E. Menunggu hasil laboratorium lengkap
Jawaban: B
Pembahasan:
Hipotensi, takikardia, kulit dingin, dan penurunan kesadaran menunjukkan syok. Resusitasi sirkulasi dan pengendalian sumber perdarahan harus berjalan simultan.
Soal 18
Bayi usia 3 hari tampak kuning hingga dada. Ia masih menyusu, tetapi lebih mengantuk daripada biasanya. Tindakan yang paling tepat adalah ….
A. Menganggap semua ikterus neonatal normal
B. Menjemur bayi sebagai satu-satunya terapi
C. Menilai usia munculnya ikterus, derajat klinis, kondisi umum, kecukupan ASI, serta tanda bahaya untuk menentukan kebutuhan rujukan
D. Menghentikan ASI sementara
E. Memberikan air putih
Jawaban: C
Pembahasan:
Ikterus neonatal harus dinilai berdasarkan waktu onset, progresi, kondisi umum, feeding, prematuritas, dan tanda penyakit. Tidak semua ikterus pada bayi baru lahir bersifat fisiologis.
Soal 19
Pada konseling KB, pasien memilih metode yang berbeda dari rekomendasi awal bidan, tetapi metode tersebut masih aman untuk kondisi medisnya. Sikap yang paling tepat adalah ….
A. Memaksa pasien mengikuti rekomendasi bidan
B. Menolak pelayanan
C. Meminta suami menentukan
D. Memberikan informasi lengkap dan menghormati pilihan pasien setelah informed choice
E. Tidak menjelaskan efek samping agar pasien tidak takut
Jawaban: D
Pembahasan:
Pengambilan keputusan kontrasepsi harus menghormati informed choice. Peran bidan adalah memberikan informasi yang benar, menilai keamanan, dan mendukung keputusan pasien.
Soal 20
Seorang bidan mengetahui rekannya telah salah mendokumentasikan dosis obat, tetapi pasien belum mengalami dampak. Tindakan yang paling tepat adalah ….
A. Menghapus catatan tanpa jejak
B. Membiarkan karena pasien tidak dirugikan
C. Mengubah data diam-diam
D. Menunggu sampai ditemukan auditor
E. Melakukan koreksi sesuai prosedur, melaporkan bila diperlukan, dan memastikan keselamatan pasien
Jawaban: E
Pembahasan:
Kesalahan dokumentasi tetap berpotensi memengaruhi pelayanan selanjutnya. Koreksi harus transparan dan mengikuti prosedur, bukan dimanipulasi.
Soal 21
Seorang ibu hamil datang dengan kejang. Tekanan darah 180/120 mmHg. Tindakan yang paling tepat adalah ….
A. Menangani jalan napas, mencegah cedera, memberikan tata laksana antikejang sesuai kewenangan, dan merujuk segera
B. Menahan seluruh gerakan tubuh secara kuat
C. Memasukkan benda ke mulut agar lidah tidak tergigit
D. Menunggu kejang berhenti tanpa intervensi
E. Memberikan minuman setelah kejang
Jawaban: A
Pembahasan:
Kondisi tersebut sangat mengarah pada eklamsia. Prioritasnya adalah keselamatan airway-breathing-circulation, mencegah cedera, kontrol kejang, kontrol tekanan darah sesuai sistem layanan, dan persiapan rujukan definitif.
Soal 22
Ibu pada kala III sudah 30 menit setelah bayi lahir, plasenta belum lahir, dan perdarahan mulai meningkat. Langkah yang paling tepat adalah ….
A. Menarik tali pusat secara kuat
B. Menilai kemungkinan retensio plasenta, melakukan penanganan awal sesuai kewenangan, dan menyiapkan rujukan/kolaborasi
C. Meminta ibu berjalan
D. Menunggu satu jam karena belum termasuk komplikasi
E. Memberikan makanan
Jawaban: B
Pembahasan:
Plasenta yang belum lahir disertai perdarahan merupakan kondisi berisiko. Tarikan tali pusat tanpa prosedur yang benar dapat menimbulkan komplikasi seperti inversio uteri.
Soal 23
Pasien mengatakan ia tidak memahami penjelasan mengenai prosedur yang akan dilakukan tetapi merasa sungkan bertanya. Tindakan bidan paling tepat adalah ….
A. Meminta pasien menandatangani formulir terlebih dahulu
B. Menjelaskan bahwa semua pasien harus mengikuti prosedur
C. Menjelaskan kembali dengan bahasa sederhana dan memastikan pemahaman sebelum persetujuan
D. Meminta keluarga menandatangani tanpa menjelaskan kepada pasien
E. Melanjutkan karena prosedur bersifat rutin
Jawaban: C
Pembahasan:
Informed consent bukan sekadar tanda tangan. Pasien harus memperoleh informasi yang dapat dipahami mengenai tujuan, manfaat, risiko, alternatif, dan kesempatan bertanya.
Soal 24
Dalam satu waktu, bidan harus menangani empat pasien: ibu nifas stabil meminta edukasi ASI, ibu hamil 20 minggu kontrol rutin, ibu bersalin dengan DJJ 90 kali/menit, dan pasien KB yang meminta jadwal ulang. Prioritas utama adalah ….
A. Ibu nifas karena baru melahirkan
B. Ibu hamil karena membawa janin
C. Pasien KB karena waktu tunggunya paling lama
D. Ibu bersalin dengan DJJ 90 kali/menit
E. Semua pasien ditangani sesuai urutan kedatangan
Jawaban: D
Pembahasan:
DJJ 90 kali/menit merupakan tanda kegawatan janin. Prioritas ditentukan berdasarkan tingkat risiko dan ancaman terhadap keselamatan, bukan urutan kedatangan.
Soal 25
Bidan bertugas di wilayah dengan masyarakat yang memiliki kebiasaan budaya tertentu pada masa nifas. Sebagian praktik budaya tidak berbahaya, tetapi satu kebiasaan berpotensi menyebabkan infeksi. Pendekatan terbaik adalah ….
A. Melarang seluruh praktik budaya
B. Membiarkan seluruh praktik demi menghormati adat
C. Menghindari pembicaraan mengenai budaya
D. Menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada tokoh masyarakat
E. Menghormati praktik yang aman, menjelaskan risiko praktik berbahaya, dan mencari alternatif yang tetap dapat diterima keluarga
Jawaban: E
Pembahasan:
Kompetensi sosial kultural menuntut tenaga kesehatan menghargai latar belakang pasien tanpa mengabaikan keselamatan. Pendekatan edukatif dan kolaboratif biasanya lebih efektif daripada langsung menolak seluruh kebiasaan.
Perbanyak Latihan Sebelum Menghadapi UKOM Bidan

Latihan soal berbasis kasus membantu Anda mengasah clinical reasoning, menentukan prioritas tindakan, memahami batas kewenangan, serta mengenali kondisi yang membutuhkan kolaborasi atau rujukan. Kunjungi fungsional.id untuk mengakses latihan soal lebih banyak dan coba simulasi CAT agar persiapan menghadapi Uji Kompetensi Bidan semakin terarah.

