UKP Uji Kompetensi Perpajakan Tingkat A: Soal CAT, Materi, Pembahasan

perpajakan tingkat a

UKP Uji Kompetensi Perpajakan Tingkat A merupakan salah satu tahapan untuk mengukur pemahaman dasar peserta terhadap ketentuan dan administrasi perpajakan. Materi yang diujikan mencakup konsep perpajakan, kewajiban Wajib Pajak, PPh, PPN, serta ketentuan administrasi yang menjadi dasar dalam praktik perpajakan.

Melalui artikel UKP Uji Kompetensi Perpajakan Tingkat A: Soal CAT, Materi, Pembahasan, Anda dapat mempelajari materi utama, memahami pola soal CAT, serta berlatih mengerjakan soal lengkap dengan pembahasan agar persiapan ujian menjadi lebih terarah.

Gambaran UKP Uji Kompetensi Perpajakan Tingkat A

UKP Uji Kompetensi Perpajakan Tingkat A ditujukan untuk mengukur pemahaman peserta terhadap dasar-dasar perpajakan dan penerapannya dalam pemenuhan kewajiban perpajakan. Pada tingkat ini, peserta perlu memahami konsep, ketentuan, perhitungan, serta administrasi pajak yang menjadi fondasi sebelum mempelajari materi yang lebih kompleks.

Beberapa kompetensi yang perlu dikuasai antara lain:

  • memahami hak dan kewajiban Wajib Pajak;
  • mengenali subjek dan objek pajak;
  • memahami dasar penghitungan pajak;
  • menghitung kewajiban PPh dasar;
  • memahami ketentuan PPN;
  • memahami pemotongan dan pemungutan pajak;
  • memahami pembayaran dan pelaporan pajak;
  • membaca kasus perpajakan sederhana;
  • menentukan perlakuan pajak yang tepat berdasarkan transaksi.

Dalam soal CAT, peserta tidak hanya dituntut menghafal ketentuan, tetapi juga mampu menganalisis transaksi, menentukan jenis pajak yang relevan, serta memilih tindakan perpajakan yang sesuai.

Materi UKP Uji Kompetensi Perpajakan Tingkat A

Materi UKP Tingkat A berfokus pada dasar-dasar perpajakan yang menjadi fondasi dalam pelaksanaan kewajiban Wajib Pajak. Peserta perlu memahami konsep, perhitungan, serta administrasi perpajakan agar dapat menjawab soal CAT berbasis kasus dengan tepat.

1. Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

Materi ini mencakup:

  • hak dan kewajiban Wajib Pajak;
  • pendaftaran dan administrasi perpajakan;
  • pembayaran dan penyetoran pajak;
  • penyampaian SPT;
  • pembetulan SPT;
  • sanksi administrasi;
  • pemeriksaan dan ketetapan pajak.

2. Pajak Penghasilan Orang Pribadi

Fokus materi meliputi:

  • subjek dan objek PPh;
  • penghasilan yang dikenai pajak;
  • penghasilan yang bukan objek pajak;
  • PTKP;
  • tarif PPh Orang Pribadi;
  • Penghasilan Kena Pajak;
  • kredit pajak;
  • penghitungan PPh terutang.

3. PPh Pasal 21

Peserta perlu memahami:

  • pihak yang dipotong;
  • jenis penghasilan;
  • penghitungan PPh Pasal 21;
  • pemotongan atas pegawai dan bukan pegawai;
  • bukti potong;
  • penyetoran dan pelaporan.

4. PPh Potong dan Pungut

Materi dapat mencakup:

  • PPh Pasal 22;
  • PPh Pasal 23;
  • PPh Pasal 26;
  • PPh Pasal 4 ayat (2);
  • pihak pemotong atau pemungut;
  • objek pajak;
  • dasar pemotongan;
  • kewajiban administrasi.

5. Pajak Pertambahan Nilai

Fokus pembelajaran:

  • Pengusaha Kena Pajak;
  • Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak;
  • Dasar Pengenaan Pajak;
  • Pajak Masukan dan Pajak Keluaran;
  • faktur pajak;
  • pengkreditan Pajak Masukan;
  • pembayaran dan pelaporan PPN.

6. SPT Tahunan Orang Pribadi

Peserta perlu memahami cara menentukan:

  • jenis penghasilan yang dilaporkan;
  • penghasilan final;
  • harta dan kewajiban;
  • kredit pajak;
  • status SPT nihil, kurang bayar, atau lebih bayar;
  • kewajiban penyampaian SPT.

7. Bea Meterai

Materi dasar meliputi:

  • dokumen yang dikenai Bea Meterai;
  • dokumen yang tidak dikenai Bea Meterai;
  • saat terutang;
  • pihak yang terutang;
  • mekanisme pembayaran.

8. Administrasi dan Studi Kasus Perpajakan

Soal CAT dapat menguji kemampuan peserta dalam menentukan tindakan yang tepat berdasarkan suatu transaksi, misalnya:

  • menentukan jenis pajak;
  • memilih kewajiban pemotongan;
  • menghitung pajak terutang;
  • menentukan dokumen perpajakan;
  • memilih prosedur administrasi yang sesuai.

Kisi-Kisi UKP Uji Kompetensi Perpajakan Tingkat A

Kisi-kisi UKP Tingkat A berfokus pada penguasaan dasar perpajakan, perhitungan pajak, serta administrasi perpajakan. Peserta perlu memahami konsep sekaligus mampu menerapkannya pada transaksi dan kasus sederhana yang muncul dalam soal CAT.

1. Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

Fokus materi meliputi:

  • hak dan kewajiban Wajib Pajak;
  • pendaftaran dan administrasi perpajakan;
  • pembayaran dan penyetoran pajak;
  • penyampaian dan pembetulan SPT;
  • sanksi administrasi;
  • pemeriksaan;
  • surat ketetapan pajak.

2. PPh Orang Pribadi

Kisi-kisi yang perlu dikuasai:

  • subjek dan objek PPh;
  • penghasilan yang bukan objek pajak;
  • PTKP;
  • Penghasilan Kena Pajak;
  • tarif PPh Orang Pribadi;
  • kredit pajak;
  • penghitungan PPh terutang;
  • pelaporan SPT Tahunan.

3. PPh Pasal 21

Materi dapat mencakup:

  • pegawai tetap dan tidak tetap;
  • bukan pegawai;
  • jenis penghasilan yang dipotong;
  • dasar pengenaan;
  • penghitungan PPh Pasal 21;
  • bukti potong;
  • penyetoran dan pelaporan.

4. PPh Potong/Pungut

Fokus persiapan:

  • PPh Pasal 22;
  • PPh Pasal 23;
  • PPh Pasal 26;
  • PPh Pasal 4 ayat (2);
  • pihak pemotong atau pemungut;
  • objek pemotongan;
  • dasar pengenaan;
  • administrasi bukti potong.

5. Pajak Pertambahan Nilai

Kisi-kisi PPN meliputi:

  • Pengusaha Kena Pajak;
  • Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak;
  • Dasar Pengenaan Pajak;
  • Pajak Masukan;
  • Pajak Keluaran;
  • faktur pajak;
  • pengkreditan Pajak Masukan;
  • pelaporan PPN.

6. SPT Tahunan Orang Pribadi

Peserta perlu memahami:

  • penghasilan yang harus dilaporkan;
  • penghasilan final;
  • harta dan kewajiban;
  • kredit pajak;
  • status kurang bayar, lebih bayar, atau nihil;
  • prosedur pelaporan SPT.

7. Bea Meterai

Materi yang perlu dipelajari:

  • objek Bea Meterai;
  • dokumen yang dikenai Bea Meterai;
  • saat terutang;
  • pihak yang terutang;
  • pembayaran Bea Meterai.

8. Soal Berbasis Kasus Perpajakan

Soal HOTS dapat berbentuk transaksi atau kondisi Wajib Pajak yang mengharuskan peserta:

  • menentukan jenis pajak yang tepat;
  • mengidentifikasi subjek dan objek pajak;
  • menghitung pajak terutang;
  • menentukan kewajiban pemotongan atau pemungutan;
  • menentukan prosedur pelaporan;
  • memilih tindakan administrasi perpajakan yang benar.

Contoh Soal HOTS UKP Uji Kompetensi Perpajakan Tingkat A dan Pembahasan

Berdasarkan cakupan resmi USKP Tingkat A Tahun 2026, materi yang diujikan meliputi PPh Orang Pribadi dan SPT PPh OP, KUP/PPSP/Pengadilan Pajak, PPh Potong/Pungut, PPN dan SPT PPN, PBB-P5L dan Bea Meterai, serta Kode Etik Profesi. Contoh berikut disusun dengan pola HOTS dan studi kasus, sehingga tidak hanya menguji hafalan tetapi juga kemampuan menganalisis transaksi, menentukan kewajiban perpajakan, serta memilih tindakan yang tepat.

Soal 1 – Subjek Pajak Orang Pribadi

Raka bekerja dan bertempat tinggal di Indonesia sepanjang tahun. Ia juga memperoleh penghasilan dari pekerjaan sampingan yang belum diperhitungkan dalam pemotongan pajak oleh pemberi kerja utama.

Dalam menentukan kewajiban PPh tahunannya, tindakan yang paling tepat adalah ….

A. Menggabungkan penghasilan yang menjadi objek pajak untuk menentukan kewajiban PPh sesuai ketentuan
B. Hanya melaporkan penghasilan dari pemberi kerja utama
C. Mengabaikan penghasilan sampingan jika nilainya lebih kecil
D. Melaporkan penghasilan sampingan sebagai bukan objek pajak
E. Membayar pajak hanya atas penghasilan terbesar

Jawaban: A

Pembahasan:
SPT Tahunan Orang Pribadi pada prinsipnya harus mencerminkan seluruh penghasilan yang wajib dilaporkan. Peserta harus mampu membedakan penghasilan yang menjadi objek, bersifat final, dan yang dikecualikan dari objek pajak.

Soal 2 – Penghasilan Kena Pajak

Seorang Wajib Pajak Orang Pribadi memperoleh penghasilan neto fiskal setahun sebesar Rp150 juta. Setelah memperhitungkan PTKP sesuai statusnya, Penghasilan Kena Pajak diketahui sebesar Rp90 juta.

Langkah selanjutnya adalah ….

A. Mengenakan tarif PPh final terhadap Rp150 juta
B. Menerapkan tarif progresif PPh Orang Pribadi terhadap Penghasilan Kena Pajak Rp90 juta
C. Mengalikan PTKP dengan tarif PPh
D. Menganggap pajaknya nihil
E. Menggunakan tarif PPh Badan

Jawaban: B

Pembahasan:
Tarif progresif PPh Orang Pribadi diterapkan terhadap Penghasilan Kena Pajak, bukan langsung terhadap seluruh penghasilan bruto atau neto.

Soal 3 – Norma Penghitungan Penghasilan Neto

Seorang tenaga profesional Orang Pribadi ingin menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.

Sebelum menggunakannya, hal yang paling penting dianalisis adalah ….

A. Jumlah anggota keluarga
B. Besarnya saldo tabungan
C. Apakah Wajib Pajak memenuhi persyaratan penggunaan norma dan kewajiban pemberitahuannya
D. Banyaknya pelanggan
E. Lama usaha berdiri

Jawaban: C

Pembahasan:
Norma Penghitungan Penghasilan Neto tidak dapat digunakan hanya berdasarkan pilihan Wajib Pajak. Peserta perlu memahami syarat penggunaannya, batasan yang berlaku, serta kewajiban administrasinya. Topik ini tercantum secara khusus dalam cakupan Tingkat A 2026.

Soal 4 – Pemajakan Penghasilan Keluarga

Pasangan suami istri memiliki penghasilan masing-masing dan menghadapi kondisi perpajakan tertentu yang memerlukan penggabungan atau pemisahan kewajiban.

Langkah analisis yang tepat adalah ….

A. Selalu memisahkan seluruh penghasilan
B. Selalu menggunakan NPWP istri
C. Menggunakan pihak dengan penghasilan terbesar
D. Mengidentifikasi status kewajiban perpajakan keluarga terlebih dahulu sebelum menghitung PPh
E. Mengabaikan penghasilan salah satu pihak

Jawaban: D

Pembahasan:
Pemajakan penghasilan keluarga merupakan bagian dari kisi-kisi PPh OP Tingkat A. Penentuan pajak bergantung pada status dan kondisi perpajakan keluarga.

Soal 5 – PPh Pasal 25 Orang Pribadi

Setelah menghitung PPh terutang setahun dan seluruh kredit pajaknya, Wajib Pajak masih perlu menentukan angsuran PPh Pasal 25 untuk tahun berikutnya.

Langkah yang tepat adalah ….

A. Menggunakan penghasilan bruto tanpa memperhitungkan pajak sebelumnya
B. Menyamakan angsuran dengan PPN
C. Menggunakan seluruh harta sebagai dasar angsuran
D. Menetapkan nilai berdasarkan perkiraan pribadi
E. Menghitung angsuran berdasarkan ketentuan PPh Pasal 25 setelah memperhatikan pajak terutang dan kredit pajak yang relevan

Jawaban: E

Pembahasan:
PPh Pasal 25 merupakan pembayaran pajak dalam tahun berjalan. Kisi-kisi resmi Tingkat A mencakup penghitungan pajak akhir tahun dan angsuran PPh Pasal 25 Orang Pribadi. 

Soal 6 – Pembetulan SPT

Setelah menyampaikan SPT, Wajib Pajak menemukan penghasilan yang belum dilaporkan sehingga pajak yang seharusnya dibayar menjadi lebih besar.

Tindakan yang tepat adalah ….

A. Melakukan pembetulan SPT sesuai prosedur dan memenuhi konsekuensi perpajakannya
B. Menunggu pemeriksaan terlebih dahulu
C. Melaporkannya pada tahun berikutnya
D. Menghapus transaksi dari pembukuan
E. Tidak melakukan tindakan selama belum ditegur

Jawaban: A

Pembahasan:
Kesalahan dalam SPT perlu diperbaiki melalui mekanisme pembetulan sesuai ketentuan KUP.

Soal 7 – Surat Ketetapan Pajak

Wajib Pajak menerima surat ketetapan pajak dan tidak sepakat dengan dasar koreksi yang digunakan otoritas pajak.

Langkah yang paling tepat adalah ….

A. Langsung mengajukan Peninjauan Kembali
B. Mengidentifikasi jenis ketetapan, dasar sengketa, serta prosedur keberatan yang tersedia
C. Mengabaikan surat ketetapan
D. Langsung mengajukan gugatan untuk seluruh jenis ketetapan
E. Menunggu sampai utang pajak daluwarsa

Jawaban: B

Pembahasan:
Peserta perlu memahami perbedaan pembetulan, keberatan, banding, gugatan, dan Peninjauan Kembali, termasuk tahapan penggunaannya.

Soal 8 – Penagihan Pajak

Utang pajak seorang Wajib Pajak telah memasuki tahapan penagihan berdasarkan ketentuan PPSP.

Analisis terbaik adalah ….

A. Menghapus utang dari catatan
B. Menyampaikan SPT baru agar utang hilang
C. Mengidentifikasi tahap penagihan yang sedang berjalan, hak Wajib Pajak, dan kewajiban yang harus dipenuhi
D. Mengajukan banding tanpa melihat objek sengketa
E. Mengabaikan tindakan penagihan

Jawaban: C

Pembahasan:
PPSP merupakan bagian resmi materi Tingkat A. Soal dapat menguji urutan dan konsekuensi tindakan penagihan pajak.

Soal 9 – PPh Pasal 21

Perusahaan memberikan bonus tahunan kepada pegawai tetap di luar penghasilan rutin.

Dalam menghitung PPh Pasal 21, bonus tersebut harus ….

A. Dikecualikan dari penghasilan
B. Diperlakukan sebagai PPh final
C. Dipotong menggunakan PPh Pasal 23
D. Diperhitungkan sebagai penghasilan tidak teratur sesuai mekanisme PPh Pasal 21
E. Tidak perlu dimasukkan karena bukan gaji bulanan

Jawaban: D

Pembahasan:
Cakupan Tingkat A membedakan penghitungan PPh Pasal 21 atas penghasilan bruto teratur dan tidak teratur. Bonus merupakan contoh penghasilan tidak teratur. 

Soal 10 – Natura dan Kenikmatan

Perusahaan menyediakan fasilitas tertentu kepada pegawainya dalam bentuk natura.

Sebelum menentukan perlakuan PPh Pasal 21, langkah yang tepat adalah ….

A. Menganggap seluruh natura selalu bukan objek pajak
B. Menganggap seluruh natura selalu dikenai PPh final
C. Mengubah natura menjadi PPN
D. Mengabaikan fasilitas nonuang
E. Mengidentifikasi apakah fasilitas tersebut merupakan objek atau termasuk pengecualian menurut ketentuan yang berlaku

Jawaban: E

Pembahasan:
Kisi-kisi 2026 secara khusus memasukkan bingkisan, fasilitas kerja, tempat tinggal, dan kendaraan sebagai bagian dari materi natura dan/atau kenikmatan. 

Soal 11 – PPh Pasal 23

Sebuah perusahaan membayar jasa tertentu kepada Wajib Pajak dalam negeri dan transaksi tersebut termasuk objek PPh Pasal 23.

Tindakan paling tepat adalah ….

A. Melakukan pemotongan sesuai objek, dasar pemotongan, dan tarif yang berlaku serta memenuhi administrasinya
B. Memungut PPh Pasal 22
C. Tidak memotong karena penerima merupakan badan usaha
D. Menggunakan PPh Pasal 21
E. Menunggu SPT Tahunan

Jawaban: A

Pembahasan:
Peserta harus menentukan objek, pemotong, dasar pemotongan, tarif, pengecualian, serta penyetoran dan pelaporan PPh Pasal 23.

Soal 12 – PPh Pasal 4 Ayat (2)

Wajib Pajak menerima jenis penghasilan yang berdasarkan ketentuan dikenai PPh final Pasal 4 ayat (2).

Implikasi utamanya adalah ….

A. Penghasilan harus dihitung kembali menggunakan tarif progresif
B. Perlakuan pajaknya mengikuti mekanisme PPh final sesuai karakter transaksi tersebut
C. Seluruh pajak dapat dijadikan kredit pajak tahunan
D. Penghasilan dianggap bukan objek pajak
E. Transaksi otomatis dikenai PPN saja

Jawaban: B

Pembahasan:
Peserta perlu membedakan PPh final dengan PPh yang dapat menjadi kredit pajak, karena perlakuannya pada penghitungan akhir tahun berbeda.

Soal 13 – Objek PPN

PKP melakukan transaksi penyerahan barang. Tim pajak belum mengetahui apakah transaksi tersebut terutang PPN.

Langkah analisis pertama adalah ….

A. Langsung membuat faktur pajak
B. Langsung menggunakan tarif 12%
C. Menentukan terlebih dahulu apakah penyerahan tersebut merupakan objek PPN serta bagaimana perlakuan fasilitasnya
D. Menghitung laba transaksi
E. Melihat besarnya modal pembeli

Jawaban: C

Pembahasan:
Kisi-kisi Tingkat A mencakup BKP, JKP, penyerahan yang dibebaskan, tidak dipungut, kegiatan membangun sendiri, serta penyerahan aktiva tertentu. 

Soal 14 – Faktur Pajak

PKP mengetahui terdapat kesalahan informasi dalam faktur pajak yang telah dibuat.

Langkah yang paling tepat adalah ….

A. Membiarkannya karena transaksi sudah terjadi
B. Menghapus transaksi dari pembukuan
C. Mengubah dokumen secara manual
D. Menggunakan mekanisme penggantian atau pembatalan faktur pajak sesuai jenis kesalahannya
E. Membuat transaksi baru tanpa koreksi faktur sebelumnya

Jawaban: D

Pembahasan:
Materi resmi Tingkat A mencakup tata cara pengisian, syarat formal dan material, saat pembuatan, penggantian, pembatalan, serta faktur pajak tidak lengkap.

Soal 15 – Pajak Masukan

PKP menerima faktur pajak atas suatu pembelian.

Sebelum mengkreditkan Pajak Masukan, bagian pajak perusahaan seharusnya ….

A. Mengkreditkan seluruh faktur tanpa pemeriksaan
B. Mencatatnya sebagai biaya secara otomatis
C. Menunggu akhir tahun
D. Menghapus Pajak Masukan
E. Memastikan transaksi dan faktur memenuhi persyaratan pengkreditan Pajak Masukan

Jawaban: E

Pembahasan:
Tidak seluruh Pajak Masukan otomatis dapat dikreditkan. Peserta perlu memahami kriteria Pajak Masukan yang dapat dan tidak dapat dikreditkan.

Soal 16 – SPT Masa PPN

PKP memiliki Pajak Keluaran dan Pajak Masukan dalam satu Masa Pajak.

Langkah yang benar adalah ….

A. Mengadministrasikan transaksi secara lengkap kemudian memperhitungkan Pajak Keluaran dan Pajak Masukan dalam SPT Masa PPN sesuai ketentuan
B. Hanya melaporkan Pajak Keluaran
C. Melaporkan PPN setahun sekali
D. Menyamakan PPN dengan PPh
E. Mengabaikan transaksi jika sudah dibuat faktur

Jawaban: A

Pembahasan:
Pengisian SPT Masa PPN oleh PKP Orang Pribadi termasuk dalam cakupan resmi Tingkat A. 

Soal 17 – PBB-P5L

Wajib Pajak menemukan bahwa NJOP yang digunakan dalam pengenaan PBB terhadap objek pajaknya tidak sesuai dengan kondisi yang diyakininya.

Langkah yang tepat adalah ….

A. Tidak membayar pajak
B. Menelaah dasar penetapan dan menggunakan mekanisme keberatan atau upaya administratif yang tersedia apabila memenuhi persyaratan
C. Mengubah NJOP sendiri
D. Menggunakan harga beli sebagai pajak terutang
E. Mengalihkan kewajiban kepada pihak lain

Jawaban: B

Pembahasan:
PBB-P5L memiliki bobot lebih besar daripada Bea Meterai dalam mata ujian ini, yaitu 87,5% untuk PBB-P5L dan 12,5% untuk Bea Meterai. Materinya meliputi NJOP, NJKP, NJOPTKP, penghitungan, pembayaran, keberatan, hingga restitusi.

Soal 18 – Bea Meterai

Sebuah perusahaan membuat dokumen yang berpotensi menjadi objek Bea Meterai.

Sebelum melakukan pelunasan, tindakan pertama adalah ….

A. Menggunakan meterai untuk seluruh dokumen perusahaan
B. Menentukan nilai transaksi saja
C. Menentukan apakah dokumen tersebut termasuk objek Bea Meterai atau mendapat pengecualian
D. Melakukan pemotongan PPh
E. Mengubah dokumen menjadi elektronik

Jawaban: C

Pembahasan:
Materi Bea Meterai Tingkat A mencakup objek dan pengecualian, pemungut, saat terutang, cara pelunasan, dan sanksi.

Soal 19 – Kode Etik Profesi

Seorang konsultan pajak diminta klien untuk menyembunyikan informasi transaksi agar kewajiban pajaknya menjadi lebih kecil.

Tindakan yang paling tepat adalah ….

A. Mengikuti permintaan karena klien membayar jasa konsultasi
B. Melakukan permintaan sepanjang tidak diketahui otoritas
C. Meminta staf lain melakukannya
D. Menolak tindakan yang bertentangan dengan ketentuan dan tetap menjalankan profesi dengan integritas
E. Menghapus dokumentasi konsultasi

Jawaban: D

Pembahasan:
Materi kode etik mencakup hak, kewajiban, dan larangan konsultan pajak dalam hubungannya dengan klien, rekan, dan stakeholder. Sejak 24 Agustus 2026, ketentuan mengenai konsultan pajak juga telah diperbarui melalui PMK 55 Tahun 2026, yang mencabut PMK 111/2014 beserta perubahannya. 

Soal 20 – Independensi dan Profesionalisme

Klien menawarkan imbalan tambahan kepada konsultan apabila konsultan bersedia memberikan pendapat yang tidak sesuai kondisi sebenarnya.

Sikap paling tepat adalah ….

A. Menerima jika nilainya kecil
B. Menerima selama tidak tertulis
C. Mengikuti permintaan untuk menjaga hubungan klien
D. Menyerahkan keputusan kepada staf
E. Menolak karena profesionalisme dan integritas tidak boleh dikompromikan oleh kepentingan klien

Jawaban: E

Pembahasan:
Konsultan pajak dituntut menjaga integritas, objektivitas, kepatuhan terhadap peraturan, serta tanggung jawab profesional dalam menjalankan jasa perpajakan.

Maksimalkan Persiapan UKP Perpajakan Tingkat A

cta perpajakan tingkat a

Perbanyak latihan soal agar Anda semakin siap menghadapi materi PPh Orang Pribadi, KUP, PPh Potong/Pungut, PPN, PBB-P5L, Bea Meterai, hingga Kode Etik Profesi. Kunjungi fungsional.id untuk mendapatkan lebih banyak latihan UKP Uji Kompetensi Perpajakan Tingkat A lengkap dengan soal CAT, materi, kisi-kisi, kunci jawaban, pembahasan, dan simulasi ujian.

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Picture of Tim Asn

Tim Asn

Tim ASN adalah kelompok profesional yang terbiasa menyusun soal. Kami terdiri dari ahli berbagai bidang, berkomitmen menciptakan soal berkualitas tinggi yang relevan dengan kompetensi jabatan.