100+ Soal Seleksi Penerimaan Pegawai BLUD RSUD Benda Kota Tangerang Formasi Bidan

Seleksi Penerimaan Pegawai BLUD RSUD Benda Kota Tangerang Formasi Bidan menjadi peluang bagi tenaga kebidanan yang ingin berkarier di lingkungan rumah sakit daerah. Persiapan yang matang diperlukan untuk menghadapi persaingan dan berbagai materi kompetensi kebidanan.

Kumpulan 100+ soal berikut dapat membantu Anda mengenali pola soal, menguji pemahaman materi, serta melatih kemampuan analisis menghadapi soal berbasis kasus yang relevan dengan tugas bidan.

Mengenal Seleksi Penerimaan Pegawai BLUD RSUD Benda Kota Tangerang Formasi Bidan

Seleksi Penerimaan Pegawai BLUD RSUD Benda Kota Tangerang untuk formasi Bidan ditujukan bagi pelamar yang memiliki kompetensi dan kualifikasi di bidang kebidanan. Dalam proses seleksi, peserta umumnya perlu mempersiapkan diri menghadapi materi yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab bidan di lingkungan pelayanan kesehatan.

Materi yang perlu dikuasai dapat mencakup asuhan kehamilan, persalinan, masa nifas, bayi baru lahir, kesehatan reproduksi, kegawatdaruratan maternal dan neonatal, hingga etika serta keselamatan pasien. Karena itu, latihan soal menjadi salah satu cara untuk memperkuat pemahaman sekaligus membiasakan diri menghadapi soal berbasis kasus.

Materi Seleksi Penerimaan Pegawai BLUD RSUD Benda Kota Tangerang Formasi Bidan

Materi seleksi formasi Bidan pada dasarnya perlu mengukur kemampuan peserta dalam memberikan pelayanan kebidanan secara aman, profesional, dan sesuai kebutuhan pasien. Sebagai acuan, Standar Profesi Bidan yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/320/2020 memuat standar kompetensi yang menjadi dasar kemampuan profesional bidan. Selain itu, Kementerian Kesehatan juga menetapkan Standar Kompetensi Kerja Bidang Kebidanan melalui Kepmenkes Nomor HK.01.07/MENKES/1261/2022. Materi yang perlu dipelajari untuk menghadapi seleksi antara lain:

  1. Asuhan Kebidanan Kehamilan (Antenatal Care)
    Meliputi pengkajian ibu hamil, penentuan usia kehamilan dan taksiran persalinan, pemeriksaan tanda vital, status gizi, tinggi fundus uteri, denyut jantung janin, skrining faktor risiko, pemeriksaan penunjang, edukasi kehamilan, hingga persiapan persalinan. Peserta juga perlu memahami deteksi dini preeklamsia, anemia, diabetes gestasional, infeksi, serta kondisi kehamilan berisiko tinggi. WHO menekankan pemantauan tekanan darah, pertumbuhan janin, skrining preeklamsia, pemeriksaan laboratorium, suplementasi serta kesiapan menghadapi komplikasi sebagai bagian penting pelayanan antenatal.
  2. Asuhan Persalinan dan Pemantauan Kemajuan Persalinan
    Materi mencakup tanda persalinan, tahapan kala I–IV, pemeriksaan kemajuan persalinan, kondisi ibu dan janin, kontraksi uterus, pemeriksaan dalam, mekanisme persalinan normal, pertolongan kelahiran, manajemen kala III, serta observasi setelah persalinan. Perkembangan praktik terkini juga menekankan pelayanan persalinan yang berpusat pada perempuan, pemantauan terstandar, serta pengambilan keputusan secara tepat waktu. WHO pada 2025 menerbitkan paket implementasi Labour Care Guide untuk mendukung pemantauan persalinan berbasis bukti dan pengambilan keputusan klinis.
  3. Kegawatdaruratan Maternal
    Peserta perlu memahami identifikasi dan tindakan awal pada perdarahan antepartum maupun postpartum, preeklamsia dan eklamsia, syok, distosia, retensio plasenta, ruptura uteri, infeksi atau sepsis maternal, serta kondisi obstetri lain yang membutuhkan stabilisasi dan rujukan segera. Soal seleksi dapat berbentuk kasus yang meminta peserta menentukan prioritas tindakan berdasarkan kondisi klinis pasien.
  4. Asuhan Masa Nifas
    Materi mencakup pemantauan involusi uterus, lokia, perdarahan, tanda infeksi, kondisi payudara, laktasi, kebutuhan nutrisi, mobilisasi, kesehatan psikologis ibu, hingga konseling keluarga berencana setelah persalinan. WHO menempatkan pemeriksaan kondisi ibu, deteksi perdarahan dan infeksi, dukungan menyusui, konseling serta pemantauan kesehatan ibu sebagai komponen penting pelayanan pascapersalinan.
  5. Asuhan Bayi Baru Lahir dan Neonatus
    Pembahasan meliputi penilaian awal bayi baru lahir, menjaga suhu tubuh, perawatan tali pusat, kontak kulit dengan ibu, inisiasi menyusu, pemeriksaan fisik, identifikasi tanda bahaya, serta pemantauan pertumbuhan dan kondisi neonatal. Peserta juga perlu memahami penanganan awal bayi yang mengalami gangguan pernapasan, hipotermia, infeksi, berat badan lahir rendah, atau kondisi lain yang memerlukan rujukan.
  6. Resusitasi Bayi Baru Lahir
    Materi dapat menguji kemampuan mengenali bayi yang memerlukan bantuan segera setelah lahir, melakukan penilaian cepat terhadap pernapasan dan kondisi bayi, menjaga kehangatan, melakukan stimulasi, membuka jalan napas, serta memahami prinsip ventilasi dan rujukan sesuai kewenangan dan kondisi klinis.
  7. Kesehatan Reproduksi Perempuan
    Cakupannya dapat meliputi kesehatan reproduksi sepanjang siklus kehidupan, gangguan menstruasi, infeksi saluran reproduksi, penyakit menular seksual, masalah kesuburan, skrining kesehatan reproduksi, pendidikan kesehatan, serta pelayanan kepada perempuan pada berbagai tahap kehidupan.
  8. Pelayanan Keluarga Berencana dan Kontrasepsi
    Peserta perlu memahami konseling keluarga berencana, pemilihan metode kontrasepsi berdasarkan kondisi pasien, indikasi dan kontraindikasi, efektivitas serta efek samping alat kontrasepsi. Materi dapat mencakup pil, suntik, kondom, implant, alat kontrasepsi dalam rahim hingga metode kontrasepsi permanen sesuai lingkup pelayanan dan mekanisme rujukan.
  9. ASI, Laktasi, dan Pemenuhan Nutrisi Ibu-Bayi
    Materi mencakup fisiologi laktasi, teknik menyusui, posisi dan perlekatan, ASI eksklusif, masalah produksi ASI, bendungan payudara, mastitis, serta konseling kepada ibu. Dukungan terhadap pemberian ASI dan pemberian informasi yang konsisten kepada ibu serta keluarga termasuk bagian penting pelayanan pascanatal.
  10. Deteksi Risiko dan Sistem Rujukan Kebidanan
    Bidan harus mampu membedakan kasus fisiologis dengan kondisi yang membutuhkan kolaborasi atau rujukan. Materi dapat berupa kasus ibu hamil, bersalin, nifas, atau neonatus dengan tanda bahaya, kemudian peserta diminta menentukan langkah stabilisasi, prioritas pelayanan, komunikasi antarprofesi, dan keputusan rujukan yang tepat.
  11. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
    Materi meliputi kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri, teknik aseptik, sterilisasi dan disinfeksi, pengelolaan alat serta limbah medis, pencegahan infeksi pada tindakan kebidanan, hingga keselamatan tenaga kesehatan dan pasien.
  12. Keselamatan Pasien dan Pelayanan di Rumah Sakit
    Karena formasi ditempatkan di lingkungan rumah sakit, peserta perlu memahami identifikasi pasien, komunikasi efektif, pencegahan kesalahan tindakan, pelaporan insiden, pengelolaan risiko, keamanan pemberian obat serta penerapan prinsip keselamatan pasien dalam pelayanan maternal dan neonatal.
  13. Etika, Hukum, dan Profesionalisme Bidan
    Materi dapat mencakup kode etik, kewenangan klinis, tanggung jawab profesional, informed consent, kerahasiaan informasi pasien, penghormatan terhadap hak pasien, komunikasi terapeutik, dokumentasi pelayanan serta kolaborasi dengan dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya. Standar Profesi Bidan menempatkan profesionalisme dan kompetensi sebagai bagian penting dalam penyelenggaraan pelayanan kebidanan.
  14. Dokumentasi dan Pengambilan Keputusan Klinis
    Bidan perlu mampu melakukan pengkajian, menetapkan masalah atau diagnosis kebidanan, menyusun rencana, melaksanakan tindakan, melakukan evaluasi, serta mendokumentasikan seluruh pelayanan secara sistematis. Dalam seleksi, materi ini sering dikembangkan menjadi soal studi kasus yang menuntut peserta menentukan prioritas masalah atau langkah pelayanan berikutnya.

Kisi-Kisi Seleksi Penerimaan Pegawai BLUD RSUD Benda Kota Tangerang Formasi Bidan

Kisi-kisi seleksi formasi Bidan dapat diperkirakan berfokus pada kemampuan teknis kebidanan, analisis kasus klinis, keselamatan pasien, komunikasi, serta profesionalisme dalam pelayanan rumah sakit. Standar Profesi Bidan membagi kompetensi bidan ke dalam tujuh area utama, yaitu etik legal dan keselamatan klien, komunikasi efektif, pengembangan diri dan profesionalisme, landasan ilmiah praktik kebidanan, keterampilan klinis, promosi kesehatan dan konseling, serta manajemen dan kepemimpinan. Kisi-kisi yang dapat dipelajari meliputi:

Kisi-KisiMateri yang Perlu Dikuasai
Asuhan KehamilanPengkajian ibu hamil, pemeriksaan antenatal, usia kehamilan, taksiran persalinan, tinggi fundus uteri, DJJ, status gizi, pemeriksaan laboratorium, serta identifikasi kehamilan risiko tinggi.
Komplikasi KehamilanPreeklamsia dan eklamsia, anemia, hiperemesis gravidarum, perdarahan kehamilan, ketuban pecah dini, gangguan pertumbuhan janin, dan kondisi yang memerlukan kolaborasi atau rujukan.
Asuhan Persalinan NormalDiagnosis persalinan, kala I–IV, pemantauan kemajuan persalinan, kontraksi, penurunan kepala janin, mekanisme persalinan, pertolongan kelahiran, manajemen kala III, dan pemantauan kala IV.
Kegawatdaruratan ObstetriPerdarahan postpartum, atonia uteri, retensio plasenta, syok, distosia bahu, prolaps tali pusat, preeklamsia berat, eklamsia, dan tindakan awal sebelum rujukan.
Asuhan Masa NifasInvolusi uterus, lokia, perdarahan, infeksi puerperium, perawatan luka, kebutuhan nutrisi, mobilisasi, eliminasi, kesehatan psikologis, dan edukasi ibu nifas.
Bayi Baru LahirPenilaian awal bayi, menjaga suhu tubuh, pemeriksaan fisik, perawatan tali pusat, IMD, pemberian ASI, tanda bahaya neonatus, serta pencegahan hipotermia dan infeksi.
Kegawatdaruratan NeonatalBayi tidak bernapas spontan, gangguan pernapasan, hipotermia, BBLR, kejang, infeksi neonatal, hipoglikemia, serta prinsip stabilisasi dan rujukan.
Resusitasi NeonatusPenilaian cepat setelah lahir, langkah awal resusitasi, menjaga kehangatan, stimulasi, posisi jalan napas, ventilasi tekanan positif, serta evaluasi respons bayi.
Keluarga BerencanaKonseling kontrasepsi, pil, suntik, kondom, implant, AKDR, kontrasepsi pascapersalinan, indikasi, kontraindikasi, efek samping, dan pemilihan metode sesuai kondisi pasien.
Kesehatan ReproduksiSiklus menstruasi, kesehatan reproduksi perempuan, gangguan menstruasi, infeksi organ reproduksi, IMS, fertilitas, klimakterium, serta edukasi kesehatan reproduksi.
ASI dan LaktasiFisiologi produksi ASI, ASI eksklusif, teknik menyusui, posisi dan perlekatan, bendungan ASI, puting lecet, mastitis, serta konseling menyusui.
Deteksi Dini Risiko Maternal-NeonatalIdentifikasi tanda bahaya pada ibu hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir dan neonatus serta penentuan prioritas penanganan.
Sistem RujukanPenentuan kondisi yang harus dirujuk, stabilisasi pasien sebelum rujukan, dokumentasi, komunikasi dengan fasilitas tujuan, dan kolaborasi antarprofesi.
Pencegahan dan Pengendalian InfeksiKebersihan tangan, APD, teknik aseptik, dekontaminasi alat, sterilisasi, pembuangan benda tajam, pengelolaan limbah medis, dan pencegahan infeksi silang.
Keselamatan PasienIdentifikasi pasien, komunikasi efektif, pencegahan kesalahan tindakan, keamanan obat, pencegahan risiko jatuh, pelaporan insiden, dan budaya keselamatan pasien.
Farmakologi Dasar KebidananObat yang umum digunakan dalam pelayanan maternal-neonatal, prinsip pemberian obat, dosis dasar, indikasi, kontraindikasi, efek samping, serta keamanan obat.
Pemeriksaan PenunjangInterpretasi dasar hemoglobin, urinalisis, gula darah, pemeriksaan golongan darah, proteinuria, serta pemanfaatan hasil pemeriksaan dalam pengambilan keputusan kebidanan.
Komunikasi TerapeutikAnamnesis, komunikasi dengan ibu dan keluarga, penyampaian informasi, edukasi, empati, komunikasi dalam kondisi darurat, dan komunikasi antarprofesi.
Promosi Kesehatan dan KonselingEdukasi kehamilan, persiapan persalinan, nutrisi, ASI, KB, kesehatan reproduksi, tanda bahaya serta upaya promotif dan preventif.
Etika dan Legal KebidananHak pasien, privasi, kerahasiaan, informed consent, batas kewenangan bidan, tanggung jawab profesi, dokumentasi, dan penerapan etika pelayanan.
Dokumentasi Asuhan KebidananPengkajian, identifikasi masalah, perencanaan, implementasi, evaluasi, pencatatan tindakan, serta kesinambungan informasi pelayanan.
Manajemen Pelayanan KebidananPrioritas pelayanan, koordinasi tim, pengelolaan pasien, kolaborasi dengan dokter dan tenaga kesehatan lain, serta pemanfaatan sumber daya pelayanan.
Profesionalisme BidanDisiplin, tanggung jawab, pelayanan berorientasi pasien, pengembangan kompetensi, evidence-based practice, serta kemampuan bekerja dalam tim.
Soal Studi Kasus KlinisAnalisis tanda dan gejala, penentuan diagnosis atau masalah kebidanan, tindakan paling prioritas, evaluasi pasien, keputusan kolaborasi, serta rujukan.

Contoh Soal Seleksi Penerimaan Pegawai BLUD RSUD Benda Kota Tangerang Formasi Bidan

Contoh soal berikut dirancang dalam bentuk pilihan ganda A–E dengan pendekatan HOTS. Peserta dituntut menganalisis kondisi klinis, mengenali tanda bahaya, menentukan prioritas tindakan, serta mengambil keputusan sesuai prinsip pelayanan kebidanan.

Soal 1

Ibu hamil 35 minggu datang dengan keluhan sakit kepala berat, pandangan kabur, dan nyeri ulu hati. Tekanan darah 170/110 mmHg serta protein urin positif. Tindakan yang paling tepat dilakukan bidan adalah ….

A. Melakukan stabilisasi awal dan menyiapkan rujukan segera
B. Mengobservasi selama enam jam sebelum menentukan tindakan
C. Menyarankan ibu mengurangi konsumsi garam di rumah
D. Menjadwalkan pemeriksaan ulang tiga hari kemudian
E. Menganjurkan istirahat dan meningkatkan konsumsi cairan

Jawaban: A

Pembahasan:
Hipertensi berat yang disertai proteinuria, sakit kepala, gangguan penglihatan, dan nyeri epigastrium mengarah pada preeklamsia berat. Kondisi tersebut memerlukan stabilisasi segera dan penanganan lanjutan di fasilitas yang mampu menangani kegawatdaruratan obstetri.

Soal 2

Pada kala IV persalinan, seorang ibu mengalami perdarahan banyak. Uterus teraba lembek dan tinggi fundus meningkat. Prioritas pertama yang dilakukan bidan adalah ….

A. Memasang kateter urin tanpa penilaian lain
B. Melakukan masase uterus dan menilai kontraksi
C. Mengukur kembali tinggi badan pasien
D. Menunggu kontraksi uterus muncul spontan
E. Memindahkan pasien ke ruang perawatan biasa

Jawaban: B

Pembahasan:
Uterus lembek disertai perdarahan postpartum menunjukkan kemungkinan atonia uteri. Masase uterus merupakan salah satu tindakan awal untuk merangsang kontraksi sambil melanjutkan penilaian dan penanganan perdarahan.

Soal 3

Bayi baru lahir telah dikeringkan dan diberikan stimulasi, tetapi tetap tidak bernapas. Denyut jantung 90 kali per menit. Tindakan selanjutnya yang paling tepat adalah ….

A. Melakukan kompresi dada segera
B. Mengobservasi selama satu menit
C. Memulai ventilasi tekanan positif
D. Melakukan pemeriksaan antropometri
E. Memberikan ASI melalui sendok

Jawaban: C

Pembahasan:
Apnea dengan denyut jantung di bawah 100 kali per menit setelah langkah awal merupakan indikasi pemberian ventilasi tekanan positif. Ventilasi efektif menjadi prioritas sebelum mempertimbangkan tindakan resusitasi lanjutan.

Soal 4

Ibu nifas hari keempat datang dengan suhu 39°C, nyeri perut bawah, dan lokia berbau menyengat. Tindakan yang paling tepat adalah ….

A. Menyatakan keluhan masih normal pada masa nifas
B. Menyarankan ibu mengurangi pemberian ASI
C. Memberikan edukasi kebersihan tanpa pemeriksaan lain
D. Melakukan pengkajian infeksi dan kolaborasi penanganan segera
E. Menunggu sampai lokia berubah warna

Jawaban: D

Pembahasan:
Demam, nyeri perut bawah, dan lokia berbau merupakan tanda yang mengarah pada infeksi puerperium. Kondisi perlu dievaluasi dan ditangani segera untuk mencegah perkembangan menjadi sepsis.

Soal 5

Pada pemeriksaan antenatal usia kehamilan 34 minggu, tinggi fundus uteri jauh lebih kecil daripada usia kehamilan. Riwayat menstruasi dan usia kehamilan telah dipastikan akurat. Tindakan terbaik adalah ….

A. Menunggu hingga usia kehamilan 40 minggu
B. Menganggap variasi tersebut sebagai kondisi normal
C. Menyarankan ibu meningkatkan aktivitas fisik
D. Memberikan vitamin tanpa evaluasi lebih lanjut
E. Melakukan evaluasi kemungkinan gangguan pertumbuhan janin dan merujuk sesuai indikasi

Jawaban: E

Pembahasan:
Ukuran uterus yang lebih kecil dari usia kehamilan dapat menunjukkan gangguan pertumbuhan janin atau kondisi lain yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

Soal 6

Ibu hamil 30 minggu datang dengan perdarahan merah segar tanpa nyeri. Kondisi umum stabil. Bidan harus menghindari tindakan ….

A. Pemeriksaan dalam secara digital sebelum penyebab perdarahan dipastikan
B. Pemantauan tekanan darah dan nadi
C. Penilaian kondisi janin
D. Persiapan rujukan apabila dibutuhkan
E. Pengkajian jumlah dan karakter perdarahan

Jawaban: A

Pembahasan:
Perdarahan tanpa nyeri pada kehamilan lanjut dapat mengarah pada plasenta previa. Pemeriksaan vaginal digital harus dihindari sebelum lokasi plasenta diketahui karena dapat memperberat perdarahan.

Soal 7

Pada pemeriksaan kala I persalinan, selaput ketuban telah pecah selama 20 jam. Suhu ibu mulai meningkat dan denyut jantung janin lebih cepat daripada sebelumnya. Prioritas bidan adalah ….

A. Meminta ibu berjalan untuk mempercepat persalinan
B. Mencurigai infeksi dan segera melakukan evaluasi serta kolaborasi
C. Menunda penanganan sampai pembukaan lengkap
D. Membatasi pemeriksaan tanda vital
E. Memulangkan pasien apabila kontraksi belum kuat

Jawaban: B

Pembahasan:
Ketuban pecah lama disertai demam maternal dan peningkatan denyut jantung janin meningkatkan kecurigaan terhadap infeksi intrauterin. Evaluasi dan penanganan segera diperlukan.

Soal 8

Seorang ibu dua jam postpartum mengeluhkan pusing dan lemas. Tekanan darah 85/55 mmHg, nadi 120 kali per menit, dan perdarahan pervaginam masih berlangsung. Tindakan prioritas adalah ….

A. Memberikan makanan tinggi kalori
B. Meminta pasien tidur tanpa intervensi
C. Melakukan penilaian sirkulasi dan resusitasi awal sambil mencari penyebab perdarahan
D. Menunggu hasil pemeriksaan hemoglobin
E. Memindahkan pasien ke ruang rawat

Jawaban: C

Pembahasan:
Hipotensi, takikardia, kelemahan, dan perdarahan menunjukkan kemungkinan syok hipovolemik. Penilaian serta stabilisasi sirkulasi harus dilakukan segera bersamaan dengan pengendalian penyebab perdarahan.

Soal 9

Saat bahu bayi telah lahir, kepala bayi tampak tertarik kembali ke arah perineum dan bahu anterior sulit dilahirkan. Kondisi ini paling tepat ditangani dengan ….

A. Menarik kepala bayi sekuat mungkin
B. Menunggu kontraksi berikutnya tanpa intervensi
C. Memberikan tekanan pada fundus uterus
D. Melakukan manuver penanganan distosia bahu sesuai prosedur dan memanggil bantuan
E. Meminta ibu pulang bila kondisi stabil

Jawaban: D

Pembahasan:
Gambaran tersebut mengarah pada distosia bahu. Penanganan membutuhkan manuver khusus, bantuan tim, dan tidak boleh dilakukan dengan tarikan kuat pada kepala atau tekanan fundus.

Soal 10

Seorang neonatus berusia dua hari tampak malas menyusu, suhu 35,5°C, dan aktivitas menurun. Langkah paling tepat adalah ….

A. Menganggap kondisi normal pada bayi baru lahir
B. Menunda pemeriksaan hingga jadwal kontrol
C. Memberikan air gula
D. Membiarkan bayi tidur lebih lama
E. Melakukan penilaian segera terhadap hipotermia dan kemungkinan kondisi patologis lain

Jawaban: E

Pembahasan:
Hipotermia dan penurunan aktivitas pada neonatus merupakan tanda bahaya yang dapat berkaitan dengan infeksi, hipoglikemia, atau masalah lain sehingga memerlukan evaluasi segera.

Soal 11

Ibu menyusui mengeluhkan payudara kanan nyeri, kemerahan, dan demam. Pemeriksaan menunjukkan area payudara terasa panas dan keras. Intervensi yang paling tepat adalah ….

A. Menilai kemungkinan mastitis dan melanjutkan tata laksana serta dukungan menyusui sesuai kondisi
B. Menghentikan menyusui permanen
C. Mengurangi seluruh konsumsi cairan
D. Membatasi pengosongan payudara
E. Membiarkan kondisi sampai membaik spontan

Jawaban: A

Pembahasan:
Nyeri, kemerahan, panas lokal, dan demam dapat menunjukkan mastitis. Penanganan perlu mencakup evaluasi klinis, pengosongan payudara secara efektif, dukungan menyusui, dan terapi sesuai indikasi.

Soal 12

Seorang ibu ingin menggunakan kontrasepsi setelah melahirkan. Ia menginginkan metode jangka panjang, reversibel, dan tidak membutuhkan kepatuhan harian. Pendekatan bidan adalah ….

A. Memilihkan metode berdasarkan usia saja
B. Memberikan konseling mengenai pilihan kontrasepsi jangka panjang sesuai kondisi dan preferensi ibu
C. Melarang penggunaan kontrasepsi selama menyusui
D. Memutuskan metode tanpa persetujuan pasien
E. Menunda konseling sampai satu tahun postpartum

Jawaban: B

Pembahasan:
Pemilihan kontrasepsi harus mempertimbangkan kondisi kesehatan, status menyusui, kebutuhan reproduksi, indikasi, kontraindikasi, dan preferensi pasien melalui proses konseling.

Soal 13

Saat akan memberikan obat, bidan menemukan nama pada gelang pasien tidak sesuai dengan nama pada lembar instruksi terapi. Tindakan berikutnya adalah ….

A. Meminta keluarga menentukan identitas pasien
B. Tetap memberikan obat karena pasien berada di tempat tidur yang benar
C. Menunda pemberian obat dan melakukan verifikasi identitas menggunakan identitas yang sesuai standar
D. Mengganti gelang tanpa melakukan konfirmasi
E. Memberikan setengah dosis terlebih dahulu

Jawaban: C

Pembahasan:
Ketidaksesuaian identitas merupakan risiko keselamatan pasien. Pemberian obat harus ditunda sampai identitas pasien dapat diverifikasi dengan benar.

Soal 14

Ibu hamil datang dengan kadar hemoglobin rendah, tampak pucat, mudah lelah, dan sering merasa berdebar. Penilaian selanjutnya seharusnya difokuskan pada ….

A. Kenaikan berat badan janin saja
B. Pola tidur tanpa pemeriksaan lain
C. Riwayat kontrasepsi sebelum hamil
D. Derajat anemia, kemungkinan penyebab, serta kebutuhan tata laksana dan evaluasi lanjutan
E. Persiapan kontrasepsi postpartum

Jawaban: D

Pembahasan:
Keluhan klinis disertai hemoglobin rendah memerlukan penilaian derajat anemia, penyebab, status nutrisi, perdarahan, dan kondisi lain agar intervensi diberikan sesuai kebutuhan.

Soal 15

Seorang ibu dalam kala I aktif tiba-tiba mengeluhkan nyeri hebat dan perdarahan. Denyut jantung janin menunjukkan perubahan abnormal. Prioritas bidan adalah ….

A. Melanjutkan pemantauan rutin hingga pembukaan lengkap
B. Meminta ibu berjalan
C. Memberikan makanan
D. Menunggu perubahan kontraksi
E. Menganggap kondisi sebagai kegawatdaruratan dan segera mengaktifkan penanganan kolaboratif

Jawaban: E

Pembahasan:
Nyeri akut, perdarahan, dan gangguan kondisi janin dapat mengarah pada komplikasi obstetri serius. Penanganan kegawatdaruratan dan kolaborasi harus segera dilakukan.

Soal 16

Ibu hamil trimester ketiga datang dengan keluhan gerakan janin berkurang dibandingkan biasanya. Tindakan awal terbaik adalah ….

A. Melakukan pengkajian kondisi ibu dan janin secara segera
B. Meminta ibu menunggu satu minggu
C. Menyatakan kondisi normal karena usia kehamilan bertambah
D. Memberikan vitamin dan memulangkan pasien
E. Menyarankan aktivitas fisik berat

Jawaban: A

Pembahasan:
Penurunan gerakan janin dapat menjadi tanda gangguan kesejahteraan janin. Kondisi memerlukan pengkajian segera dan pemeriksaan lanjutan sesuai temuan.

Soal 17

Saat kunjungan nifas, ibu mengatakan merasa sangat sedih, sulit tidur meskipun bayi sedang tidur, tidak tertarik melakukan aktivitas, dan merasa tidak mampu merawat bayinya. Kondisi telah berlangsung lebih dari dua minggu. Sikap terbaik bidan adalah ….

A. Menganggap semua ibu nifas mengalami kondisi yang sama
B. Melakukan skrining lebih lanjut terhadap gangguan psikologis postpartum dan mengarahkan pada penanganan yang sesuai
C. Meminta ibu mengabaikan perasaan tersebut
D. Menyarankan ibu menghentikan menyusui
E. Menunda pengkajian sampai enam bulan

Jawaban: B

Pembahasan:
Gejala menetap lebih dari dua minggu dengan gangguan fungsi dapat mengarah pada depresi postpartum. Kondisi perlu dikaji dan ditindaklanjuti secara profesional.

Soal 18

Bayi baru lahir cukup bulan mengalami suhu tubuh 35,8°C setelah dimandikan terlalu dini. Bayi masih bernapas spontan dan aktif. Intervensi utama adalah ….

A. Memberikan antibiotik tanpa pemeriksaan
B. Memberikan minuman tambahan
C. Melakukan penghangatan melalui kontak kulit ke kulit serta memantau suhu dan kondisi bayi
D. Membiarkan bayi tanpa pakaian agar suhu menyesuaikan
E. Menunda pemberian ASI selama 12 jam

Jawaban: C

Pembahasan:
Hipotermia ringan pada bayi yang stabil dapat ditangani dengan menjaga kehangatan, termasuk kontak kulit ke kulit, pakaian dan lingkungan hangat, serta pemantauan suhu.

Soal 19

Seorang pasien meminta hasil pemeriksaan kehamilannya tidak diberitahukan kepada kerabat yang datang bersama dirinya. Kerabat tersebut kemudian meminta informasi secara langsung kepada bidan. Tindakan paling tepat adalah ….

A. Memberikan semua informasi karena masih anggota keluarga
B. Menjelaskan hasil pemeriksaan secara umum kepada kerabat
C. Menyerahkan rekam medis kepada keluarga
D. Menjaga kerahasiaan pasien kecuali terdapat persetujuan atau dasar yang sah untuk membuka informasi
E. Menyampaikan informasi melalui pesan singkat

Jawaban: D

Pembahasan:
Informasi kesehatan merupakan bagian dari kerahasiaan pasien. Bidan wajib menjaga privasi dan hanya mengungkapkan informasi berdasarkan persetujuan pasien atau ketentuan yang berlaku.

Soal 20

Dalam pencatatan pelayanan, bidan menyadari bahwa tindakan yang dilakukan dua jam sebelumnya belum dicatat. Langkah yang benar adalah ….

A. Mengubah waktu tindakan agar terlihat dicatat tepat waktu
B. Meminta petugas lain menulis atas namanya
C. Tidak perlu mencatat karena tindakan sudah selesai
D. Menghapus seluruh catatan sebelumnya
E. Membuat pencatatan tambahan secara jujur sesuai prosedur, termasuk waktu dokumentasi aktual

Jawaban: E

Pembahasan:
Dokumentasi harus akurat, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Catatan yang terlambat tetap perlu dibuat sesuai prosedur tanpa memalsukan waktu atau informasi.

Soal 21

Ibu hamil 39 minggu mengalami pecah ketuban. Cairan ketuban berwarna kehijauan pekat dan denyut jantung janin menunjukkan pola tidak meyakinkan. Tindakan paling tepat adalah ….

A. Melakukan evaluasi segera terhadap kesejahteraan janin dan berkoordinasi untuk penanganan lebih lanjut
B. Memulangkan ibu karena ketuban sudah pecah
C. Menunggu sampai persalinan berlangsung spontan tanpa pemantauan
D. Memberikan makanan dalam jumlah besar
E. Membatasi pemeriksaan denyut jantung janin

Jawaban: A

Pembahasan:
Cairan ketuban bercampur mekonium disertai pola denyut jantung janin yang tidak meyakinkan membutuhkan penilaian segera karena dapat menunjukkan gangguan kondisi janin.

Soal 22

Setelah persalinan, plasenta telah lahir lengkap tetapi ibu terus mengalami perdarahan. Uterus teraba keras dan berkontraksi baik. Bidan perlu mempertimbangkan kemungkinan ….

A. Atonia uteri sebagai satu-satunya penyebab
B. Trauma atau laserasi jalan lahir
C. Kehamilan postterm
D. Hiperemesis gravidarum
E. Gangguan laktasi

Jawaban: B

Pembahasan:
Jika uterus sudah berkontraksi baik tetapi perdarahan tetap berlangsung, penyebab lain seperti laserasi jalan lahir perlu dicurigai dan dinilai segera.

Soal 23

Dalam ruang bersalin, bidan selesai melakukan tindakan yang menyebabkan sarung tangan terkena darah. Sebelum menangani pasien berikutnya, tindakan yang benar adalah ….

A. Menggunakan sarung tangan yang sama selama belum robek
B. Membersihkan sarung tangan dengan tisu lalu melanjutkan pekerjaan
C. Melepas sarung tangan dengan benar, melakukan kebersihan tangan, lalu menggunakan APD baru sesuai kebutuhan
D. Menambahkan sarung tangan baru di atas sarung tangan lama
E. Hanya mencuci tangan pada akhir shift

Jawaban: C

Pembahasan:
Sarung tangan tidak menggantikan kebersihan tangan. APD yang terkontaminasi harus dilepas sesuai prosedur, kemudian dilakukan kebersihan tangan sebelum kontak dengan pasien berikutnya.

Soal 24

Bidan menerima dua pasien hampir bersamaan. Pasien pertama datang untuk kontrol kehamilan rutin tanpa keluhan. Pasien kedua hamil 38 minggu dengan perdarahan banyak, pucat, dan kesadaran mulai menurun. Prinsip prioritas yang harus diterapkan adalah ….

A. Mendahulukan pasien yang datang lebih awal
B. Menyelesaikan administrasi keduanya terlebih dahulu
C. Melayani pasien kontrol karena membutuhkan waktu lebih singkat
D. Mendahulukan pasien dengan tanda kegawatdaruratan dan melakukan stabilisasi segera
E. Meminta kedua pasien menunggu dokter

Jawaban: D

Pembahasan:
Prioritas pelayanan ditentukan berdasarkan tingkat kegawatdaruratan, bukan urutan kedatangan. Perdarahan dengan gangguan kesadaran membutuhkan intervensi segera.

Soal 25

Bidan menghadapi kasus yang berada di luar kewenangan dan membutuhkan intervensi dokter spesialis. Kondisi pasien masih dapat distabilkan sebelum dipindahkan. Tindakan profesional yang paling tepat adalah ….

A. Tetap menangani seluruh kasus sendiri agar pelayanan lebih cepat
B. Menunda rujukan hingga kondisi semakin berat
C. Meminta keluarga mencari fasilitas rujukan sendiri tanpa koordinasi
D. Merujuk pasien tanpa dokumentasi kondisi awal
E. Memberikan stabilisasi sesuai kewenangan, berkomunikasi dengan tim penerima, dan menyiapkan rujukan yang aman

Jawaban: E

Pembahasan:
Rujukan yang aman mencakup stabilisasi awal sesuai kewenangan, komunikasi dengan fasilitas atau tenaga penerima, dokumentasi kondisi serta tindakan yang telah diberikan, dan pemantauan pasien selama proses rujukan.

Ingin Latihan Soal Lebih Banyak?

Persiapkan diri lebih matang menghadapi Seleksi Penerimaan Pegawai BLUD RSUD Benda Kota Tangerang Formasi Bidan dengan mengerjakan lebih banyak latihan soal dan simulasi yang relevan. Kunjungi fungsional.id untuk mengakses kumpulan soal, pembahasan, serta latihan yang dapat membantu Anda memahami pola soal dan meningkatkan kesiapan menghadapi ujian. Akses latihan soal selengkapnya di fungsional.id dan mulai latihan sekarang.

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Picture of Tim Asn

Tim Asn

Tim ASN adalah kelompok profesional yang terbiasa menyusun soal. Kami terdiri dari ahli berbagai bidang, berkomitmen menciptakan soal berkualitas tinggi yang relevan dengan kompetensi jabatan.
Butuh Paket Soal Ini?
Akses Sekarang!