Seleksi Radiografer dan ATLM Radjiman Wediodiningrat menuntut peserta memiliki kemampuan akademik, penalaran, ketelitian, serta penguasaan kompetensi teknis sesuai bidang profesi. Tes online dapat mencakup materi dasar, pelayanan kesehatan, keselamatan pasien, hingga soal teknis seperti radiologi, laboratorium medis, dan situasi kerja klinis. Melalui artikel Soal Tes Online Seleksi Radiografer dan ATLM Radjiman Wediodiningrat + Materi Lengkap, Anda dapat mempelajari materi penting sekaligus berlatih menghadapi soal yang menguji kemampuan analisis dan pengambilan keputusan secara lebih terarah.
Gambaran Seleksi Radiografer dan ATLM Radjiman Wediodiningrat
Seleksi Radiografer dan ATLM Radjiman Wediodiningrat bertujuan menilai kesiapan peserta dari aspek kemampuan dasar, profesionalisme, serta kompetensi teknis sesuai bidang masing-masing. Radiografer perlu menguasai prinsip pencitraan, proteksi radiasi, keselamatan pasien, dan kualitas hasil pemeriksaan, sedangkan ATLM perlu memahami pemeriksaan laboratorium, quality control, biosafety, serta validasi hasil.
Tes online dapat memadukan soal penalaran, numerik, pelayanan kesehatan, patient safety, etika profesi, hingga studi kasus teknis. Karena itu, peserta perlu mempersiapkan diri bukan hanya melalui hafalan, tetapi juga dengan latihan soal yang menguji ketelitian, analisis, dan kemampuan menentukan tindakan paling tepat dalam situasi klinis.
Materi Tes Seleksi Radiografer dan ATLM Radjiman Wediodiningrat
Materi tes perlu dipersiapkan sesuai formasi karena kompetensi teknis Radiografer dan ATLM berbeda. Selain kemampuan dasar dan pelayanan kesehatan, peserta juga perlu menguasai materi profesi yang berkaitan langsung dengan pekerjaan di fasilitas pelayanan kesehatan.
A. Materi Formasi Radiografer
Materi yang perlu dipelajari meliputi:
- Fisika Radiasi
Sifat radiasi, interaksi radiasi dengan materi, energi, dosis, dan faktor yang memengaruhi paparan. - Proteksi dan Keselamatan Radiasi
Prinsip ALARA, penggunaan dosimeter, shielding, jarak, waktu paparan, serta perlindungan pasien dan petugas. - Teknik Radiografi
Positioning, centering, collimation, pemilihan faktor eksposi, dan evaluasi hasil radiograf. - Anatomi Radiologi
Identifikasi struktur anatomi normal pada pemeriksaan thoraks, ekstremitas, vertebra, abdomen, kepala, dan bagian tubuh lainnya. - Kualitas Citra
Kontras, densitas/brightness, resolusi, noise, artefak, serta faktor penyebab citra tidak diagnostik. - Computed Radiography dan Digital Radiography
Image receptor, exposure index, processing, artefak digital, dan pengelolaan citra. - CT Scan
Prinsip dasar CT, slice, windowing, contrast media, artefak, dan keselamatan pemeriksaan. - MRI Dasar
Prinsip medan magnet, kontraindikasi, keselamatan MRI, screening pasien, dan artefak. - Media Kontras
Indikasi, kontraindikasi, risiko reaksi, persiapan pasien, serta respons awal terhadap efek samping. - Patient Safety Radiologi
Identifikasi pasien, verifikasi pemeriksaan, kehamilan, pencegahan salah sisi, dan komunikasi pasien. - Quality Control Radiologi
Pengujian performa alat, konsistensi kualitas citra, artefak, dan evaluasi penyimpangan. - Kegawatdaruratan di Instalasi Radiologi
Reaksi kontras, penurunan kesadaran, kondisi pasien tidak stabil, dan koordinasi tindakan.
B. Materi Formasi ATLM
Materi yang perlu dikuasai meliputi:
- Hematologi
Hemoglobin, hematokrit, leukosit, trombosit, hitung jenis, LED, serta interpretasi hasil dasar. - Kimia Klinik
Glukosa, fungsi ginjal, fungsi hati, lipid, elektrolit, protein, dan parameter kimia darah lainnya. - Imunologi dan Serologi
Antigen-antibodi, aglutinasi, ELISA, rapid test, serta prinsip pemeriksaan imunologi. - Mikrobiologi
Pengambilan spesimen, pewarnaan Gram, kultur, identifikasi mikroorganisme, dan uji kepekaan. - Parasitologi
Identifikasi parasit darah, feses, serta pemeriksaan parasitologi dasar. - Urinalisis dan Cairan Tubuh
Pemeriksaan fisik, kimia, dan mikroskopis urine serta cairan biologis lainnya. - Flebotomi dan Pengambilan Spesimen
Identifikasi pasien, urutan tabung, teknik pengambilan darah, volume, penyimpanan, dan transportasi. - Preanalitik
Kesalahan identifikasi, hemolisis, lipemia, ikterik, keterlambatan pemeriksaan, dan stabilitas sampel. - Analitik
Prinsip alat laboratorium, kalibrasi, reagen, metode pemeriksaan, dan troubleshooting dasar. - Postanalitik
Validasi hasil, nilai kritis, pelaporan, dokumentasi, dan komunikasi kepada tenaga klinis. - Quality Control Laboratorium
Internal quality control, grafik Levey-Jennings, aturan Westgard, kalibrasi, serta evaluasi hasil kontrol. - Biosafety dan Biosecurity
APD, pengelolaan bahan infeksius, limbah, tumpahan, needle stick injury, dan keselamatan laboratorium. - Manajemen Mutu Laboratorium
SOP, dokumentasi, audit, ketertelusuran, serta tindakan korektif dan preventif.
C. Materi Umum untuk Kedua Formasi
Radiografer maupun ATLM juga perlu mempersiapkan:
- patient safety;
- pencegahan dan pengendalian infeksi;
- pelayanan publik;
- komunikasi efektif;
- etika profesi;
- kerahasiaan data pasien;
- kerja sama tim;
- K3;
- numerik dasar;
- logika dan penalaran;
- situational judgment.
Kisi-Kisi Tes Online Radiografer dan ATLM RS Radjiman Wediodiningrat
Kisi-kisi seleksi perlu disesuaikan dengan kompetensi masing-masing formasi dan kebutuhan layanan RS Radjiman Wediodiningrat. Pada rekrutmen September 2026, rumah sakit memang membuka posisi Radiografer dan Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM). Untuk Radiografer, kualifikasi yang dicantumkan antara lain STR dan Kartu Pekerja Radiasi, sedangkan pada ATLM salah satu kemampuan yang relevan adalah phlebotomy.
A. Kisi-Kisi Formasi Radiografer
Standar Profesi Radiografer yang masih berlaku diatur melalui Kepmenkes HK.01.07/Menkes/316/2020. Kompetensinya tidak hanya mencakup keterampilan teknik radiologi, tetapi juga profesionalisme, keselamatan, kerja sama interprofesional, dan pengembangan diri.
1. Teknik Pemeriksaan Radiografi
Fokus materi:
- positioning pasien;
- central ray dan centering point;
- collimation;
- pemilihan kVp dan mAs;
- SID;
- radiografi thoraks, abdomen, ekstremitas, vertebra, skull, dan pelvis;
- evaluasi kesalahan positioning;
- pengulangan pemeriksaan.
Soal dapat meminta peserta menentukan penyebab radiograf tidak diagnostik serta koreksi yang paling tepat.
2. Proteksi dan Keselamatan Radiasi
Fokus materi:
- prinsip ALARA;
- waktu, jarak, dan shielding;
- penggunaan dosimeter;
- proteksi pasien;
- proteksi pekerja radiasi;
- pemeriksaan pasien hamil;
- kolimasi;
- pencegahan paparan ulang.
Aspek ini sangat relevan dengan RS Radjiman Wediodiningrat karena rencana layanan rumah sakit juga memuat implementasi keamanan radiologi melalui pengukuran TLD dan personal dosimeter.
3. Kualitas Citra dan Artefak
Kisi-kisi:
- contrast;
- brightness;
- spatial resolution;
- noise;
- motion artefact;
- underexposure dan overexposure;
- exposure index;
- artefak CR/DR;
- evaluasi repeat image.
Fokus HOTS adalah memilih solusi yang dapat memperbaiki kualitas citra tanpa meningkatkan dosis secara tidak perlu.
4. CT Scan
RS Radjiman Wediodiningrat memiliki pelayanan CT Scan, sehingga materi ini relevan untuk formasi Radiografer.
Materi meliputi:
- prinsip dasar CT;
- slice thickness;
- pitch;
- window width dan window level;
- artefak CT;
- positioning;
- media kontras;
- screening pasien;
- keselamatan pemeriksaan;
- optimasi dosis.
5. Media Kontras dan Kegawatdaruratan
Fokus materi:
- skrining alergi;
- akses intravena;
- reaksi ringan dan berat;
- extravasation;
- observasi pasien;
- tindakan awal ketika reaksi terjadi;
- koordinasi dengan dokter dan tim kegawatdaruratan.
6. Patient Safety di Radiologi
Kisi-kisi:
- identifikasi minimal dua identitas;
- verifikasi jenis pemeriksaan;
- konfirmasi sisi tubuh;
- risiko jatuh;
- transfer pasien;
- komunikasi dengan pasien gangguan kesadaran;
- monitoring pasien selama pemeriksaan.
Karena RS Radjiman Wediodiningrat merupakan rumah sakit khusus jiwa dengan layanan psikiatri, Radiografer juga perlu siap menghadapi pasien dengan gangguan perilaku, kecemasan, agitasi, demensia, atau keterbatasan kerja sama.
7. Situational Judgment Radiografer
Kasus dapat berupa:
- pasien agitasi menolak pemeriksaan;
- pasien tidak mampu mempertahankan posisi;
- pasien salah identitas;
- hasil gambar tidak diagnostik;
- wanita usia reproduktif belum dipastikan status kehamilannya;
- muncul reaksi media kontras;
- alat mengalami gangguan saat pelayanan berlangsung.
B. Kisi-Kisi Formasi ATLM
Standar Profesi ATLM masih mengacu pada Kepmenkes HK.01.07/Menkes/313/2020 tentang Standar Profesi Ahli Teknologi Laboratorium Medik, yang saat ini berstatus berlaku.
1. Flebotomi dan Tahap Preanalitik
Fokus materi:
- identifikasi pasien;
- pemilihan vena;
- urutan tabung;
- antikoagulan;
- volume spesimen;
- teknik venipuncture;
- hemolisis;
- pembekuan sampel;
- transportasi dan stabilitas spesimen.
Soal HOTS dapat meminta peserta menentukan apakah sampel harus diterima, ditolak, atau diambil ulang.
2. Hematologi
Materi:
- Hb;
- hematokrit;
- eritrosit;
- leukosit;
- trombosit;
- differential count;
- indeks eritrosit;
- peripheral blood smear;
- anemia;
- leukositosis;
- trombositopenia;
- nilai kritis.
3. Kimia Klinik
Kisi-kisi:
- glukosa;
- ureum;
- kreatinin;
- SGOT/AST dan SGPT/ALT;
- bilirubin;
- elektrolit;
- profil lipid;
- protein;
- albumin.
Fokus soal dapat berupa hubungan antara kualitas sampel dan perubahan hasil pemeriksaan.
4. Mikrobiologi
Materi:
- pengambilan spesimen;
- pewarnaan Gram;
- kultur;
- identifikasi mikroorganisme;
- kontaminasi;
- media kultur;
- uji kepekaan antimikroba;
- biosafety.
5. Urinalisis dan Pemeriksaan Cairan Tubuh
Kisi-kisi:
- pemeriksaan fisik urine;
- dipstick;
- sediment urine;
- protein;
- glukosa;
- eritrosit;
- leukosit;
- kristal;
- pemeriksaan cairan biologis lainnya.
6. Quality Control Laboratorium
Area penting meliputi:
- internal quality control;
- mean;
- SD;
- coefficient of variation;
- grafik Levey-Jennings;
- aturan Westgard;
- random error;
- systematic error;
- kalibrasi;
- tindakan terhadap QC out of control.
Soal dapat menampilkan pola grafik kemudian meminta peserta menentukan apakah hasil pasien boleh dirilis.
7. Tahap Postanalitik
Fokus materi:
- validasi hasil;
- delta check;
- critical value;
- pelaporan nilai kritis;
- dokumentasi;
- hasil tidak sesuai kondisi klinis;
- pengulangan atau konfirmasi pemeriksaan.
8. Biosafety dan PPI
Materi:
- APD;
- hand hygiene;
- needle stick injury;
- tumpahan bahan infeksius;
- limbah laboratorium;
- desinfeksi;
- penanganan spesimen berisiko;
- keselamatan sentrifugasi.
9. Konteks Pasien Psikiatri
Karena RS Radjiman Wediodiningrat merupakan rumah sakit khusus jiwa, ATLM perlu siap menghadapi kondisi seperti:
- pasien tidak kooperatif saat pengambilan darah;
- pasien gelisah atau agitasi;
- pasien dengan gangguan kognitif;
- risiko mencabut jarum;
- komunikasi dengan keluarga dan perawat;
- kebutuhan pengamanan tanpa mengabaikan martabat pasien.
Pendekatan harus menggabungkan keselamatan pasien, keselamatan petugas, komunikasi terapeutik, dan koordinasi tim.
C. Kisi-Kisi Umum Kedua Formasi
Baik Radiografer maupun ATLM perlu menguasai:
- patient safety;
- PPI;
- identifikasi pasien;
- komunikasi efektif;
- etika profesi;
- kerahasiaan informasi medis;
- integritas;
- pelayanan publik;
- kerja sama lintas profesi;
- K3;
- penanganan insiden;
- situational judgment.
Contoh Soal Tes Online Radiografer dan ATLM RS Radjiman Wediodiningrat
Contoh soal berikut disusun sesuai kisi-kisi formasi Radiografer dan ATLM. Kasus dibuat lebih kontekstual dengan lingkungan RS Radjiman Wediodiningrat, terutama pelayanan terhadap pasien dengan gangguan psikiatri, keterbatasan kerja sama, kebutuhan patient safety, serta koordinasi lintas profesi.
A. Contoh Soal Formasi Radiografer
Soal 1
Pasien dengan gangguan psikotik akut dijadwalkan menjalani radiografi thoraks. Saat tiba di ruang pemeriksaan, pasien tampak gelisah, berjalan mondar-mandir, dan beberapa kali menolak mengikuti instruksi positioning. Kondisi klinis tidak membutuhkan radiografi emergensi.
Tindakan Radiografer yang paling tepat adalah ….
A. Menghentikan upaya pemeriksaan sementara, menilai keamanan, lalu berkoordinasi dengan perawat atau tim klinis untuk memperoleh kondisi pasien yang lebih kooperatif
B. Memaksa pasien berdiri agar pemeriksaan segera selesai
C. Melakukan eksposi meskipun posisi pasien belum benar
D. Meminta keluarga menahan pasien selama eksposi tanpa evaluasi risiko
E. Menggunakan faktor eksposi tinggi agar gerakan tidak terlihat
Jawaban: A
Pembahasan:
Pada pasien psikiatri yang tidak kooperatif, keselamatan pasien dan petugas menjadi prioritas. Pemeriksaan yang tidak emergensi dapat ditunda sementara untuk memperoleh kondisi yang lebih aman melalui koordinasi dengan tim klinis. Memaksa pasien justru meningkatkan risiko cedera dan repeat exposure.
Soal 2
Radiografi thoraks pasien menunjukkan scapula masih menutupi lapang paru dan inspirasi kurang maksimal. Exposure index berada dalam rentang yang sesuai. Penyebab utama kualitas citra kurang optimal adalah ….
A. kVp terlalu rendah
B. Kesalahan positioning dan instruksi inspirasi
C. mAs terlalu tinggi
D. SID terlalu panjang
E. Kesalahan processing digital
Jawaban: B
Pembahasan:
Exposure index yang sesuai menunjukkan masalah utama bukan paparan. Scapula yang masih menutupi paru dan inspirasi tidak maksimal lebih berkaitan dengan positioning serta komunikasi instruksi kepada pasien.
Soal 3
Pasien perempuan usia 24 tahun akan menjalani radiografi pelvis. Saat ditanya mengenai kemungkinan kehamilan, pasien memberikan jawaban tidak pasti karena mengalami gangguan kognitif dan tidak dapat menjelaskan riwayat menstruasinya dengan baik.
Langkah paling tepat adalah ….
A. Melanjutkan karena dosis radiografi pelvis rendah
B. Meminta pasien menandatangani persetujuan saja
C. Melakukan verifikasi lebih lanjut melalui riwayat klinis dan koordinasi dengan tim yang merawat sebelum eksposi
D. Membatalkan semua pemeriksaan radiologi pada pasien tersebut
E. Mengganti dengan CT Scan
Jawaban: C
Pembahasan:
Status kehamilan perlu diverifikasi sebelum pemeriksaan dengan paparan pada area pelvis bila kondisi klinis memungkinkan. Pada pasien dengan keterbatasan komunikasi, informasi dapat dikonfirmasi melalui rekam medis atau tim klinis.
Soal 4
Pasien menjalani CT Scan dengan media kontras. Beberapa menit setelah injeksi, pasien mengalami sesak, wheezing, dan tekanan darah menurun. Prioritas tindakan Radiografer adalah ….
A. Menyelesaikan scanning secepat mungkin
B. Memberikan minum hangat
C. Mengurangi kecepatan scanning
D. Menghentikan pemberian kontras, mengaktifkan respons kegawatdaruratan, dan membantu penanganan sesuai prosedur
E. Mengobservasi selama 15 menit tanpa tindakan
Jawaban: D
Pembahasan:
Sesak, wheezing, dan hipotensi mengarah pada reaksi kontras berat. Penanganan harus segera dilakukan melalui penghentian paparan penyebab, aktivasi bantuan medis, dan dukungan sesuai protokol kegawatdaruratan.
Soal 5
Hasil radiografi digital tampak terlalu terang, tetapi exposure index menunjukkan pasien menerima paparan yang jauh lebih tinggi dari target. Fenomena ini menunjukkan ….
A. Underexposure
B. Kesalahan positioning
C. Grid cutoff
D. Artefak gerakan
E. Post-processing dapat menyamarkan overexposure sehingga exposure index tetap harus dievaluasi
Jawaban: E
Pembahasan:
Pada sistem digital, tampilan citra dapat dikoreksi secara otomatis sehingga citra terlihat baik meskipun dosis terlalu tinggi. Karena itu, exposure index penting untuk mencegah exposure creep.
Soal 6
Radiografer menemukan dosimeter personal miliknya tertinggal di luar ruang kerja selama beberapa hari. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Melaporkan kejadian dan mengikuti prosedur evaluasi monitoring dosis sebelum melanjutkan pencatatan normal
B. Memperkirakan sendiri dosis yang diterima
C. Menggunakan dosimeter rekan kerja
D. Menghapus data bulan tersebut
E. Tidak perlu melaporkan karena tidak terjadi insiden
Jawaban: A
Pembahasan:
Pemantauan dosis harus dapat dipertanggungjawabkan. Kehilangan atau tidak digunakannya dosimeter perlu didokumentasikan dan dievaluasi sesuai prosedur proteksi radiasi.
Soal 7
Pasien dengan demensia akan menjalani CT kepala. Ia terus bergerak sehingga gambar pertama mengalami motion artefact. Repeat scan dipertimbangkan.
Keputusan terbaik adalah ….
A. Mengulang seluruh scan dengan parameter lebih tinggi tanpa intervensi lain
B. Menilai kebutuhan klinis repeat, memperbaiki immobilisasi dan komunikasi, serta meminimalkan area dan dosis pengulangan
C. Mengulang sampai pasien benar-benar diam
D. Mengganti pemeriksaan dengan radiografi skull tanpa konsultasi
E. Mengabaikan artefak
Jawaban: B
Pembahasan:
Pengulangan harus mempertimbangkan manfaat klinis dan prinsip optimasi dosis. Penyebab motion perlu diperbaiki terlebih dahulu agar repeat exposure tidak sia-sia.
Soal 8
Pada pemeriksaan radiografi, identitas pada worklist berbeda satu digit dengan gelang pasien. Pasien sudah berada pada posisi siap eksposi.
Tindakan paling tepat adalah ….
A. Mengikuti data worklist karena berasal dari sistem
B. Mengikuti gelang karena melekat pada pasien
C. Menghentikan pemeriksaan dan melakukan verifikasi minimal dua identitas sebelum eksposi
D. Melakukan eksposi dahulu lalu memperbaiki data
E. Meminta pasien memilih data yang benar
Jawaban: C
Pembahasan:
Perbedaan identitas merupakan risiko salah pasien. Pemeriksaan harus dihentikan sementara sampai identitas terverifikasi.
Soal 9
Dalam evaluasi bulanan ditemukan angka repeat radiograph meningkat terutama pada pasien rawat inap psikiatri akibat gerakan pasien.
Intervensi mutu paling tepat adalah ….
A. Menambah faktor eksposi seluruh pasien
B. Membatasi pemeriksaan pasien psikiatri
C. Menghapus data repeat
D. Menganalisis penyebab, memperbaiki komunikasi dan teknik immobilisasi, serta melibatkan tim perawat pada pasien berisiko
E. Mengurangi pencatatan repeat image
Jawaban: D
Pembahasan:
Repeat analysis harus diarahkan pada root cause. Pada rumah sakit dengan banyak pasien psikiatri, pendekatan komunikasi, persiapan pasien, timing pemeriksaan, dan koordinasi tim dapat menjadi intervensi yang lebih efektif.
Soal 10
Pasien rawat inap dengan riwayat agitasi harus menjalani pemeriksaan radiologi. Sebelum pasien masuk ruang pemeriksaan, Radiografer sebaiknya paling dahulu ….
A. Menyiapkan exposure factor tertinggi
B. Meminta semua petugas keluar
C. Mengunci pintu ruang pemeriksaan
D. Membatasi komunikasi agar pasien tidak bingung
E. Memahami kondisi pasien, risiko perilaku, kebutuhan pendampingan, dan rencana pemeriksaan bersama tim pengantar
Jawaban: E
Pembahasan:
Persiapan sebelum pemeriksaan sangat penting pada pasien dengan gangguan perilaku. Informasi mengenai pemicu agitasi, kemampuan mengikuti instruksi, serta kebutuhan pendampingan membantu menjaga keselamatan dan kualitas pemeriksaan.
B. Contoh Soal Formasi ATLM
Soal 11
Pasien dengan gangguan psikiatri datang untuk pemeriksaan darah rutin. Saat venipuncture akan dilakukan, pasien menarik tangan secara tiba-tiba dan tampak semakin gelisah.
Tindakan paling tepat adalah ….
A. Menghentikan prosedur sementara, mengamankan jarum, lalu berkoordinasi dengan perawat untuk menentukan pendekatan yang lebih aman
B. Menahan tangan pasien dengan paksa dan melanjutkan
C. Meminta keluarga memegang pasien tanpa koordinasi
D. Mengambil darah dari lokasi lain secepat mungkin
E. Membatalkan pemeriksaan permanen
Jawaban: A
Pembahasan:
Risiko needle stick injury dan cedera meningkat pada pasien tidak kooperatif. Keselamatan pasien dan petugas harus diprioritaskan sebelum pengambilan darah dilanjutkan.
Soal 12
Sampel kalium dari seorang pasien menunjukkan hasil 6,8 mmol/L. Sampel tampak hemolisis berat dan hasil sebelumnya normal. Pasien juga tidak menunjukkan tanda klinis yang sesuai.
Tindakan paling tepat adalah ….
A. Langsung melaporkan hiperkalemia kritis
B. Menilai kualitas sampel dan meminta pengambilan ulang sebelum menyimpulkan hasil
C. Mengubah hasil berdasarkan nilai sebelumnya
D. Mengencerkan sampel
E. Melaporkan hasil sebagai normal
Jawaban: B
Pembahasan:
Hemolisis dapat meningkatkan kadar kalium secara palsu. Validitas preanalitik harus dinilai sebelum hasil digunakan untuk keputusan klinis.
Soal 13
Grafik Levey-Jennings menunjukkan dua hasil kontrol berturut-turut berada di atas +2 SD pada sisi yang sama dari mean.
Interpretasi paling tepat adalah ….
A. Kontrol pasti normal
B. Random error tanpa perlu tindakan
C. Terjadi pelanggaran aturan 2₂s yang mengarah pada systematic error dan perlu evaluasi sebelum hasil pasien dirilis
D. Reagen pasti rusak
E. Alat harus langsung diganti
Jawaban: C
Pembahasan:
Dua kontrol berturut-turut melewati +2 SD pada sisi sama memenuhi pola 2₂s dan mengindikasikan kemungkinan kesalahan sistematik. Penyebab harus ditelusuri sebelum hasil pasien dilepas.
Soal 14
Sampel darah pasien dikirim menggunakan tabung EDTA untuk pemeriksaan koagulasi. Volume cukup dan identitas benar.
Tindakan paling tepat adalah ….
A. Tetap memproses karena antikoagulan sama-sama mencegah pembekuan
B. Menambahkan natrium sitrat ke sampel tersebut
C. Menggunakan sampel untuk PT tetapi tidak APTT
D. Menolak sampel dan meminta pengambilan ulang menggunakan tabung yang sesuai
E. Mengencerkan sampel dengan saline
Jawaban: D
Pembahasan:
Pemeriksaan koagulasi memerlukan jenis dan rasio antikoagulan yang tepat, umumnya natrium sitrat. EDTA dapat menghasilkan hasil yang tidak valid.
Soal 15
Nilai hemoglobin pasien hari ini 6,2 g/dL, sedangkan dua hari sebelumnya 12,1 g/dL. Tidak terdapat informasi klinis mengenai perdarahan dan parameter hematologi lain tidak menunjukkan perubahan sebanding.
Langkah terbaik adalah ….
A. Langsung merilis hasil sebagai nilai kritis
B. Menggunakan nilai sebelumnya
C. Mengubah hasil menjadi rata-rata
D. Mengabaikan karena analyzer tidak memberikan flag
E. Melakukan delta check, memverifikasi identitas dan sampel, serta mengulang pemeriksaan bila diperlukan
Jawaban: E
Pembahasan:
Perubahan ekstrem yang tidak sesuai pola klinis perlu dievaluasi. Kesalahan identitas, sampel tertukar, atau masalah analitik harus disingkirkan sebelum hasil dilepas.
Soal 16
Saat melakukan centrifugasi, salah satu tabung pecah dan diduga mengandung bahan infeksius.
Tindakan paling tepat adalah ….
A. Mengikuti prosedur tumpahan bahan biologis, menggunakan APD sesuai risiko, dan melakukan dekontaminasi dengan aman
B. Segera membuka centrifuge tanpa APD
C. Mengambil pecahan kaca dengan tangan
D. Menjalankan centrifuge kembali
E. Mengelap menggunakan tisu kering biasa
Jawaban: A
Pembahasan:
Pecahnya tabung berpotensi menghasilkan aerosol dan paparan biologis. Penanganan harus mengikuti prosedur biosafety.
Soal 17
Pasien psikiatri sedang mendapat terapi obat yang dapat memengaruhi fungsi hati. Hasil AST dan ALT meningkat dibanding pemeriksaan sebelumnya, tetapi sampel tidak hemolisis dan QC valid.
Tindakan ATLM yang paling tepat adalah ….
A. Menurunkan hasil agar mendekati hasil sebelumnya
B. Memvalidasi hasil sesuai prosedur dan melaporkan temuan kepada klinisi bila memenuhi kriteria yang berlaku
C. Menolak hasil karena pasien menggunakan obat
D. Meminta obat dihentikan
E. Mengulangi pemeriksaan tanpa alasan teknis
Jawaban: B
Pembahasan:
Jika proses preanalitik dan analitik valid, hasil harus dilaporkan secara objektif. Penilaian hubungan hasil dengan terapi menjadi bagian keputusan klinis tim medis.
Soal 18
Hasil hitung trombosit analyzer menunjukkan 35.000/µL dengan flag platelet clump. Sampel berasal dari tabung EDTA.
Langkah selanjutnya paling tepat adalah ….
A. Langsung melaporkan trombositopenia berat
B. Mengabaikan flag alat
C. Memeriksa apusan darah perifer dan mempertimbangkan pengambilan ulang dengan pendekatan alternatif bila terdapat agregasi
D. Mengalikan hasil dengan dua
E. Menunggu hasil pemeriksaan berikutnya
Jawaban: C
Pembahasan:
Platelet clumping dapat menyebabkan pseudothrombocytopenia. Hasil perlu diverifikasi secara mikroskopis dan, bila perlu, dengan sampel alternatif.
Soal 19
Nilai kontrol kimia klinik keluar dari batas dan setelah pengulangan tetap tidak memenuhi aturan QC. Banyak sampel pasien menunggu pemeriksaan.
Tindakan paling tepat adalah ….
A. Tetap memeriksa sampel agar pelayanan tidak terlambat
B. Menggunakan hasil kontrol hari sebelumnya
C. Mengubah mean QC
D. Menahan pelepasan hasil, mencari penyebab masalah sistem analitik, dan melanjutkan setelah QC kembali memenuhi syarat
E. Mengurangi jumlah parameter yang diperiksa
Jawaban: D
Pembahasan:
Hasil pasien tidak boleh dirilis ketika sistem analitik belum terkendali. Kecepatan pelayanan tidak boleh mengorbankan validitas hasil.
Soal 20
Saat pengambilan darah pasien dengan gangguan perilaku, perawat menawarkan agar ATLM melakukan venipuncture ketika pasien sedang lebih tenang setelah intervensi klinis.
Keputusan paling tepat adalah ….
A. Menolak karena sampel harus diambil segera meskipun tidak urgent
B. Tetap melakukan saat pasien gelisah agar jadwal tidak berubah
C. Meminta pasien diikat terlebih dahulu
D. Mengganti semua pemeriksaan dengan urine
E. Menyesuaikan waktu pengambilan jika secara klinis memungkinkan dan berkoordinasi dengan tim agar prosedur lebih aman
Jawaban: E
Pembahasan:
Pada pemeriksaan non-emergensi, timing dapat disesuaikan demi keselamatan. Pendekatan ini sangat relevan di lingkungan rumah sakit jiwa, selama kebutuhan klinis dan stabilitas spesimen tetap diperhatikan.
Siapkan Diri Lebih Optimal untuk Seleksi Radiografer dan ATLM

Latihan soal yang terarah dapat membantu Anda memahami pola tes, memperkuat kompetensi teknis, serta meningkatkan ketepatan dalam menghadapi kasus pelayanan kesehatan. Akses fungsional.id untuk menemukan lebih banyak latihan soal dan mencoba simulasi CAT sesuai formasi Radiografer maupun ATLM.


