100+ Soal Seleksi Teknisi Akuakultur + Pembahasan dan Kisi-kisi

100+ Soal Seleksi Teknisi Akuakultur + Pembahasan dan Kisi-kisi

Seleksi untuk menjadi teknisi akuakultur menuntut pemahaman yang kuat tentang biologi perairan, manajemen kualitas air, serta keterampilan teknis dalam pengelolaan organisme budidaya. Dalam proses rekrutmen, peserta tidak hanya diuji kemampuan teoritisnya, tetapi juga bagaimana mereka menerapkan konsep-konsep penting seperti siklus nitrogen, teknik pemeliharaan, hingga penanganan penyakit ikan dan udang. Oleh karena itu, memahami pola soal serta jenis kompetensi yang diukur menjadi langkah awal yang sangat penting bagi siapa pun yang ingin lolos seleksi ini.

Melalui artikel ini, kami menyajikan kumpulan soal seleksi teknisi akuakultur lengkap dengan pembahasan dan kisi-kisi yang dapat membantu calon peserta menilai kesiapan mereka secara lebih terarah. Setiap contoh soal dirancang untuk mencerminkan situasi nyata di lapangan, sehingga bukan hanya membantu dalam ujian, tetapi juga memperkuat kemampuan praktis yang dibutuhkan dalam pekerjaan sehari-hari. Dengan memahami struktur soal dan pendekatan penyelesaiannya, diharapkan pembaca dapat meningkatkan peluang keberhasilan dalam proses seleksi.

Kisi-kisi Soal Seleksi Teknisi Akuakultur

Berikut ini merupakan kisi-kisi soal seleksi Teknisi Akuakultur terupdate disertai dengan penjelasan singkat setiap poin kisi-kisi. Kisi-kisi ini dapat digunakan sebagai acuan dalam berlatih soal seleksi Teknisi Akuakultur

1. Dasar Biologi dan Fisiologi Ikan/Udang

Menilai pemahaman peserta tentang anatomi, pertumbuhan, kebutuhan nutrisi, sistem respirasi, dan proses fisiologis lain yang berpengaruh pada keberhasilan budidaya.

2. Kualitas Air dan Parameter Penting

Menguji pengetahuan mengenai DO (oksigen terlarut), pH, suhu, amonia, nitrit, salinitas, alkalinitas, serta hubungan antarparameter terhadap kesehatan organisme budidaya.

3. Sistem dan Teknologi Budidaya

Meliputi kolam tanah, tangki, keramba jaring apung, RAS (Recirculating Aquaculture System), hingga teknologi pakan otomatis; termasuk kelebihan, kekurangan, dan penerapannya.

4. Manajemen Pakan dan Nutrisi

Fokus pada prinsip pemberian pakan, perhitungan kebutuhan harian, FCR (Feed Conversion Ratio), jenis pakan, dan dampaknya terhadap pertumbuhan serta kualitas air.

5. Pengendalian Penyakit dan Biosekuriti

Menilai kemampuan mengidentifikasi gejala penyakit, penularan, tindakan preventif, penggunaan probiotik/antibiotik, serta desain biosekuriti dasar di unit budidaya.

6. Pengelolaan Siklus Nitrogen

Memahami proses nitrifikasi, denitrifikasi, peran bakteri nitrifikasi, sumber amonia, serta cara menjaga keseimbangan agar organisme tetap sehat.

7. Teknik Sampling dan Monitoring

Menguji kemampuan melakukan pengambilan sampel air, pengukuran rutin, pencatatan data, serta interpretasi hasil untuk pengambilan keputusan cepat.

8. Penanganan Pasca Panen

Meliputi teknik pemanenan, penanganan hidup/mati, sortasi, penyimpanan, dan transportasi, termasuk upaya meminimalkan stres serta mortalitas.

9. Keselamatan dan Standar Operasional (SOP)

Fokus pada prosedur keselamatan kerja, penggunaan alat, SOP budidaya, serta pemahaman risiko yang mungkin muncul di unit produksi.

10. Pengetahuan Dasar Perikanan dan Regulasi

Berisi materi mengenai kebijakan perikanan, standar mutu, izin budidaya, serta regulasi yang mempengaruhi kegiatan akuakultur.

Contoh Soal Seleksi Teknisi Akuakultur dan Pembahasan

Berikut ini contoh soal HOTS Seleksi Teknisi Akuakultur, soal panjang dan bentuk pilihan ganda A-E, soal membutuhkan penalaran, dan disertai kunci jawaban dan pembahasan soal

Soal 1

Pada sebuah unit budidaya intensif ikan nila dalam sistem RAS, teknisi mendapati bahwa kadar amonia tidak beracun (NH₃) tetap tinggi meskipun debit filtrasi biologis sudah ditingkatkan 30%. Parameter lain menunjukkan DO 6,2 mg/L, suhu 31°C, pH 8,4, dan padat tebar mencapai 100 ekor/m³. Dalam kondisi tersebut, langkah paling efektif untuk menurunkan toksisitas amonia adalah…

A. Menambah garam untuk meningkatkan keseimbangan ion dan menurunkan stres ikan
B. Menurunkan pH air secara bertahap melalui injeksi CO₂
C. Menurunkan padat tebar menjadi 60 ekor/m³ tanpa mengubah parameter lain
D. Menambah aerasi untuk meningkatkan DO hingga >7 mg/L
E. Mengganti media filter biologis dengan ukuran pori yang lebih besar

Jawaban: B

Pembahasan:
Amonia tidak beracun (NH₃) sangat dipengaruhi oleh pH dan suhu; pada pH tinggi, fraksi NH₃ meningkat drastis. Dalam kasus ini, meskipun filtrasi meningkat, toksisitas tetap tinggi karena pH 8,4 dan suhu 31°C memperbesar fraksi NH₃. Menurunkan pH adalah cara paling efektif untuk menggeser keseimbangan dari NH₃ menjadi NH₄⁺ yang jauh lebih tidak beracun. Penurunan padat tebar memang membantu, tetapi efeknya tidak secepat penyesuaian pH. Tingkat DO sudah cukup untuk proses nitrifikasi, sehingga bukan faktor utama.

Soal 2

Dalam kolam budidaya udang vaname, teknisi menemukan gejala: udang berenang lambat, warna tubuh kusam, serta kotoran berwarna putih panjang. Pemeriksaan cepat menunjukkan peningkatan bakteri Vibrio dan banyak biofilm di dinding kolam. Kolam berada di area dengan sumber air yang sering tercemar limbah pertanian. Upaya paling strategis dan komprehensif untuk memutus rantai penyakit adalah…

A. Memberikan antibiotik spektrum luas selama 5 hari
B. Mengganti seluruh air kolam dan melakukan panen dini
C. Memperkuat biosekuriti hulu: filtrasi, sterilisasi air masuk, dan rotasi kolam
D. Menurunkan salinitas untuk menghambat pertumbuhan Vibrio
E. Menambah probiotik dosis tinggi setiap hari

Jawaban: C

Pembahasan:
Masalah utama bukan hanya infeksi Vibrio, tetapi sumber cemaran eksternal yang berulang dari limbah pertanian serta sanitasi kolam yang lemah (biofilm tebal). Pengobatan tunggal tidak menyelesaikan akar masalah. Pendekatan hulu—meliputi filtrasi, sterilisasi air masuk (UV/ozon/klorinasi), penataan ulang rotasi kolam, dan pembersihan biofilm—merupakan strategi komprehensif untuk memutus rantai infeksi secara berkelanjutan. Antibiotik berpotensi menyebabkan resistensi dan tidak menyelesaikan masalah sumber patogen.

Soal 3

Seorang teknisi sedang menangani unit budidaya ikan kerapu yang mengalami pertumbuhan lambat meski pemberian pakan sudah sesuai rekomendasi pabrik. Analisis menunjukkan FCR tinggi, kandungan protein pakan menurun akibat penyimpanan lama, dan ikan memakan pakan secara sporadis. Di sisi lain, kualitas air menunjukkan peningkatan amonia dan turbiditas. Langkah yang paling tepat dan terintegrasi untuk mengatasi masalah tersebut adalah…

A. Mengurangi frekuensi pemberian pakan untuk menurunkan FCR
B. Mengganti pakan dengan yang baru dan memperbaiki manajemen penyimpanan
C. Meningkatkan jumlah pakan untuk menutup defisit nutrisi ikan
D. Menyedot lumpur dasar kolam tanpa mengubah strategi pakan
E. Menurunkan suhu air untuk menekan metabolisme ikan

Jawaban: B

Pembahasan:
Masalah inti adalah kualitas pakan menurun akibat penyimpanan buruk, yang menyebabkan efisiensi pakan (FCR) naik, pertumbuhan lambat, dan limbah organik meningkat. Mengganti pakan serta memperbaiki manajemen penyimpanan (kadar lembap, suhu ruang, masa simpan) akan langsung memperbaiki asupan nutrisi dan mengurangi sisa pakan yang memicu amonia. Mengurangi frekuensi pakan justru memperburuk pertumbuhan. Menyedot lumpur membantu, tapi bukan akar masalah.

Soal 4

Dalam sebuah instalasi RAS untuk budidaya lele, terjadi peningkatan nitrit secara tiba-tiba setelah pemadaman listrik selama 2 jam yang menyebabkan pompa air dan blower berhenti. Setelah listrik kembali, teknisi hanya menyalakan pompa sirkulasi tetapi tidak memeriksa kondisi bak biofilter. Sehari kemudian mortalitas meningkat. Kesalahan prosedural paling kritis yang dilakukan teknisi adalah…

A. Tidak segera menambah garam untuk menekan toksisitas nitrit
B. Tidak melakukan backwash pada filter mekanik
C. Tidak mengecek keberfungsian bak biofilter dan populasi bakteri nitrifikasi
D. Tidak menurunkan pH untuk menekan nitrit berbahaya
E. Tidak meningkatkan aerasi di kolam pemeliharaan setelah listrik kembali

Jawaban: C

Pembahasan:
Pada RAS, pemadaman listrik berarti bakteri nitrifikasi kehilangan suplai oksigen, sehingga banyak yang mati. Ketika sirkulasi kembali, biofilter tidak lagi mampu mengoksidasi nitrit. Kesalahan terbesar adalah tidak memeriksa kondisi biofilter (bau, warna, kinerja, DO, atau perlu re-seeding bakteri). Tanpa biofilter berfungsi, nitrit melonjak dan menyebabkan mortalitas. Menambah garam membantu, tetapi bukan inti kegagalan.

Soal 5

Dalam sebuah tambak udang intensif, data monitoring harian menunjukkan tren:
• DO pagi cenderung turun hingga 3,5 mg/L
• pH siang lebih tinggi dari pagi (>1 unit)
• Amonia terdeteksi naik meski pakan tidak ditambah
• Pertumbuhan bioflok tidak stabil dan sering “collapse”

Berdasarkan pola data tersebut, analisis yang paling logis dan komprehensif adalah…

A. Terjadi kelebihan pakan sehingga meningkatkan beban organik
B. Kualitas air buruk akibat aerasi berlebihan yang memecah flok
C. Dominasi alga menyebabkan fluktuasi pH dan degradasi sistem bioflok
D. Udang stres karena padat tebar terlalu rendah
E. Alkalinitas sangat tinggi sehingga keseimbangan mikroba terganggu

Jawaban: C

Pembahasan:
Fluktuasi pH siang >1 unit menunjukkan aktivitas fotosintesis alga yang sangat intens. DO pagi rendah juga ciri kolam dengan dominasi alga, karena respirasi malam hari menurunkan oksigen drastis. Ketidakstabilan bioflok terjadi karena alga dan bakteri heterotrof bersaing untuk unsur hara, menyebabkan sistem flok “collapse”. Amonia naik bukan karena pakan, tetapi karena ketidakseimbangan mikroba. Ini pola khas kolam yang berubah dari bioflok menjadi fitoplankton-dominated.

Soal 6

Dalam penelitian lapangan, teknisi menemukan bahwa ikan mas dalam kolam semi-intensif menunjukkan respons makan yang rendah saat suhu turun menjadi 20°C. Namun, ketika dilakukan pengayaan oksigen terlarut hingga >7 mg/L, nafsu makan meningkat walaupun suhu tetap sama. Fenomena ini menunjukkan bahwa…

A. Penurunan suhu tidak berpengaruh pada metabolisme ikan
B. DO adalah satu-satunya faktor yang menentukan pola makan
C. Suhu rendah menurunkan metabolisme, tetapi peningkatan DO dapat menurunkan stres respirasi sehingga ikan tetap aktif makan
D. Penambahan DO secara otomatis meningkatkan pH sehingga ikan lebih aktif
E. Peningkatan DO memicu pelepasan hormon pertumbuhan pada ikan

Jawaban: C

Pembahasan:
Metabolisme ikan berdarah dingin menurun pada suhu rendah. Namun, meningkatkan DO dapat mengurangi beban kerja sistem respirasi sehingga ikan tetap dapat beraktivitas termasuk makan. Ini bukan berarti suhu tidak berpengaruh, tetapi DO dapat mengkompensasi sebagian dampaknya. Peningkatan DO tidak secara otomatis memicu hormon pertumbuhan atau kenaikan pH.

Soal 7

Dalam proses panen udang di tambak intensif, terjadi mortalitas tinggi selama transportasi meski udang terlihat sehat saat dipanen. Pemeriksaan menunjukkan suhu air dalam wadah naik cepat selama transportasi, dan kandungan amonia meningkat. Upaya paling efektif untuk menurunkan tingkat kematian selama transportasi adalah…

A. Memberikan antibiotik sebelum transportasi untuk menekan infeksi
B. Menambah pakan larut air untuk menjaga energi udang
C. Menggunakan es gel atau pendingin untuk menurunkan suhu dan mengurangi metabolisme
D. Mengganti wadah transportasi dengan volume lebih besar tanpa pendinginan
E. Menambah oksigen cair tanpa mengubah kondisi suhu air

Jawaban: C

Pembahasan:
Masalah utama adalah peningkatan suhu yang memicu laju metabolisme udang, meningkatkan respirasi dan buangan amonia. Pendinginan moderat (chilling) menurunkan metabolisme, mengurangi produksi amonia, dan meningkatkan ketahanan udang terhadap stres. Penambahan oksigen saja tanpa kontrol suhu tidak cukup karena metabolisme tetap tinggi. Antibiotik tidak relevan.

Soal 8

Pada kolam budidaya ikan patin dengan aerasi menggunakan kincir air, teknisi melaporkan bahwa distribusi ikan di kolam tidak merata. Ikan lebih banyak berkumpul di bagian tertentu yang memiliki arus lebih kuat. Setelah diperiksa, terjadi penumpukan sisa pakan di area sebaliknya. Analisis yang paling tepat terkait fenomena tersebut adalah…

A. Kincir air menghasilkan arus yang mengganggu keseimbangan ikan
B. Pola arus di kolam tidak merata sehingga distribusi pakan dan oksigen tidak homogen
C. Ikan patin bersifat teritorial sehingga berkelompok hanya di area tertentu
D. Sisa pakan menumpuk karena ikan memilih pakan alami, bukan pakan buatan
E. Aerasi berlebih menyebabkan amonia naik di bagian tertentu

Jawaban: B

Pembahasan:
Pada kolam dengan kincir, arus air harus dirancang membentuk pola sirkulasi yang merata. Jika pola arus tidak merata, ikan akan memilih area dengan DO dan arus optimal, sementara daerah stagnan menjadi tempat penumpukan sisa pakan dan limbah organik. Hal ini menunjukan ketidakseimbangan desain tata arus, bukan perilaku teritorial ikan.

Soal 9

Dalam pengamatan harian pada RAS untuk ikan gurami, teknisi menemukan tren berikut:
• DO stabil tinggi: 7,5–8 mg/L
• pH stabil 7,0–7,4
• Nitrit naik drastis dalam 48 jam
• Amonia sangat rendah
• Bakteri heterotrof meningkat berdasarkan hasil smear mikroskopis

Interpretasi paling tepat terhadap kondisi tersebut adalah…

A. Filtrasi mekanik terlalu kuat sehingga memusnahkan bakteri nitrifikasi
B. Terjadi kompetisi antara bakteri heterotrof dan nitrifikasi, sehingga konsumsi oksigen oleh heterotrof menekan populasi nitrifikator
C. pH terlalu asam untuk bakteri nitrifikasi
D. DO terlalu tinggi untuk kinerja bakteri nitrifikasi
E. Amonia rendah mengindikasikan tidak ada masalah pada sistem

Jawaban: B

Pembahasan:
Kenaikan bakteri heterotrof dapat menyebabkan kompetisi oksigen dan ruang pada biofilter sehingga bakteri nitrifikasi tertekan, meski DO dalam air terlihat cukup. Nitrit naik karena proses nitrifikasi terganggu pada tahap oksidasi nitrit menjadi nitrat. Amonia rendah bisa karena cepat dikonsumsi heterotrof, bukan karena sistem baik. DO tinggi tidak menghambat nitrifikasi.

Soal 10

Sebuah unit pembenihan ikan harus mematuhi standar mutu air menurut regulasi nasional. Dalam inspeksi, ditemukan bahwa kadar nitrit masih dalam ambang aman, tetapi kadar TSS (Total Suspended Solids) melebihi batas. Ikan tampak stres, frekuensi napas meningkat, dan konsumsi pakan menurun. Tindakan korektif paling relevan yang harus dilakukan teknisi adalah…

A. Mengurangi pakan karena TSS pasti berasal dari limbah pakan
B. Memperbaiki filtrasi mekanik dan menambah sistem pengendapan untuk menurunkan TSS
C. Mengganti seluruh air agar TSS turun secara drastis
D. Menambah pupuk organik untuk menyeimbangkan mikroba air
E. Menaikkan pH untuk mengendapkan padatan tersuspensi

Jawaban: B

Pembahasan:
TSS tinggi menyebabkan stres respirasi karena partikel mengiritasi insang dan menurunkan kualitas pergerakan air. Solusi teknis yang tepat adalah memperbaiki sistem filtrasi mekanik (screen filter, sedimentasi, drum filter), bukan mengganti seluruh air atau menambah pupuk. Menurunkan TSS dengan cara sistematis lebih stabil dan sesuai standar mutu.

Soal 11

Seekor ikan kakap putih dipindahkan dari keramba laut ke bak pemeliharaan air payau dengan salinitas 15 ppt. Setelah 8 jam, teknisi melihat ikan berenang tidak stabil, produksi lendir meningkat, dan ikan lebih sering berada di dekat permukaan. Parameter air normal. Berdasarkan kondisi tersebut, analisis paling logis adalah…

A. Ikan mengalami kekurangan oksigen karena DO tidak sesuai standar
B. Ikan mengalami stres osmotik akibat transisi salinitas yang terlalu cepat
C. Ikan sedang beradaptasi normal dan tidak membutuhkan tindakan
D. Bakteri patogen meningkatkan aktivitasnya saat ikan dipindah
E. Ikan bereaksi terhadap suhu rendah meski parameter menunjukkan normal

Jawaban: B

Pembahasan:
Kakap putih adalah ikan euryhaline, tetapi tetap membutuhkan adaptasi bertahap ketika transisi salinitas. Gejala seperti produksi lendir berlebih, ketidakstabilan renang, dan posisi di permukaan adalah tanda stres osmotik. Parameter air normal menegaskan penyebabnya bukan lingkungan, tetapi perubahan salinitas yang terlalu drastis.

Soal 12

Dalam tambak udang intensif, pH siang tercatat meningkat hingga 8,8, alkalinitas 70 ppm, suhu 32°C, dan amonia total 0,9 mg/L. Namun, teknisi menemukan bahwa udang mulai menunjukkan gejala stres meskipun amonia total masih dalam batas moderat. Penyebab stres paling mungkin adalah…

A. Kadar oksigen terlarut rendah pada siang hari
B. Fraksi amonia beracun (NH₃) meningkat karena kombinasi suhu tinggi dan pH tinggi
C. Alkalinitas terlalu tinggi mengganggu mikroba nitrifikasi
D. pH tinggi menghambat pertumbuhan udang secara langsung
E. Suhu tinggi menyebabkan penyakit bakteri akut dalam waktu singkat

Jawaban: B

Pembahasan:
Amonia total mungkin masih moderat, namun pH tinggi + suhu tinggi drastis meningkatkan fraksi NH₃ (amonia beracun) sehingga walaupun angka total N–amonia rendah, toksisitas tetap tinggi. Inilah penyebab stres paling rasional. Alkalinitas 70 ppm masih aman.

Soal 13

Dalam sistem bioflok, kolam menunjukkan flok yang menumpuk di dasar, konsentrasi padatan tersuspensi melonjak, dan warna air berubah menjadi coklat gelap. Aerasi menggunakan kincir dan blower tetap aktif. Setelah dianalisis, teknisi menemukan distribusi gelembung udara tidak merata karena peningkatan padat tebar. Tindakan paling efektif untuk mengembalikan stabilitas sistem adalah…

A. Mengurangi frekuensi pemberian pakan selama 3 hari
B. Menambah sumber karbon agar flok kembali aktif
C. Menambah unit aerasi untuk memperbaiki suspensi flok dan meningkatkan oksigenasi dasar kolam
D. Mengganti 30% air untuk menurunkan kepadatan flok
E. Menambah probiotik harian untuk mempercepat dekomposisi organik

Jawaban: C

Pembahasan:
Masalah utama adalah flok yang tidak tersuspensi akibat aerasi tidak mencukupi. Ketika flok mengendap, sistem bioflok mengalami “collapse” karena anaerob menguasai dasar kolam. Solusi paling tepat: menambah aerasi atau memperbaiki distribusinya sehingga flok kembali tersuspensi dan stabilitas mikroba pulih. Menambah karbon hanya efektif jika flok aktif, bukan saat mengendap.

Soal 14

Di sebuah kolam pembesaran, ikan lele mulai mengalami luka merah pada pangkal sirip, perilaku gelisah, dan berenang di permukaan. Parameter air: DO 5 mg/L, amonia 0,6 mg/L, nitrit 0,4 mg/L, pH 6,5. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan infeksi oportunistik Aeromonas. Berdasarkan data tersebut, faktor pemicu utama infeksi adalah…

A. Kualitas air yang terlalu basa sehingga merusak mukosa ikan
B. Nitrit dan amonia yang cukup tinggi sehingga menekan imunitas ikan
C. DO 5 mg/L terlalu tinggi bagi ikan lele
D. pH sedikit asam memicu ledakan bakteri patogen
E. Aeromonas masuk melalui pakan yang terkontaminasi

Jawaban: B

Pembahasan:
Aeromonas adalah bakteri oportunistik yang menyerang ikan stres. Kombinasi amonia (0,6 mg/L) dan nitrit (0,4 mg/L) sudah cukup menyebabkan iritasi insang, kerusakan jaringan, dan penurunan imunitas, sehingga memicu infeksi. DO 5 mg/L masih aman. pH 6,5 tidak menjadi faktor dominan.

Soal 15

Dalam sistem RAS, teknisi mencatat:
• Aliran air menurun 20% dalam 24 jam
• Tekanan pada pompa meningkat
• Drum filter mekanik sering overload
• TSS di kolam meningkat
• Namun biofilter tetap bekerja baik dan amonia stabil rendah

Analisis paling tepat untuk kondisi tersebut adalah…

A. Kinerja biofilter menurun sehingga air menjadi keruh
B. Sistem mengalami kelebihan padat tebar sehingga produksi limbah naik
C. Filter mekanik tersumbat, menyebabkan aliran berkurang dan TSS meningkat
D. Pompa mengalami kerusakan sehingga tekanan naik
E. Aerasi berlebih menyebabkan padatan teraduk terus-menerus

Jawaban: C

Pembahasan:
Penurunan aliran, tekanan pompa meningkat, dan drum filter overload merupakan tanda kuat bahwa filtrasi mekanik tersumbat. Kondisi ini menyebabkan TSS meningkat dan beban air bertambah, meskipun biofilter masih mampu menjaga amonia tetap rendah.

Soal 16

Sebuah kolam bioflok menunjukkan pola berikut:
• pH pagi 6,8 dan pH sore 7,1 (fluktuasi kecil)
• DO stabil 6–7 mg/L
• Amonia rendah tetapi nitrat meningkat tajam
• Bioflok cenderung berukuran kecil dan warna air agak kehijauan
Teknisi mencurigai bahwa sistem mulai mengalami pergeseran komposisi biota air. Analisis paling tepat dari fenomena tersebut adalah…

A. Terjadi dominasi bakteri heterotrof sehingga nitrat meningkat
B. Fitoplankton mulai mendominasi sehingga mengikis keberadaan flok bakteri
C. Aerasi terlalu kuat sehingga flok terpecah dan berubah menjadi partikel kecil
D. Nitrat meningkat karena pakan berlebih dan proses denitrifikasi melemah
E. Bioflok kecil menandakan sistem sangat stabil dan tidak terjadi perubahan apapun

Jawaban: B

Pembahasan:
Warna kehijauan + ukuran flok mengecil menunjukkan fitoplankton mulai mendominasi, menggantikan kelompok bakteri heterotrof dalam bioflok. Fitoplankton memanfaatkan nitrogen sehingga nitrat meningkat akibat tidak dimanfaatkan kembali oleh bakteri flok. Fluktuasi pH kecil mendukung dominasi alga stabil.

Soal 17

Dalam pembesaran ikan bawal bintang, teknisi mencatat bahwa FCR meningkat dari 1,4 menjadi 2,1 dalam dua minggu, namun ikan menunjukkan pertambahan bobot yang fluktuatif. Pada waktu yang sama, terjadi penurunan kadar lemak dalam pakan karena batch pakan yang digunakan memiliki formulasi berbeda dari sebelumnya. Tindakan paling tepat untuk menormalkan kembali efisiensi pakan adalah…

A. Mengurangi jumlah pakan agar ikan tidak kenyang dan lebih efisien
B. Menambah frekuensi pakan kecil namun lebih sering
C. Menyesuaikan kembali formulasi pakan dengan meningkatkan energi (minyak ikan/minyak nabati)
D. Menurunkan suhu air untuk menekan metabolisme ikan
E. Meningkatkan salinitas agar pakan lebih mudah dicerna

Jawaban: C

Pembahasan:
Perubahan kandungan energi (lemak) dalam pakan memengaruhi efisiensi pakan. Lemak adalah sumber energi utama. Jika energi kurang, ikan menggunakan protein sebagai sumber energi, sehingga pertumbuhan tidak optimal dan FCR memburuk. Solusinya adalah mengembalikan densitas energi dengan menyesuaikan formulasi pakan.

Soal 18

Dalam RAS udang, teknisi melihat kolom biofilter menjadi berbau anaerob, meskipun debit air tetap tinggi. Setelah ditinjau lebih lanjut, ditemukan bahwa media biofilter terlapisi lendir tebal dan bakteri heterotrof berkembang pesat. Dampak paling serius dari kondisi tersebut adalah…

A. Peningkatan kekeruhan air karena biofilm terlepas
B. Penurunan laju nitrifikasi sehingga amonia dan nitrit berpotensi naik
C. Penurunan pH akibat respirasi mikroba
D. Peningkatan oksigen terlarut akibat biofilm fotosintetik
E. Penurunan alkalinitas yang menyebabkan air bersifat lebih basa

Jawaban: B

Pembahasan:
Media biofilter yang tertutup lendir menandakan biofouling, dan bakteri heterotrof mendominasi. Kondisi ini menghambat bakteri nitrifikasi yang membutuhkan permukaan bersih dan oksigen tinggi. Akibat paling kritis adalah penurunan nitrifikasi, memicu lonjakan amonia dan nitrit. Bau anaerob adalah tanda kurangnya oksigen dalam media.

Soal 19

Data monitoring tambak udang menunjukkan:
• DO malam turun ke 3 mg/L
• pH stabil 7,5
• amonia mulai meningkat meski FCR tidak berubah
• Udang sering naik ke permukaan pukul 3–5 pagi
Aerasi sudah maksimal, tetapi pertumbuhan udang melambat. Analisis mendalam terhadap kondisi tersebut adalah…

A. Kapasitas aerasi tidak cukup untuk konsumsi oksigen mikroba dan udang pada malam hari
B. Udang kekurangan pakan pada malam hari sehingga stres
C. pH terlalu stabil sehingga menghambat proses nitrifikasi
D. Amonia meningkat karena aerasi terlalu kuat mengaduk dasar kolam
E. DO rendah karena terlalu banyak probiotik ditambahkan

Jawaban: A

Pembahasan:
Penurunan DO malam (3 mg/L) adalah tanda bahwa kebutuhan oksigen mikroba + udang melebihi kapasitas aerasi. Mikroba aktif menguraikan limbah pada malam hari sehingga amonia meningkat akibat nitrifikasi terganggu. Udang naik ke permukaan menunjukkan hipoksia. Permasalahan inti adalah kekurangan kapasitas aerasi, bukan kelebihan probiotik atau FCR.

Soal 20

Di unit pembenihan, teknisi menemukan peningkatan kematian larva pada umur 3–5 hari. Gejala: larva berenang tidak stabil, sebagian tenggelam, sebagian naik ke permukaan. Salinitas dan suhu stabil. Namun, sumber air baku diketahui berasal dari kanal yang kadang tercemar limbah domestik. Tindakan biosekuriti hulu paling efektif adalah…

A. Memberi antibiotik pada larva setiap hari untuk pencegahan
B. Meningkatkan sterilisasi air baku dengan UV/ozon dan menambah filtrasi awal
C. Menambah frekuensi pencerahan (siphon) dasar bak
D. Menurunkan salinitas agar larva lebih tahan terhadap stres
E. Menambah kultur mikroalga untuk menstabilkan lingkungan larva

Jawaban: B

Pembahasan:
Masalah utama berasal dari masuknya kontaminan dari sumber air, bukan dari manajemen dalam bak. Larva umur 3–5 hari sangat sensitif terhadap kualitas air. Biosekuriti hulu yang tepat adalah meningkatkan filtrasi fisik, sterilisasi UV/ozon, dan memastikan air baku aman sebelum masuk unit pembenihan. Antibiotik tidak boleh digunakan sebagai pencegahan.

🎯 Siap Lolos Seleksi Teknisi Akuakultur?

Jangan hanya mengandalkan keberuntungan. Tingkatkan peluangmu dengan Paket Soal Resmi Seleksi Teknisi Akuakultur di fungsional.id—berisi ratusan soal prediktif, pembahasan mendalam, kisi-kisi terstruktur, dan simulasi tes yang dirancang menyerupai ujian sebenarnya.

🔥 Mengapa Harus Beli Paket Ini?

  • Materi terarah sesuai kompetensi teknisi akuakultur
  • Pembahasan detail untuk mempercepat pemahaman
  • Cocok untuk pemula maupun yang ingin memperkuat skill teknis
  • Update berkala mengikuti pola seleksi terbaru

👉 Jangan tunda lagi!
Klik paket soal di fungsional.id sekarang dan siapkan diri menjadi kandidat yang paling siap, paling percaya diri, dan paling unggul saat seleksi berlangsung.

📌 Akses sekarang — kuasai soalnya, rebut peluangnya!

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Picture of Tim Asn

Tim Asn

Tim ASN adalah kelompok profesional yang terbiasa menyusun soal. Kami terdiri dari ahli berbagai bidang, berkomitmen menciptakan soal berkualitas tinggi yang relevan dengan kompetensi jabatan.
Butuh Paket Soal Ini?
Akses Sekarang!

Dapatkan Akses Sistem CBT dengan ratusan paket soal + pembahasan!

Butuh Bantuan?