Seleksi Bidan BLUD RS UIN Alauddin Makassar membutuhkan persiapan yang matang karena peserta perlu menguasai kompetensi kebidanan sekaligus mampu menganalisis berbagai situasi klinis. Materi yang diujikan dapat mencakup kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, kegawatdaruratan maternal-neonatal, serta keselamatan pasien.
Melalui artikel 100+ Soal Tes Bidan BLUD RS UIN Alauddin Makassar + Pembahasan Lengkap, Anda dapat berlatih mengenali pola soal, memperkuat pemahaman materi, dan meningkatkan kemampuan dalam menentukan tindakan kebidanan yang tepat.
Daftar Isi
ToggleMengenal Seleksi Bidan BLUD RS UIN Alauddin Makassar
Seleksi Bidan BLUD RS UIN Alauddin Makassar merupakan proses untuk menilai kesiapan tenaga kebidanan yang akan bekerja di lingkungan rumah sakit. Peserta perlu memiliki pemahaman klinis yang baik, ketelitian, kemampuan komunikasi, serta kesiapan memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi secara aman.
Kompetensi yang perlu diperhatikan mencakup asuhan kehamilan, persalinan, masa nifas, bayi baru lahir, keluarga berencana, kegawatdaruratan maternal-neonatal, pencegahan infeksi, keselamatan pasien, serta dokumentasi kebidanan. Karena itu, latihan soal berbasis kasus penting untuk membantu peserta terbiasa menentukan prioritas dan memilih tindakan yang paling tepat.
Materi Tes Bidan BLUD RS UIN Alauddin Makassar
Materi tes Bidan BLUD RS UIN Alauddin Makassar perlu mencakup kompetensi kebidanan yang digunakan dalam pelayanan rumah sakit. Peserta sebaiknya tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menerapkannya pada kasus klinis, terutama saat menentukan prioritas tindakan dan mengenali kondisi yang membutuhkan kolaborasi atau rujukan. Materi yang perlu dipersiapkan meliputi:
- Asuhan Kehamilan
Pengkajian ibu hamil, pemeriksaan antenatal, usia kehamilan, taksiran persalinan, tinggi fundus uteri, denyut jantung janin, status gizi, serta deteksi faktor risiko. - Komplikasi Kehamilan
Preeklamsia, eklamsia, anemia, perdarahan, hiperemesis, ketuban pecah dini, gangguan pertumbuhan janin, dan kehamilan berisiko tinggi. - Asuhan Persalinan
Kala I–IV, pemantauan kemajuan persalinan, kontraksi, pembukaan serviks, penurunan kepala, mekanisme persalinan, dan observasi pascapersalinan. - Kegawatdaruratan Obstetri
Perdarahan postpartum, atonia uteri, retensio plasenta, syok, distosia bahu, prolaps tali pusat, serta hipertensi berat dalam kehamilan. - Asuhan Masa Nifas
Involusi uterus, lokia, perdarahan, infeksi puerperium, perawatan luka, laktasi, nutrisi, serta kesehatan psikologis ibu. - Bayi Baru Lahir dan Neonatus
Penilaian awal, termoregulasi, perawatan tali pusat, IMD, tanda bahaya, BBLR, hipotermia, hipoglikemia, dan infeksi neonatal. - Resusitasi Neonatus
Penilaian pernapasan, stimulasi, menjaga jalan napas, ventilasi tekanan positif, evaluasi denyut jantung, dan tindakan lanjutan. - Keluarga Berencana
Konseling, kontrasepsi hormonal dan nonhormonal, implant, AKDR, kontrasepsi pascapersalinan, indikasi, kontraindikasi, dan efek samping. - Kesehatan Reproduksi
Siklus menstruasi, gangguan reproduksi, infeksi menular seksual, infertilitas, edukasi kesehatan reproduksi, dan pelayanan sepanjang siklus hidup perempuan. - ASI dan Laktasi
ASI eksklusif, posisi dan perlekatan, masalah menyusui, bendungan ASI, mastitis, serta konseling ibu menyusui. - Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
Kebersihan tangan, APD, teknik aseptik, sterilisasi, pengelolaan alat, limbah medis, dan pencegahan infeksi silang. - Keselamatan Pasien
Identifikasi pasien, komunikasi efektif, keamanan tindakan, pencegahan kesalahan obat, pencegahan jatuh, dan pelaporan insiden. - Farmakologi Dasar Kebidanan
Obat yang sering digunakan dalam pelayanan maternal-neonatal, indikasi, kontraindikasi, efek samping, dosis dasar, dan prinsip pemberian obat yang aman. - Pemeriksaan Penunjang
Interpretasi dasar hemoglobin, gula darah, proteinuria, urinalisis, golongan darah, serta hasil pemeriksaan yang berkaitan dengan kondisi ibu dan bayi. - Dokumentasi Kebidanan
Pengkajian, masalah kebidanan, perencanaan, implementasi, evaluasi, pencatatan tindakan, dan kesinambungan pelayanan. - Komunikasi Terapeutik
Anamnesis, edukasi, komunikasi dengan ibu dan keluarga, penyampaian informasi, serta komunikasi dalam kondisi darurat. - Etika dan Profesionalisme Bidan
Hak pasien, kerahasiaan, informed consent, batas kewenangan, tanggung jawab profesi, dan penghormatan terhadap keputusan pasien. - Sistem Rujukan dan Kolaborasi
Penentuan kondisi yang harus dirujuk, stabilisasi awal, komunikasi dengan fasilitas tujuan, serta kerja sama dengan dokter dan tenaga kesehatan lain. - Clinical Reasoning Kebidanan
Analisis gejala, tanda vital, kondisi janin, hasil pemeriksaan, prioritas masalah, dan pemilihan tindakan yang paling aman.
Kisi-Kisi Tes Bidan BLUD RS UIN Alauddin Makassar
Kisi-kisi Tes Bidan BLUD RS UIN Alauddin Makassar perlu difokuskan pada kemampuan peserta memberikan asuhan kebidanan secara aman, sistematis, dan berbasis kondisi klinis. Materi tidak hanya mencakup kehamilan dan persalinan, tetapi juga kegawatdaruratan maternal-neonatal, patient safety, farmakologi, PPI, komunikasi, dokumentasi, serta clinical reasoning.
| Kisi-Kisi | Materi yang Perlu Dikuasai |
| Pengkajian Ibu Hamil | Anamnesis, riwayat obstetri, usia kehamilan, taksiran persalinan, tanda vital, status gizi, TFU, DJJ, gerakan janin, dan faktor risiko. |
| Antenatal Care | Pemantauan kehamilan, skrining risiko, edukasi ibu, pemeriksaan penunjang, nutrisi, suplementasi, serta persiapan persalinan. |
| Hipertensi dalam Kehamilan | Hipertensi gestasional, preeklamsia, preeklamsia berat, eklamsia, tanda bahaya, stabilisasi, dan indikasi kolaborasi atau rujukan. |
| Perdarahan Antepartum | Plasenta previa, solusio plasenta, karakter perdarahan, penilaian hemodinamik, larangan tindakan tertentu, dan penanganan awal. |
| Anemia Kehamilan | Interpretasi hemoglobin, faktor penyebab, gejala, risiko maternal-fetal, suplementasi, dan tindak lanjut. |
| Gangguan Pertumbuhan Janin | Ketidaksesuaian TFU, fetal growth restriction, penilaian gerakan janin, serta kebutuhan pemeriksaan lanjutan. |
| Ketuban Pecah Dini | Diagnosis, usia kehamilan, risiko infeksi, pemantauan ibu-janin, dan penentuan kebutuhan kolaborasi. |
| Persalinan Kala I | Diagnosis persalinan, kontraksi, pembukaan serviks, penurunan janin, kondisi ketuban, serta pemantauan ibu dan janin. |
| Persalinan Kala II | Tanda kala II, mekanisme persalinan, posisi ibu, pertolongan kelahiran, serta pemantauan kesejahteraan janin. |
| Kala III dan IV | Pelepasan plasenta, manajemen aktif kala III, kontraksi uterus, perdarahan, dan observasi pascapersalinan. |
| Pemantauan Kemajuan Persalinan | Interpretasi kemajuan persalinan, kontraksi, kondisi ibu, kondisi janin, serta identifikasi persalinan abnormal. |
| Partus Lama dan Distosia | Identifikasi hambatan persalinan, faktor power-passage-passenger, kegagalan kemajuan, serta keputusan kolaborasi. |
| Distosia Bahu | Pengenalan tanda, respons awal, manuver penanganan sesuai prosedur, serta tindakan yang harus dihindari. |
| Prolaps Tali Pusat | Identifikasi, penurunan tekanan pada tali pusat, posisi ibu, stabilisasi, dan persiapan tindakan definitif. |
| Perdarahan Postpartum | Atonia uteri, trauma jalan lahir, jaringan tertinggal, gangguan koagulasi, pengkajian cepat, dan stabilisasi awal. |
| Syok Obstetri | Hipotensi, takikardia, gangguan perfusi, penilaian ABC, akses cairan, monitoring, serta rujukan atau kolaborasi segera. |
| Retensio Plasenta | Pengenalan kondisi, risiko perdarahan, pemantauan, dan kebutuhan tindakan lanjut sesuai kewenangan. |
| Asuhan Masa Nifas | Involusi uterus, lokia, tanda vital, luka, nutrisi, mobilisasi, laktasi, eliminasi, dan edukasi. |
| Infeksi Puerperium | Demam, lokia berbau, nyeri uterus, luka terinfeksi, tanda sepsis, serta langkah penanganan. |
| Kesehatan Mental Postpartum | Baby blues, depresi postpartum, tanda bahaya psikologis, skrining, komunikasi, dan rujukan. |
| Bayi Baru Lahir | Penilaian awal, termoregulasi, kontak kulit, IMD, pemeriksaan fisik, perawatan tali pusat, dan tanda bahaya. |
| Resusitasi Neonatus | Evaluasi napas dan denyut jantung, langkah awal, ventilasi tekanan positif, evaluasi respons, dan eskalasi resusitasi. |
| BBLR dan Prematuritas | Termoregulasi, nutrisi, hipoglikemia, gangguan napas, infeksi, dan pemantauan bayi risiko tinggi. |
| Kegawatdaruratan Neonatal | Apnea, distress respirasi, kejang, hipotermia, hipoglikemia, ikterus patologis, serta tanda sepsis. |
| ASI dan Laktasi | ASI eksklusif, posisi, perlekatan, fisiologi laktasi, bendungan ASI, puting lecet, mastitis, dan konseling. |
| Keluarga Berencana | Konseling kontrasepsi, pil, suntik, implant, AKDR, metode barrier, kontrasepsi pascapersalinan, indikasi, dan kontraindikasi. |
| Kesehatan Reproduksi | Menstruasi, gangguan reproduksi, IMS, infertilitas, edukasi reproduksi, dan pelayanan sepanjang siklus kehidupan perempuan. |
| Farmakologi Kebidanan | Uterotonik, antihipertensi, antikonvulsan, antibiotik, analgesik, suplementasi, indikasi, kontraindikasi, dan efek samping. |
| Perhitungan Dosis | Konversi dosis, infus, kecepatan tetesan, serta perhitungan obat berdasarkan instruksi klinis. |
| Interpretasi Pemeriksaan | Hb, gula darah, protein urin, urinalisis, golongan darah, tanda infeksi, dan hasil pemeriksaan terkait ibu serta bayi. |
| PPI | Hand hygiene, APD, teknik aseptik, sterilisasi, pengelolaan alat, limbah, benda tajam, dan pencegahan infeksi silang. |
| Patient Safety | Identifikasi pasien, keamanan obat, komunikasi efektif, pencegahan jatuh, keselamatan prosedur, dan pelaporan insiden. |
| Komunikasi Terapeutik | Anamnesis, empati, active listening, edukasi, komunikasi keluarga, komunikasi pada kondisi darurat, serta penyampaian informasi sensitif. |
| Informed Consent | Hak pasien, persetujuan tindakan, penolakan tindakan, kapasitas mengambil keputusan, dan dokumentasi. |
| Etika dan Legal Kebidanan | Privasi, kerahasiaan, kewenangan bidan, tanggung jawab profesi, hak perempuan, dan praktik sesuai standar. |
| Dokumentasi Kebidanan | Pengkajian, diagnosis/masalah, perencanaan, implementasi, evaluasi, catatan perkembangan, dan kesinambungan pelayanan. |
| Kolaborasi Antarprofesi | Koordinasi dengan dokter, perawat, laboratorium, farmasi, gizi, dan profesi lain dalam pelayanan maternal-neonatal. |
| Sistem Rujukan | Identifikasi kondisi rujukan, stabilisasi, komunikasi fasilitas penerima, dokumentasi, dan pengamanan selama transfer. |
| Promosi Kesehatan | Edukasi nutrisi, tanda bahaya, persiapan persalinan, ASI, KB, imunisasi, dan perawatan ibu-bayi di rumah. |
| Manajemen Pelayanan Kebidanan | Prioritas pelayanan, koordinasi pekerjaan, kesinambungan asuhan, pengelolaan kasus, dan pemanfaatan sumber daya. |
| Clinical Reasoning | Menggabungkan keluhan, tanda vital, pemeriksaan obstetri, kondisi janin, dan data penunjang untuk mengambil keputusan. |
Fokus Kegawatdaruratan Maternal
Porsi latihan perlu diperbanyak pada kasus yang dapat membahayakan ibu dengan cepat, seperti:
- preeklamsia berat dan eklamsia;
- perdarahan antepartum;
- perdarahan postpartum;
- atonia uteri;
- retensio plasenta;
- syok;
- distosia bahu;
- prolaps tali pusat;
- infeksi atau sepsis maternal.
Fokus Kegawatdaruratan Neonatal
Peserta juga perlu siap menghadapi skenario bayi baru lahir dengan:
- tidak bernapas spontan;
- denyut jantung menurun;
- hipotermia;
- distress respirasi;
- BBLR;
- hipoglikemia;
- kejang;
- tanda infeksi.
Fokus Patient Safety di Rumah Sakit
Kepmenkes Nomor HK.01.07/MENKES/1596/2024 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit masih berstatus berlaku dan menggantikan standar 2022. Standar ini berorientasi pada peningkatan mutu, tata kelola klinis, keselamatan pasien, akses dan kesinambungan pelayanan, pengelolaan informasi, serta pencegahan infeksi.
Karena itu, soal dapat menguji situasi seperti:
- gelang identitas pasien tidak sesuai dokumen;
- obat diberikan kepada pasien yang salah;
- ibu berisiko jatuh setelah persalinan;
- informasi penting tidak disampaikan saat handover;
- ketidakpatuhan hand hygiene;
- kesalahan dokumentasi;
- kondisi pasien memburuk tetapi tidak segera dieskalasikan.
Fokus Clinical Reasoning Kebidanan
Soal seleksi sebaiknya banyak berbentuk kasus. Contohnya, ibu hamil 36 minggu mengalami sakit kepala berat, penglihatan kabur, tekanan darah 170/110 mmHg, dan proteinuria. Peserta tidak hanya ditanya diagnosis, tetapi dapat diminta menentukan:
- data yang paling mengkhawatirkan;
- prioritas tindakan;
- kebutuhan stabilisasi;
- kebutuhan kolaborasi atau rujukan;
- komplikasi yang harus diantisipasi.
Fokus Pola Soal HOTS
Latihan soal sebaiknya menguji kemampuan peserta untuk:
- menentukan tindakan pertama;
- memilih kasus paling prioritas;
- mengenali tanda bahaya maternal dan neonatal;
- memilih intervensi paling aman;
- menginterpretasikan tanda vital dan hasil pemeriksaan;
- menentukan kapan perlu kolaborasi atau rujukan;
- mengevaluasi respons setelah intervensi;
- mengidentifikasi pelanggaran patient safety;
- menyelesaikan dilema etik;
- menentukan tindakan ketika beberapa masalah terjadi bersamaan.
Contoh Soal Tes Bidan BLUD RS UIN Alauddin Makassar
Contoh soal berikut disusun dalam bentuk pilihan ganda A–E dengan pendekatan HOTS. Soal menekankan clinical reasoning, kegawatdaruratan maternal-neonatal, patient safety, farmakologi, PPI, komunikasi, serta pengambilan keputusan kebidanan.
Soal 1
Ibu hamil 36 minggu datang dengan sakit kepala hebat, pandangan kabur, nyeri ulu hati, tekanan darah 170/110 mmHg, dan proteinuria. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Memberikan edukasi diet rendah garam lalu memulangkan pasien
B. Mengobservasi selama 6 jam tanpa terapi
C. Melakukan stabilisasi awal dan segera berkolaborasi untuk penanganan lanjutan
D. Menjadwalkan kontrol tiga hari lagi
E. Meminta ibu beristirahat di rumah
Jawaban: C
Pembahasan:
Kombinasi hipertensi berat, gejala neurologis, nyeri epigastrium, dan proteinuria mengarah pada preeklamsia berat. Prioritas adalah stabilisasi dan penanganan segera karena berisiko berkembang menjadi eklamsia dan komplikasi organ.
Soal 2
Seorang ibu 20 menit pascapersalinan mengalami perdarahan banyak. Uterus teraba lembek dan tidak berkontraksi optimal. Tindakan awal yang paling tepat adalah ….
A. Melakukan masase uterus dan menilai respons kontraksi
B. Menunggu kontraksi spontan
C. Memberikan minuman hangat
D. Mengukur tinggi badan pasien
E. Menunda tindakan hingga dokter datang
Jawaban: A
Pembahasan:
Uterus lembek dengan perdarahan postpartum mengarah pada atonia uteri. Masase uterus merupakan salah satu tindakan awal untuk merangsang kontraksi sambil melanjutkan tata laksana sesuai protokol.
Soal 3
Bayi baru lahir telah dikeringkan dan distimulasi, tetapi tetap apnea. Denyut jantung 80 kali per menit. Tindakan berikutnya adalah ….
A. Melakukan kompresi dada langsung
B. Memulai ventilasi tekanan positif
C. Memberikan ASI
D. Mengobservasi selama 5 menit
E. Melakukan antropometri terlebih dahulu
Jawaban: B
Pembahasan:
Apnea dengan denyut jantung di bawah 100 kali per menit setelah langkah awal merupakan indikasi ventilasi tekanan positif.
Soal 4
Ibu nifas hari keempat mengeluhkan demam 39°C, nyeri perut bawah, dan lokia berbau tidak sedap. Tindakan yang paling tepat adalah ….
A. Menyatakan kondisi masih normal
B. Mengurangi frekuensi menyusui
C. Melakukan pengkajian infeksi dan kolaborasi penanganan segera
D. Menunda pemeriksaan hingga lokia berhenti
E. Menyarankan aktivitas lebih banyak
Jawaban: C
Pembahasan:
Demam, nyeri perut bawah, dan lokia berbau mengarah pada infeksi puerperium. Kondisi ini membutuhkan evaluasi dan penanganan segera untuk mencegah sepsis.
Soal 5
Pada kehamilan 34 minggu, tinggi fundus uteri lebih kecil dari usia kehamilan dan pertambahan berat badan ibu tidak sesuai. Usia kehamilan telah dipastikan akurat. Langkah terbaik adalah ….
A. Menganggap kondisi normal karena DJJ masih ada
B. Menunggu sampai usia kehamilan 40 minggu
C. Menyarankan ibu mengurangi aktivitas
D. Mengevaluasi kemungkinan gangguan pertumbuhan janin dan melakukan pemeriksaan lanjutan
E. Memberikan vitamin saja
Jawaban: D
Pembahasan:
TFU yang tidak sesuai usia kehamilan dapat mengarah pada fetal growth restriction atau kondisi lain yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Soal 6
Ibu hamil trimester ketiga datang dengan perdarahan merah segar tanpa nyeri. Kondisi ibu stabil. Tindakan yang harus dihindari adalah ….
A. Memantau tekanan darah
B. Mengkaji jumlah perdarahan
C. Menilai kondisi janin
D. Menyiapkan rujukan jika diperlukan
E. Melakukan pemeriksaan vaginal digital sebelum lokasi plasenta dipastikan
Jawaban: E
Pembahasan:
Perdarahan tanpa nyeri pada kehamilan lanjut dapat mengarah pada plasenta previa. Pemeriksaan vaginal digital dapat memicu perdarahan berat.
Soal 7
Seorang ibu dalam kala I persalinan menunjukkan ketuban pecah selama 20 jam, suhu 38,5°C, dan DJJ meningkat. Prioritas tindakan adalah ….
A. Meminta ibu berjalan
B. Mencurigai infeksi dan segera melakukan evaluasi serta kolaborasi
C. Menunda sampai pembukaan lengkap
D. Mengurangi frekuensi pemeriksaan tanda vital
E. Memulangkan pasien jika kontraksi belum kuat
Jawaban: B
Pembahasan:
Ketuban pecah lama, demam, dan takikardia janin meningkatkan kecurigaan infeksi intrauterin dan membutuhkan penanganan segera.
Soal 8
Ibu dua jam postpartum tampak pucat, tekanan darah 85/55 mmHg, nadi 120 kali per menit, dan perdarahan masih berlangsung. Tindakan prioritas adalah ….
A. Memberikan makanan tinggi kalori
B. Menunggu hasil Hb
C. Melakukan penilaian sirkulasi dan resusitasi awal sambil mencari sumber perdarahan
D. Memindahkan pasien ke ruang rawat
E. Memberikan edukasi menyusui
Jawaban: C
Pembahasan:
Hipotensi, takikardia, pucat, dan perdarahan menunjukkan kemungkinan syok hipovolemik. Stabilitas sirkulasi menjadi prioritas.
Soal 9
Saat kepala bayi lahir, kemudian tampak tertarik kembali ke arah perineum dan bahu anterior sulit dilahirkan. Kondisi ini paling sesuai dengan ….
A. Prolaps tali pusat
B. Distosia bahu
C. Ruptura uteri
D. Plasenta previa
E. Retensio plasenta
Jawaban: B
Pembahasan:
Tanda “turtle sign” mengarah pada distosia bahu. Penanganan memerlukan manuver khusus dan bantuan tim sesuai prosedur.
Soal 10
Neonatus usia dua hari tampak malas menyusu, suhu 35,4°C, dan aktivitas menurun. Langkah paling tepat adalah ….
A. Menganggap kondisi normal
B. Menunda pemeriksaan hingga jadwal kontrol
C. Memberikan air gula saja
D. Melakukan evaluasi segera terhadap hipotermia dan kemungkinan kondisi patologis lain
E. Membiarkan bayi tidur lebih lama
Jawaban: D
Pembahasan:
Hipotermia dan penurunan aktivitas merupakan tanda bahaya neonatus yang dapat berhubungan dengan infeksi, hipoglikemia, atau gangguan lain.
Soal 11
Ibu menyusui mengalami payudara merah, nyeri, panas, dan demam. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Menilai kemungkinan mastitis dan memberikan tata laksana serta dukungan menyusui sesuai kondisi
B. Menghentikan menyusui permanen
C. Mengurangi cairan
D. Membatasi pengosongan payudara
E. Menunggu sembuh sendiri
Jawaban: A
Pembahasan:
Gambaran tersebut sesuai mastitis. Evaluasi klinis, pengosongan payudara efektif, dan terapi sesuai indikasi diperlukan.
Soal 12
Seorang ibu postpartum ingin kontrasepsi jangka panjang, reversibel, dan tidak perlu diingat setiap hari. Pendekatan terbaik adalah ….
A. Menentukan metode berdasarkan usia saja
B. Memberikan konseling mengenai pilihan metode jangka panjang sesuai kondisi dan preferensi ibu
C. Melarang kontrasepsi selama menyusui
D. Memilih metode tanpa persetujuan pasien
E. Menunda konseling satu tahun
Jawaban: B
Pembahasan:
Pemilihan kontrasepsi harus berdasarkan kebutuhan, kondisi medis, status menyusui, indikasi-kontraindikasi, dan preferensi pasien.
Soal 13
Saat akan memberikan obat, nama pada gelang pasien tidak sesuai dengan lembar instruksi. Tindakan yang paling tepat adalah ….
A. Memberikan obat berdasarkan nomor tempat tidur
B. Menanyakan identitas hanya kepada keluarga
C. Menunda pemberian dan melakukan verifikasi identitas pasien
D. Mengganti gelang tanpa konfirmasi
E. Memberikan setengah dosis
Jawaban: C
Pembahasan:
Identifikasi pasien merupakan bagian utama patient safety. Pemberian obat harus ditunda sampai identitas terverifikasi.
Soal 14
Ibu hamil menunjukkan Hb rendah, pucat, mudah lelah, dan berdebar. Pengkajian lanjutan sebaiknya difokuskan pada ….
A. Pola tidur saja
B. Riwayat kontrasepsi
C. Derajat anemia, kemungkinan penyebab, dan kebutuhan tata laksana
D. Persiapan KB postpartum
E. Aktivitas fisik harian
Jawaban: C
Pembahasan:
Keluhan dan Hb rendah memerlukan evaluasi derajat anemia, penyebab, status nutrisi, serta kebutuhan intervensi.
Soal 15
Ibu dalam kala I tiba-tiba mengalami nyeri hebat, perdarahan, dan DJJ abnormal. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Melanjutkan pemantauan rutin
B. Meminta ibu berjalan
C. Memberikan makanan
D. Menganggap kondisi gawat dan segera melakukan kolaborasi
E. Menunggu pembukaan lengkap
Jawaban: D
Pembahasan:
Nyeri akut, perdarahan, dan gangguan DJJ dapat mengarah pada komplikasi obstetri serius dan memerlukan penanganan cepat.
Soal 16
Ibu hamil 39 minggu mengeluhkan gerakan janin jauh berkurang. Tindakan awal terbaik adalah ….
A. Melakukan pengkajian kondisi ibu dan janin segera
B. Meminta ibu menunggu satu minggu
C. Menganggap normal karena usia kehamilan sudah cukup bulan
D. Memberikan vitamin lalu pulang
E. Menyarankan aktivitas berat
Jawaban: A
Pembahasan:
Penurunan gerakan janin dapat menjadi tanda gangguan kesejahteraan janin dan harus dievaluasi segera.
Soal 17
Ibu nifas merasa sangat sedih, sulit tidur, kehilangan minat, dan merasa tidak mampu merawat bayi selama lebih dari dua minggu. Tindakan terbaik adalah ….
A. Menganggap sebagai proses normal
B. Melakukan skrining gangguan psikologis postpartum dan mengarahkan penanganan sesuai kebutuhan
C. Meminta ibu mengabaikan perasaan tersebut
D. Menghentikan menyusui
E. Menunda penilaian enam bulan
Jawaban: B
Pembahasan:
Gejala menetap lebih dari dua minggu dengan gangguan fungsi mengarah pada kemungkinan depresi postpartum.
Soal 18
Bayi cukup bulan mengalami suhu 35,8°C setelah dimandikan terlalu dini. Bayi masih aktif dan bernapas spontan. Intervensi utama adalah ….
A. Memberikan antibiotik
B. Memberikan air gula
C. Menghangatkan bayi dengan kontak kulit ke kulit dan memantau suhu
D. Membiarkan tanpa pakaian
E. Menunda ASI
Jawaban: C
Pembahasan:
Hipotermia ringan pada bayi stabil dapat ditangani dengan penghangatan, kontak kulit ke kulit, dan pemantauan suhu.
Soal 19
Pasien meminta hasil pemeriksaan reproduksinya tidak diberitahukan kepada keluarga. Keluarga kemudian meminta informasi tersebut. Tindakan bidan adalah ….
A. Memberikan informasi karena keluarga dekat
B. Menjaga kerahasiaan kecuali ada persetujuan atau dasar yang sah
C. Menyerahkan rekam medis
D. Menyampaikan sebagian informasi
E. Meminta keluarga menebak sendiri
Jawaban: B
Pembahasan:
Informasi kesehatan merupakan bagian dari kerahasiaan pasien dan hanya dapat dibuka sesuai persetujuan atau dasar yang sah.
Soal 20
Satu tindakan kebidanan belum dicatat selama dua jam. Langkah yang benar adalah ….
A. Mengubah waktu agar tampak dicatat tepat waktu
B. Meminta rekan menulis atas nama petugas
C. Mengabaikan karena tindakan sudah selesai
D. Membuat catatan tambahan secara jujur sesuai prosedur
E. Menghapus catatan sebelumnya
Jawaban: D
Pembahasan:
Dokumentasi harus akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Catatan terlambat tetap harus dibuat tanpa memalsukan waktu.
Soal 21
Ibu hamil 39 minggu mengalami ketuban bercampur mekonium pekat dan DJJ menunjukkan pola tidak meyakinkan. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Melakukan evaluasi segera terhadap kondisi janin dan berkoordinasi untuk penanganan lanjutan
B. Memulangkan pasien
C. Menunggu persalinan tanpa pemantauan
D. Memberikan makanan dalam jumlah besar
E. Mengurangi pemeriksaan DJJ
Jawaban: A
Pembahasan:
Mekonium pekat disertai DJJ tidak meyakinkan meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan janin dan membutuhkan evaluasi cepat.
Soal 22
Setelah persalinan, uterus teraba keras tetapi perdarahan masih berlangsung. Penyebab yang perlu dicurigai adalah ….
A. Atonia uteri sebagai satu-satunya penyebab
B. Laserasi jalan lahir
C. Hiperemesis
D. Gangguan laktasi
E. Kehamilan postterm
Jawaban: B
Pembahasan:
Jika uterus berkontraksi baik tetapi perdarahan berlanjut, trauma atau laserasi jalan lahir harus dipertimbangkan.
Soal 23
Setelah melepas sarung tangan yang terkontaminasi darah, bidan akan menangani pasien lain. Tindakan yang benar adalah ….
A. Langsung menggunakan sarung tangan baru
B. Membersihkan tangan hanya di akhir shift
C. Melakukan kebersihan tangan sebelum menggunakan APD baru
D. Menggunakan sarung tangan lama selama belum robek
E. Menambahkan sarung tangan baru di atas sarung tangan lama
Jawaban: C
Pembahasan:
Sarung tangan tidak menggantikan hand hygiene. Kebersihan tangan tetap diperlukan setelah melepas sarung tangan.
Soal 24
Dua pasien datang bersamaan. Pasien pertama kontrol rutin tanpa keluhan. Pasien kedua hamil 38 minggu dengan perdarahan banyak, pucat, dan kesadaran menurun. Prioritas adalah ….
A. Pasien pertama karena datang lebih dahulu
B. Pasien kedua karena menunjukkan kegawatdaruratan
C. Menyelesaikan administrasi keduanya
D. Menunggu dokter
E. Melayani pasien yang lebih tenang
Jawaban: B
Pembahasan:
Prioritas ditentukan berdasarkan tingkat kegawatan, bukan urutan kedatangan.
Soal 25
Bidan menghadapi kasus di luar kewenangannya, sementara pasien masih dapat distabilkan sebelum dirujuk. Tindakan paling tepat adalah ….
A. Tetap menangani seluruh kasus sendiri
B. Menunda rujukan
C. Meminta keluarga mencari fasilitas sendiri tanpa koordinasi
D. Memberikan stabilisasi sesuai kewenangan, berkomunikasi dengan fasilitas tujuan, dan menyiapkan rujukan aman
E. Merujuk tanpa dokumentasi
Jawaban: D
Pembahasan:
Rujukan yang aman mencakup stabilisasi, komunikasi dengan fasilitas penerima, dokumentasi, dan kesinambungan pemantauan.
Uji Kesiapan Anda Sebelum Hari Seleksi

Jadikan latihan soal sebagai bagian dari persiapan untuk memperkuat pemahaman materi kebidanan, melatih ketelitian, dan membiasakan diri menghadapi soal berbasis kasus yang menuntut keputusan cepat dan tepat. Akses latihan lebih banyak di fungsional.id dan coba simulasi CAT untuk membantu memantapkan persiapan menghadapi Tes Bidan BLUD RS UIN Alauddin Makassar.


