Jabatan Fungsional Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana (Penata KKB) merupakan jabatan fungsional teknis yang lahir dari transformasi kelembagaan BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), yang bertugas melaksanakan kegiatan pengelolaan dan analisis data kependudukan, perencanaan program keluarga berencana, pengembangan kebijakan kependudukan, serta fasilitasi program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana) di seluruh tingkatan pemerintahan. Sebagai jabatan fungsional yang memegang peranan strategis dalam mendukung pencapaian target program kependudukan dan keluarga berencana nasional, Penata KKB dituntut untuk terus meningkatkan kompetensinya secara berkelanjutan melalui mekanisme Uji Kompetensi Jabatan Fungsional yang menjadi instrumen penjaminan mutu resmi dalam setiap proses kenaikan jenjang, pengangkatan pertama, maupun perpindahan jabatan ke dalam Jabatan Fungsional Penata KKB sesuai ketentuan Kemendukbangga dan Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Menghadapi Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata KKB Kemendukbangga membutuhkan persiapan yang matang dan menyeluruh, mengingat materi yang diujikan mencakup berbagai aspek penting mulai dari regulasi jabatan fungsional Penata KKB terbaru, kebijakan dan program Bangga Kencana, analisis data kependudukan, pengelolaan program keluarga berencana, pembangunan keluarga, percepatan penurunan stunting, hingga kompetensi manajerial dan sosial kultural yang relevan dengan jenjang jabatan yang diuji. Untuk membantu para Penata KKB dalam mempersiapkan diri secara optimal, artikel ini menghadirkan lebih dari 110 soal latihan pilihan ganda lengkap beserta kunci jawaban dan pembahasan mendalam yang disusun berdasarkan karakteristik dan pola soal Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata KKB Kemendukbangga. Dengan berlatih secara konsisten menggunakan kumpulan soal ini, diharapkan peserta dapat memperkuat penguasaan kompetensi teknis kependudukan dan KB, mempertajam kemampuan analisis kebijakan, serta tampil lebih percaya diri dalam menghadapi seluruh komponen uji kompetensi yang sesungguhnya.
Table of Contents
ToggleMengenal Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata KKB Kemendukbangga
Jabatan Fungsional Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana (Penata KKB) diatur melalui Permenpan Nomor 81 Tahun 2020, dengan instansi pembina adalah BKKBN/Kemendukbangga melalui Direktorat Kerjasama Pendidikan Kependudukan (DITPENDUK), dan jenjang jabatan terdiri dari Ahli Pertama, Ahli Muda, Ahli Madya, hingga Ahli Utama dengan kualifikasi pendidikan minimal S1/D4 di bidang ilmu yang relevan. Kemendukbangga/BKKBN secara aktif menyelenggarakan Uji Kompetensi Nasional Jabatan Penata KKB yang diikuti oleh ASN dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia, sebagai bagian dari upaya percepatan pengembangan karier dan peningkatan kompetensi seluruh pejabat fungsional Penata KKB yang tersebar di instansi pusat maupun pemerintah daerah.
Sebagai salah satu syarat pengajuan uji kompetensi, setiap Pemerintah Daerah wajib memiliki formasi Jabatan Fungsional Penata KKB yang sudah ditetapkan terlebih dahulu, dengan alur pengusulan dimulai dari pengajuan formasi oleh Pimpinan Pemda ke Kemendukbangga/BKKBN, dilanjutkan pemberian surat Rekomendasi Formasi JF Penata KKB, kemudian pengajuan ke KemenPAN-RB hingga diterbitkannya Persetujuan Kebutuhan Jabatan Fungsional Penata KKB. Persyaratan mengikuti uji kompetensi mencakup memenuhi Standar Kompetensi jenjang jabatan yang akan diduduki, nilai prestasi kerja paling rendah bernilai baik dalam 2 tahun terakhir, memiliki rekam jejak yang baik, tidak pernah melakukan pelanggaran kode etik dan profesi PNS, dan tidak pernah dikenakan hukuman disiplin PNS. Penilaian kompetensi mencakup pengukuran Kompetensi Teknis, Kompetensi Manajerial, dan Kompetensi Sosial Kultural yang dilakukan oleh asesor internal pemerintah atau bekerja sama dengan asesor independen, dengan batas nilai minimal kelulusan 70 dan peserta yang tidak lulus diberikan kesempatan mengikuti uji kompetensi ulang (remedial) pada materi yang belum memenuhi nilai kelulusan. Seluruh informasi terkini terkait jadwal dan mekanisme ujikom JF Penata KKB dapat diakses melalui portal resmi sipena.bkkbn.go.id dan corpu.kemendukbangga.go.id
Aspek Penilaian dalam Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata KKB Kemendukbangga
Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata KKB Kemendukbangga dirancang untuk mengukur tingkat penguasaan kompetensi pegawai dalam melaksanakan tugas dan fungsi di bidang Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKB). Penilaian tidak hanya berfokus pada pemahaman terhadap kebijakan dan regulasi, tetapi juga kemampuan peserta dalam menerapkan konsep tersebut pada situasi nyata, mulai dari perencanaan program, pelaksanaan kegiatan, pendampingan masyarakat, pengelolaan data, hingga monitoring dan evaluasi program pembangunan keluarga.
Dalam pelaksanaannya, peserta akan diuji kemampuan teknis terkait penyelenggaraan program Bangga Kencana, pengelolaan data kependudukan dan keluarga, edukasi serta komunikasi perubahan perilaku, penguatan ketahanan keluarga, pengendalian penduduk, hingga koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan di tingkat pusat maupun daerah. Selain itu, peserta juga dituntut mampu menganalisis permasalahan di lapangan, menyusun solusi yang tepat, serta memberikan rekomendasi berdasarkan data dan ketentuan yang berlaku.
Karena itu, peserta perlu memperdalam materi mengenai kebijakan Kemendukbangga, program Bangga Kencana, pembangunan keluarga, pengendalian penduduk, pelayanan keluarga berencana, pemanfaatan data kependudukan, serta teknik monitoring dan evaluasi program. Latihan mengerjakan soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) dengan studi kasus yang menggambarkan kondisi nyata di lapangan juga sangat penting untuk meningkatkan kemampuan analisis, pengambilan keputusan, dan penyelesaian masalah sesuai karakteristik Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata KKB.
Strategi Mempersiapkan Diri Menghadapi Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata KKB Kemendukbangga
Keberhasilan dalam Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata KKB Kemendukbangga tidak hanya ditentukan oleh pemahaman terhadap teori dan regulasi, tetapi juga oleh kemampuan peserta dalam menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di bidang Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKB). Oleh karena itu, peserta perlu memahami secara menyeluruh kebijakan Kemendukbangga, Program Bangga Kencana, pengendalian penduduk, pembangunan keluarga, pelayanan keluarga berencana, serta mekanisme pengelolaan data dan informasi kependudukan sebagai dasar penyusunan program yang efektif.
Selain memperdalam materi konseptual, peserta juga perlu menguasai keterampilan teknis seperti perencanaan program, pelaksanaan kegiatan, pendampingan masyarakat, komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), pengelolaan data, monitoring dan evaluasi, serta penyusunan laporan hasil kegiatan. Kemampuan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, tenaga lapangan, dan berbagai pemangku kepentingan juga menjadi kompetensi penting yang sering diukur dalam uji kompetensi.
Agar memperoleh hasil yang optimal, peserta disarankan untuk rutin berlatih mengerjakan soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang mengangkat studi kasus nyata mengenai pelaksanaan Program Bangga Kencana. Latihan tersebut akan membantu meningkatkan kemampuan menganalisis permasalahan kependudukan, menentukan strategi intervensi yang tepat, mengevaluasi efektivitas program, serta menyusun rekomendasi yang sesuai dengan regulasi dan kebutuhan masyarakat. Dengan persiapan yang terstruktur dan latihan yang konsisten, peserta akan lebih siap menghadapi Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata KKB Kemendukbangga secara percaya diri dan profesional.
Kisi-Kisi Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata KKB Kemendukbangga
Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata KKB Kemendukbangga bertujuan untuk mengukur kompetensi teknis, kemampuan analisis, serta penerapan kebijakan di bidang Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKB). Materi yang diujikan mencakup pemahaman regulasi, pengelolaan program Bangga Kencana, komunikasi dan edukasi kepada masyarakat, pengelolaan data kependudukan, hingga monitoring dan evaluasi program. Sebagian besar soal disajikan dalam bentuk studi kasus (HOTS) yang menguji kemampuan peserta dalam memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan di lapangan.
| Nomor | Materi Uji | Pokok Bahasan |
| 1 | Kebijakan Kependudukan dan Bangga Kencana | Kebijakan nasional, visi dan misi Kemendukbangga, pembangunan keluarga, pengendalian penduduk, serta arah kebijakan Program Bangga Kencana. |
| 2 | Jabatan Fungsional Penata KKB | Tugas, fungsi, ruang lingkup pekerjaan, jenjang jabatan, angka kredit, dan standar kompetensi Penata KKB. |
| 3 | Program Keluarga Berencana | Pelayanan KB, metode kontrasepsi, peningkatan kesertaan ber-KB, serta strategi pelayanan keluarga berencana. |
| 4 | Pembangunan Keluarga | Delapan fungsi keluarga, ketahanan keluarga, pembangunan keluarga berkualitas, dan pemberdayaan keluarga. |
| 5 | Pengendalian Penduduk | Dinamika kependudukan, indikator kependudukan, bonus demografi, serta strategi pengendalian penduduk. |
| 6 | Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) | Teknik komunikasi, penyuluhan, advokasi, perubahan perilaku, serta edukasi kepada masyarakat dan sasaran program. |
| 7 | Pendataan dan Pengelolaan Data | Pendataan keluarga, validasi data, analisis data kependudukan, pemanfaatan data dalam penyusunan program, serta pelaporan. |
| 8 | Perencanaan Program | Identifikasi masalah, penyusunan rencana kerja, penetapan sasaran, indikator kinerja, dan pengelolaan kegiatan KKB. |
| 9 | Monitoring dan Evaluasi | Monitoring pelaksanaan program, evaluasi capaian indikator, penyusunan laporan, serta tindak lanjut hasil evaluasi. |
| 10 | Kemitraan dan Koordinasi | Kolaborasi dengan pemerintah daerah, OPD, fasilitas kesehatan, kader, penyuluh, dan pemangku kepentingan lainnya. |
| 11 | Etika Profesi | Integritas, profesionalisme, pelayanan publik, akuntabilitas, serta kode etik ASN dalam pelaksanaan tugas. |
| 12 | Soal HOTS Berbasis Studi Kasus | Analisis permasalahan kependudukan, penyusunan strategi intervensi, pengambilan keputusan, evaluasi program, dan penyusunan rekomendasi berdasarkan data serta regulasi yang berlaku. |
Materi yang Perlu Diprioritaskan
- Pahami kebijakan Kemendukbangga, Program Bangga Kencana, pembangunan keluarga, dan pengendalian penduduk beserta regulasi yang mendasarinya.
- Kuasai pelayanan keluarga berencana, komunikasi, informasi dan edukasi (KIE), serta strategi pemberdayaan keluarga dan masyarakat.
- Pelajari pendataan keluarga, pengelolaan data kependudukan, penyusunan program, monitoring, evaluasi, dan pelaporan sebagai dasar pengambilan keputusan.
- Tingkatkan kemampuan dalam berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, menyelesaikan permasalahan di lapangan, serta memberikan pelayanan publik yang profesional.
- Biasakan mengerjakan soal HOTS berbasis studi kasus yang menguji kemampuan analisis, pemecahan masalah, evaluasi program, dan penyusunan rekomendasi sesuai karakteristik pelaksanaan Program Bangga Kencana.
Contoh Soal Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata KKB Kemendukbangga
Bagian ini berisi 20 contoh soal pilihan ganda yang disusun berdasarkan kisi-kisi Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata KKB Kemendukbangga. Soal-soal berikut menggunakan pendekatan Higher Order Thinking Skills (HOTS) dengan studi kasus yang mencerminkan pelaksanaan Program Bangga Kencana, pengendalian penduduk, pembangunan keluarga, serta tugas dan fungsi Penata KKB di lapangan.
Soal 1
Di sebuah kecamatan, angka unmet need keluarga berencana masih tinggi meskipun pelayanan kontrasepsi telah tersedia di fasilitas kesehatan. Sebagai Penata KKB, langkah yang paling tepat adalah….
A. Menambah jumlah alat kontrasepsi di puskesmas.
B. Melakukan analisis penyebab, memperkuat KIE, serta meningkatkan koordinasi dengan penyuluh dan fasilitas kesehatan untuk menjangkau pasangan usia subur yang belum terlayani.
C. Mengurangi target pelayanan KB.
D. Menghentikan kegiatan penyuluhan.
E. Mengalihkan anggaran ke program lain.
Jawaban: B
Pembahasan: Penyelesaian masalah unmet need memerlukan analisis akar masalah serta penguatan komunikasi, edukasi, dan akses pelayanan, bukan hanya penambahan sarana.
Soal 2
Dalam penyusunan program Bangga Kencana, sumber informasi yang paling tepat dijadikan dasar penentuan sasaran adalah….
A. Opini tokoh masyarakat.
B. Data hasil Pendataan Keluarga yang telah divalidasi dan diperbarui.
C. Data media sosial.
D. Perkiraan petugas lapangan.
E. Data desa tetangga.
Jawaban: B
Pembahasan: Program harus disusun berdasarkan data kependudukan yang akurat sehingga intervensi dapat tepat sasaran.
Soal 3
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa partisipasi keluarga dalam kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB) masih rendah. Upaya yang paling tepat dilakukan adalah….
A. Mengurangi jumlah kelompok BKB.
B. Melakukan evaluasi penyebab rendahnya partisipasi, memperkuat KIE, dan melibatkan tokoh masyarakat dalam sosialisasi.
C. Menghentikan kegiatan BKB.
D. Mengganti seluruh kader.
E. Menunda pelaksanaan program.
Jawaban: B
Pembahasan: Peningkatan partisipasi masyarakat dilakukan melalui edukasi, pendekatan sosial, dan pelibatan berbagai pemangku kepentingan.
Soal 4
Dalam pelaksanaan pendataan keluarga, ditemukan adanya perbedaan antara data lapangan dengan data pada sistem informasi. Langkah yang paling tepat adalah….
A. Menggunakan data lama.
B. Melakukan verifikasi dan validasi data sebelum digunakan sebagai dasar penyusunan program.
C. Menghapus seluruh data.
D. Menggunakan data dari desa lain.
E. Menunda seluruh kegiatan.
Jawaban: B
Pembahasan: Data yang akurat merupakan dasar utama dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program Bangga Kencana.
Soal 5
Tujuan utama pelaksanaan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dalam Program Bangga Kencana adalah….
A. Menambah jumlah laporan kegiatan.
B. Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat agar mendukung program kependudukan dan keluarga berencana.
C. Mengurangi jumlah kader.
D. Menentukan anggaran tahunan.
E. Menyusun laporan keuangan.
Jawaban: B
Pembahasan: KIE bertujuan mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui penyampaian informasi yang benar dan mudah dipahami.
Soal 6
Sebuah desa memiliki angka pernikahan usia dini yang cukup tinggi. Sebagai Penata KKB, strategi yang paling tepat adalah….
A. Memberikan sanksi kepada masyarakat.
B. Melaksanakan edukasi kesehatan reproduksi, pendewasaan usia perkawinan, serta melibatkan sekolah, orang tua, dan tokoh masyarakat.
C. Mengurangi kegiatan penyuluhan.
D. Menambah jumlah kader tanpa pelatihan.
E. Menunda program pembangunan keluarga.
Jawaban: B
Pembahasan: Pencegahan pernikahan usia dini memerlukan pendekatan kolaboratif melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
Soal 7
Dalam monitoring program, indikator yang paling tepat untuk menilai keberhasilan kegiatan adalah….
A. Jumlah rapat koordinasi.
B. Ketercapaian indikator output, outcome, dan manfaat program bagi masyarakat.
C. Jumlah kendaraan operasional.
D. Luas kantor pelayanan.
E. Banyaknya surat yang diterbitkan.
Jawaban: B
Pembahasan: Monitoring tidak hanya menilai pelaksanaan kegiatan, tetapi juga hasil dan dampak program terhadap sasaran.
Soal 8
Seorang Penata KKB diminta menyusun rencana kerja tahunan. Tahapan pertama yang harus dilakukan adalah….
A. Menentukan anggaran.
B. Mengidentifikasi permasalahan berdasarkan data dan kebutuhan masyarakat.
C. Menentukan jadwal rapat.
D. Menyusun laporan tahunan.
E. Menetapkan target tanpa analisis.
Jawaban: B
Pembahasan: Perencanaan program harus diawali dengan analisis situasi agar kegiatan yang disusun sesuai kebutuhan masyarakat.
Soal 9
Dalam pelaksanaan Program Bangga Kencana, kerja sama dengan pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan bertujuan untuk….
A. Mengurangi tanggung jawab Penata KKB.
B. Meningkatkan efektivitas pelaksanaan program melalui koordinasi lintas sektor.
C. Mengurangi jumlah kegiatan.
D. Menentukan struktur organisasi.
E. Mengurangi anggaran.
Jawaban: B
Pembahasan: Program Bangga Kencana memerlukan sinergi berbagai pihak agar pelaksanaannya lebih efektif dan berkelanjutan.
Soal 10
Suatu wilayah mengalami peningkatan jumlah keluarga berisiko stunting. Berdasarkan hasil analisis data, penyebab utamanya adalah rendahnya akses edukasi gizi dan minimnya pendampingan keluarga. Sebagai Penata KKB, rekomendasi yang paling tepat adalah….
A. Menambah jumlah laporan kegiatan.
B. Menyusun program terpadu melalui penguatan edukasi gizi, pendampingan keluarga berisiko, koordinasi lintas sektor, pemanfaatan data keluarga, serta monitoring dan evaluasi secara berkala.
C. Mengurangi jumlah sasaran program.
D. Menghentikan kegiatan penyuluhan.
E. Menunggu hasil evaluasi tahun berikutnya.
Jawaban: B
Pembahasan: Soal ini menguji kemampuan analisis peserta dalam mengintegrasikan data, kebijakan, koordinasi lintas sektor, dan strategi intervensi untuk menyelesaikan permasalahan pembangunan keluarga sesuai karakteristik Program Bangga Kencana.
Soal 11
Dalam kegiatan monitoring Program Bangga Kencana, ditemukan bahwa capaian pelayanan KB di beberapa desa jauh di bawah target. Langkah pertama yang paling tepat dilakukan Penata KKB adalah….
A. Mengurangi target pelayanan.
B. Melakukan analisis penyebab berdasarkan data, mengevaluasi pelaksanaan program, serta berkoordinasi dengan penyuluh dan fasilitas kesehatan.
C. Menghentikan seluruh kegiatan pelayanan.
D. Mengganti seluruh petugas lapangan.
E. Menambah anggaran tanpa evaluasi.
Jawaban: B
Pembahasan: Monitoring bertujuan mengidentifikasi penyebab ketidaktercapaian target sehingga solusi yang diberikan tepat sasaran.
Soal 12
Dalam proses pendataan keluarga, prinsip yang harus selalu dijaga adalah….
A. Menggunakan data lama agar lebih praktis.
B. Menjamin data yang dikumpulkan akurat, valid, mutakhir, dan dapat dipertanggungjawabkan.
C. Mengutamakan jumlah data tanpa memperhatikan kualitas.
D. Menggunakan perkiraan petugas lapangan.
E. Mengabaikan proses verifikasi.
Jawaban: B
Pembahasan: Data yang valid menjadi dasar utama dalam penyusunan kebijakan, perencanaan, dan evaluasi Program Bangga Kencana.
Soal 13
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa edukasi mengenai pendewasaan usia perkawinan belum memberikan perubahan perilaku yang signifikan pada remaja. Rekomendasi yang paling tepat adalah….
A. Menghentikan program edukasi.
B. Memperbaiki strategi KIE dengan melibatkan sekolah, keluarga, tokoh masyarakat, dan media digital yang sesuai dengan karakteristik remaja.
C. Mengurangi sasaran program.
D. Menambah administrasi kegiatan.
E. Menunggu perubahan secara alami.
Jawaban: B
Pembahasan: Perubahan perilaku memerlukan strategi komunikasi yang tepat sasaran serta melibatkan berbagai pihak yang berpengaruh terhadap remaja.
Soal 14
Salah satu indikator keberhasilan pembangunan keluarga adalah….
A. Bertambahnya jumlah laporan kegiatan.
B. Meningkatnya ketahanan dan kesejahteraan keluarga melalui optimalisasi fungsi keluarga.
C. Bertambahnya jumlah kantor pelayanan.
D. Meningkatnya jumlah rapat koordinasi.
E. Bertambahnya jumlah pegawai.
Jawaban: B
Pembahasan: Pembangunan keluarga berorientasi pada peningkatan kualitas hidup keluarga, bukan hanya penyelesaian kegiatan administratif.
Soal 15
Dalam menyusun program kependudukan, analisis data diperlukan untuk….
A. Menentukan besarnya honorarium.
B. Menetapkan prioritas sasaran dan strategi intervensi yang sesuai dengan kondisi wilayah.
C. Mengurangi jumlah kegiatan.
D. Menentukan struktur organisasi.
E. Menentukan lokasi kantor.
Jawaban: B
Pembahasan: Analisis data membantu memastikan bahwa program yang dirancang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Soal 16
Penata KKB diminta melakukan koordinasi dengan berbagai OPD dalam pelaksanaan program percepatan penurunan stunting. Tujuan utama koordinasi tersebut adalah….
A. Membagi anggaran.
B. Menyatukan perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi agar program berjalan efektif dan tidak tumpang tindih.
C. Mengurangi jumlah kegiatan.
D. Menentukan struktur organisasi.
E. Mengurangi peran pemerintah desa.
Jawaban: B
Pembahasan: Penanganan stunting memerlukan kolaborasi lintas sektor sehingga seluruh program dapat saling mendukung.
Soal 17
Dalam pelaksanaan evaluasi program, Penata KKB menemukan bahwa target kegiatan tercapai, tetapi manfaat program belum dirasakan oleh masyarakat. Aspek yang perlu dianalisis lebih lanjut adalah….
A. Jumlah surat yang diterbitkan.
B. Outcome dan dampak program terhadap sasaran.
C. Jumlah pegawai.
D. Besarnya anggaran.
E. Jumlah kendaraan operasional.
Jawaban: B
Pembahasan: Evaluasi program tidak hanya menilai output, tetapi juga outcome dan dampak nyata terhadap masyarakat.
Soal 18
Seorang Penata KKB menerima permintaan untuk mengubah data hasil pendataan keluarga agar sesuai dengan target kinerja. Sikap yang paling tepat adalah….
A. Mengubah data sesuai permintaan.
B. Tetap menjaga integritas, menolak manipulasi data, serta menyampaikan data sesuai kondisi sebenarnya.
C. Menghapus seluruh data.
D. Menunda pelaporan.
E. Menyesuaikan sebagian data.
Jawaban: B
Pembahasan: Integritas merupakan kompetensi utama ASN. Data yang disampaikan harus objektif, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Soal 19
Dalam penyusunan laporan hasil monitoring, rekomendasi yang baik harus….
A. Bersifat umum tanpa solusi.
B. Berdasarkan hasil analisis, realistis, dapat dilaksanakan, dan mampu menyelesaikan akar permasalahan.
C. Mengikuti opini pribadi penyusun.
D. Berisi kritik tanpa alternatif solusi.
E. Tidak memerlukan data pendukung.
Jawaban: B
Pembahasan: Rekomendasi yang efektif harus berbasis data, dapat diterapkan, dan memberikan perbaikan terhadap pelaksanaan program.
Soal 20
Berdasarkan hasil analisis, sebuah kabupaten memiliki angka kelahiran tinggi, prevalensi stunting meningkat, dan partisipasi keluarga dalam Program Bangga Kencana masih rendah. Sebagai Penata KKB, rekomendasi yang paling tepat adalah….
A. Menambah target administrasi pelaporan.
B. Menyusun strategi terpadu melalui penguatan KIE, peningkatan akses pelayanan KB, pemanfaatan data keluarga, pendampingan keluarga berisiko, koordinasi lintas sektor, serta monitoring dan evaluasi secara berkala.
C. Mengurangi jumlah sasaran program.
D. Menunda seluruh kegiatan hingga tahun berikutnya.
E. Menghapus kegiatan penyuluhan.
Jawaban: B
Pembahasan: Soal ini menguji kemampuan HOTS peserta dalam mengintegrasikan kebijakan kependudukan, pembangunan keluarga, pelayanan KB, pengelolaan data, koordinasi lintas sektor, serta monitoring dan evaluasi untuk menghasilkan rekomendasi yang komprehensif sesuai karakteristik Program Bangga Kencana.
Ingin lebih siap menghadapi Uji Kompetensi Penata KKB Kemendukbangga?

Kunjungi Fungsional.id untuk mengakses bank soal terbaru, materi Program Bangga Kencana, kisi-kisi lengkap, simulasi ujian, dan pembahasan berbasis studi kasus yang disusun sesuai pola uji kompetensi terkini.


