Uji Kompetensi Nasional (UKN) Neurologi merupakan salah satu tahapan krusial bagi dokter spesialis neurologi dalam memastikan kelayakan profesional, ketepatan penanganan kasus, serta penguasaan ilmu saraf secara menyeluruh. Evaluasi ini tidak hanya menilai kemampuan teoritis, tetapi juga kecakapan klinis dalam mengenali, mendiagnosis, dan menangani berbagai kelainan sistem saraf yang kompleks dan progresif. Dengan cakupan materi yang luas—mulai dari neuroanatomi, neurofisiologi, penyakit neurodegeneratif, stroke, epilepsi, hingga neurologi anak—peserta dituntut untuk berpikir kritis, cepat, dan berbasis bukti ilmiah terkini.
Seiring semakin ketatnya standar kompetensi dan meningkatnya tantangan di dunia medis, mempersiapkan diri untuk UKN Neurologi tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan strategi belajar yang terarah dengan latihan kasus klinis dan soal berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills) untuk mengasah kemampuan penalaran klinis secara mendalam. Artikel ini hadir untuk membantu peserta ujian mempersiapkan diri secara maksimal melalui sajian contoh soal, kisi-kisi materi terstruktur, dan kunci jawaban pembahasan detail guna meningkatkan pemahaman konsep serta kepercayaan diri saat menghadapi ujian. Dengan persiapan yang tepat, keberhasilan dalam UKN Neurologi bukan hanya target, tetapi sebuah kepastian yang dapat dicapai.

Table of Contents
ToggleKisi-kisi Soal Uji Kompetensi Nasional (UKN) Neurologi
Berikut ini merupakan kisi-kisi soal Uji Kompetensi Nasional (UKN) Neurologi disertai penjelasan setiap poin kisi-kisi
- Neuroanatomi dan Neurofisiologi Dasar
Mencakup struktur dan fungsi sistem saraf pusat maupun perifer, mekanisme neurotransmisi, jalur sensorik dan motorik, serta kontrol fungsi otonom. - Pemeriksaan Neurologis
Menilai kompetensi dalam melakukan anamnesis neurologis, pemeriksaan fisik sistem saraf, interpretasi refleks, tanda patologis, dan penilaian status kesadaran. - Stroke dan Gangguan Cerebrovaskular
Meliputi klasifikasi stroke, faktor risiko, patofisiologi, diagnosis klinis, interpretasi CT/MRI, penanganan akut, rehabilitasi, serta pencegahan sekunder. - Epilepsi dan Gangguan Kejang
Mencakup jenis epilepsi, interpretasi EEG, status epileptikus, farmakoterapi antikonvulsan, efek samping obat, serta manajemen kasus refrakter. - Neuroinfeksi dan Autoimun
Berisi kasus seperti meningitis, ensefalitis, GBS, neuromielitis optika, demielinisasi, dan penatalaksanaan berbasis etiologi infeksi maupun imunologi. - Neuropati Perifer dan Gangguan Neuromuskular
Meliputi diagnosis neuropati, myasthenia gravis, distrofi otot, ALS, pemeriksaan elektromiografi, hingga strategi penanganan medik dan rehabilitasi. - Gangguan Neurodegeneratif
Menjelaskan penyakit Parkinson, Alzheimer, Huntington, dan penyakit degeneratif lain termasuk manifestasi klinis, kriteria diagnosis, dan manajemen terapeutik. - Neurologi Anak
Mencakup gangguan tumbuh kembang motorik, cerebral palsy, epilepsi anak, neurodisabilitas, serta pendekatan diagnosis dan terapi berbasis usia. - Neuroonkologi
Meliputi tumor otak primer dan metastasis, manifestasi klinis, alat diagnostik neuroimaging, pilihan terapi medis, bedah, radioterapi, dan follow-up. - Interpretasi Penunjang Diagnostik Neurologi
Berisi analisis MRI/CT, EEG, EMG/NCS, pemeriksaan LCS, biomarker neurodegeneratif, serta relevansinya dalam pengambilan keputusan klinis. - Penatalaksanaan Nyeri dan Gangguan Neuropsikiatri
Mencakup klasifikasi nyeri neuropatik & nociceptive, terapi farmakologis & nonfarmakologis, serta hubungan neurologi dengan gangguan mental-organik. - Tata Laksana Gawat Darurat Neurologis
Meliputi penanganan kondisi akut seperti stroke iskemik hemoragik, status epileptikus, meningitis akut, trauma kepala, dan krisis neuromuskular.
Contoh Soal Uji Kompetensi Nasional (UKN) Neurologi dan Pembahasan
Berikut ini contoh soal HOTS Uji Kompetensi Nasional (UKN) Neurologi, soal bentuk pilihan ganda A-E, soal panjang, dan dilengkapi dengan kunci jawaban serta pembahasan soal
Soal 1
Seorang laki-laki 68 tahun datang ke UGD dengan keluhan kelemahan mendadak pada sisi kanan tubuh dan bicara cadel sejak 70 menit yang lalu. Riwayat: hipertensi terkontrol tidak teratur, tidak ada riwayat perdarahan atau operasi besar dalam 3 bulan terakhir. Skor NIHSS pada saat datang 12 (afasia ringan, hemiparesis kanan sedang). CT kepala non-kontras segera dilakukan dan tidak menunjukkan perdarahan atau tanda infark hiperdens pada umumnya. Tekanan darah 185/105 mmHg. Pemeriksaan laboratorium awal menunjukkan INR 1.0, gula darah 130 mg/dL. PPK/Tim stroke harus memutuskan apakah pasien layak diberikan trombolisis intravena (tPA). Langkah yang paling tepat sekarang adalah…
A. Menunda keputusan dan observasi 24 jam untuk melihat perkembangan karena usia dan riwayat tekanan darah.
B. Menurunkan tekanan darah ke bawah 185/110 mmHg dengan antihipertensi cepat lalu memberikan tPA karena memenuhi window waktu dan tidak ada kontraindikasi.
C. Memberikan aspirin segera dan tidak memberikan tPA karena risiko perdarahan lebih tinggi pada pasien lanjut usia.
D. Membatalkan tPA karena tekanan darah saat ini melebihi 180/105 mmHg dan tidak boleh segera diturunkan.
E. Melakukan trombektomi mekanik saja tanpa tPA karena NIHSS 12 menunjukkan kemungkinan oklusi besar.
Jawaban benar: B
Pembahasan:
Penilaian klausa: pasien datang dalam time window (70 menit sejak onset), CT non-kontras negatif untuk perdarahan, INR normal, gula darah tidak ekstrem—kriteria umum kandidat trombolisis intravena terpenuhi. Syarat penting lainnya: tekanan darah sebelum pemberian tPA harus ≤185/110 mmHg. Pada pasien ini tekanan darah 185/105 mmHg — sistolik tepat batas, diastolik di bawah 110 — sehingga secara numerik memenuhi syarat? Perhatikan pedoman: batas adalah ≤185/110; artinya pasien dengan 185/105 memenuhi ambang. Namun banyak tim memilih menurunkan bila ada faktor risiko atau bila angka sedikit di atas batas. Dalam skenario ini tekanan darah 185/105 sudah berada dalam kriteria ambang; tetapi praktik aman adalah menurunkan bila ada nilai melebihi batas. Oleh karena itu jawaban terbaik adalah menurunkan tekanan darah jika diperlukan (mis. IV labetalol atau nicardipine) hingga ≤185/110 lalu segera memberikan tPA karena waktu masih erat dengan manfaat signifikan—jawaban B merepresentasikan langkah yang paling tepat.
Soal 2
Seorang wanita 29 tahun dengan riwayat epilepsi fokal sejak remaja, sebelumnya terkontrol dengan monoterapi karbamazepin. Ia datang dengan kejang tonik-klonik umum yang berlanjut >10 menit (status epileptikus). Pada data riwayat, pasien sedang hamil trimester kedua. Di UGD kejang belum berhenti setelah administrasi diazepam IV dua kali. Tim harus memilih obat antikonvulsan berikutnya untuk menghentikan status. Pilihan yang paling tepat adalah…
A. Fosphenytoin IV karena efektif pada status epileptikus fokal dan relatif aman.
B. Valproat IV karena spektrum luas dan efektif pada status epileptikus.
C. Levetiracetam IV karena profil toksisitas minimal dan aman pada kehamilan relatif.
D. Phenobarbital IV karena cepat menghentikan kejang.
E. Midazolam infus terus menerus saja tanpa loading dose obat antikonvulsan lain.
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Pertimbangan klinis: pasien dalam status epileptikus yang tidak responsif terhadap benzodiazepin memerlukan pemberian obat antikonvulsan lanjut (second-line): fosphenytoin/fenytoin, valproat, atau levetiracetam adalah pilihan umum. Namun pasien sedang hamil trimester kedua—ini mengubah pilihan obat karena risiko teratogenisitas. Valproat diketahui memiliki risiko teratogenik dan gangguan perkembangan neurokognitif pada janin sehingga umumnya dihindari pada kehamilan kecuali bila tak ada alternatif. Fosphenytoin/ phenytoin memiliki risiko toksisitas potensial pada janin dan interaksi obat; meskipun kadang dipakai jika pilihan lain tidak tersedia, profil keselamatan relatif lebih problematik pada kehamilan dibanding levetiracetam. Levetiracetam memiliki profil keamanan yang lebih baik pada kehamilan dibanding valproat dan fenytoin, serta efektif pada status epileptikus menurut beberapa studi/consensus; tersedia formulasi IV dan biasanya dipilih ketika mempertimbangkan kehamilan. Phenobarbital dapat menyebabkan depresi pernapasan neonatal dan efek pada perkembangan jangka panjang; tidak jadi pilihan pertama jika ada alternatif lebih aman. Midazolam infus berguna untuk refractory status (refractory to second-line) atau sebagai continuous sedation, tetapi idealnya setelah loading dose agen antikonvulsan second-line. Jadi jawaban C (levetiracetam IV) adalah pilihan paling tepat mempertimbangkan efektivitas dan profil kehamilan.
Soal 3
Seorang wanita 72 tahun dibawa karena penurunan memori progresif selama 2 tahun, kini kesulitan mengingat kejadian baru, menurunnya kemampuan navigasi, dan sedikit perubahan perilaku. Ia juga memiliki riwayat hipertensi dan pernah mengalami stroke iskemik ringan 18 bulan yang lalu. Pemeriksaan neurologis menunjukkan gangguan memori episodik dominan tanpa hemiparesis. MRI otak menunjukkan atrofi hippocampal bilateral serta beberapa lesi hiperintens multifokal subkortikal lacunar pada white matter. Dalam menentukan diagnosis utama dan rencana terapi, pernyataan yang paling tepat adalah…
A. Diagnosis pasti Alzheimer; terapi optimal adalah memulai inhibitor kolinesterase tanpa perlu terapi pencegahan vaskular.
B. Lebih mendukung diagnosis demensia campuran (Alzheimer + vaskular); pendekatan terapi harus mencakup inhibitor kolinesterase plus optimalisasi faktor risiko vaskular.
C. Diagnosis demensia vaskular pasti karena lesi subkortikal; obat Alzheimer tidak akan berguna dan harus dihindari.
D. Penemuan hippocampal atrofi merupakan perubahan penuaan normal; fokus pada rehabilitasi kognitif saja.
E. Menunda diagnosis dan observasi selama 6 bulan karena perubahan perilaku minimal.
Jawaban benar: B
Pembahasan:
Gambaran klinis: onset progresif selama 2 tahun dengan gangguan memori episodik dan bukti radiologis atrofi hippocampus mengarah pada komponen Alzheimer. Namun riwayat stroke dan adanya lesi lacunar subkortikal menunjukkan kontribusi vaskular. Kombinasi temuan ini khas untuk demensia campuran (Alzheimer + vaskular). Pendekatan manajemen yang paling tepat adalah kombinasi terapi simptomatik Alzheimer (mis. inhibitor kolinesterase bila indikasi ada) ditambah pengendalian faktor risiko vaskular (hipertensi, dislipidemia, kontrol glukosa, antiplatelet bila indikasi) untuk mencegah progresi lebih lanjut.
Soal 4
Seorang pria 54 tahun datang dengan riwayat diplopia yang memburuk di sore hari, ptosis bilateral, dan kelemahan otot yang fluktuatif. Elektromiografi berulang menunjukkan decremental response; anti-AChR positif. Sebagai terapi awal, pasien mulai diberi pyridostigmin namun kondisi berkambuh dan tim mempertimbangkan pemberian antibiotik untuk infeksi saluran pernapasan akut yang menyertai. Obat antibiotik manakah yang sebaiknya dihindari karena dapat memperburuk kelemahan neuromuskular pada pasien myasthenia gravis?
A. Azithromycin (makrolida)
B. Amoxicillin-clavulanate
C. Doxycycline (tetrasiklin)
D. Levofloxacin (fluoroquinolone)
E. Trimethoprim-sulfamethoxazole
Jawaban benar: D
Pembahasan:
Myasthenia gravis (MG) dapat diperburuk oleh sejumlah antibiotik yang mengganggu transmisi neuromuskular (memperbesar blok neuromuskular). Fluoroquinolone (mis. levofloxacin, ciprofloxacin) dan aminoglikosida memiliki potensi menyebabkan atau memperburuk kelemahan neuromuskular—oleh karena itu dihindari pada pasien MG jika alternatif aman tersedia. Makrolida (azithromycin) juga dilaporkan dapat memperberat pada beberapa kasus sehingga harus digunakan hati-hati, namun tingkat risikonya umumnya dianggap lebih rendah dibanding fluoroquinolone untuk efek neuromuskular; tetap perlu kehati-hatian klinis. Tetrasiklin (doxycycline) dan amoksisilin-klavulanat sering dipakai dengan relatif aman; trimethoprim-sulfamethoxazole dapat digunakan dengan pengawasan.
Soal 5
Seorang anak laki-laki 18 bulan mengalami kejang generalisasi berlangsung 25 menit disertai demam 39°C. Riwayat menunjukkan ini adalah kejang pertama; tak ada riwayat trauma kepala, perkembangan sebelumnya normal. Setelah 30 menit dari pemula kejang, klinis sudah terkendali dengan benzodiazepin. Saat evaluasi lanjut di rumah sakit, orangtua takut dokter akan melakukan CT kepala atau lumbar puncture. Menimbang risiko infeksi sentral dan efek radiasi, keputusan diagnostik yang paling tepat adalah…
A. Segera melakukan CT kepala tanpa contrast sebelum memutuskan tindakan lain untuk mengevaluasi kemungkinan perdarahan/lesi struktural.
B. Melakukan lumbar puncture segera karena kejang berlangsung >15 menit dan demam tinggi—untuk menyingkirkan meningitis/ensefalitis.
C. Observasi klinis dan pemeriksaan neurologis lengkap; lakukan LP hanya jika ada kecurigaan klinis meningitis (leher kaku, penurunan kesadaran, or kesan sepsis) atau jika konstitusi tidak pulih.
D. Memberikan profilaksis antikonvulsan jangka panjang tanpa pemeriksaan penunjang karena kejangnya sudah lama.
E. Merujuk pulang tanpa pemeriksaan lebih lanjut karena kejang febril umum pada usia ini.
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Kejang febril pada anak biasanya bersifat benign, tetapi durasi >15 menit (kompleks) dan status pascakejang memerlukan penilaian hati-hati. Namun tindakan invasif (LP) atau pancitraan (CT) tidak otomatis diperlukan pada setiap kasus. Indikator untuk LP termasuk tanda klinis meningitis/ensefalitis (leher kaku, penurunan kesadaran persisten, tanda focal neurologic), imunisasi belum lengkap terhadap H. influenzae & S. pneumoniae pada beberapa pedoman lama, atau bila kejang disertai gejala lain yang mencurigakan. CT kepala umumnya diindikasikan bila ada tanda fokal neurologis, trauma kepala, atau bila anak tidak kembali ke baseline kesadaran — bukan routine setelah kejang febril yang teratasi. Oleh karena itu pendekatan paling tepat adalah observasi klinis dan pemeriksaan neurologis lengkap; lakukan LP hanya bila ada kecurigaan infeksi sentral atau kegagalan pemulihan.
Soal 6
Seorang pria 54 tahun datang dengan keluhan kelemahan tangan kanan sejak 10 hari lalu. Pasien mampu mengangkat tangan tetapi kesulitan melakukan gerakan terampil seperti membotolkan minuman, mengancingkan baju, dan menulis. Pemeriksaan menunjukkan kekuatan otot 4/5 tanpa spastisitas, refleks fisiologis normal, tidak ada gangguan sensibilitas, namun ditemukan gangguan koordinasi pada gerakan cepat dan bergantian. MRI kepala menunjukkan lesi pada area superior parietal kontralateral dari sisi tubuh yang terkena. Berdasarkan data tersebut, fungsi neurologis yang paling tepat mengalami gangguan adalah:
A. Sistem piramidal (upper motor neuron lesion)
B. Sistem ekstrapiramidal (ganglia basalis)
C. Korteks somatosensorik primer
D. Area integrasi sensorimotor yang mengatur gerak halus (apraxia)
E. Saraf perifer nervus radialis
Jawaban benar: D
Pembahasan:
Kesulitan melakukan gerakan terampil tanpa kelemahan mayor, tanpa gangguan sensasi, tanpa refleks patologis, dan tanpa spastisitas mengarah ke gangguan apraksia, yaitu hilangnya kemampuan melakukan gerakan terencana akibat kerusakan area integrasi sensorimotor—umumnya di lobus parietal dominan. Data klinis dan lokasi MRI mendukung kesimpulan ini.
Soal 7
Wanita 29 tahun datang dengan keluhan pandangan ganda pada sore hari, mudah lelah saat mengunyah, dan kelemahan proksimal kedua lengan yang membaik setelah beristirahat. Tidak ditemukan atrofi otot maupun fasciculations. Pemeriksaan refleks normal. EMG menunjukkan penurunan amplitudo potensial aksi saat stimulasi berulang frekuensi tinggi. Manakah diagnosis paling sesuai?
A. Myasthenia gravis
B. Amyotrophic lateral sclerosis (ALS)
C. Guillain–Barré syndrome
D. Dermatomiositis
E. Polineuropati diabetik
Jawaban benar: A
Pembahasan:
Fluktuasi kelemahan yang memburuk dengan aktivitas dan membaik setelah istirahat, disertai diplopia dan kelelahan saat mengunyah, sangat khas untuk myasthenia gravis. Penurunan amplitude pada repetitif nerve stimulation EMG memperkuat diagnosis. Penyakit lain tidak menampilkan pola fatigabilitas khas MG.
Soal 8
Seorang laki-laki 37 tahun demam tinggi, penurunan kesadaran, dan kejang. CT scan normal. Pemeriksaan LCS menunjukkan: tekanan meningkat, limfosit dominan, protein meningkat, glukosa rendah. Pada EEG ditemukan aktivitas melambat difus. Terapi antivirus intravena diberikan tetapi kondisi pasien belum membaik pada hari ke-3. Apa langkah diagnostik paling krusial berikutnya untuk memastikan etiologi dan mengarahkan terapi lanjutan?
A. Kultur darah ulang
B. PCR HSV pada cairan serebrospinal
C. Biopsi korteks otak
D. Panel autoimun ensefalitis
E. MRI dengan kontras
Jawaban benar: D
Pembahasan:
Pasien telah mendapat antivirus namun kondisi tidak membaik, sehingga etiologi ensefalitis non-infeksi harus dipertimbangkan, khususnya autoimmune encephalitis (misalnya anti-NMDA receptor). Tes PCR HSV sudah implicit sejak terapi antivirus dimulai. Pada kondisi tidak responsif setelah antivirus, panel autoimun ensefalitis menjadi langkah diagnostik paling penting untuk menentukan terapi imunomodulator.
Soal 9
Seorang pekerja konstruksi 41 tahun mengalami luka sayatan pada lengan bawah bagian radial setelah kecelakaan kerja. Setelah perawatan awal, pasien mengeluhkan kesulitan mengekstensi pergelangan tangan dan jari, tetapi gerakan pronasi–supinasi masih sebagian utuh. Sensibilitas menurun pada punggung tangan sisi radial. Manakah lokasi cedera saraf yang paling mungkin?
A. Nervus medianus proksimal di lengan atas
B. Nervus ulnaris di daerah siku
C. Nervus radialis cabang profundus (PIN) di bawah supinator
D. Nervus radialis superfisial di pergelangan tangan
E. Nervus musculocutaneus di lengan atas
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Kehilangan ekstensi pergelangan dan jari menunjukkan kerusakan posterior interosseous nerve (PIN) — cabang motor utama nervus radialis. Sensibilitas dorsal radial masih dapat berkurang karena cedera dekat percabangan. Cedera radialis superfisial hanya memengaruhi sensorik, bukan motorik, sehingga bukan jawaban tepat.
Soal 10
Pria 67 tahun dengan hipertensi pekat datang dengan gejala tiba-tiba berupa nyeri kepala hebat, diplopia, disartria, ataksia, nistagmus, dan penurunan kesadaran ringan. Pemeriksaan menunjukkan pupil kecil bilateral tetapi bereaksi terhadap cahaya, dan terdapat kelemahan keempat ekstremitas. Apa lokasi lesi vaskular yang paling sesuai?
A. Oklusi arteri serebri media
B. Oklusi arteri serebri anterior
C. Oklusi arteri basilaris
D. Oklusi arteri serebri posterior unilateral
E. Oklusi arteri serebelar superior
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Gabungan gejala batang otak seperti disartria, nistagmus, ataksia, penurunan kesadaran, diplopia, dan quadriparesis sangat khas untuk oklusi arteri basilaris. Pupil kecil tetapi reaktif juga mendukung lesi batang otak. Stroke hemisfer tidak akan menghasilkan kombinasi gejala komplek seperti ini.
Soal 11
Seorang pria 63 tahun datang dengan keluhan tremor saat istirahat, gerakan lambat, kesulitan memulai langkah ketika berjalan, serta postur tubuh membungkuk. Pasien juga mulai menunjukkan perubahan emosional berupa depresi dan apati. MRI otak tidak menunjukkan lesi struktural yang signifikan. Setelah diberikan levodopa, gejala membaik namun timbul pola gerakan berulang yang tidak terkontrol. Diagnosis yang paling tepat untuk kondisi yang dialami pasien saat ini adalah:
A. Penyakit Parkinson dengan komplikasi diskinesia akibat terapi
B. ALS stadium awal
C. Multiple system atrophy
D. Dystonia primer
E. Penyakit Huntington
Jawaban benar: A
Pembahasan:
Gejala awal berupa tremor istirahat, bradikinesia, dan rigiditas mengarah kuat pada penyakit Parkinson. Perubahan emosional seperti depresi juga sesuai. Munculnya diskinesia setelah terapi levodopa merupakan komplikasi khas Parkinson jangka panjang, sehingga diagnosis paling tepat adalah Parkinson dengan komplikasi diskinesia.
Soal 12
Seorang perempuan 45 tahun riwayat meningioma parasagittal yang telah dioperasi dua tahun lalu. Kini pasien mengalami kejang berulang, kelemahan ekstremitas kiri, serta perubahan kepribadian. MRI terbaru menunjukkan lesi yang lebih besar dibandingkan sebelum operasi dan adanya edema vasogenik luas. Mana pendekatan klinis yang paling tepat untuk kasus ini?
A. Observasi saja hingga gejala membaik dua bulan kemudian
B. Rehabilitasi intensif dan penghentian obat antikejang
C. Radioterapi atau radiosurgery untuk mengontrol pertumbuhan tumor
D. Antibiotik intravena karena kemungkinan abses otak
E. Stimulasi magnetik transkranial
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Pembesaran kembali meningioma, defisit neurologis progresif, dan edema menunjukkan residif tumor, sehingga tindakan untuk menghambat pertumbuhan — radioterapi atau radiosurgery — merupakan terapi yang paling tepat. Observasi atau intervensi non-onkologi tidak sesuai dengan progresivitas klinis.
Soal 13
Bayi laki-laki usia 6 bulan mengalami regresi perkembangan, kejang, hipotonia, gangguan penglihatan, dan hasil pemeriksaan menunjukkan akumulasi sulfatide pada jaringan. Hasil genetik mengarah pada defisiensi arylsulfatase A. Prognosis terbaik dapat dicapai melalui:
A. Kemoterapi intensif
B. Terapi penggantian enzim dan terapi suportif multidisipliner
C. Antibiotik jangka panjang
D. Terapi perilaku intensif
E. Bedah korektif saraf
Jawaban benar: B
Pembahasan:
Defisiensi arylsulfatase A mengarah pada leukodistrofi metakromatik, gangguan progresif berat sistem saraf. Pendekatan terbaik mencakup terapi penggantian enzim (ERT) dan dukungan multidisipliner untuk mengontrol progresivitas, meskipun hasil tetap terbatas. Terapi lain pada pilihan jawaban tidak mengatasi patofisiologi penyakit.
Soal 14
Pria 73 tahun mengalami gangguan memori jangka pendek, sulit mengingat percakapan baru, perubahan perilaku, dan disorientasi tempat. CT scan menunjukkan atrofi temporoparietal bilateral tanpa lesi fokal. Tes kognitif menunjukkan penurunan fungsi eksekutif dan visuospasial. Manakah temuan histopatologi yang paling sesuai dengan gambaran pasien?
A. Demielinisasi difus dengan infiltrat limfositik
B. Badan Lewy pada nukleus basal
C. Plak beta-amiloid dan neurofibrillary tangles
D. Degenerasi neuron pada sumsum tulang belakang
E. Neuron piramidal Ballon cell
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Gambaran klinis sangat klasik untuk Alzheimer disease: gangguan memori jangka pendek, disorientasi, gangguan kognitif luas, dan atrofi temporoparietal. Histopatologi paling khas adalah plak beta-amiloid dan neurofibrillary tangles.
Soal 15
Seorang wanita 33 tahun dengan riwayat multiple sclerosis tipe relaps-remitting mengalami kelemahan bilateral tungkai, kesemutan, dan penglihatan kabur. Riwayat menunjukkan kekambuhan serupa yang sebelumnya respons bagus terhadap steroid intravena. Namun pada episode ini, pemberian steroid dosis tinggi tidak memberikan perbaikan. Faktor klinis apa yang paling tepat dipertimbangkan untuk menentukan terapi lanjutan?
A. Tingkat hemoglobin
B. Hasil kultur darah
C. Evaluasi aktivitas penyakit dengan MRI untuk pertimbangan plasmapheresis atau imunoterapi lanjutan
D. Tingkat kepatuhan tidur pasien
E. Riwayat penyakit keturunan dalam keluarga besar
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Pada MS tipe relaps-remitting yang tidak responsif terhadap steroid, langkah krusial berikutnya adalah evaluasi MRI untuk menentukan tingkat aktivitas penyakit dan menilai kebutuhan plasmapheresis atau terapi imunomodulator lain.
Soal 16
Seorang mahasiswa 22 tahun mengalami kejang tonik-klonik pertama kali tanpa riwayat sebelumnya. EEG menunjukkan aktivitas sinkron kortikal. Dokter memberikan obat yang bekerja dengan meningkatkan konsentrasi GABA di celah sinaptik melalui penghambatan GABA-transaminase. Berdasarkan mekanisme kerja tersebut, obat mana yang paling mungkin diberikan?
A. Carbamazepine
B. Levetiracetam
C. Vigabatrin
D. Topiramate
E. Phenytoin
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Obat yang menghambat GABA-transaminase akan meningkatkan kadar GABA, sehingga menekan aktivitas neuronal berlebihan. Obat antikejang yang bekerja spesifik pada mekanisme ini adalah Vigabatrin. Sementara antikejang lain bekerja pada kanal natrium, kalsium, atau modulasi GABA secara tidak langsung.
Soal 17
Seorang pasien wanita 37 tahun mengalami kelemahan otot proksimal, kesulitan bangun dari posisi duduk, lesi eritema heliotropik pada kelopak mata, dan papula Gottron pada sendi tangan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan CK meningkat dan ANA positif. Dokter mempertimbangkan terapi imunosupresif lini pertama. Apa tujuan utama dari terapi tersebut berdasarkan patofisiologi penyakit?
A. Menghentikan apoptosis neuron motorik
B. Menghambat proses peradangan vaskular pada otot akibat autoimunitas
C. Mengurangi produksi asam laktat pada serat otot
D. Meningkatkan metabolisme karbohidrat dalam otot
E. Meningkatkan pelepasan asetilkolin di sinaps neuromuskular
Jawaban benar: B
Pembahasan:
Gejala khas dermatomiositis — ruam heliotropik, papula Gottron, dan kelemahan otot proksimal — berkaitan dengan proses peradangan vaskular pada otot akibat autoimunitas. Oleh karena itu, terapi imunosupresif bertujuan menghambat inflamasi pada vaskularisasi otot.
Soal 18
Bayi perempuan usia 8 bulan mengalami demam tinggi, kejang, iritabilitas, fontanel menonjol, muntah, dan penurunan kesadaran. Pemeriksaan LCS menunjukkan: leukosit 1.300 dominan PMN, protein sangat tinggi, dan glukosa rendah. Namun kultur darah dan LCS negatif setelah 72 jam. Riwayat vaksinasi tidak lengkap. Penyebab paling mungkin dari kasus ini adalah:
A. Meningitis aseptik akibat enterovirus
B. Meningitis bakteri yang telah mendapatkan antibiotik sebelum pungsi lumbal
C. Ensefalitis autoimun
D. Komplikasi febrile seizure
E. Neurocysticercosis
Jawaban benar: B
Pembahasan:
Temuan LCS dengan PMN dominan, protein tinggi, glukosa rendah sangat khas meningitis bakteri. Kultur bisa negatif bila pasien sudah mendapatkan antibiotik sebelumnya. Skenario ini umum, terutama pada bayi yang datang terlambat ke rumah sakit.
Soal 19
Pria 51 tahun mengeluh kehilangan lapang pandang pada kedua mata. Pemeriksaan menunjukkan hemianopsia homonim kanan. MRI memperlihatkan lesi di lobus oksipital kiri. Setelah rehabilitasi, pasien masih mengeluhkan kesulitan mengenali objek meski tajam penglihatan normal. Kondisi tersebut paling sesuai dengan:
A. Amblyopia
B. Prosopagnosia
C. Visual object agnosia
D. Hemianopia bitemporal
E. Neglect sensorik
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Kesulitan mengenali objek sementara ketajaman penglihatan normal menunjukkan visual object agnosia, umumnya akibat kerusakan pada area asosiasi visual di lobus oksipital/temporal. Prosopagnosia spesifik pada wajah, dan tidak sesuai dengan informasi soal.
Soal 20
Seorang pria 59 tahun datang dengan gejala kelemahan hemiparesis kanan, afasia, dan onset 1 jam yang lalu. CT scan menunjukkan tidak ada perdarahan. Namun pasien memiliki riwayat operasi besar 1 minggu sebelumnya dan sedang menjalani terapi antikoagulan. Nilai INR 3,5. Mana keputusan klinis paling tepat terkait terapi reperfusi?
A. Lakukan trombolisis segera karena masih dalam golden period
B. Lakukan trombolisis dengan dosis dikurangi
C. Tunda trombolisis dan lakukan tindakan mekanik thrombectomy bila tersedia
D. Tunda segala bentuk reperfusi
E. Hanya berikan cairan infus dan observasi
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Meskipun pasien masih dalam golden period, trombolisis kontraindikasi karena:
- Riwayat operasi besar 1 minggu terakhir
- INR tinggi (3,5) menandakan risiko perdarahan besar
Pendekatan terbaik adalah menghindari trombolisis dan memilih mechanical thrombectomy jika tersedia, sesuai pedoman stroke iskemik akut.
🔍 Siap Lulus Uji Kompetensi Nasional Neurologi Tanpa Cemas?

Jangan biarkan persiapan Anda sekadar membaca teori tanpa latihan serius. Menguasai materi hanya akan terasa maksimal jika disertai latihan soal yang terukur, terstruktur, dan mendekati pola keluaran ujian yang sebenarnya.
📌 Sekarang Anda bisa berlatih lebih efektif dengan Paket Soal Uji Kompetensi Neurologi lengkap di fungsional.id!
Di dalamnya tersedia ratusan soal mendalam berbasis HOTS + pembahasan detail sehingga Anda tidak hanya tahu jawaban, tetapi mengerti alasan di balik setiap pilihan. Paket ini dirancang untuk membantu peserta mengidentifikasi pola soal, memahami cara analisis kasus, dan meningkatkan kepercayaan diri sebelum hari ujian.
💡 Belajar lebih cerdas, bukan lebih keras.
Berikan diri Anda kesempatan terbaik untuk lulus UK Nasional Neurologi dalam sekali ujian — sudah banyak yang membuktikan, kini giliran Anda.
🔥 Klik sekarang di fungsional.id dan mulai tingkatkan peluang kelulusan Anda mulai detik ini.
⏳ Semakin cepat Anda memulai latihan, semakin besar hasil yang Anda dapatkan.


