100+ Soal Uji Kompetensi Penyuluh Kesehatan Masyarakat + Kisi-kisi dan Kunci Jawaban

100+ Soal Uji Kompetensi Penyuluh Kesehatan Masyarakat + Kisi-kisi dan Kunci Jawaban

Uji Kompetensi Penyuluh Kesehatan Masyarakat merupakan tahapan penting dalam memastikan bahwa setiap tenaga penyuluh memiliki kapasitas profesional yang sesuai dengan standar pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam praktiknya, seorang penyuluh tidak hanya dituntut mampu menyampaikan informasi kesehatan, tetapi juga memahami dinamika sosial, melakukan analisis situasi, merancang intervensi, hingga mengevaluasi perubahan perilaku di tingkat individu maupun komunitas. Karena itu, soal-soal dalam uji kompetensi dirancang dengan tingkat kedalaman yang menilai kemampuan teknis, manajerial, serta pemahaman terhadap regulasi kesehatan yang berlaku.

Melalui artikel ini, pembaca akan menemukan rangkaian contoh soal Uji Kompetensi Penyuluh Kesehatan Masyarakat lengkap dengan pembahasan yang logis dan terstruktur, sehingga dapat digunakan sebagai sarana belajar yang efektif. Selain itu, disertakan pula kisi-kisi resmi untuk membantu peserta memahami ruang lingkup materi yang sering diujikan. Dengan pendekatan yang sistematis dan analitis, diharapkan artikel ini mampu menjadi panduan yang komprehensif bagi siapa saja yang tengah mempersiapkan diri menghadapi ujian kompetensi di bidang kesehatan masyarakat.

Kisi-kisi Soal Uji Kompetensi Penyuluh Kesehatan Masyarakat

Berikut ini merupakan kisi-kisi Uji Kompetensi Penyuluh Kesehatan Masyarakat disertai dengan penjelasan deskriptif

  1. Dasar-Dasar Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kisi ini berfokus pada penguasaan teori perubahan perilaku, determinan perilaku, konsep KAP (Knowledge–Attitude–Practice), serta pendekatan-pendekatan promosi kesehatan. Peserta harus memahami bagaimana perilaku terbentuk, faktor penyebabnya, serta intervensi yang tepat untuk mendorong perubahan perilaku di masyarakat.
  2. Analisis Situasi Kesehatan Masyarakat Bidang ini menilai kemampuan PKM dalam melakukan pengumpulan data, identifikasi masalah, analisis menggunakan metode sederhana (troika, pohon masalah, penentuan prioritas), dan memetakan sumber daya lokal. Penyuluh harus bisa menilai kondisi kesehatan masyarakat berdasarkan data primer dan sekunder secara sistematis.
  3. Perencanaan Program Promosi Kesehatan Kisi ini menilai kemampuan peserta dalam menyusun rencana kegiatan promosi kesehatan, mulai dari penetapan tujuan, sasaran, indikator, strategi, media, hingga langkah-langkah implementasi. PKM harus mampu merancang program yang terukur, realistis, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
  4. Pelaksanaan Kegiatan Promosi Kesehatan Kisi ini terkait keterampilan teknis dalam melaksanakan intervensi promosi kesehatan, seperti penyuluhan tatap muka, pemberdayaan kelompok, kampanye, demonstrasi kesehatan, hingga pendampingan masyarakat. Peserta harus mampu menyesuaikan metode dengan karakteristik audiens dan budaya lokal.
  5. Komunikasi Kesehatan dan Edukasi Masyarakat Kisi ini menilai kemampuan komunikasi interpersonal, komunikasi risiko, penggunaan bahasa yang mudah dimengerti, dan kemampuan memfasilitasi diskusi kelompok. Peserta juga harus mampu membangun hubungan yang baik dengan tokoh masyarakat, kader, dan lintas sektor.
  6. Pemberdayaan Masyarakat (Community Empowerment) Di sini PKM diuji pada pemahaman dan keterampilan dalam menggerakkan potensi lokal, membentuk kader, mendampingi kelompok masyarakat, dan memfasilitasi perubahan berbasis partisipasi. Termasuk penerapan pendekatan pemberdayaan seperti PAR (Participatory Action Research) dan Pembangunan Berbasis Masyarakat.
  7. Pengembangan Media Promosi Kesehatan Kisi ini fokus pada kemampuan merancang, memilih, dan mengevaluasi media promosi kesehatan seperti poster, leaflet, video pendek, infografis, hingga media digital. PKM harus mampu memastikan media efektif, menarik, mudah dipahami, dan sesuai etika komunikasi kesehatan.
  8. Kemitraan dan Advokasi Kesehatan Penilaian dilakukan pada kemampuan PKM membangun jaringan dengan pemerintah daerah, organisasi masyarakat, tokoh agama, dunia usaha, dan sektor terkait. PKM harus menguasai teknik advokasi untuk memperoleh dukungan kebijakan, anggaran, dan fasilitas bagi kegiatan kesehatan masyarakat.
  9. Pengelolaan Program Pemberdayaan dan Promosi Kesehatan Kisi ini menilai kemampuan manajemen program: penyusunan timeline, penggunaan sumber daya, pelaksanaan monitoring, evaluasi proses dan hasil, serta pelaporan kegiatan secara sistematis. Peserta harus memahami bagaimana memastikan keberlanjutan program.
  10. Pemantauan dan Evaluasi Perilaku & Program Kesehatan Kisi ini mencakup teknik mengukur perubahan perilaku, evaluasi efektivitas media, evaluasi kegiatan penyuluhan, serta analisis capaian program. Penyuluh harus mampu membuat rekomendasi strategis berdasarkan data evaluasi.
  11. Kesehatan Lingkungan dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Menilai penguasaan konsep PHBS, indikator-indikatornya, serta strategi pendampingan masyarakat dalam menciptakan lingkungan sehat. Termasuk pemahaman dasar tentang air bersih, sanitasi, pengelolaan sampah, dan kesehatan rumah.
  12. Komunikasi Risiko dan Penanggulangan Krisis Kesehatan Kisi ini mencakup kemampuan memberikan informasi yang tepat pada situasi kedaruratan kesehatan, seperti wabah penyakit, bencana alam, dan KLB. Penyuluh harus mampu menyampaikan informasi secara jelas, menenangkan, dan berbasis bukti.
  13. Etika Profesi dan Regulasi Penyelenggaraan Promosi Kesehatan Menilai pemahaman peserta terhadap etika komunikasi, privasi data, kode etik PKM, serta regulasi yang mengatur penyelenggaraan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Termasuk pemahaman tentang tugas pokok PKM dalam standar kompetensi nasional.

Contoh Soal Uji Kompetensi Penyuluh Kesehatan Masyarakat dan Pembahasan

Berikut ini contoh soal HOTS Uji Kompetensi Penyuluh Kesehatan Masyarakat disertai dengan kunci jawaban dan pembahasan soal

Soal 1

Dalam sebuah desa yang angka stunting anaknya masih tinggi, seorang penyuluh kesehatan menemukan bahwa ibu-ibu memiliki pengetahuan dasar tentang gizi, namun sering mengabaikan praktik pemberian makanan bergizi karena percaya pada mitos lokal bahwa anak “lebih sehat jika diberi makanan tertentu”. Berdasarkan teori perubahan perilaku dan pendekatan KAP, intervensi manakah yang paling efektif dilakukan oleh penyuluh?

A. Memberikan ceramah rutin selama satu bulan mengenai pentingnya gizi seimbang.
B. Mengedukasi ibu-ibu melalui media cetak tanpa interaksi tatap muka.
C. Mengidentifikasi kepercayaan lokal, berdiskusi dengan ibu-ibu dan tokoh desa, lalu menyusun strategi adaptasi gizi yang sesuai budaya.
D. Memberikan suplemen gizi secara gratis untuk anak-anak tanpa sosialisasi.
E. Membuat poster tentang makanan bergizi dan menempelkannya di balai desa.

Jawaban Benar: C

Pembahasan:
HOTS di sini menuntut analisis perilaku, bukan sekadar pengetahuan. Ceramah (A) dan media cetak (B) cenderung bersifat satu arah dan tidak mengubah keyakinan. Suplemen gratis (D) dan poster (E) tidak menyasar determinan perilaku, yaitu kepercayaan lokal. Pendekatan KAP efektif jika menyentuh attitude dan practice melalui interaksi dan adaptasi budaya. Oleh karena itu, opsi C adalah tindakan paling tepat karena menggabungkan analisis kepercayaan, keterlibatan tokoh, dan strategi yang sesuai konteks lokal.

Soal 2

Di sebuah wilayah urban, data puskesmas menunjukkan peningkatan kasus hipertensi, namun laporan warga tentang akses ke fasilitas kesehatan masih rendah. Penyuluh ingin merancang program prioritas berdasarkan data primer dan sekunder. Strategi analisis manakah yang paling tepat untuk menentukan fokus intervensi?

A. Menggunakan data sekunder dari kota lain sebagai acuan tanpa survei lokal.
B. Melakukan survei rumah tangga, memetakan masalah, dan menggunakan metode pohon masalah untuk menentukan prioritas intervensi.
C. Fokus hanya pada edukasi tanpa menganalisis penyebab hipertensi.
D. Menentukan intervensi berdasarkan opini salah satu tokoh masyarakat saja.
E. Memberikan obat antihipertensi secara massal tanpa pemetaan masalah.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
Analisis HOTS menuntut kemampuan menggabungkan data primer dan sekunder untuk identifikasi masalah. Pohon masalah membantu memetakan sebab-akibat dan prioritas. Opsi A, C, D, E gagal melakukan analisis menyeluruh dan tidak sesuai metode ilmiah. Strategi B menunjukkan langkah sistematis: pengumpulan data, identifikasi masalah, analisis, dan penentuan prioritas berbasis bukti.

Soal 3

Seorang PKM merencanakan program promosi PHBS di sekolah. Setelah survei, ditemukan bahwa siswa sering buang sampah sembarangan karena tidak ada tempat sampah yang menarik dan edukasi kurang. Untuk membuat program efektif, langkah manakah yang mencerminkan perencanaan yang terukur, realistis, dan sesuai kebutuhan masyarakat?

A. Membuat poster PHBS dan menempelkannya di kelas tanpa melibatkan siswa.
B. Menyediakan tong sampah warna-warni, menyusun indikator pencapaian, dan melibatkan siswa sebagai kader kebersihan.
C. Memberi ceramah kepada guru tentang PHBS, tanpa kegiatan siswa.
D. Menginstruksikan kepala sekolah untuk menegur siswa yang membuang sampah sembarangan.
E. Menyebarkan leaflet tentang kebersihan rumah kepada orang tua siswa.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
Soal ini menuntut kemampuan merancang program yang terukur (indikator keberhasilan), realistis (tong sampah dan siswa sebagai kader), dan relevan (menyasar perilaku siswa). Pilihan lain (A, C, D, E) kurang melibatkan sasaran utama, tidak ada indikator, atau tidak realistis. Opsi B menunjukkan perencanaan yang komprehensif: strategi, indikator, media, dan partisipasi masyarakat.

Soal 4

Terjadi wabah DBD di suatu desa. Beberapa warga panik dan menyebarkan informasi yang tidak valid di media sosial, sehingga mengganggu upaya pencegahan. Sebagai PKM, strategi komunikasi risiko manakah yang paling tepat dilakukan untuk menenangkan masyarakat dan memastikan tindakan pencegahan efektif?

A. Menyebarkan pesan singkat melalui media sosial tanpa interaksi langsung.
B. Mengedukasi masyarakat melalui rapat terbatas dengan tokoh lokal dan kader, menyampaikan fakta, langkah pencegahan, dan menanggapi pertanyaan.
C. Menyalahkan warga yang menyebarkan informasi salah agar jera.
D. Membiarkan isu berkembang agar warga lebih waspada.
E. Menginstruksikan petugas puskesmas untuk hanya fokus menangani pasien, tanpa edukasi masyarakat.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS di sini menguji kemampuan komunikasi risiko. Opsi B memenuhi prinsip: informasi jelas, berbasis bukti, menenangkan, melibatkan tokoh lokal, dan ada interaksi untuk klarifikasi. Pilihan lain (A, C, D, E) tidak efektif: terlalu pasif, menimbulkan konflik, atau hanya fokus pada satu sisi (penanganan kasus) tanpa edukasi.

Soal 5

Setelah enam bulan program promosi cuci tangan di sebuah desa, PKM menemukan bahwa meski pengetahuan meningkat, perilaku mencuci tangan belum merata. Data observasi menunjukkan anak-anak SD lebih patuh dibanding remaja. Strategi evaluasi manakah yang paling tepat untuk menentukan langkah berikutnya?

A. Mengulang ceramah kepada semua usia tanpa analisis data.
B. Menyusun laporan statistik sederhana, menganalisis perbedaan perilaku berdasarkan kelompok usia, dan merancang intervensi khusus remaja.
C. Memberikan hadiah kepada anak-anak SD tanpa menyentuh remaja.
D. Menghentikan program karena sudah ada peningkatan pengetahuan.
E. Menyebarkan poster umum tentang cuci tangan ke seluruh desa tanpa diferensiasi usia.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS menuntut analisis data untuk membuat keputusan berbasis bukti. Pilihan B mencakup pemantauan (data observasi), evaluasi (perbedaan perilaku antar kelompok), dan rekomendasi intervensi terfokus. Pilihan lain gagal menyesuaikan strategi dengan hasil evaluasi, tidak menganalisis masalah, atau berhenti terlalu cepat.

Soal 6

Di sebuah desa, PKM ingin meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program PHBS. Beberapa warga aktif, namun sebagian besar masih pasif karena merasa tidak memiliki kemampuan. Pendekatan mana yang paling efektif untuk memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan?

A. Memberikan instruksi langsung kepada warga untuk mengikuti program.
B. Mengidentifikasi potensi warga, membentuk kelompok kader, dan mendampingi mereka melalui pendekatan partisipatif untuk merancang kegiatan.
C. Memberikan hadiah uang kepada warga yang mau ikut program tanpa pembinaan.
D. Hanya melakukan penyuluhan kepada kepala desa agar menyampaikan program ke warga.
E. Menyebar leaflet tentang PHBS dan membiarkan warga memutuskan sendiri.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS menguji kemampuan memberdayakan masyarakat secara partisipatif. Opsi B menunjukkan pendekatan mengidentifikasi potensi lokal, membentuk kader, dan melibatkan partisipasi aktif, sesuai prinsip Pemberdayaan Berbasis Partisipasi (PAR). Opsi lain cenderung top-down, pasif, atau bersifat insentif semata, sehingga tidak berkelanjutan.

Soal 7

Seorang PKM merancang kampanye gizi seimbang untuk remaja di kota. Media yang digunakan adalah poster, video pendek, dan media sosial. Setelah dua minggu, engagement remaja rendah. Langkah evaluasi manakah yang paling tepat untuk meningkatkan efektivitas media?

A. Mengganti seluruh media dengan brosur cetak saja.
B. Mengukur pemahaman dan minat remaja melalui survei singkat, melakukan focus group, dan menyesuaikan konten dengan preferensi mereka.
C. Menyalahkan remaja yang tidak tertarik terhadap pesan kesehatan.
D. Mengulang pesan yang sama tanpa modifikasi.
E. Memberikan hadiah kepada remaja yang menonton video.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS menuntut evaluasi dan perbaikan berbasis data. Fokus group dan survei memungkinkan PKM memahami hambatan dan preferensi audiens, lalu menyesuaikan media agar lebih menarik. Pilihan lain tidak analitis, hanya insentif atau mengganti media tanpa memahami penyebab rendahnya engagement.

Soal 8

Seorang PKM ingin melaksanakan program posyandu yang kekurangan dana dan fasilitas. Beberapa tokoh lokal mendukung, tetapi pemerintah desa memiliki keterbatasan anggaran. Strategi advokasi manakah yang paling efektif untuk memperoleh dukungan program?

A. Mengajukan proposal formal tanpa melibatkan tokoh lokal atau komunitas.
B. Membentuk forum multi-pihak melibatkan tokoh masyarakat, kader, dunia usaha, dan pemerintah untuk menyusun rencana kebutuhan dan sumber dukungan.
C. Meminta dana secara langsung dari masyarakat tanpa koordinasi.
D. Menjalankan program parsial dengan dana seadanya, tanpa advokasi lebih lanjut.
E. Membatalkan program karena keterbatasan anggaran.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS di sini menekankan kemampuan advokasi dan membangun kemitraan. Opsi B memperlihatkan pendekatan strategis: melibatkan berbagai pihak, menyusun rencana bersama, dan mencari sumber daya tambahan. Pilihan lain cenderung unilateral atau pasif, sehingga tidak menjamin dukungan atau keberlanjutan program.

Soal 9

PKM mengelola program PHBS di beberapa desa. Beberapa kegiatan berjalan sesuai rencana, tapi monitoring menunjukkan sebagian desa tidak mencapai target. Langkah manajemen manakah yang paling tepat untuk memastikan keberlanjutan program?

A. Menyalahkan kader lokal yang kurang aktif dan melanjutkan program tanpa perubahan.
B. Meninjau kembali timeline, alokasi sumber daya, melakukan supervisi lapangan, dan menyusun rencana tindak lanjut berbasis evaluasi.
C. Menurunkan target supaya semua desa terlihat berhasil.
D. Menghentikan program di desa yang tidak mencapai target.
E. Mengirim laporan ke pemerintah pusat tanpa tindakan korektif.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS menekankan manajemen berbasis evaluasi. Opsi B menunjukkan pemanfaatan monitoring untuk perbaikan: review timeline, penggunaan sumber daya, supervisi lapangan, dan perencanaan tindak lanjut. Pilihan lain mengabaikan analisis data dan solusi berbasis bukti, sehingga tidak efektif menjaga keberlanjutan program.

Soal 10

Di sebuah komunitas padat penduduk, kasus diare meningkat karena sanitasi buruk dan sumber air terkontaminasi. Penyuluh harus merancang program yang meningkatkan perilaku hidup bersih sehat (PHBS). Strategi manakah yang paling sesuai untuk menciptakan perubahan perilaku jangka panjang?

A. Memberikan obat antidiare massal tanpa edukasi.
B. Menyediakan akses air bersih, melibatkan warga dalam pembuatan jamban, dan melakukan edukasi berkelanjutan dengan kader lokal.
C. Menyebar leaflet tentang cuci tangan tanpa menyediakan fasilitas.
D. Memberi teguran kepada warga yang tidak mengikuti aturan sanitasi.
E. Hanya memberikan pelatihan kepada petugas kesehatan desa.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS menuntut strategi terpadu, berbasis lingkungan dan partisipasi masyarakat. Opsi B menyasar fasilitas (air bersih, jamban), edukasi berkelanjutan, dan pemberdayaan kader lokal. Pilihan lain cenderung satu sisi (obat, leaflet, teguran) dan tidak menciptakan perubahan perilaku jangka panjang.

Soal 11

Seorang PKM dihadapkan pada situasi di mana salah satu kader membocorkan data kesehatan keluarga warga ke pihak luar untuk kepentingan pribadi. Tindakan manakah yang paling tepat sesuai etika profesi dan regulasi PKM?

A. Mengabaikan karena tidak ada sanksi resmi.
B. Memberikan teguran secara tertulis, menjelaskan kode etik PKM, dan melaporkan kejadian sesuai prosedur organisasi.
C. Menyebarkan informasi kepada warga bahwa kader tersebut tidak bisa dipercaya.
D. Menghukum kader dengan memutuskan partisipasinya tanpa prosedur resmi.
E. Menyelesaikan masalah secara pribadi tanpa melibatkan atasan.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS menuntut pemahaman etika, regulasi, dan tindakan profesional. Opsi B menunjukkan langkah sistematis: teguran, edukasi kode etik, dan pelaporan resmi, sesuai prinsip perlindungan data dan tanggung jawab profesi. Pilihan lain cenderung emosional, unilateral, atau melanggar prosedur, sehingga tidak sesuai standar kompetensi.

Soal 12

PKM hendak menyosialisasikan program imunisasi ke komunitas multikultural yang memiliki bahasa dan tradisi berbeda. Strategi komunikasi manakah yang paling efektif agar pesan tersampaikan dan diterima?

A. Menggunakan bahasa teknis medis agar terdengar profesional.
B. Mengidentifikasi bahasa lokal, melibatkan penerjemah atau kader setempat, dan menyampaikan pesan dengan metode interaktif.
C. Mengirim SMS massal dalam satu bahasa saja.
D. Menyebar poster standar dari pemerintah tanpa adaptasi.
E. Mengadakan rapat tertutup hanya dengan tokoh masyarakat.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS menuntut pemahaman komunikasi lintas budaya. Opsi B efektif karena menggunakan bahasa yang dimengerti, melibatkan kader lokal, dan metode interaktif. Pilihan lain mengabaikan konteks budaya, mengurangi efektivitas edukasi, atau bersifat satu arah.

Soal 13

Seorang PKM merencanakan program pengendalian obesitas di sekolah menengah. Hasil survei menunjukkan siswa mengonsumsi jajanan tinggi gula di luar sekolah, dan olahraga terbatas. Langkah perencanaan program yang paling tepat adalah:

A. Memberikan ceramah tentang bahaya gula tanpa strategi lanjutan.
B. Merancang program terpadu: edukasi nutrisi, pengadaan kantin sehat, jadwal olahraga terstruktur, indikator capaian, dan monitoring berkala.
C. Mengawasi siswa di luar sekolah secara langsung.
D. Memberikan poster tentang diet sehat saja.
E. Menyediakan vitamin untuk semua siswa tanpa edukasi.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS menekankan perencanaan terpadu berbasis data. Opsi B memenuhi seluruh langkah perencanaan: tujuan, indikator, strategi, media, dan monitoring. Pilihan lain hanya satu aspek, tidak terukur, atau tidak relevan dengan perilaku siswa.

Soal 14

Program promosi cuci tangan telah berjalan selama 6 bulan. Evaluasi awal menunjukkan pengetahuan meningkat, tetapi perilaku belum konsisten. Apa langkah HOTS yang paling tepat?

A. Mengulang ceramah kepada semua peserta tanpa analisis lebih lanjut.
B. Analisis data hasil monitoring, identifikasi kelompok yang belum berubah perilaku, dan merancang intervensi khusus sesuai kebutuhan.
C. Memberi hadiah kepada mereka yang sudah mengikuti perilaku benar.
D. Menghentikan program karena pengetahuan sudah meningkat.
E. Mengasumsikan perilaku akan berubah sendiri seiring waktu.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS menekankan analisis data untuk pengambilan keputusan. Opsi B menunjukkan langkah berbasis bukti: evaluasi, identifikasi masalah spesifik, dan perbaikan intervensi. Pilihan lain tidak memanfaatkan informasi evaluasi dan tidak menjamin perubahan perilaku.

Soal 15

Di desa terdampak banjir, wabah diare meningkat. Beberapa warga panik, menyebarkan informasi tidak valid. Langkah komunikasi risiko manakah yang paling efektif untuk PKM?

A. Menyebarkan pesan melalui media sosial tanpa tatap muka.
B. Mengadakan pertemuan terbatas dengan tokoh masyarakat, menyampaikan informasi berbasis bukti, menenangkan warga, dan mengedukasi langkah pencegahan.
C. Menyalahkan warga yang menyebarkan informasi salah.
D. Menginstruksikan warga untuk menunggu informasi dari pemerintah pusat saja.
E. Fokus hanya pada distribusi obat tanpa edukasi.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS menuntut strategi komunikasi efektif saat krisis. Opsi B memenuhi prinsip: informasi jelas, berbasis bukti, menenangkan, interaktif, dan melibatkan tokoh lokal. Pilihan lain terlalu pasif, emosional, atau tidak menangani penyebaran informasi salah.

Soal 16

Di sebuah komunitas urban, PKM menemukan bahwa meskipun masyarakat sudah memahami pentingnya vaksinasi, tingkat partisipasi tetap rendah karena ketakutan terhadap efek samping. Pendekatan manakah yang paling tepat untuk mendorong perubahan perilaku ini?

A. Memberikan data statistik vaksinasi tanpa dialog dengan warga.
B. Mengadakan diskusi interaktif dengan warga untuk membahas ketakutan mereka, menghadirkan tenaga medis yang ahli, dan menampilkan testimonial dari warga yang sudah divaksin.
C. Menginstruksikan petugas kesehatan untuk memaksa semua warga datang ke pos vaksinasi.
D. Menyebar leaflet berisi daftar efek samping vaksin.
E. Mengabaikan kekhawatiran warga dan melanjutkan kampanye secara rutin.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS menuntut analisis determinan perilaku (attitude) dan practice. Opsi B menunjukkan pendekatan berbasis bukti, partisipatif, dan sensitif terhadap persepsi warga. Pilihan lain bersifat satu arah atau memaksa, sehingga kurang efektif mendorong perubahan perilaku jangka panjang.

Soal 17

Seorang PKM hendak menilai masalah kesehatan lingkungan di permukiman padat. Data awal menunjukkan tingginya kasus diare, namun jumlah jamban sehat cukup. Analisis manakah yang paling tepat untuk memahami penyebab kasus diare?

A. Mengasumsikan diare disebabkan oleh kekurangan jamban.
B. Mengumpulkan data primer melalui wawancara rumah tangga, observasi kualitas air, dan perilaku cuci tangan untuk melakukan pemetaan masalah dengan metode pohon masalah.
C. Mengandalkan data puskesmas semata.
D. Memberi obat antidiare massal tanpa analisis.
E. Mengadakan seminar umum tentang sanitasi tanpa survei lokal.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS menuntut kemampuan analisis penyebab masalah secara sistematis. Metode pohon masalah dengan data primer memungkinkan PKM menilai faktor lingkungan, perilaku, dan determinan kesehatan. Pilihan lain cenderung asumtif, parsial, atau tidak berbasis bukti.

Soal 18

PKM merancang kampanye tentang PHBS di desa dengan media poster, leaflet, dan video pendek. Setelah evaluasi awal, sebagian warga tidak memahami pesan karena tingkat literasi rendah. Strategi HOTS manakah yang paling tepat?

A. Mengganti semua media dengan poster teks lebih panjang.
B. Menyesuaikan media dengan gambar ilustratif sederhana, menggunakan bahasa lokal, dan menambahkan demonstrasi praktik langsung di lapangan.
C. Memberikan ceramah panjang untuk menjelaskan semua pesan poster.
D. Menghapus video dan leaflet, hanya membagikan poster.
E. Mengabaikan masalah dan melanjutkan kampanye seperti sebelumnya.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS menuntut kemampuan evaluasi dan adaptasi media sesuai audiens. Opsi B menunjukkan strategi efektif: media visual sederhana + bahasa lokal + praktik langsung, meningkatkan pemahaman. Pilihan lain terlalu tekstual, satu arah, atau tidak mempertimbangkan karakteristik audiens.

Soal 19

Seorang PKM ingin memperluas program imunisasi ke wilayah terpencil. Pemerintah daerah memiliki keterbatasan fasilitas, sementara beberapa organisasi masyarakat menawarkan dukungan logistik. Strategi advokasi manakah yang paling tepat?

A. Melakukan program sendiri tanpa koordinasi dengan organisasi.
B. Mengadakan forum lintas sektor untuk menyepakati peran, tanggung jawab, dan sumber daya, lalu mengajukan proposal kolaboratif ke pemerintah.
C. Menunggu dana dari pemerintah pusat saja.
D. Menyebar informasi ke media tanpa koordinasi pihak terkait.
E. Memberikan instruksi langsung kepada masyarakat untuk datang ke pos vaksinasi tanpa dukungan logistik.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS menekankan kemampuan membangun kemitraan dan advokasi. Opsi B mencerminkan kolaborasi multi-pihak, koordinasi sumber daya, dan perencanaan strategis, meningkatkan peluang keberhasilan. Pilihan lain unilateral, pasif, atau tidak mempertimbangkan keterbatasan logistik.

Soal 20

PKM melaksanakan program promosi cuci tangan di beberapa sekolah. Monitoring menunjukkan perbedaan kepatuhan antar sekolah. Langkah HOTS manakah yang paling tepat untuk meningkatkan efektivitas program?

A. Memberikan ceramah ulang secara serentak di semua sekolah.
B. Menganalisis data per sekolah, mengidentifikasi faktor penyebab perbedaan, dan merancang intervensi spesifik untuk sekolah yang rendah kepatuhan.
C. Memberikan hadiah hanya kepada sekolah yang berhasil.
D. Menghentikan program di sekolah dengan kepatuhan rendah.
E. Menyebarkan poster umum tanpa tindakan tambahan.

Jawaban Benar: B

Pembahasan:
HOTS menuntut kemampuan analisis evaluasi berbasis data. Opsi B menunjukkan pemanfaatan monitoring untuk perbaikan spesifik, sehingga program lebih efektif dan responsif terhadap kondisi nyata. Pilihan lain bersifat umum, tidak berbasis data, atau menghentikan intervensi.

Ingin siap menghadapi Uji Kompetensi Penyuluh Kesehatan Masyarakat dengan percaya diri? 🎯

Dapatkan paket soal lengkap beserta pembahasan HOTS yang dirancang khusus untuk mengasah kemampuan analisis, strategi intervensi, dan pemahaman teori secara mendalam. Semua soal disusun mengikuti kisi-kisi resmi, sehingga belajar lebih efektif dan terarah!

💡 Jangan tunggu lagi! Tingkatkan peluang lulus dengan maksimal dan asah kemampuan Anda secara sistematis. Klik sekarang di fungsional.id dan mulai latihan dengan paket soal profesional yang siap membawa Anda ke level berikutnya!

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Picture of Tim Asn

Tim Asn

Tim ASN adalah kelompok profesional yang terbiasa menyusun soal. Kami terdiri dari ahli berbagai bidang, berkomitmen menciptakan soal berkualitas tinggi yang relevan dengan kompetensi jabatan.

Dapatkan Akses Sistem CBT dengan ratusan paket soal + pembahasan!

Butuh Bantuan?