Uji Kompetensi Terapis Gigi dan Mulut Mahir ke Penyelia menjadi salah satu tahapan penting untuk menilai kesiapan tenaga terapis gigi dan mulut dalam menjalankan pelayanan yang lebih kompleks, terkoordinasi, dan bertanggung jawab. Melalui artikel Soal Uji Kompetensi Terapis Gigi dan Mulut Mahir ke Penyelia + Materi & Pembahasan, Anda dapat mempelajari cakupan materi sekaligus berlatih menghadapi soal berbasis kasus yang menguji kemampuan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, pencegahan penyakit, edukasi pasien, keselamatan kerja, pengelolaan tindakan, hingga pengambilan keputusan sesuai kewenangan.
Fokus Uji Kompetensi Terapis Gigi dan Mulut Mahir ke Penyelia
Uji Kompetensi Terapis Gigi dan Mulut Mahir ke Penyelia menilai kemampuan peserta dalam menjalankan pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada tingkat yang lebih tinggi, terutama dalam aspek pelayanan promotif, preventif, asistensi tindakan, pengelolaan pelayanan, keselamatan pasien, serta koordinasi kerja.
Pada jenjang Penyelia, peserta tidak hanya dituntut mampu melaksanakan tindakan teknis, tetapi juga memahami prioritas pelayanan, mengawasi pelaksanaan pekerjaan, mengevaluasi hasil tindakan, serta memastikan pelayanan berjalan sesuai standar dan kewenangan profesi. Fokus penilaian umumnya mencakup:
- pelayanan kesehatan gigi dan mulut individu maupun kelompok;
- pencegahan penyakit gigi dan mulut;
- pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut;
- edukasi dan promosi kesehatan;
- asistensi tindakan kedokteran gigi;
- pengendalian infeksi;
- keselamatan pasien dan K3;
- pencatatan serta pelaporan pelayanan;
- pengelolaan alat dan bahan;
- koordinasi dan supervisi pekerjaan;
- komunikasi efektif dengan pasien dan tim;
- etika, profesionalisme, dan batas kewenangan.
Materi Uji Kompetensi Terapis Gigi dan Mulut Mahir ke Penyelia
Materi uji kompetensi pada jenjang Mahir ke Penyelia menekankan kemampuan teknis sekaligus pengawasan pelayanan. Peserta perlu memahami tindakan kesehatan gigi dan mulut, pencegahan penyakit, pengendalian infeksi, pengelolaan pelayanan, serta evaluasi mutu sesuai kewenangan profesi. Materi yang perlu dikuasai meliputi:
- Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
Pemeriksaan dasar, identifikasi masalah kesehatan gigi dan mulut, pemeliharaan kebersihan oral, serta pelayanan sesuai kompetensi terapis gigi dan mulut. - Promotif dan Preventif
Edukasi menyikat gigi, kontrol plak, penggunaan fluor, pencegahan karies, pencegahan penyakit periodontal, serta penyuluhan kepada individu maupun kelompok. - Asistensi Pelayanan Kedokteran Gigi
Persiapan pasien, alat, bahan, dan lingkungan kerja sebelum, selama, dan setelah tindakan kedokteran gigi. - Pengendalian Infeksi
Hand hygiene, penggunaan APD, dekontaminasi, desinfeksi, sterilisasi, pengelolaan alat terkontaminasi, serta pencegahan infeksi silang. - Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Pencegahan needle stick injury, pengelolaan bahan berbahaya, ergonomi kerja, penggunaan alat secara aman, dan penanganan pajanan biologis. - Pengelolaan Alat dan Bahan Kedokteran Gigi
Pemilihan, penyimpanan, pemeliharaan, pencatatan, serta pengawasan ketersediaan alat dan bahan. - Kegawatdaruratan Dasar di Pelayanan Gigi
Sinkop, reaksi alergi, perdarahan, hipoglikemia, gangguan napas, serta tindakan awal sebelum kolaborasi atau rujukan. - Pencatatan dan Pelaporan
Dokumentasi tindakan, rekam pelayanan, pelaporan kegiatan, serta ketepatan dan kerahasiaan data pasien. - Komunikasi dan Edukasi Pasien
Komunikasi terapeutik, pemberian instruksi perawatan, peningkatan kepatuhan, serta komunikasi dengan keluarga dan tim. - Supervisi dan Koordinasi Pelayanan
Pembagian tugas, pengawasan pelaksanaan pekerjaan, identifikasi ketidaksesuaian prosedur, dan tindak lanjut perbaikan. - Mutu dan Keselamatan Pasien
Identifikasi risiko, pencegahan kesalahan tindakan, evaluasi proses pelayanan, pelaporan insiden, dan peningkatan mutu. - Etika dan Profesionalisme
Kerahasiaan pasien, informed consent, batas kewenangan, tanggung jawab profesi, serta sikap profesional dalam pelayanan.
Kisi-Kisi Uji Kompetensi Terapis Gigi dan Mulut Mahir ke Penyelia
Uji Kompetensi Terapis Gigi dan Mulut Mahir ke Penyelia perlu dipersiapkan berdasarkan kemampuan teknis pelayanan sekaligus kemampuan pada tingkat penyelia, seperti pengawasan, evaluasi, koordinasi, dan pengendalian mutu. Jenjang kategori keterampilan Terapis Gigi dan Mulut terdiri atas Terampil, Mahir, dan Penyelia, sehingga kenaikan dari Mahir ke Penyelia menuntut penguasaan kompetensi yang lebih tinggi.
Standar Profesi Terapis Gigi dan Mulut yang berlaku juga menempatkan pelayanan pada bidang promotif, preventif, kuratif terbatas, serta kolaborasi dengan dokter gigi dan tenaga kesehatan lain sebagai bagian penting profesi.
1. Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut
Kisi-kisi meliputi:
- pengkajian kondisi kesehatan gigi dan mulut;
- identifikasi kebutuhan pelayanan;
- penyusunan rencana asuhan;
- pelaksanaan pelayanan sesuai kewenangan;
- evaluasi hasil pelayanan;
- tindak lanjut dan rujukan.
Pada tingkat Penyelia, soal dapat menanyakan ketidaksesuaian hasil pelayanan dan tindakan korektif yang harus dilakukan.
2. Promosi Kesehatan Gigi dan Mulut
Materi mencakup:
- penyuluhan kesehatan gigi;
- teknik menyikat gigi;
- kebiasaan pemeliharaan oral;
- edukasi diet kariogenik;
- peningkatan kepatuhan pasien;
- penyusunan program edukasi kelompok;
- evaluasi efektivitas penyuluhan.
Soal HOTS dapat memberikan kondisi ketika program edukasi telah dilakukan tetapi angka karies tetap tinggi, lalu peserta diminta menentukan evaluasi atau perbaikan program.
3. Pencegahan Karies dan Penyakit Periodontal
Fokus materi:
- kontrol plak;
- fluoridasi;
- pencegahan karies;
- pencegahan gingivitis dan periodontal;
- oral hygiene instruction;
- identifikasi faktor risiko;
- evaluasi keberhasilan tindakan preventif.
Peserta harus mampu memilih intervensi berdasarkan risiko individual, bukan hanya menerapkan tindakan yang sama kepada semua pasien.
4. Pemeriksaan Kesehatan Gigi dan Mulut
Kisi-kisi meliputi:
- pemeriksaan ekstraoral dan intraoral;
- identifikasi karies;
- plak dan kalkulus;
- kondisi gingiva;
- lesi jaringan lunak;
- kelainan oral yang perlu dirujuk;
- pencatatan hasil pemeriksaan.
Fokus soal dapat berupa temuan yang masih dapat ditangani sesuai kewenangan atau yang memerlukan konsultasi dokter gigi.
5. Tindakan Kuratif Terbatas dan Asistensi
Materi mencakup:
- tindakan sesuai kewenangan Terapis Gigi dan Mulut;
- persiapan pasien;
- asistensi dokter gigi;
- persiapan instrumen dan bahan;
- pemantauan selama tindakan;
- perawatan setelah tindakan;
- pengenalan komplikasi.
Kepmenkes 671/2020 menempatkan pelayanan promotif, preventif, dan kuratif sederhana sebagai bagian pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut.
6. Pengendalian Infeksi
Area penting yang perlu dikuasai:
- hand hygiene;
- penggunaan APD;
- dekontaminasi;
- pembersihan alat;
- desinfeksi;
- sterilisasi;
- pemisahan instrumen bersih dan terkontaminasi;
- pencegahan cross infection;
- pengelolaan limbah medis.
Soal jenjang Penyelia dapat berupa kasus ketika ditemukan proses sterilisasi tidak sesuai prosedur dan peserta harus menentukan tindakan terhadap alat, pelayanan, serta petugas.
7. Keselamatan Pasien dan K3
Kisi-kisi:
- identifikasi pasien;
- keselamatan penggunaan alat;
- bahan kimia dan bahan medis;
- needle stick injury;
- pajanan darah atau cairan tubuh;
- ergonomi;
- keselamatan lingkungan kerja;
- pelaporan insiden.
Fokus HOTS biasanya pada tindakan pertama ketika insiden terjadi dan langkah pencegahan agar kejadian tidak berulang.
8. Kegawatdaruratan di Klinik Gigi
Materi meliputi:
- sinkop;
- hipoglikemia;
- reaksi alergi;
- anafilaksis;
- perdarahan;
- kejang;
- gangguan jalan napas;
- penurunan kesadaran;
- BLS dasar;
- rujukan kegawatdaruratan.
Peserta perlu memahami pola:
kenali kegawatan → hentikan tindakan → stabilisasi → pertolongan awal → kolaborasi/rujuk.
9. Pengelolaan Instrumen dan Bahan
Kisi-kisi:
- inventaris alat;
- penyimpanan;
- pemeliharaan;
- kondisi alat;
- tanggal kedaluwarsa bahan;
- ketersediaan bahan;
- penggunaan sesuai indikasi;
- pencatatan logistik.
Pada level Penyelia, soal dapat meminta peserta menentukan prioritas ketika ditemukan bahan kedaluwarsa, alat rusak, atau stok tidak sesuai pencatatan.
10. Pencatatan dan Dokumentasi
Materi mencakup:
- pencatatan kondisi pasien;
- tindakan yang diberikan;
- hasil pelayanan;
- dokumentasi edukasi;
- pelaporan kegiatan;
- kerahasiaan data;
- ketepatan dan kelengkapan rekam pelayanan.
Dokumentasi tidak hanya dianggap pekerjaan administratif, tetapi juga bagian dari keselamatan pasien, continuity of care, dan tanggung jawab profesional.
11. Kompetensi Manajerial dan Sosial Kultural
Permenkes Nomor 1 Tahun 2025 menjadi pedoman terbaru penyelenggaraan uji kompetensi jabatan fungsional kesehatan dan menggantikan ketentuan sebelumnya. Karena itu, persiapan tidak cukup hanya berfokus pada keterampilan klinis, tetapi juga perlu memperhatikan kemampuan yang berkaitan dengan pelaksanaan jabatan dan profesionalisme.
Fokus yang perlu dilatih antara lain:
- komunikasi efektif;
- kerja sama;
- pelayanan publik;
- pengambilan keputusan;
- pengelolaan perubahan;
- integritas;
- pemecahan masalah;
- penanganan perbedaan sosial dan budaya.
Contoh Soal Uji Kompetensi Terapis Gigi dan Mulut Mahir ke Penyelia + Pembahasan
Contoh soal berikut dibuat berbasis kasus dan menyesuaikan karakter kompetensi Terapis Gigi dan Mulut Mahir ke Penyelia. Soal tidak hanya menguji kemampuan melakukan tindakan, tetapi juga kemampuan mengenali masalah, menentukan prioritas, melakukan supervisi, mengevaluasi pelayanan, mengambil tindakan korektif, dan menjaga keselamatan pasien.
Soal 1 — Pengendalian Infeksi
Hasil supervisi menunjukkan beberapa instrumen yang telah digunakan hanya direndam dalam larutan desinfektan kemudian langsung dimasukkan ke dalam kemasan steril tanpa melalui proses sterilisasi. Instrumen tersebut belum digunakan kembali kepada pasien.
Sebagai Terapis Gigi dan Mulut Penyelia, tindakan paling tepat adalah ….
A. Menahan penggunaan instrumen, mengulang proses dekontaminasi dan sterilisasi sesuai prosedur, lalu mengevaluasi penyebab ketidaksesuaian
B. Menggunakan instrumen karena telah direndam desinfektan
C. Menyimpan instrumen selama 24 jam sebelum digunakan
D. Membersihkan permukaannya dengan alkohol
E. Menggunakan instrumen hanya untuk pasien tanpa penyakit menular
Jawaban: A
Pembahasan:
Desinfeksi tidak selalu menggantikan sterilisasi untuk instrumen yang menurut klasifikasinya harus steril. Pada level Penyelia, tindakan tidak berhenti pada mengoreksi instrumen, tetapi juga mengidentifikasi penyebab kesalahan dan mencegah pengulangan melalui supervisi.
Soal 2 — Pencegahan Penyakit Gigi
Program penyuluhan menyikat gigi telah dilakukan selama enam bulan di sebuah sekolah. Evaluasi menunjukkan pengetahuan murid meningkat, tetapi indeks plak hampir tidak berubah.
Langkah selanjutnya yang paling tepat adalah ….
A. Menambah jumlah poster kesehatan
B. Mengevaluasi keterampilan menyikat gigi dan melakukan intervensi praktik secara langsung serta monitoring berkala
C. Menghentikan program karena tidak efektif
D. Mengganti seluruh materi dengan ceramah
E. Menyarankan seluruh murid berobat ke rumah sakit
Jawaban: B
Pembahasan:
Peningkatan pengetahuan belum tentu mengubah perilaku. Jika indeks plak tetap tinggi, intervensi harus bergeser dari sekadar edukasi menuju demonstrasi, praktik, umpan balik, dan pemantauan perilaku.
Soal 3 — Keselamatan Pasien
Sebelum tindakan, petugas menemukan dua pasien memiliki nama yang hampir sama. Salah satu pasien telah duduk di dental chair dan instrumen telah disiapkan.
Tindakan paling tepat adalah ….
A. Menggunakan nomor kursi pasien sebagai identitas
B. Menanyakan nama pasien kepada petugas administrasi
C. Memverifikasi minimal dua identitas pasien dengan data pelayanan sebelum tindakan dilanjutkan
D. Menanyakan jenis tindakan kepada pasien saja
E. Memulai tindakan karena instrumen sudah tersedia
Jawaban: C
Pembahasan:
Identifikasi pasien harus dilakukan sebelum tindakan menggunakan identitas yang dapat diverifikasi. Prinsip ini merupakan bagian penting dari patient safety dan mencegah wrong patient maupun wrong procedure.
Soal 4 — Kegawatdaruratan Klinik Gigi
Seorang pasien tiba-tiba kehilangan kesadaran setelah duduk lama saat menunggu tindakan. Pasien tampak pucat, berkeringat, nadi teraba lemah, tetapi masih bernapas spontan.
Tindakan awal yang paling tepat adalah ….
A. Memberikan antibiotik
B. Meminta pasien segera duduk
C. Memberikan makanan padat
D. Menghentikan tindakan, menilai ABC, dan memposisikan pasien dengan tepat sambil memonitor kondisi
E. Membiarkan pasien sampai sadar sendiri
Jawaban: D
Pembahasan:
Gambaran tersebut dapat sesuai dengan sinkop. Prioritas adalah menilai airway, breathing, circulation, mempertahankan perfusi, dan memonitor respons sebelum menentukan langkah berikutnya.
Soal 5 — Etika dan Batas Kewenangan
Seorang pasien meminta Terapis Gigi dan Mulut melakukan tindakan yang berada di luar kewenangannya karena dokter gigi sedang tidak berada di tempat.
Tindakan paling tepat adalah ….
A. Melakukan tindakan jika pasien menandatangani persetujuan
B. Melakukan tindakan bila pernah melihat dokter mengerjakannya
C. Meminta petugas lain mengambil keputusan
D. Memberikan obat terlebih dahulu
E. Menjelaskan batas kewenangan dan mengarahkan pasien untuk mendapatkan pelayanan dari tenaga yang kompeten
Jawaban: E
Pembahasan:
Kemampuan teknis tidak otomatis memberikan kewenangan profesional. Terapis Gigi dan Mulut harus bekerja sesuai kompetensi dan kewenangan serta berkolaborasi dengan dokter gigi atau tenaga lain bila diperlukan. Standar profesi menegaskan pelayanan dilakukan dalam batas kompetensi serta prinsip kolaborasi antarprofesi.
Soal 6 — Supervisi Pelayanan
Dalam supervisi rutin ditemukan seorang petugas sering melewati tahap hand hygiene sebelum menggunakan sarung tangan. Belum terdapat laporan infeksi akibat kejadian tersebut.
Sebagai Penyelia, langkah paling tepat adalah ….
A. Menghentikan praktik yang tidak sesuai, memberikan koreksi dan pembinaan, kemudian melakukan monitoring kepatuhan
B. Menunggu sampai terjadi infeksi
C. Memindahkan petugas tanpa penjelasan
D. Menganggap penggunaan sarung tangan sudah cukup
E. Membiarkan karena belum ada insiden
Jawaban: A
Pembahasan:
Ketidakpatuhan terhadap SOP harus ditangani sebelum menimbulkan insiden. Fungsi Penyelia mencakup identifikasi masalah, pembinaan, perbaikan, dan evaluasi kepatuhan.
Soal 7 — Promosi Kesehatan
Wilayah kerja puskesmas memiliki prevalensi karies tinggi pada anak. Hasil asesmen menunjukkan konsumsi makanan manis sering, teknik menyikat gigi tidak tepat, dan kunjungan preventif rendah.
Program paling tepat adalah ….
A. Membagikan brosur sekali setahun
B. Menyusun intervensi berbasis faktor risiko yang mencakup edukasi diet, praktik menyikat gigi, tindakan preventif, dan monitoring
C. Memberikan antibiotik pada semua anak
D. Memusatkan program pada pencabutan gigi
E. Menunggu anak datang dengan keluhan
Jawaban: B
Pembahasan:
Program promotif-preventif harus didasarkan pada faktor risiko. Pendekatan multifaktorial lebih efektif daripada hanya memberikan informasi secara pasif.
Soal 8 — Pajanan Biologis
Saat membereskan instrumen, seorang petugas tertusuk jarum yang baru digunakan pada pasien.
Tindakan yang paling tepat adalah ….
A. Menutup luka dengan plester tanpa pemeriksaan
B. Memijat luka kuat-kuat sampai berdarah banyak
C. Melakukan pertolongan awal pada area pajanan dan segera mengikuti prosedur pelaporan serta evaluasi pajanan kerja
D. Menunggu apakah muncul gejala infeksi
E. Melanjutkan pekerjaan karena luka kecil
Jawaban: C
Pembahasan:
Needle stick injury memerlukan penanganan segera sesuai protokol pajanan. Setelah pertolongan awal, insiden harus dilaporkan untuk risk assessment dan tindak lanjut medis.
Soal 9 — Dokumentasi
Terapis menemukan tindakan preventif telah dilakukan kepada beberapa pasien tetapi tidak tercatat dalam rekam pelayanan.
Sebagai Penyelia, tindakan terbaik adalah ….
A. Mengabaikan karena tindakan sudah selesai
B. Mencatat seluruh tindakan atas nama petugas tanpa verifikasi
C. Menghapus data kunjungan
D. Melakukan klarifikasi, memperbaiki dokumentasi sesuai ketentuan, dan mengevaluasi penyebab ketidaklengkapan
E. Membuat rekam medis baru
Jawaban: D
Pembahasan:
Dokumentasi merupakan bagian dari continuity of care dan tanggung jawab profesional. Koreksi harus dilakukan secara benar tanpa manipulasi data, kemudian akar masalah perlu dievaluasi.
Soal 10 — Pengelolaan Bahan
Saat audit ditemukan beberapa bahan kedokteran gigi telah melewati tanggal kedaluwarsa tetapi masih tersimpan bersama bahan aktif.
Langkah terbaik adalah ….
A. Menggunakan bahan terlebih dahulu agar tidak terbuang
B. Memindahkan bahan ke lemari lain lalu menggunakannya untuk kasus ringan
C. Mengubah label tanggal
D. Menyerahkan seluruhnya kepada petugas administrasi
E. Memisahkan bahan kedaluwarsa, mencegah penggunaannya, melakukan pengelolaan sesuai prosedur, serta mengevaluasi sistem stok
Jawaban: E
Pembahasan:
Bahan kedaluwarsa harus dicegah agar tidak digunakan. Pada jenjang Penyelia, perlu juga mengevaluasi sistem FEFO/FIFO, pencatatan stok, dan monitoring masa kedaluwarsa.
Soal 11 — Anafilaksis
Beberapa menit setelah pemberian bahan tertentu, pasien mengalami sesak, wheezing, urtikaria, tekanan darah turun, dan kesadaran mulai menurun.
Prioritas tindakan adalah ….
A. Menghentikan tindakan, mengaktifkan respons kegawatdaruratan, melakukan ABC, dan memberikan pertolongan anafilaksis sesuai kewenangan/protokol
B. Meminta pasien pulang
C. Memberikan obat kumur
D. Menunggu dokter gigi tanpa melakukan apa pun
E. Memberikan air minum
Jawaban: A
Pembahasan:
Anafilaksis mengancam airway dan circulation. Stabilitas pasien merupakan prioritas utama. Terapis harus memberikan pertolongan awal sesuai kompetensi sambil segera mengaktifkan sistem bantuan.
Soal 12 — Pengendalian Mutu
Dalam tiga bulan terakhir terjadi peningkatan jumlah instrumen yang harus diproses ulang karena indikator sterilisasi tidak memenuhi standar.
Langkah Penyelia yang paling tepat adalah ….
A. Mengganti semua instrumen baru
B. Menganalisis proses sterilisasi dari pembersihan, pengemasan, loading, parameter alat hingga dokumentasi sebelum menentukan tindakan korektif
C. Mengurangi jumlah instrumen yang disterilkan
D. Mengabaikan indikator jika instrumen tampak bersih
E. Menambah waktu kerja petugas tanpa evaluasi
Jawaban: B
Pembahasan:
Masalah berulang membutuhkan root cause analysis. Tindakan korektif harus berdasarkan sumber ketidaksesuaian, bukan sekadar mengganti alat atau menambah pekerjaan.
Soal 13 — Pemeriksaan Lesi Oral
Pada pemeriksaan ditemukan lesi putih pada lateral lidah yang tidak hilang saat dikerok dan telah bertahan lebih dari tiga minggu.
Tindakan paling tepat adalah ….
A. Menganggap sebagai sisa makanan
B. Memberikan obat kumur dan menunggu beberapa bulan
C. Mendokumentasikan temuan dan mengarahkan pasien untuk evaluasi lebih lanjut oleh dokter gigi/tenaga kompeten
D. Mengangkat lesi sendiri
E. Tidak perlu memberi tahu pasien
Jawaban: C
Pembahasan:
Lesi persisten yang tidak dapat dikerok merupakan temuan yang memerlukan evaluasi lebih lanjut. TGM perlu mengenali red flag, bukan melakukan tindakan di luar kewenangannya.
Soal 14 — Kolaborasi Antarprofesi
Pasien dengan diabetes tidak terkontrol membutuhkan tindakan kesehatan gigi. Hasil wawancara menunjukkan gula darah sering sangat tinggi dan pasien belum kontrol rutin.
Tindakan paling tepat adalah ….
A. Melakukan semua tindakan seperti biasa
B. Menunda selamanya tanpa penjelasan
C. Hanya memberikan obat kumur
D. Mengidentifikasi risiko, melakukan pelayanan yang aman sesuai kondisi, dan berkoordinasi dengan dokter/dokter gigi terkait kondisi sistemik pasien
E. Meminta keluarga membuat keputusan sendiri
Jawaban: D
Pembahasan:
Kondisi sistemik dapat memengaruhi risiko tindakan kesehatan gigi. Standar profesi TGM menekankan pelayanan yang terintegrasi serta interprofessional collaboration.
Soal 15 — Pengelolaan Program
Program kesehatan gigi sekolah mencapai target jumlah peserta, tetapi hasil evaluasi menunjukkan indeks kebersihan mulut tidak mengalami perbaikan bermakna.
Tindakan Penyelia paling tepat adalah ….
A. Menyatakan program berhasil karena target peserta tercapai
B. Menambah jumlah laporan
C. Mengubah indikator agar hasil terlihat baik
D. Mengulang kegiatan tanpa perubahan
E. Mengevaluasi proses dan outcome program, mencari penyebab, lalu memperbaiki strategi intervensi
Jawaban: E
Pembahasan:
Jumlah peserta adalah indikator proses, bukan selalu outcome. Program yang baik harus dinilai dari perubahan kondisi atau perilaku sasaran.
Soal 16 — Sterilisasi
Setelah autoclave selesai, indikator proses menunjukkan hasil yang tidak sesuai. Namun petugas mengatakan kemasan instrumen terlihat kering dan bersih.
Keputusan paling tepat adalah ….
A. Menahan seluruh instrumen dari siklus tersebut sampai keamanan proses sterilisasi dapat dipastikan
B. Menggunakan instrumen untuk pasien risiko rendah
C. Menyemprot alkohol sebelum digunakan
D. Menggunakan instrumen karena kemasan masih utuh
E. Menyimpan dua hari sebelum dipakai
Jawaban: A
Pembahasan:
Penampilan fisik kemasan tidak membuktikan keberhasilan sterilisasi. Instrumen tidak boleh digunakan bila proses belum dapat dipastikan memenuhi parameter.
Soal 17 — Komunikasi Pelayanan
Seorang pasien menolak tindakan preventif karena khawatir bahan yang digunakan berbahaya. Petugas mulai berdebat dan menyatakan pasien salah memahami informasi dari internet.
Sebagai Penyelia, pendekatan terbaik adalah ….
A. Memaksa pasien menerima tindakan
B. Menggali kekhawatiran pasien, memberikan informasi yang jelas berbasis bukti, dan menghormati keputusan setelah informed choice
C. Mengakhiri komunikasi
D. Meminta keluarga memaksa pasien
E. Mencatat pasien sebagai tidak kooperatif
Jawaban: B
Pembahasan:
Komunikasi profesional bukan sekadar memberi informasi, tetapi juga memahami kekhawatiran pasien serta mendukung pengambilan keputusan yang diinformasikan.
Soal 18 — Ergonomi dan K3
Beberapa petugas mengeluhkan nyeri leher dan punggung setelah bekerja. Observasi menunjukkan posisi kerja sering membungkuk dalam waktu lama.
Intervensi terbaik adalah ….
A. Memberikan analgesik kepada semua petugas
B. Mengurangi jumlah pasien tanpa evaluasi
C. Melakukan evaluasi ergonomi, memperbaiki posisi kerja dan pengaturan alat, serta memberikan edukasi pencegahan gangguan muskuloskeletal
D. Mengganti seluruh dental chair
E. Menyarankan petugas berolahraga saja
Jawaban: C
Pembahasan:
Gangguan muskuloskeletal pada tenaga kesehatan sering berkaitan dengan postur dan repetisi kerja. Pencegahan harus menyasar faktor ergonomi secara langsung.
Soal 19 — Insiden Keselamatan
Pasien hampir menerima tindakan pada gigi yang salah, tetapi kesalahan terdeteksi sebelum tindakan dimulai. Tidak ada cedera.
Sebagai Penyelia, tindakan paling tepat adalah ….
A. Tidak perlu dilaporkan karena tidak terjadi cedera
B. Menyalahkan satu petugas di depan tim
C. Menghapus catatan agar tidak menimbulkan masalah
D. Memperlakukan kejadian sebagai near miss, melakukan pelaporan dan analisis penyebab untuk mencegah pengulangan
E. Hanya meminta maaf kepada pasien
Jawaban: D
Pembahasan:
Near miss tetap penting untuk dianalisis karena menunjukkan adanya kelemahan sistem. Tujuan pelaporan adalah pembelajaran dan pencegahan, bukan sekadar mencari siapa yang salah.
Soal 20 — Kompetensi Penyelia
Tingkat kepatuhan terhadap SOP di unit menurun dalam dua bulan terakhir. Beberapa petugas menyatakan SOP terlalu sulit diterapkan pada jam pelayanan sibuk.
Langkah paling tepat adalah ….
A. Menghukum seluruh petugas
B. Mengurangi isi SOP agar lebih cepat
C. Membiarkan selama pelayanan selesai
D. Menambah target jumlah pasien
E. Mengidentifikasi hambatan penerapan SOP, melakukan pembinaan dan perbaikan proses, kemudian memonitor kepatuhan secara berkala
Jawaban: E
Pembahasan:
Peran Penyelia tidak berhenti pada menemukan ketidakpatuhan. Dibutuhkan analisis penyebab, perbaikan proses, komunikasi, pembinaan, dan evaluasi hasil.
Siapkan Diri untuk Uji Kompetensi Terapis Gigi dan Mulut Mahir ke Penyelia

Perbanyak latihan soal berbasis kasus untuk mengasah kemampuan teknis, supervisi, pengendalian mutu, keselamatan pasien, serta pengambilan keputusan sesuai kewenangan profesi. Kunjungi fungsional.id untuk mengakses lebih banyak soal Uji Kompetensi Terapis Gigi dan Mulut Mahir ke Penyelia lengkap dengan materi, pembahasan, dan simulasi CAT.


