UKOMNAS Fisioterapis menjadi salah satu tahapan penting untuk mengukur kesiapan peserta dalam menerapkan ilmu fisioterapi, clinical reasoning, pemeriksaan fungsi gerak, penentuan masalah, serta pemilihan intervensi yang tepat. Melalui artikel UKOMNAS Fisioterapis: Latihan Soal, Materi, Pembahasan Lengkap & Terbaru, Anda dapat mempelajari cakupan materi yang relevan sekaligus berlatih menghadapi soal berbasis kasus yang menguji kemampuan analisis, penentuan prioritas, keselamatan pasien, dan pengambilan keputusan dalam pelayanan fisioterapi.
Mengenal UKOMNAS Fisioterapis dan Fokus Penilaiannya
UKOMNAS Fisioterapis merupakan uji kompetensi nasional yang bertujuan menilai kesiapan peserta dalam menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan clinical reasoning di bidang fisioterapi. Penilaian tidak hanya berfokus pada hafalan teori, tetapi juga kemampuan menganalisis gangguan gerak dan fungsi, menentukan masalah fisioterapi, memilih intervensi, serta mengevaluasi hasil terapi.
Fokus penilaian umumnya mencakup:
- Muskuloskeletal, seperti nyeri punggung bawah, cedera sendi, gangguan postur, dan rehabilitasi pascatrauma.
- Neuromuskular, seperti stroke, cedera medula spinalis, neuropati, serta gangguan kontrol gerak dan keseimbangan.
- Kardiopulmoner, meliputi gangguan respirasi, toleransi aktivitas, latihan pernapasan, dan rehabilitasi jantung-paru.
- Pediatri, termasuk tumbuh kembang, cerebral palsy, serta gangguan motorik anak.
- Geriatri, seperti risiko jatuh, penurunan mobilitas, kelemahan otot, dan gangguan keseimbangan.
- Olahraga, termasuk cedera akut, overuse injury, rehabilitasi, dan return to activity.
- Pemeriksaan dan Pengukuran Fisioterapi, seperti ROM, kekuatan otot, keseimbangan, gait, nyeri, dan kapasitas fungsional.
- Intervensi Fisioterapi, meliputi exercise therapy, terapi manual, latihan fungsional, edukasi, modalitas, dan program rehabilitasi.
- Keselamatan Pasien dan Profesionalisme, termasuk kontraindikasi, red flags, komunikasi, etik, serta batas kewenangan profesi.
Materi UKOMNAS Fisioterapis yang Perlu Dikuasai
Materi UKOMNAS Fisioterapis mencakup kemampuan asesmen, clinical reasoning, penentuan diagnosis fisioterapi, pemilihan intervensi, hingga evaluasi hasil terapi. Peserta perlu memahami teori sekaligus mampu menerapkannya pada kasus klinis.
Materi utama yang perlu dikuasai meliputi:
- Fisioterapi Muskuloskeletal
Nyeri punggung bawah, cervical pain, osteoarthritis, cedera ligamen, tendinopati, fraktur, gangguan postur, dan rehabilitasi pascaoperasi. - Fisioterapi Neuromuskular
Stroke, Parkinson, cerebral palsy, cedera medula spinalis, neuropati perifer, gangguan keseimbangan, koordinasi, dan kontrol motorik. - Fisioterapi Kardiopulmoner
Gangguan ventilasi, sesak, retensi sekret, PPOK, kondisi pascaoperasi toraks, latihan pernapasan, serta peningkatan toleransi aktivitas. - Fisioterapi Pediatri
Tumbuh kembang motorik, developmental delay, cerebral palsy, tortikolis, serta gangguan fungsi dan mobilitas pada anak. - Fisioterapi Geriatri
Risiko jatuh, kelemahan otot, sarcopenia, gangguan mobilitas, keseimbangan, dan peningkatan kemandirian aktivitas harian. - Fisioterapi Olahraga
Sprain, strain, tendinopati, cedera lutut, cedera bahu, overuse injury, rehabilitasi olahraga, dan return to sport. - Pemeriksaan dan Pengukuran
ROM, manual muscle testing, pemeriksaan nyeri, postur, gait, keseimbangan, koordinasi, functional test, dan pengukuran kapasitas aktivitas. - Terapi Latihan
Strengthening, stretching, endurance exercise, balance training, mobility exercise, neuromuscular training, dan latihan fungsional. - Terapi Manual dan Modalitas Fisioterapi
Mobilisasi, teknik jaringan lunak, elektroterapi, termoterapi, cryotherapy, serta pemilihan modalitas berdasarkan indikasi dan kontraindikasi. - Clinical Reasoning dan Diagnosis Fisioterapi
Menghubungkan hasil anamnesis dan pemeriksaan untuk menentukan masalah utama, keterbatasan aktivitas, gangguan partisipasi, serta tujuan intervensi. - Red Flags dan Keselamatan Pasien
Mengenali tanda yang mengarah pada kegawatdaruratan atau kondisi di luar lingkup fisioterapi, seperti nyeri dada akut, gangguan neurologis progresif, trauma berat, dan tanda infeksi sistemik. - Komunikasi, Etik, dan Profesionalisme
Informed consent, edukasi pasien, komunikasi terapeutik, privasi, dokumentasi, batas kewenangan, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.
Kisi-Kisi Lengkap UKOMNAS Fisioterapis
UKOMNAS Fisioterapis menguji kemampuan peserta dalam mengintegrasikan asesmen, clinical reasoning, diagnosis fisioterapi, perencanaan intervensi, pelaksanaan terapi, evaluasi hasil, keselamatan pasien, dan profesionalisme. Standar kompetensi terbaru fisioterapis ditetapkan melalui Kepmenkes HK.01.07/MENKES/1077/2024, yang menggantikan standar profesi sebelumnya.
Pada pelaksanaan UKOMNAS Fisioterapis 2026, rangkaian ujian pada program profesi mencakup Computer Based Test (CBT) untuk kemampuan kognitif dan clinical reasoning serta Objective Structured Clinical Examination (OSCE) untuk keterampilan klinis.
1. Muskuloskeletal
Fokus materi meliputi:
- low back pain;
- cervical pain;
- osteoarthritis;
- frozen shoulder;
- tendinopati;
- sprain dan strain;
- cedera ligament;
- fraktur dan rehabilitasi pascaimobilisasi;
- gangguan postur;
- nyeri myofascial;
- rehabilitasi pascaoperasi ortopedi.
Kemampuan yang diuji:
asesmen → differential screening → impairment → intervensi → evaluasi fungsi.
Peserta perlu mampu mengenali red flags seperti trauma berat, defisit neurologis progresif, cauda equina, infeksi, atau keganasan.
2. Neuromuskular
Kisi-kisi mencakup:
- stroke;
- Parkinson;
- cedera medula spinalis;
- traumatic brain injury;
- neuropati perifer;
- Bell’s palsy;
- multiple sclerosis;
- gangguan koordinasi;
- gangguan keseimbangan;
- gangguan gait.
Fokus soal dapat menanyakan:
- pola gangguan motorik;
- pemeriksaan neurologis fungsional;
- transfer dan mobilisasi;
- balance training;
- gait training;
- motor relearning;
- pencegahan kontraktur;
- kebutuhan alat bantu.
3. Kardiopulmoner dan Kardiovaskular
Materi penting:
- PPOK;
- pneumonia;
- gangguan ventilasi;
- retensi sekret;
- rehabilitasi pascaoperasi thoraks;
- penyakit jantung koroner;
- gagal jantung stabil;
- latihan aerobik;
- toleransi aktivitas;
- airway clearance;
- latihan pernapasan.
Peserta harus memahami monitoring:
- denyut jantung;
- tekanan darah;
- respiratory rate;
- SpO₂;
- Borg scale;
- respons terhadap aktivitas.
Soal HOTS dapat menanyakan kapan latihan dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan.
4. Pediatri
Kisi-kisi meliputi:
- developmental delay;
- cerebral palsy;
- Down syndrome;
- tortikolis;
- gangguan neuromuskular;
- gangguan postural;
- keterlambatan milestone;
- masalah gait pada anak.
Fokus pemeriksaan:
- milestone perkembangan;
- tonus;
- refleks;
- postural control;
- gross motor function;
- kemampuan aktivitas.
Intervensi diarahkan pada fungsi, aktivitas, partisipasi, serta keterlibatan keluarga.
5. Geriatri
Materi meliputi:
- sarcopenia;
- frailty;
- osteoarthritis;
- osteoporosis;
- gangguan keseimbangan;
- penurunan mobilitas;
- risiko jatuh;
- deconditioning.
Instrumen yang perlu dipahami antara lain:
- Timed Up and Go;
- functional reach;
- gait assessment;
- balance assessment;
- functional mobility test.
Fokus soal biasanya pada pencegahan jatuh, peningkatan kemandirian, dan latihan yang aman.
6. Fisioterapi Olahraga
Materi meliputi:
- ACL injury;
- ankle sprain;
- hamstring strain;
- rotator cuff injury;
- tendinopati;
- patellofemoral pain;
- overuse injury;
- rehabilitasi atlet;
- return to sport.
Peserta perlu memahami tahapan:
protection → recovery → strengthening → neuromuscular control → functional testing → return to sport.
7. Integumen dan Luka
Kisi-kisi dapat mencakup:
- luka bakar;
- scar;
- edema;
- keterbatasan gerak akibat jaringan parut;
- pressure injury;
- manajemen mobilitas;
- pencegahan kontraktur.
Fokus fisioterapi adalah mempertahankan fungsi, ROM, mobilitas, serta mencegah komplikasi sekunder.
8. Pemeriksaan dan Pengukuran Fisioterapi
Materi inti:
- anamnesis;
- pain assessment;
- ROM;
- goniometri;
- manual muscle testing;
- pemeriksaan postur;
- gait analysis;
- balance test;
- endurance;
- functional capacity;
- respiratory examination.
Soal dapat menanyakan alat ukur yang paling tepat berdasarkan tujuan pemeriksaan.
9. Diagnosis Fisioterapi
Peserta perlu mampu mengintegrasikan:
- body structure and function;
- activity limitation;
- participation restriction;
- environmental factor;
- personal factor.
Fokusnya bukan semata diagnosis medis, tetapi masalah gerak dan fungsi yang menjadi dasar intervensi fisioterapi.
10. Terapi Latihan
Kisi-kisi:
- strengthening;
- stretching;
- endurance training;
- balance training;
- coordination;
- mobility;
- proprioceptive exercise;
- functional exercise;
- gait training;
- home exercise program.
Soal HOTS sering meminta peserta menentukan dosis, progresi, atau modifikasi latihan berdasarkan respons pasien.
11. Terapi Manual
Materi meliputi:
- mobilisasi sendi;
- soft tissue technique;
- stretching;
- manual therapy;
- indikasi;
- kontraindikasi;
- clinical reasoning pemilihan teknik.
Peserta perlu memahami bahwa terapi manual sebaiknya digunakan berdasarkan temuan klinis dan dikombinasikan dengan intervensi aktif bila sesuai.
12. Elektroterapi dan Modalitas
Kisi-kisi:
- TENS;
- electrical stimulation;
- ultrasound;
- thermotherapy;
- cryotherapy;
- infrared;
- modalitas fisik lainnya.
Yang diuji bukan sekadar nama alat, tetapi:
- indikasi;
- kontraindikasi;
- parameter dasar;
- keamanan;
- respons pasien.
13. Clinical Reasoning
Clinical reasoning menjadi bagian penting UKOMNAS.
Pola kasus dapat meminta peserta menentukan:
- masalah utama;
- pemeriksaan tambahan;
- diagnosis fisioterapi;
- prioritas intervensi;
- evaluasi outcome;
- modifikasi program;
- indikasi rujukan.
Gunakan pola:
subjective examination → objective examination → problem list → diagnosis fisioterapi → goal → intervention → reassessment.
14. Red Flags dan Rujukan
Peserta harus mengenali kondisi yang tidak aman untuk langsung diterapi.
Contohnya:
- nyeri dada saat latihan;
- SpO₂ turun bermakna;
- defisit neurologis progresif;
- saddle anesthesia;
- gangguan kontrol BAK/BAB;
- trauma berat;
- dugaan fraktur;
- demam dan tanda infeksi sistemik;
- deep vein thrombosis;
- penurunan kesadaran.
Dalam kasus tersebut, jawaban terbaik dapat berupa menghentikan intervensi dan melakukan rujukan atau kolaborasi.
15. Keselamatan Pasien
Kisi-kisi:
- identifikasi pasien;
- informed consent;
- pencegahan jatuh;
- keamanan transfer;
- penggunaan alat bantu;
- monitoring selama exercise;
- kontraindikasi tindakan;
- pelaporan insiden.
Soal dapat menampilkan intervensi yang secara teori benar tetapi tidak aman pada kondisi pasien tertentu.
16. Komunikasi dan Edukasi
Materi meliputi:
- komunikasi terapeutik;
- edukasi home program;
- peningkatan adherence;
- penggunaan bahasa yang mudah dipahami;
- shared decision making;
- komunikasi dengan keluarga.
Fokusnya adalah memastikan pasien memahami tujuan terapi, risiko, latihan, dan tindak lanjut.
17. Etik dan Profesionalisme
Kisi-kisi:
- informed consent;
- privasi;
- kerahasiaan;
- batas kompetensi;
- dokumentasi;
- konflik kepentingan;
- profesionalisme;
- kolaborasi antarprofesi.
Peserta perlu mampu mengenali kapan sebuah tindakan secara teknis mungkin dilakukan tetapi tidak sesuai kewenangan atau kondisi klinis.
18. Dokumentasi Fisioterapi
Materi meliputi:
- hasil assessment;
- problem list;
- diagnosis fisioterapi;
- goal;
- intervention;
- progress note;
- reassessment;
- discharge planning.
Dokumentasi harus menunjukkan hubungan yang jelas antara masalah, tujuan, intervensi, dan outcome.
19. Evidence-Based Physiotherapy
Fokus yang perlu dipahami:
- penerapan hasil penelitian;
- efektivitas intervensi;
- outcome measure;
- clinical guideline;
- risiko dan manfaat;
- pengambilan keputusan berbasis bukti.
Peserta tidak sekadar ditanya intervensi yang biasa digunakan, tetapi intervensi yang paling sesuai berdasarkan bukti, kondisi pasien, dan tujuan terapi.
20. Fokus OSCE Fisioterapi
Pada OSCE, keterampilan yang dapat diuji meliputi:
- anamnesis;
- pemeriksaan muskuloskeletal;
- pemeriksaan neurologis;
- pemeriksaan kardiorespirasi;
- pemeriksaan ROM dan kekuatan otot;
- gait dan balance assessment;
- transfer pasien;
- penggunaan alat bantu;
- demonstrasi latihan;
- edukasi pasien;
- clinical reasoning;
- komunikasi dan profesionalisme.
UKOMNAS Profesi Fisioterapis pada 2026 tetap dilaksanakan melalui rangkaian CBT dan OSCE, dan kegiatan persiapan nasional juga membahas area muskuloskeletal, geriatri, olahraga, kardiopulmonal, kardiovaskular, pediatri, neuromuskular, integumen, dan kesehatan wanita.
Contoh Soal UKOMNAS Fisioterapis Terbaru dan Pembahasan
Contoh soal berikut dibuat berbasis clinical vignette dan HOTS. Fokusnya bukan hanya mengetahui nama penyakit atau modalitas, tetapi menentukan pemeriksaan, masalah fisioterapi, prioritas intervensi, progresi latihan, evaluasi outcome, red flags, serta keputusan rujukan yang paling tepat.
Soal 1 — Muskuloskeletal: Low Back Pain
Laki-laki 48 tahun datang dengan nyeri punggung bawah sejak dua hari. Nyeri menjalar ke tungkai kiri. Sejak pagi pasien mengeluhkan sulit menahan buang air kecil, mati rasa pada daerah perineum, dan kedua tungkai terasa semakin lemah.
Tindakan fisioterapis yang paling tepat adalah ….
A. Menghentikan rencana intervensi dan segera merujuk untuk evaluasi medis karena dicurigai cauda equina syndrome
B. Memberikan latihan ekstensi berulang
C. Melakukan mobilisasi lumbal grade IV
D. Memberikan TENS kemudian mengevaluasi nyeri
E. Memberikan latihan core stability
Jawaban: A
Pembahasan:
Gangguan BAK, saddle anesthesia, dan kelemahan neurologis progresif merupakan red flags untuk cauda equina syndrome. Prioritas fisioterapis bukan mengurangi nyeri dengan modalitas, melainkan mengenali kondisi yang membutuhkan evaluasi medis segera.
Soal 2 — Neuromuskular: Stroke
Perempuan 61 tahun, tiga minggu pascastroke, mampu berdiri dengan bantuan minimal. Saat berjalan, lutut sisi paretik sering mengalami hiperekstensi pada fase stance dan kontrol dorsifleksi buruk.
Intervensi awal yang paling tepat adalah ….
A. Melakukan strengthening ekstremitas atas saja
B. Melatih kontrol tungkai selama stance dan gait secara task-specific dengan bantuan yang sesuai
C. Membatasi pasien dari latihan berjalan
D. Melakukan stretching pasif seluruh tubuh
E. Menggunakan modalitas panas sebelum semua latihan
Jawaban: B
Pembahasan:
Masalah utama adalah kontrol motorik fungsional selama gait. Latihan task-specific yang menargetkan kontrol tungkai dan pola berjalan lebih relevan dibanding intervensi pasif yang tidak secara langsung menangani keterbatasan aktivitas.
Soal 3 — Kardiopulmoner
Pasien PPOK mengikuti latihan berjalan. Sebelum latihan SpO₂ 94%. Setelah beberapa menit pasien semakin sesak, SpO₂ turun menjadi 83%, tampak sianosis, dan kesulitan berbicara.
Tindakan paling tepat adalah ….
A. Meminta pasien mempercepat langkah agar latihan cepat selesai
B. Tetap melanjutkan latihan dengan intensitas sama
C. Menghentikan latihan, melakukan penilaian segera, dan menangani/merujuk sesuai kondisi klinis
D. Hanya meminta pasien melakukan stretching
E. Mengabaikan SpO₂ karena pasien memang memiliki PPOK
Jawaban: C
Pembahasan:
Penurunan saturasi yang nyata disertai distress respirasi merupakan tanda bahwa latihan tidak aman diteruskan. Prinsipnya adalah monitoring → recognition of deterioration → stop/modification → appropriate escalation.
Soal 4 — Pediatri
Anak usia 3 tahun dengan cerebral palsy spastik diplegia mampu duduk mandiri, tetapi membutuhkan bantuan saat berdiri dan berjalan. Orang tua berharap anak segera dapat berjalan tanpa bantuan.
Tujuan fisioterapi yang paling tepat adalah ….
A. Menghilangkan seluruh spastisitas dalam satu bulan
B. Memprioritaskan latihan pasif tanpa aktivitas fungsional
C. Menjamin anak akan berjalan normal
D. Menetapkan tujuan fungsional berdasarkan kemampuan saat ini, potensi anak, lingkungan, dan kebutuhan keluarga
E. Menghindari keterlibatan keluarga dalam terapi
Jawaban: D
Pembahasan:
Goal setting pediatri harus realistis, terukur, berorientasi fungsi, dan melibatkan keluarga. Tujuan tidak boleh menjanjikan hasil yang belum dapat dipastikan.
Soal 5 — Geriatri
Perempuan 74 tahun memiliki riwayat jatuh dua kali dalam enam bulan terakhir. Timed Up and Go menunjukkan mobilitas lambat. Pemeriksaan juga menemukan kelemahan ekstremitas bawah dan keseimbangan dinamis buruk.
Program paling sesuai adalah ….
A. Bed rest untuk mencegah jatuh
B. Ultrasound pada kedua lutut
C. Massage sebagai satu-satunya terapi
D. Latihan ekstremitas atas saja
E. Program multifaktorial meliputi strengthening, balance, gait, dan edukasi pencegahan jatuh
Jawaban: E
Pembahasan:
Risiko jatuh pada lansia bersifat multifaktorial. Intervensi perlu menargetkan kekuatan, keseimbangan, gait, kemampuan fungsional, dan faktor lingkungan.
Soal 6 — Olahraga: ACL
Atlet sepak bola tujuh bulan setelah rekonstruksi ACL tidak mengeluhkan nyeri dan ROM penuh. Ia ingin kembali bertanding. Namun hasil functional hop test menunjukkan asimetri yang masih bermakna dan kontrol landing sisi operasi buruk.
Keputusan paling tepat adalah ….
A. Menunda return to sport dan melanjutkan rehabilitasi berdasarkan defisit objektif
B. Mengizinkan pertandingan karena nyeri sudah hilang
C. Menghentikan seluruh strengthening
D. Memberikan ultrasound sebelum pertandingan
E. Mengandalkan waktu pascaoperasi sebagai satu-satunya kriteria
Jawaban: A
Pembahasan:
Return to sport sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan waktu atau hilangnya nyeri. Kekuatan, fungsi, kontrol neuromuskular, dan kemampuan melakukan tugas olahraga perlu dipertimbangkan untuk menurunkan risiko reinjury.
Soal 7 — Muskuloskeletal: Bahu
Perempuan 53 tahun mengalami nyeri bahu dan keterbatasan aktif maupun pasif. Pola keterbatasan paling besar terdapat pada rotasi eksternal, kemudian abduksi, dan rotasi internal. Keluhan berkembang bertahap selama beberapa bulan.
Masalah yang paling sesuai adalah ….
A. Instabilitas anterior akut
B. Adhesive capsulitis dengan pola capsular restriction
C. Ruptur tendon Achilles
D. Cervical myelopathy
E. Epicondylitis lateral
Jawaban: B
Pembahasan:
Adhesive capsulitis umumnya menunjukkan keterbatasan aktif dan pasif dengan pola kapsular, terutama rotasi eksternal. Pemeriksaan harus tetap mempertimbangkan kondisi lain sebelum menetapkan diagnosis fisioterapi dan program intervensi.
Soal 8 — Neuromuskular: Parkinson
Laki-laki dengan Parkinson sering mengalami langkah pendek dan freezing saat melewati pintu. Kekuatan tungkai cukup baik.
Strategi yang paling sesuai adalah ….
A. Bed rest sebelum berjalan
B. Menambah resistance maksimal pada semua latihan
C. Menggunakan external cueing dan latihan gait yang terstruktur
D. Hanya melakukan massage tungkai
E. Menghindari aktivitas berjalan
Jawaban: C
Pembahasan:
External auditory atau visual cueing dapat membantu mengatasi gangguan initiation dan freezing pada sebagian pasien Parkinson. Intervensi harus dikaitkan dengan aktivitas fungsional pasien.
Soal 9 — Kardiovaskular
Pasien mengikuti rehabilitasi setelah penyakit jantung koroner stabil. Saat latihan, muncul nyeri dada baru disertai pusing dan keringat dingin.
Respons fisioterapis adalah ….
A. Menurunkan beban sedikit lalu melanjutkan latihan
B. Meminta pasien beristirahat lima menit kemudian mengulang tes
C. Memberikan strengthening ekstremitas atas
D. Menghentikan latihan dan melakukan penilaian serta aktivasi penanganan medis sesuai kondisi
E. Menganggap keluhan sebagai respons normal latihan
Jawaban: D
Pembahasan:
Nyeri dada baru dengan gejala otonom selama latihan merupakan red flag. Keselamatan pasien mendahului pencapaian target latihan.
Soal 10 — Integumen
Pasien setelah luka bakar pada daerah anterior siku mulai mengalami jaringan parut dan kecenderungan kontraktur fleksi.
Pendekatan fisioterapi yang paling relevan adalah ….
A. Imobilisasi siku dalam fleksi
B. Menghindari seluruh gerakan sampai jaringan parut matang
C. Memberikan massage tanpa latihan
D. Melakukan latihan resistance maksimal segera
E. Mempertahankan ROM dan posisi yang mencegah kontraktur, disertai latihan fungsional sesuai fase penyembuhan
Jawaban: E
Pembahasan:
Pada luka bakar, pencegahan kontraktur dan mempertahankan fungsi merupakan tujuan penting. Intervensi harus menyesuaikan kondisi jaringan dan fase penyembuhan.
Soal 11 — Pemeriksaan Muskuloskeletal
Pelari berusia 28 tahun mengeluhkan nyeri lateral lutut saat berlari jauh. Tidak ada trauma, pembengkakan besar, locking, atau instability. Nyeri muncul konsisten setelah jarak tertentu.
Langkah assessment paling tepat adalah ….
A. Mengkaji pola aktivitas, faktor biomekanik, kekuatan, fleksibilitas, serta reproduksi gejala secara terarah
B. Langsung memberikan ultrasound tanpa pemeriksaan
C. Menentukan program operasi
D. Melarang seluruh aktivitas secara permanen
E. Menetapkan diagnosis hanya berdasarkan lokasi nyeri
Jawaban: A
Pembahasan:
Clinical reasoning muskuloskeletal membutuhkan hubungan antara gejala, loading, biomekanik, dan keterbatasan fungsi. Lokasi nyeri saja tidak cukup menentukan intervensi.
Soal 12 — Rehabilitasi Pascaoperasi
Pasien dua minggu setelah total knee replacement mengalami keterbatasan ROM, edema ringan, dan kelemahan quadriceps. Luka operasi tampak baik dan tidak terdapat tanda infeksi.
Prioritas program adalah ….
A. Sprint training
B. Mobilisasi dan latihan progresif untuk ROM, aktivasi quadriceps, gait, serta fungsi sesuai precautions
C. Bed rest hingga tiga bulan
D. Manipulasi agresif pada semua pasien
E. Hanya menggunakan modalitas pasif
Jawaban: B
Pembahasan:
Rehabilitasi dini bertujuan mengembalikan ROM, aktivasi otot, mobilitas, dan aktivitas fungsional secara bertahap. Intensitas disesuaikan dengan kondisi jaringan dan protokol operasi.
Soal 13 — Pediatri: Developmental Delay
Bayi usia 10 bulan belum dapat duduk tanpa bantuan. Pemeriksaan menunjukkan keterlambatan pada beberapa milestone motorik dan tonus otot rendah.
Langkah fisioterapis yang paling tepat adalah ….
A. Menjamin perkembangan akan normal tanpa evaluasi lain
B. Hanya melakukan massage
C. Melakukan assessment perkembangan komprehensif, menentukan masalah fungsional, dan menyusun intervensi serta kolaborasi bila diperlukan
D. Menunggu sampai usia dua tahun sebelum bertindak
E. Memberikan latihan dewasa dengan intensitas rendah
Jawaban: C
Pembahasan:
Keterlambatan milestone multipel memerlukan evaluasi menyeluruh. Fisioterapis perlu menilai kemampuan motorik, faktor yang memengaruhi aktivitas, partisipasi, serta kebutuhan kolaborasi.
Soal 14 — Deep Vein Thrombosis
Pasien pascaoperasi panggul mengeluhkan nyeri betis mendadak. Salah satu tungkai tampak lebih bengkak, hangat, dan nyeri dibanding sisi lain.
Tindakan paling tepat adalah ….
A. Melakukan massage dalam pada betis
B. Memberikan latihan resistance intensif
C. Meminta pasien berjalan cepat
D. Menghentikan intervensi dan segera mengarahkan pasien untuk evaluasi medis terhadap kemungkinan DVT
E. Memberikan kompres panas lalu mengevaluasi esok hari
Jawaban: D
Pembahasan:
DVT merupakan red flag karena berisiko menyebabkan emboli paru. Manipulasi atau latihan intensif tidak boleh didahulukan sebelum evaluasi medis.
Soal 15 — Kesehatan Wanita
Perempuan enam minggu postpartum mengeluhkan kebocoran urine ketika batuk atau bersin. Tidak ditemukan tanda infeksi atau kelainan neurologis.
Intervensi fisioterapi yang paling relevan adalah ….
A. Imobilisasi pelvis
B. TENS pada regio lumbal sebagai terapi utama
C. Latihan abdominal maksimal tanpa assessment
D. Menghindari aktivitas selamanya
E. Assessment fungsi pelvic floor dan program pelvic floor muscle training yang tepat
Jawaban: E
Pembahasan:
Gejala mengarah pada stress urinary incontinence. Pelvic floor muscle training merupakan bagian penting rehabilitasi setelah assessment yang sesuai.
Soal 16 — Evidence-Based Physiotherapy
Fisioterapis menemukan dua pilihan intervensi untuk pasien dengan kondisi muskuloskeletal. Salah satunya sering digunakan di tempat kerja, sedangkan pilihan lain didukung evidence berkualitas lebih baik dan sesuai preferensi pasien.
Keputusan terbaik adalah ….
A. Mengintegrasikan evidence terbaik, expertise klinis, kondisi, dan preferensi pasien
B. Selalu memilih intervensi yang paling lama digunakan
C. Mengikuti preferensi fisioterapis saja
D. Memilih terapi dengan alat paling mahal
E. Mengabaikan outcome pasien
Jawaban: A
Pembahasan:
Evidence-based practice mengintegrasikan best available evidence, clinical expertise, serta nilai dan preferensi pasien, bukan hanya kebiasaan atau popularitas intervensi.
Soal 17 — Penentuan Outcome
Pasien stroke mengikuti rehabilitasi selama empat minggu. Kekuatan otot meningkat, tetapi keluarga mengatakan pasien masih membutuhkan bantuan besar untuk mandi, berpakaian, dan berjalan di rumah.
Evaluasi paling tepat adalah ….
A. Menyatakan program berhasil penuh karena kekuatan meningkat
B. Menilai kembali outcome pada level aktivitas dan partisipasi serta memodifikasi tujuan terapi
C. Menghentikan rehabilitasi
D. Hanya mengulang manual muscle testing
E. Mengabaikan laporan keluarga
Jawaban: B
Pembahasan:
Perbaikan impairment tidak selalu menghasilkan peningkatan fungsi. Evaluasi fisioterapi perlu melihat body function, activity, dan participation, sehingga tujuan dapat direvisi berdasarkan kebutuhan aktual.
Soal 18 — Geriatri dan Alat Bantu
Lansia dengan kelemahan tungkai mengalami ketidakstabilan saat berjalan. Setelah assessment, fisioterapis mempertimbangkan penggunaan alat bantu.
Prinsip pemilihan alat bantu yang paling tepat adalah ….
A. Memberikan alat yang paling besar agar aman
B. Memilih berdasarkan usia pasien saja
C. Menyesuaikan alat dengan kemampuan fisik, keseimbangan, lingkungan, dan kebutuhan fungsional pasien serta melatih penggunaannya
D. Menyerahkan pemilihan sepenuhnya kepada keluarga
E. Menggunakan alat tanpa pengaturan tinggi
Jawaban: C
Pembahasan:
Alat bantu harus dipilih secara individual. Pengaturan, edukasi, dan latihan penggunaannya penting karena alat yang tidak tepat justru dapat meningkatkan risiko jatuh.
Soal 19 — OSCE dan Profesionalisme
Pada station OSCE, fisioterapis akan melakukan pemeriksaan bahu. Pasien tampak cemas dan belum memahami tindakan yang akan dilakukan.
Langkah awal yang paling tepat adalah ….
A. Langsung memulai pemeriksaan agar waktu tidak habis
B. Meminta pasien mengikuti semua instruksi tanpa penjelasan
C. Menjelaskan hasil diagnosis sebelum assessment
D. Memperkenalkan diri, memverifikasi identitas, menjelaskan prosedur, memperoleh persetujuan, serta menjaga privasi pasien
E. Meminta penguji menjelaskan kepada pasien
Jawaban: D
Pembahasan:
OSCE tidak hanya menilai teknik pemeriksaan. Komunikasi, patient safety, consent, identifikasi pasien, dan profesionalisme merupakan bagian penting dari keterampilan klinis.
Soal 20 — Clinical Reasoning dan Rujukan
Pasien datang untuk terapi nyeri bahu. Saat anamnesis, pasien mengatakan nyeri tidak berhubungan dengan gerakan, semakin berat malam hari, disertai penurunan berat badan tanpa sebab dan kelelahan dalam beberapa bulan.
Keputusan paling tepat adalah ….
A. Memberikan mobilisasi bahu grade IV
B. Memulai strengthening segera
C. Memberikan ultrasound selama dua minggu
D. Menganggap sebagai rotator cuff tendinopathy
E. Menunda intervensi rutin dan merujuk untuk evaluasi medis karena terdapat red flags
Jawaban: E
Pembahasan:
Nyeri nonmekanik, nyeri malam, penurunan berat badan, dan gejala sistemik merupakan red flags. Fisioterapis harus melakukan screening dan mengenali kapan kondisi tidak tepat ditangani sebagai kasus muskuloskeletal rutin.
Persiapkan UKOMNAS Fisioterapis dengan Latihan yang Lebih Terarah

Perbanyak latihan soal berbasis kasus untuk mengasah clinical reasoning, menentukan diagnosis fisioterapi, memilih intervensi, mengenali red flags, serta mengevaluasi hasil terapi. Kunjungi fungsional.id untuk mengakses lebih banyak latihan Soal UKOMNAS Fisioterapis lengkap dengan materi, pembahasan, dan simulasi CAT.


