Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan: Contoh Soal, Materi, Kisi-Kisi Terbaru

Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan merupakan salah satu tahapan penting bagi ASN untuk membuktikan kompetensi dalam merumuskan, menganalisis, dan mengevaluasi kebijakan publik secara sistematis. Melalui uji kompetensi ini, peserta tidak hanya dituntut memahami konsep dasar analisis kebijakan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam berbagai studi kasus yang relevan dengan tugas dan fungsi jabatan fungsional Analis Kebijakan.

Untuk membantu persiapan menghadapi ujian tersebut, diperlukan pemahaman yang baik terhadap materi pokok, contoh soal, serta kisi-kisi terbaru yang menjadi acuan penilaian. Artikel ini disusun sebagai panduan awal agar peserta dapat belajar lebih terarah, mengenali bentuk soal yang sering muncul, dan mempersiapkan diri secara optimal untuk menghadapi uji kompetensi dengan lebih percaya diri.

Apa Itu Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan?

Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan adalah proses penilaian yang dirancang untuk mengukur kemampuan ASN dalam menjalankan tugas-tugas analisis kebijakan secara profesional. Ujian ini biasanya mencakup pemahaman terhadap konsep kebijakan publik, kemampuan menganalisis masalah, menyusun alternatif solusi, hingga memberikan rekomendasi kebijakan yang tepat.

Bagi calon peserta, memahami apa itu uji kompetensi menjadi langkah awal yang penting sebelum mempelajari materi, contoh soal, dan kisi-kisi terbaru. Dengan mengetahui gambaran umum ujian sejak awal, peserta dapat lebih mudah mempersiapkan diri dan memahami fokus kemampuan yang perlu dikuasai agar hasil yang diperoleh lebih optimal.

Aspek Penilaian dalam Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan

Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan bertujuan untuk mengukur tingkat penguasaan kompetensi peserta dalam melaksanakan analisis kebijakan publik secara profesional sesuai dengan jenjang jabatannya. Penilaian tidak hanya berfokus pada pemahaman teori kebijakan publik, tetapi juga kemampuan mengidentifikasi isu strategis, mengumpulkan dan menganalisis data, merumuskan alternatif kebijakan, menyusun rekomendasi yang berbasis bukti (evidence-based policy), serta mengevaluasi efektivitas implementasi kebijakan di instansi pemerintah.

Selain kompetensi teknis, peserta juga dinilai dari kemampuan berpikir kritis dan sistematis dalam menyelesaikan permasalahan kebijakan, menerapkan metode analisis yang tepat, memahami regulasi yang menjadi dasar penyusunan kebijakan, serta mengintegrasikan aspek tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dalam setiap proses analisis. Kemampuan berkomunikasi, menyusun policy brief, melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan, serta menyampaikan rekomendasi kebijakan secara objektif dan argumentatif juga menjadi bagian penting dalam proses penilaian. Oleh karena itu, peserta perlu memperdalam materi kebijakan publik, menguasai teknik analisis kebijakan, serta membiasakan diri mengerjakan soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang menuntut kemampuan analisis, evaluasi, dan pengambilan keputusan berdasarkan studi kasus yang relevan dengan tugas Jabatan Fungsional Analis Kebijakan.

Berikut BAB 3 yang menjadi lanjutan setelah BAB 2 Aspek Penilaian dalam Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan.

Strategi Mempersiapkan Diri Menghadapi Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan

Keberhasilan dalam Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teori kebijakan publik, tetapi juga oleh kemampuan peserta dalam mengaplikasikan konsep tersebut untuk menyelesaikan berbagai permasalahan nyata di lingkungan pemerintahan. Oleh karena itu, peserta perlu memahami siklus kebijakan publik secara menyeluruh, mulai dari identifikasi isu strategis, perumusan masalah, analisis kebijakan, penyusunan alternatif solusi, implementasi, hingga monitoring dan evaluasi kebijakan. Penguasaan terhadap regulasi, tata kelola pemerintahan, serta metode analisis kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) juga menjadi bekal penting dalam menghadapi uji kompetensi.

Selain memperdalam materi konseptual, peserta disarankan untuk rutin berlatih mengerjakan soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang menggunakan studi kasus kebijakan publik. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menganalisis data, mengevaluasi dampak kebijakan, mengidentifikasi risiko implementasi, serta menyusun rekomendasi kebijakan yang objektif, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kemampuan menyusun policy brief, melakukan komunikasi kebijakan kepada pemangku kepentingan, dan menyajikan hasil analisis secara sistematis juga perlu terus diasah agar peserta mampu menunjukkan kompetensi yang diharapkan dalam Jabatan Fungsional Analis Kebijakan.

Kisi-Kisi Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan Terbaru

Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan diselenggarakan untuk mengukur kemampuan peserta dalam menghasilkan analisis kebijakan yang berkualitas, berbasis bukti (evidence-based policy), serta mampu memberikan rekomendasi yang mendukung pengambilan keputusan di lingkungan instansi pemerintah. Materi yang diujikan mencakup kompetensi teknis analisis kebijakan, pemahaman regulasi, metodologi penelitian kebijakan, evaluasi program, komunikasi kebijakan, hingga kemampuan menyelesaikan permasalahan strategis melalui pendekatan analitis.

NomorMateri UjiPokok Bahasan
1Jabatan Fungsional Analis KebijakanTugas, fungsi, ruang lingkup pekerjaan, jenjang jabatan, angka kredit, pengembangan profesi, dan standar kompetensi Analis Kebijakan.
2Kebijakan PublikKonsep kebijakan publik, siklus kebijakan, aktor kebijakan, proses perumusan, implementasi, monitoring, dan evaluasi kebijakan.
3Identifikasi Isu StrategisAnalisis lingkungan strategis, identifikasi masalah publik, penentuan prioritas isu, pemetaan pemangku kepentingan (stakeholder mapping), serta analisis akar masalah.
4Analisis KebijakanTeknik analisis kebijakan, analisis biaya-manfaat (cost-benefit analysis), analisis biaya-efektivitas (cost-effectiveness analysis), analisis risiko, serta penyusunan alternatif kebijakan.
5Evidence-Based PolicyPengumpulan data, validasi data, penggunaan data kuantitatif dan kualitatif, pemanfaatan hasil penelitian, serta penyusunan rekomendasi berbasis bukti.
6Metode Penelitian KebijakanMetode penelitian kuantitatif dan kualitatif, teknik pengumpulan data, survei, wawancara, FGD, observasi, analisis dokumen, serta penyusunan instrumen penelitian.
7Analisis Statistik DasarInterpretasi data statistik, indikator kinerja, visualisasi data, analisis tren, serta pemanfaatan data dalam penyusunan rekomendasi kebijakan.
8Penyusunan Policy BriefStruktur policy brief, perumusan isu, analisis alternatif kebijakan, penyusunan rekomendasi, teknik penulisan, serta penyajian informasi yang ringkas dan berbasis bukti.
9Monitoring dan Evaluasi KebijakanIndikator kinerja, monitoring implementasi, evaluasi efektivitas, efisiensi, relevansi, dampak, keberlanjutan program, serta penyusunan rekomendasi perbaikan kebijakan.
10Tata Kelola PemerintahanPrinsip Good Governance, akuntabilitas, transparansi, partisipasi publik, efektivitas, efisiensi, dan integritas dalam proses penyusunan kebijakan.
11Regulasi dan Peraturan Perundang-undanganHierarki peraturan perundang-undangan, teknik penyusunan regulasi, harmonisasi kebijakan, sinkronisasi regulasi, serta implementasi kebijakan pemerintah.
12Komunikasi KebijakanTeknik presentasi hasil analisis, komunikasi dengan pimpinan, penyampaian rekomendasi kebijakan, konsultasi publik, serta koordinasi lintas sektor.
13Manajemen Pemangku KepentinganIdentifikasi stakeholder, analisis kepentingan dan pengaruh, strategi komunikasi, kolaborasi lintas instansi, serta pengelolaan konflik kepentingan.
14Etika Profesi dan IntegritasIndependensi, objektivitas, profesionalisme, kerahasiaan data, pengelolaan konflik kepentingan, dan kode etik Analis Kebijakan.
15Inovasi dan Transformasi KebijakanReformasi birokrasi, transformasi digital pemerintahan, inovasi pelayanan publik, tata kelola berbasis data, dan kebijakan adaptif terhadap perkembangan lingkungan strategis.
16Soal HOTS Berbasis Studi KasusAnalisis permasalahan kebijakan publik, identifikasi akar masalah, penyusunan alternatif solusi, evaluasi dampak kebijakan, penyusunan policy brief, serta rekomendasi kebijakan berdasarkan data dan ketentuan yang berlaku.

Materi yang Perlu Diprioritaskan

  • Kuasai konsep kebijakan publik, siklus kebijakan, tata kelola pemerintahan, serta tugas dan fungsi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan.
  • Pahami teknik identifikasi isu strategis, analisis masalah, penyusunan alternatif kebijakan, dan metode pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based policy).
  • Pelajari metode penelitian kebijakan, analisis data kuantitatif dan kualitatif, interpretasi statistik dasar, serta penyusunan policy brief yang sistematis dan mudah dipahami oleh pengambil kebijakan.
  • Tingkatkan kemampuan dalam monitoring dan evaluasi kebijakan, analisis dampak program, pengelolaan pemangku kepentingan, komunikasi kebijakan, serta penerapan prinsip Good Governance.
  • Biasakan mengerjakan soal HOTS berbasis studi kasus yang menguji kemampuan menganalisis permasalahan publik, mengevaluasi efektivitas kebijakan, menyusun rekomendasi yang berbasis data, serta memberikan solusi yang realistis sesuai praktik penyelenggaraan pemerintahan.

Contoh Soal Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan

Bagian ini menyajikan contoh soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang disusun berdasarkan kisi-kisi Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan. Setiap soal menguji kemampuan peserta dalam menganalisis permasalahan kebijakan publik, menyusun alternatif solusi, mengevaluasi implementasi kebijakan, serta memberikan rekomendasi berbasis bukti (evidence-based policy) sesuai praktik penyelenggaraan pemerintahan.

Soal 1

Sebuah pemerintah daerah mengalami peningkatan angka pengangguran usia produktif. Kepala daerah meminta Analis Kebijakan menyusun rekomendasi kebijakan yang tepat. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah….

A. Langsung menyusun program pelatihan kerja.

B. Mengidentifikasi akar masalah melalui pengumpulan dan analisis data yang valid.

C. Mengadopsi kebijakan daerah lain tanpa kajian.

D. Menentukan anggaran terlebih dahulu.

E. Menunggu instruksi pimpinan berikutnya.

Jawaban: B

Pembahasan: Analisis kebijakan selalu diawali dengan identifikasi masalah dan pengumpulan data agar solusi yang dihasilkan berbasis bukti (evidence-based policy).

Soal 2

Dalam penyusunan alternatif kebijakan, Analis Kebijakan harus mempertimbangkan….

A. Kepentingan pribadi pengambil keputusan.

B. Dampak, biaya, manfaat, risiko, dan kelayakan implementasi setiap alternatif.

C. Pendapat mayoritas pegawai saja.

D. Usulan yang paling murah tanpa analisis.

E. Alternatif yang paling cepat dilaksanakan meskipun tidak efektif.

Jawaban: B

Pembahasan: Alternatif kebijakan harus dianalisis dari berbagai aspek agar menghasilkan rekomendasi yang efektif, efisien, dan dapat diterapkan.

Soal 3

Suatu program pemerintah tidak mencapai target meskipun anggaran telah terserap 100%. Sebagai Analis Kebijakan, pendekatan evaluasi yang paling tepat adalah….

A. Menganggap program berhasil.

B. Mengevaluasi efektivitas, efisiensi, relevansi, dan dampak program terhadap masyarakat.

C. Menambah anggaran.

D. Mengganti seluruh pegawai.

E. Menghentikan seluruh program.

Jawaban: B

Pembahasan: Keberhasilan kebijakan tidak hanya diukur dari penyerapan anggaran, tetapi juga dari pencapaian tujuan dan dampaknya.

Soal 4

Dalam proses identifikasi isu strategis, teknik yang paling tepat untuk mengetahui pihak-pihak yang terdampak kebijakan adalah….

A. Analisis SWOT.

B. Stakeholder Mapping.

C. Benchmarking.

D. Cost Accounting.

E. Audit Internal.

Jawaban: B

Pembahasan: Stakeholder Mapping membantu mengidentifikasi pihak yang memiliki kepentingan dan pengaruh terhadap kebijakan.

Soal 5

Data yang digunakan dalam penyusunan rekomendasi kebijakan sebaiknya….

A. Berdasarkan opini pribadi.

B. Menggunakan data yang valid, relevan, mutakhir, dan dapat dipertanggungjawabkan.

C. Menggunakan data lama tanpa verifikasi.

D. Menggunakan informasi media sosial sebagai sumber utama.

E. Berdasarkan perkiraan.

Jawaban: B

Pembahasan: Prinsip evidence-based policy menuntut penggunaan data yang berkualitas sebagai dasar pengambilan keputusan.

Soal 6

Dalam penyusunan policy brief, informasi yang harus ditampilkan secara jelas adalah….

A. Riwayat hidup penyusun.

B. Permasalahan, analisis, alternatif kebijakan, dan rekomendasi.

C. Seluruh isi laporan penelitian.

D. Daftar pegawai instansi.

E. Anggaran instansi secara rinci.

Jawaban: B

Pembahasan: Policy brief harus ringkas namun mampu menyampaikan isu, analisis, dan rekomendasi yang mudah dipahami oleh pengambil kebijakan.

Soal 7

Ketika hasil analisis menunjukkan bahwa kebijakan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kelompok rentan, Analis Kebijakan sebaiknya….

A. Mengabaikan hasil analisis.

B. Menyusun alternatif kebijakan yang mampu meminimalkan dampak negatif tersebut.

C. Tetap mempertahankan kebijakan.

D. Menghapus seluruh program.

E. Menunggu kritik masyarakat.

Jawaban: B

Pembahasan: Analisis kebijakan bertujuan menghasilkan rekomendasi yang memberikan manfaat optimal dan meminimalkan risiko bagi masyarakat.

Soal 8

Salah satu prinsip utama Good Governance yang harus diperhatikan dalam penyusunan kebijakan adalah….

A. Kerahasiaan seluruh proses.

B. Transparansi, akuntabilitas, efektivitas, dan partisipasi.

C. Keputusan sepihak.

D. Sentralisasi mutlak.

E. Mengutamakan kepentingan kelompok tertentu.

Jawaban: B

Pembahasan: Kebijakan publik yang baik harus menerapkan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance).

Soal 9

Dalam evaluasi implementasi kebijakan, indikator kinerja digunakan untuk….

A. Menghitung jumlah pegawai.

B. Mengukur tingkat keberhasilan pelaksanaan kebijakan dibandingkan target yang telah ditetapkan.

C. Menentukan jabatan pegawai.

D. Menghitung anggaran perjalanan dinas.

E. Menentukan lokasi kantor.

Jawaban: B

Pembahasan: Indikator kinerja menjadi alat untuk mengukur efektivitas implementasi suatu kebijakan.

Soal 10

Sebuah kementerian akan menerapkan kebijakan digitalisasi layanan publik secara nasional. Sebelum kebijakan diberlakukan, Analis Kebijakan diminta memberikan rekomendasi. Langkah yang paling tepat adalah….

A. Langsung mengimplementasikan kebijakan.

B. Melakukan analisis kebutuhan, kesiapan infrastruktur, kapasitas SDM, potensi risiko, serta dampak terhadap masyarakat sebelum menyusun rekomendasi kebijakan.

C. Menentukan aplikasi yang akan digunakan.

D. Menambah anggaran tanpa analisis.

E. Menunggu hasil implementasi.

Jawaban: B

Pembahasan: Soal ini menguji kemampuan peserta dalam melakukan analisis kebijakan secara komprehensif. Seorang Analis Kebijakan harus mampu mengidentifikasi kebutuhan, mengevaluasi kesiapan implementasi, menganalisis risiko, dan menyusun rekomendasi berbasis bukti agar kebijakan dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Soal 11

Sebuah pemerintah daerah berencana menerapkan kebijakan pembatasan kendaraan bermotor di pusat kota untuk mengurangi kemacetan. Sebelum memberikan rekomendasi, Analis Kebijakan perlu melakukan….

A. Survei kepuasan pegawai.

B. Analisis dampak sosial, ekonomi, lingkungan, serta kesiapan implementasi kebijakan.

C. Penambahan anggaran tanpa kajian.

D. Penerapan kebijakan secara langsung.

E. Menunggu adanya keluhan masyarakat.

Jawaban: B

Pembahasan: Analisis kebijakan harus mempertimbangkan dampak multidimensi agar kebijakan yang dihasilkan efektif, efisien, dan dapat diterima oleh masyarakat.

Soal 12

Dalam proses penyusunan rekomendasi kebijakan, ditemukan bahwa data dari dua instansi berbeda menunjukkan hasil yang bertolak belakang. Tindakan yang paling tepat adalah….

A. Menggunakan data yang paling menguntungkan.

B. Melakukan validasi, triangulasi data, serta mengidentifikasi penyebab perbedaan sebelum menyusun rekomendasi.

C. Mengabaikan salah satu data.

D. Menggunakan data yang paling lama.

E. Menghentikan proses analisis.

Jawaban: B

Pembahasan: Prinsip evidence-based policy mengharuskan Analis Kebijakan memastikan kualitas, validitas, dan konsistensi data sebelum digunakan sebagai dasar rekomendasi.

Soal 13

Sebuah program bantuan sosial telah berjalan selama tiga tahun, tetapi angka kemiskinan di wilayah sasaran tidak mengalami perubahan yang signifikan. Analisis yang paling tepat dilakukan adalah….

A. Menambah jumlah bantuan tanpa evaluasi.

B. Mengevaluasi efektivitas program, ketepatan sasaran, mekanisme pelaksanaan, serta faktor eksternal yang memengaruhi hasil kebijakan.

C. Menghentikan seluruh program.

D. Mengganti nama program.

E. Menunggu evaluasi lima tahun berikutnya.

Jawaban: B

Pembahasan: Evaluasi kebijakan harus menilai apakah tujuan program telah tercapai sekaligus mengidentifikasi faktor yang menyebabkan keberhasilan atau kegagalannya.

Soal 14

Dalam proses penyusunan kebijakan publik, konsultasi dengan masyarakat bertujuan untuk….

A. Menambah jumlah peserta rapat.

B. Memenuhi prinsip partisipasi publik serta memperoleh masukan dari pihak yang terdampak kebijakan.

C. Mengurangi biaya penyusunan kebijakan.

D. Menggantikan analisis kebijakan.

E. Menentukan anggaran program.

Jawaban: B

Pembahasan: Partisipasi masyarakat merupakan salah satu prinsip Good Governance sehingga kebijakan lebih responsif terhadap kebutuhan publik.

Soal 15

Seorang Analis Kebijakan diminta menyusun policy brief untuk pimpinan. Karakteristik policy brief yang baik adalah….

A. Sangat panjang dan memuat seluruh data mentah.

B. Singkat, sistematis, berbasis bukti, serta berisi rekomendasi yang jelas dan mudah dipahami.

C. Berisi opini pribadi penyusun.

D. Tidak memerlukan data pendukung.

E. Hanya memuat latar belakang.

Jawaban: B

Pembahasan: Policy brief merupakan dokumen ringkas yang membantu pengambil keputusan memahami isu, analisis, dan rekomendasi secara cepat.

Soal 16

Dalam analisis kebijakan, metode Cost-Benefit Analysis (CBA) digunakan untuk….

A. Menghitung jumlah pegawai.

B. Membandingkan biaya yang dikeluarkan dengan manfaat yang diperoleh dari suatu kebijakan.

C. Menentukan struktur organisasi.

D. Mengukur kepuasan pegawai.

E. Menghitung kebutuhan kendaraan dinas.

Jawaban: B

Pembahasan: Cost-Benefit Analysis digunakan untuk menilai kelayakan suatu kebijakan berdasarkan perbandingan biaya dan manfaat yang dihasilkan.

Soal 17

Sebuah kebijakan telah diterapkan, tetapi pelaksanaannya berbeda di setiap daerah sehingga hasilnya tidak seragam. Langkah yang paling tepat dilakukan Analis Kebijakan adalah….

A. Menghapus kebijakan tersebut.

B. Melakukan monitoring implementasi, mengidentifikasi faktor penyebab perbedaan, serta menyusun rekomendasi perbaikan.

C. Menambah anggaran tanpa evaluasi.

D. Mengganti seluruh pejabat pelaksana.

E. Mengabaikan perbedaan tersebut.

Jawaban: B

Pembahasan: Monitoring implementasi bertujuan mengetahui kesenjangan antara desain kebijakan dan pelaksanaan di lapangan sehingga dapat dilakukan perbaikan.

Soal 18

Dalam penyusunan analisis kebijakan, terdapat tekanan dari pihak tertentu agar hasil rekomendasi menguntungkan kelompok tertentu. Sikap profesional yang harus ditunjukkan Analis Kebijakan adalah….

A. Mengikuti permintaan tersebut.

B. Menyusun rekomendasi secara objektif berdasarkan data, regulasi, dan kepentingan publik.

C. Menghapus seluruh hasil analisis.

D. Menunda penyusunan laporan.

E. Mengikuti keputusan pihak yang paling berpengaruh.

Jawaban: B

Pembahasan: Integritas, independensi, dan objektivitas merupakan kompetensi utama Analis Kebijakan dalam menghasilkan rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Soal 19

Dalam melakukan analisis terhadap suatu kebijakan pendidikan, indikator yang paling tepat untuk menilai keberhasilan implementasi adalah….

A. Jumlah rapat koordinasi yang dilaksanakan.

B. Tingkat ketercapaian tujuan program, peningkatan kualitas layanan, serta dampaknya terhadap masyarakat sasaran.

C. Jumlah kendaraan operasional.

D. Banyaknya pegawai yang mengikuti pelatihan.

E. Jumlah surat yang diterbitkan.

Jawaban: B

Pembahasan: Evaluasi implementasi kebijakan harus berorientasi pada hasil (outcome) dan dampak (impact), bukan hanya pada keluaran administratif (output).

Soal 20

Pemerintah berencana menyusun kebijakan baru mengenai transformasi digital pelayanan publik. Sebagai Analis Kebijakan, rekomendasi yang paling tepat sebelum kebijakan ditetapkan adalah….

A. Langsung menerapkan kebijakan di seluruh daerah.

B. Melakukan identifikasi kebutuhan, analisis kesiapan infrastruktur digital, kapasitas sumber daya manusia, potensi risiko keamanan informasi, analisis biaya-manfaat, konsultasi dengan pemangku kepentingan, serta menyusun alternatif kebijakan yang berbasis bukti sebelum memberikan rekomendasi akhir.

C. Menentukan aplikasi yang digunakan tanpa analisis.

D. Menyerahkan seluruh penyusunan kepada penyedia teknologi.

E. Menunggu evaluasi setelah kebijakan diterapkan.

Jawaban: B

Pembahasan: Soal ini menguji kemampuan analisis komprehensif seorang Analis Kebijakan. Dalam merumuskan kebijakan strategis, diperlukan identifikasi masalah, analisis kebutuhan, penilaian dampak, evaluasi risiko, pelibatan pemangku kepentingan, serta penyusunan rekomendasi berdasarkan prinsip evidence-based policy dan Good Governance agar implementasi kebijakan berjalan efektif, efisien, dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.

Persiapkan diri Anda menghadapi Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan bersama Fungsional.id 

Dapatkan kumpulan soal HOTS terbaru, materi lengkap, kisi-kisi sesuai standar kompetensi, serta pembahasan mendalam untuk membantu Anda belajar lebih efektif dan meningkatkan peluang lulus uji kompetensi. 

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Picture of Tim Asn

Tim Asn

Tim ASN adalah kelompok profesional yang terbiasa menyusun soal. Kami terdiri dari ahli berbagai bidang, berkomitmen menciptakan soal berkualitas tinggi yang relevan dengan kompetensi jabatan.
Butuh Paket Soal Ini?
Akses Sekarang!

Dapatkan Akses Sistem CBT dengan ratusan paket soal + pembahasan!

Butuh Bantuan?