40+ Soal Rekrutmen PHD Petugas Haji Daerah Pelayanan Kesehatan + Pembahasan Lengkap

Rekrutmen Petugas Haji Daerah (PHD) Pelayanan Kesehatan membutuhkan kesiapan dalam memberikan pelayanan medis, penanganan kondisi darurat, pendampingan jemaah rentan, serta koordinasi selama penyelenggaraan ibadah haji.

Artikel ini menyajikan 40+ Soal Rekrutmen PHD Petugas Haji Daerah Pelayanan Kesehatan lengkap dengan kunci jawaban dan pembahasan sebagai bahan latihan untuk membantu Anda menghadapi seleksi dengan persiapan yang lebih terarah.

Mengenal Rekrutmen PHD Petugas Haji Daerah Pelayanan Kesehatan

Petugas Haji Daerah (PHD) Pelayanan Kesehatan bertugas mendukung pelayanan kesehatan jemaah selama penyelenggaraan ibadah haji. Formasi PHD 1448 H/2027 M dibuka dalam dua bidang, yaitu Pelayanan Umum dan Pelayanan Kesehatan.

Untuk bidang kesehatan, calon petugas perlu memiliki kompetensi dalam pelayanan kesehatan jemaah, penanganan kegawatdaruratan, pendampingan lansia dan kelompok rentan, komunikasi, koordinasi tim, serta pengambilan keputusan berdasarkan tingkat kegawatan.

Timeline Seleksi PHD 2027

Berdasarkan informasi seleksi PHD terbaru, jadwal utamanya adalah:

  • Pendaftaran: 5–10 November 2026
  • Pelaksanaan CAT: 14 November 2026
  • Pengumuman hasil seleksi: 16 November 2026

Seleksi PHD dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah. Calon PHD bidang kesehatan juga dipersyaratkan memiliki dokumen profesi seperti Surat Tanda Registrasi dan Surat Izin Praktik untuk dokter atau tenaga keperawatan, sesuai ketentuan yang berlaku.

Dengan jadwal seleksi yang cukup singkat, calon peserta perlu mempersiapkan administrasi sekaligus memperkuat kemampuan menghadapi soal CAT pelayanan kesehatan haji, kegawatdaruratan, pelayanan jemaah, dan situasi operasional di lapangan.

Materi dan Kisi-Kisi Rekrutmen PHD Pelayanan Kesehatan

PHD Pelayanan Kesehatan bertugas membantu petugas kloter dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada jemaah. Karena itu, materi seleksi perlu dipersiapkan pada kemampuan klinis dasar, kegawatdaruratan, pelayanan jemaah risiko tinggi, serta pengambilan keputusan di lapangan. Kisi-kisi yang perlu dipahami antara lain:

1. Pelayanan Kesehatan Jemaah Haji

  • Pemantauan kondisi kesehatan jemaah.
  • Identifikasi keluhan dan tanda bahaya.
  • Pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
  • Penentuan kebutuhan observasi atau rujukan.
  • Dokumentasi dan pelaporan kondisi kesehatan.

2. Kegawatdaruratan Medis

Materi dapat mencakup:

  • Penilaian awal ABCDE.
  • Bantuan hidup dasar.
  • Gangguan kesadaran.
  • Sesak napas.
  • Nyeri dada.
  • Syok.
  • Kejang.
  • Trauma dan jatuh.
  • Triage dan prioritas penanganan.

3. Heat Exhaustion, Heat Stroke, dan Dehidrasi

Cuaca panas menjadi salah satu risiko utama pelayanan kesehatan haji. Petugas perlu mampu membedakan dehidrasi, heat exhaustion, dan heat stroke, melakukan tindakan awal, pendinginan, serta menentukan kapan jemaah memerlukan rujukan.

4. Jemaah Lansia dan Risiko Tinggi

Pelayanan perlu memperhatikan:

  • Jemaah lansia.
  • Penyakit jantung.
  • Hipertensi.
  • Diabetes melitus.
  • Penyakit paru kronis.
  • Gangguan mobilitas.
  • Polifarmasi.
  • Pencegahan kelelahan dan perburukan penyakit kronis.

Jemaah Indonesia memiliki proporsi lansia dan komorbid yang tinggi sehingga aspek ini menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan haji.

5. Penyakit yang Sering Ditemukan pada Jemaah

Materi latihan dapat diarahkan pada pengenalan dan penanganan awal:

  • ISPA.
  • Pneumonia.
  • Hipertensi.
  • Diabetes.
  • Myalgia.
  • Gangguan jantung.
  • Gangguan pernapasan.
  • Dehidrasi dan kelelahan.

Data pelayanan kesehatan haji menunjukkan ISPA, hipertensi, dan myalgia termasuk kasus rawat jalan yang banyak ditemukan, sedangkan pneumonia, hipertensi, dan diabetes banyak ditemukan pada pelayanan rujukan.

6. Farmakologi dan Pengelolaan Obat

Peserta perlu memahami:

  • Obat penyakit kronis.
  • Interaksi obat.
  • Efek samping.
  • Kepatuhan penggunaan obat.
  • Penyimpanan obat.
  • Prinsip pemberian obat yang aman.
  • Pengelolaan perbekalan kesehatan.

7. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

Materi dapat meliputi:

  • Kebersihan tangan.
  • Penggunaan APD.
  • Etika batuk.
  • Pencegahan penularan ISPA.
  • Penggunaan masker.
  • Identifikasi penyakit menular.
  • Pencegahan infeksi dalam kelompok jemaah.

8. Triage, Rujukan, dan Evakuasi

Calon PHD Kesehatan perlu mampu menentukan:

  • Jemaah yang dapat ditangani di tempat.
  • Jemaah yang membutuhkan observasi.
  • Kondisi yang membutuhkan rujukan.
  • Prioritas pasien berdasarkan tingkat kegawatan.
  • Koordinasi evakuasi dengan petugas kesehatan terkait.

Penyelenggaraan kesehatan haji juga mencakup pelayanan kuratif, rehabilitatif, emergency gerak cepat, visitasi, hingga evakuasi jemaah.

9. Pelayanan pada Fase Armuzna

Kondisi Arafah, Muzdalifah, dan Mina membutuhkan perhatian khusus karena aktivitas fisik tinggi, kepadatan jemaah, serta paparan panas. Soal dapat menguji kemampuan menentukan prioritas ketika terjadi kelelahan, dehidrasi, heat stroke, penyakit kronis kambuh, atau kondisi darurat.

10. Komunikasi dan Koordinasi Tim Kesehatan

Materi meliputi:

  • Komunikasi dengan jemaah.
  • Edukasi kesehatan.
  • Komunikasi dengan jemaah lansia.
  • Koordinasi dengan dokter, perawat, petugas kloter, dan layanan rujukan.
  • Pelaporan kasus.
  • Serah terima pasien.

11. Etika dan Profesionalisme

Peserta perlu memahami:

  • Keselamatan pasien.
  • Kerahasiaan informasi kesehatan.
  • Informed consent.
  • Pelayanan tanpa diskriminasi.
  • Integritas.
  • Tanggung jawab profesi.
  • Batas kewenangan tenaga kesehatan.

Contoh Soal Rekrutmen PHD Pelayanan Kesehatan dan Pembahasan

Soal berikut disusun dalam bentuk studi kasus dan HOTS agar Anda terbiasa menentukan tindakan paling tepat berdasarkan kondisi klinis, tingkat kegawatan, keselamatan jemaah, dan koordinasi pelayanan kesehatan haji.

Soal 1

Jemaah berusia 68 tahun tiba-tiba mengeluh nyeri dada menekan yang menjalar ke lengan kiri, disertai keringat dingin dan mual. Tekanan darah 150/90 mmHg dan nadi 104 kali/menit. Prioritas tindakan PHD Pelayanan Kesehatan adalah ….

A. Menghentikan aktivitas, melakukan penilaian ABCDE, memberikan pertolongan awal sesuai kewenangan, dan menyiapkan rujukan segera
B. Meminta jemaah beristirahat selama 30 menit sebelum diperiksa kembali
C. Memberikan obat lambung karena keluhan dapat berasal dari dispepsia
D. Membiarkan jemaah mengikuti rombongan agar tidak tertinggal
E. Menyarankan minum air hangat dan observasi

Jawaban: A

Pembahasan:
Nyeri dada tipikal yang disertai keringat dingin dan mual harus dianggap sebagai kemungkinan sindrom koroner akut sampai terbukti sebaliknya. Penilaian ABCDE, stabilisasi awal, serta koordinasi rujukan harus diprioritaskan karena keterlambatan dapat meningkatkan risiko komplikasi serius.

Soal 2

Di Mina, jemaah usia 72 tahun tampak sangat lemah setelah berjalan cukup jauh. Suhu tubuh 39,8°C, kulit panas, kesadaran mulai menurun, dan jemaah tampak bingung. Tindakan paling tepat adalah ….

A. Memberikan minuman manis dan meminta jemaah beristirahat
B. Memindahkan ke tempat sejuk, melakukan pendinginan aktif, menilai ABCDE, dan segera mengoordinasikan rujukan
C. Memberikan antipiretik lalu menunggu respons
D. Meminta keluarga menjaga jemaah sampai sadar kembali
E. Membiarkan jemaah tidur agar tubuh pulih

Jawaban: B

Pembahasan:
Suhu tinggi disertai gangguan kesadaran sangat mengarah pada heat stroke, yang merupakan keadaan gawat darurat. Pendinginan aktif harus dilakukan segera sambil mempertahankan fungsi vital dan mempersiapkan evakuasi.

Soal 3

Tiga jemaah datang bersamaan. Jemaah pertama mengeluh nyeri lutut ringan, jemaah kedua demam dan batuk tetapi masih stabil, sedangkan jemaah ketiga mengalami sesak berat, sianosis, dan kesulitan berbicara. Prioritas pertama adalah ….

A. Jemaah dengan nyeri lutut karena datang lebih dahulu
B. Jemaah demam karena berpotensi menular
C. Jemaah dengan sesak berat dan sianosis
D. Semua diperiksa berdasarkan nomor antrean
E. Jemaah yang paling tua

Jawaban: C

Pembahasan:
Triage didasarkan pada tingkat ancaman terhadap kehidupan, bukan urutan kedatangan. Sesak berat disertai sianosis menunjukkan gangguan airway atau breathing yang membutuhkan penanganan segera.

Soal 4

Jemaah diabetes menggunakan insulin. Setelah aktivitas fisik cukup berat, ia gemetar, berkeringat, tampak bingung, tetapi masih sadar dan mampu menelan. Tindakan awal paling tepat adalah ….

A. Memberikan insulin tambahan
B. Memberikan air mineral saja
C. Membiarkan beristirahat tanpa intervensi
D. Memberikan sumber glukosa cepat serap dan memantau respons
E. Meminta jemaah makan setelah dua jam

Jawaban: D

Pembahasan:
Gemetar, keringat dingin, dan perubahan perilaku pada pengguna insulin mengarah pada hipoglikemia. Jika masih sadar dan mampu menelan, pemberian karbohidrat cepat serap merupakan langkah awal yang tepat.

Soal 5

Jemaah lansia dengan riwayat hipertensi menunjukkan tekanan darah 190/110 mmHg tetapi tidak mengeluh nyeri dada, sesak, gangguan neurologis, maupun penurunan kesadaran. Pendekatan paling tepat adalah ….

A. Langsung memberi dua jenis antihipertensi
B. Meminta jemaah tetap mengikuti kegiatan
C. Menurunkan tekanan darah secepat mungkin
D. Mengabaikan karena tidak bergejala
E. Mengulang pengukuran dengan teknik benar, menilai tanda kerusakan organ target, dan menentukan kebutuhan observasi atau rujukan

Jawaban: E

Pembahasan:
Angka tekanan darah tinggi perlu dikonfirmasi dan dinilai bersama gejala serta tanda kerusakan organ target. Penurunan tekanan darah yang terlalu agresif tanpa indikasi juga dapat berbahaya.

Soal 6

Jemaah mengalami jatuh dan mengeluh nyeri hebat pada panggul. Kaki tampak memendek dan berotasi keluar. Tindakan paling tepat adalah ….

A. Membantu jemaah berjalan untuk menguji kemampuan mobilisasi
B. Melakukan imobilisasi, menghindari mobilisasi yang tidak perlu, dan menyiapkan rujukan
C. Melakukan pijat pada area yang sakit
D. Menarik tungkai agar panjangnya sama
E. Memberikan kompres panas lalu melanjutkan perjalanan

Jawaban: B

Pembahasan:
Temuan tersebut mencurigakan terhadap fraktur panggul. Mobilisasi paksa dapat memperburuk cedera. Imobilisasi dan rujukan menjadi prioritas.

Soal 7

Batuk, demam, dan sesak dialami jemaah selama beberapa hari. Frekuensi napas meningkat, saturasi oksigen turun, dan terdengar ronki. Kondisi ini paling memerlukan ….

A. Edukasi minum air saja
B. Observasi tanpa pemeriksaan lebih lanjut
C. Evaluasi pneumonia dan pertimbangan rujukan berdasarkan tingkat keparahan
D. Pemberian obat batuk saja
E. Aktivitas ringan untuk memperbaiki ventilasi

Jawaban: C

Pembahasan:
Demam, batuk, takipnea, hipoksemia, dan ronki dapat mengarah pada pneumonia. Penilaian derajat berat dan kebutuhan rujukan perlu dilakukan cepat.

Soal 8

Jemaah COPD mengeluh sesak meningkat setelah aktivitas. Saturasi menurun dan tampak menggunakan otot bantu napas. Apa prioritas awal?

A. Meminta jemaah berbaring telentang
B. Memberikan banyak cairan oral
C. Menunda tindakan hingga dokter datang
D. Melakukan penilaian breathing, memberikan dukungan oksigen sesuai kebutuhan, dan berkoordinasi untuk penanganan lanjut
E. Meminta jemaah berjalan perlahan

Jawaban: D

Pembahasan:
Tanda peningkatan kerja napas dan hipoksemia membutuhkan penilaian respirasi serta dukungan oksigen yang sesuai, kemudian dilanjutkan evaluasi penyebab dan kebutuhan rujukan.

Soal 9

Jemaah lansia mengonsumsi tujuh jenis obat dari beberapa fasilitas kesehatan. Ia mengeluh pusing dan hampir jatuh setiap kali berdiri. Tindakan paling tepat adalah ….

A. Menghentikan semua obat
B. Memberikan obat antimual
C. Menganjurkan tidak minum obat sampai pulang
D. Menambah suplemen
E. Melakukan review obat, mengevaluasi kemungkinan hipotensi ortostatik, dan mengidentifikasi obat yang berpotensi berkontribusi

Jawaban: E

Pembahasan:
Polifarmasi meningkatkan risiko interaksi dan efek samping. Keluhan pusing saat berdiri perlu dievaluasi kemungkinan hipotensi ortostatik dan keterkaitannya dengan obat.

Soal 10

Jemaah mengalami diare berulang disertai muntah. Mukosa mulut kering, nadi cepat, dan urine berkurang. Masalah utama yang perlu diantisipasi adalah ….

A. Dehidrasi dan gangguan elektrolit
B. Hipertensi akut
C. Hiperglikemia tanpa sebab
D. Infeksi kulit
E. Gangguan pendengaran

Jawaban: A

Pembahasan:
Kehilangan cairan melalui diare dan muntah dapat menyebabkan dehidrasi serta gangguan elektrolit. Derajat kehilangan cairan perlu dinilai untuk menentukan terapi dan kebutuhan rujukan.

Soal 11

Di Arafah, seorang jemaah tampak lemah, banyak berkeringat, mengeluh pusing, mual, dan sakit kepala. Suhu 38,5°C dan kesadaran masih baik. Kondisi yang paling mungkin adalah ….

A. Stroke
B. Heat exhaustion
C. Heat stroke
D. Hipotermia
E. Syok anafilaktik

Jawaban: B

Pembahasan:
Heat exhaustion biasanya ditandai kelemahan, berkeringat banyak, pusing, mual, dan suhu meningkat tetapi belum disertai gangguan neurologis berat seperti pada heat stroke.

Soal 12

Jemaah dengan riwayat diabetes tampak mengantuk, napas cepat dan dalam, sangat haus, serta kadar glukosa sangat tinggi. Tindakan paling tepat adalah ….

A. Memberikan makanan manis
B. Menunggu sampai waktu makan
C. Mencurigai kegawatan hiperglikemik dan segera melakukan evaluasi serta rujukan
D. Mengurangi minum
E. Meminta jemaah tidur

Jawaban: C

Pembahasan:
Hiperglikemia berat disertai perubahan kesadaran dan pola napas abnormal dapat menunjukkan kegawatan metabolik. Kondisi ini membutuhkan penilaian serta penanganan di fasilitas kesehatan.

Soal 13

Keluhan demam, batuk, dan pilek terjadi pada beberapa jemaah dalam satu kamar. Langkah pencegahan paling tepat adalah ….

A. Memberikan antibiotik kepada seluruh penghuni kamar
B. Menghentikan seluruh aktivitas rombongan
C. Membiarkan karena ISPA sering terjadi
D. Memperkuat kebersihan tangan, etika batuk, penggunaan masker pada kondisi yang sesuai, dan evaluasi jemaah bergejala
E. Memindahkan semua jemaah ke kamar lain tanpa pemeriksaan

Jawaban: D

Pembahasan:
Pencegahan penularan infeksi saluran napas membutuhkan kombinasi kebersihan tangan, etika batuk, penggunaan masker yang tepat, serta identifikasi dan evaluasi jemaah yang bergejala.

Soal 14

Jemaah tiba-tiba mengalami kejang umum. Tindakan yang paling tepat selama kejang berlangsung adalah ….

A. Memasukkan benda ke dalam mulut
B. Menahan seluruh ekstremitas dengan kuat
C. Memberikan minum
D. Memaksa membuka rahang
E. Melindungi dari cedera, menjaga jalan napas, mencatat durasi kejang, dan menilai kondisi setelah kejang berhenti

Jawaban: E

Pembahasan:
Benda tidak boleh dimasukkan ke dalam mulut penderita kejang. Prioritas adalah mencegah cedera dan memastikan airway tetap aman.

Soal 15

Sebuah obat penyakit kronis milik jemaah harus disimpan pada suhu tertentu. Petugas mendapati obat tersebut ditinggalkan cukup lama di tempat bersuhu sangat panas. Tindakan terbaik adalah ….

A. Menilai persyaratan penyimpanan dan stabilitas obat sebelum digunakan kembali
B. Tetap digunakan karena kemasan belum rusak
C. Mendinginkan obat lalu langsung diberikan
D. Mengurangi dosis
E. Menambahkan obat lain sebagai pengganti sementara

Jawaban: A

Pembahasan:
Paparan suhu di luar ketentuan dapat menurunkan stabilitas dan potensi obat. Keputusan penggunaan harus mempertimbangkan kondisi penyimpanan serta karakteristik sediaan.

Soal 16

Jemaah dengan riwayat alergi obat mengalami sesak, urtikaria luas, hipotensi, dan pembengkakan bibir beberapa menit setelah mendapat obat. Kondisi paling mungkin adalah ….

A. Hipoglikemia
B. Anafilaksis
C. Heat exhaustion
D. Stroke
E. Gastroenteritis

Jawaban: B

Pembahasan:
Keterlibatan sistem pernapasan, kulit, dan sirkulasi setelah paparan alergen mengarah pada anafilaksis. Ini merupakan kegawatan medis yang membutuhkan tindakan segera.

Soal 17

Jemaah mendadak mengalami kelemahan sisi kanan tubuh, bicara pelo, dan sudut mulut menurun. Tindakan paling tepat adalah ….

A. Memberikan makanan
B. Memijat ekstremitas
C. Mencatat waktu awal gejala dan segera melakukan rujukan sebagai dugaan stroke
D. Meminta jemaah tidur
E. Memberikan obat antihipertensi tambahan

Jawaban: C

Pembahasan:
Stroke merupakan kondisi time-sensitive. Waktu onset penting untuk penentuan terapi dan harus segera dikomunikasikan ke fasilitas rujukan.

Soal 18

Jemaah diabetes mengalami luka lecet pada kaki dan ingin tetap berjalan jauh. Pendekatan terbaik adalah ….

A. Membiarkan selama tidak nyeri
B. Menutup dengan kain biasa
C. Memberikan analgesik saja
D. Membersihkan dan menilai luka, melindungi area dari tekanan, serta mencegah infeksi dan perburukan
E. Meminta jemaah melepas alas kaki

Jawaban: D

Pembahasan:
Luka kaki pada diabetes memiliki risiko penyembuhan buruk dan infeksi. Perlindungan luka dan pengurangan tekanan penting untuk mencegah komplikasi.

Soal 19

PHD Kesehatan mendapat informasi bahwa jemaah hipertensi tidak minum obat selama dua hari karena takut sering buang air kecil. Tindakan paling tepat adalah ….

A. Menyetujui penghentian obat
B. Menambah dosis saat malam
C. Mengganti obat tanpa konsultasi
D. Membiarkan sampai pulang
E. Mengklarifikasi jenis obat, menjelaskan pentingnya kepatuhan, dan mengoordinasikan penyesuaian terapi bila memang diperlukan

Jawaban: E

Pembahasan:
Masalah kepatuhan perlu dicari penyebabnya. Penghentian terapi tanpa evaluasi dapat meningkatkan risiko komplikasi, tetapi perubahan regimen juga tidak boleh dilakukan sembarangan.

Soal 20

Tiga jemaah membutuhkan perhatian. Jemaah pertama demam 38°C dan masih mampu beraktivitas, kedua mengalami sesak berat, ketiga mengeluh sakit pinggang kronis. Siapa yang diprioritaskan?

A. Jemaah dengan sesak berat
B. Jemaah demam
C. Jemaah sakit pinggang
D. Jemaah tertua
E. Semua sama

Jawaban: A

Pembahasan:
Triage mengutamakan ancaman terhadap airway, breathing, dan circulation. Sesak berat berpotensi mengancam nyawa sehingga menjadi prioritas pertama.

Soal 21

Jemaah usia 70 tahun tampak linglung setelah berada lama di bawah panas matahari. Nadi cepat, tekanan darah menurun, dan suhu tinggi. Selain pendinginan, aspek penting yang harus segera dievaluasi adalah ….

A. Riwayat pendidikan
B. Airway, breathing, circulation, dan status neurologis
C. Jadwal penerbangan
D. Jumlah koper
E. Menu makan

Jawaban: B

Pembahasan:
Gangguan kesadaran pada paparan panas dapat menunjukkan heat stroke. Penilaian ABCDE tetap menjadi dasar untuk menentukan prioritas resusitasi.

Soal 22

Jemaah yang menggunakan antikoagulan jatuh dan membentur kepala. Ia masih sadar penuh dan tidak mengeluh berat. Sikap paling tepat adalah ….

A. Menganggap aman karena sadar
B. Memberikan analgesik lalu melanjutkan perjalanan
C. Mempertimbangkan risiko perdarahan intrakranial dan melakukan evaluasi lebih lanjut atau rujukan
D. Menunggu sampai muncul penurunan kesadaran
E. Menghentikan antikoagulan tanpa instruksi

Jawaban: C

Pembahasan:
Penggunaan antikoagulan meningkatkan risiko perdarahan setelah trauma kepala. Kondisi awal yang tampak ringan tidak selalu menyingkirkan perdarahan intrakranial.

Soal 23

Jemaah dengan asma mengalami mengi setelah berjalan cepat. Ia membawa inhaler pelega yang biasa digunakan. Tindakan terbaik adalah ….

A. Meminta berhenti bernapas dalam
B. Memberikan antibiotik
C. Menyuruh berjalan agar paru lebih terbuka
D. Membantu penggunaan inhaler sesuai rencana terapi sambil memantau respons dan tanda bahaya
E. Menyimpan inhaler agar tidak digunakan terlalu sering

Jawaban: D

Pembahasan:
Bronkospasme akut pada penderita asma membutuhkan penggunaan reliever sesuai rencana terapi. Respons klinis harus dipantau untuk menentukan apakah diperlukan evaluasi lebih lanjut.

Soal 24

Beberapa jemaah mengalami batuk setelah satu anggota rombongan diketahui memiliki infeksi saluran napas. Apa tindakan paling rasional?

A. Memberikan antibiotik profilaksis kepada semua
B. Memulangkan seluruh rombongan
C. Melarang semua berbicara
D. Menghentikan seluruh obat kronis
E. Melakukan surveilans gejala, memperkuat pencegahan infeksi, dan mengevaluasi jemaah berisiko tinggi lebih ketat

Jawaban: E

Pembahasan:
Pendekatan yang tepat adalah identifikasi dini kasus, pencegahan transmisi, serta perhatian khusus kepada jemaah lansia atau dengan komorbid.

Soal 25

Jemaah mengeluh sakit kepala dan pusing setelah berjalan lama. Tekanan darah normal, suhu tubuh normal, tetapi ia mengaku hampir tidak minum sejak pagi. Tindakan awal paling tepat adalah ….

A. Menilai tanda dehidrasi dan memberikan rehidrasi secara bertahap jika tidak ada kontraindikasi
B. Memberikan antibiotik
C. Menganggap sebagai stroke
D. Memberikan insulin
E. Menyarankan puasa cairan

Jawaban: A

Pembahasan:
Asupan cairan yang rendah setelah aktivitas fisik meningkatkan kemungkinan dehidrasi. Penilaian klinis tetap diperlukan sebelum menentukan derajat dan tata laksana.

Soal 26

Dalam serah terima pasien, petugas hanya mengatakan, “Jemaah ini sesak, tolong ditangani.” Informasi tersebut belum memadai. Serah terima yang lebih baik seharusnya mencakup ….

A. Nama saja
B. Identitas, keluhan utama, temuan penting, tindakan yang sudah diberikan, respons, dan kondisi terakhir
C. Riwayat perjalanan wisata
D. Nama keluarga saja
E. Nomor kamar hotel saja

Jawaban: B

Pembahasan:
Serah terima yang terstruktur mengurangi risiko informasi penting terlewat dan mendukung kesinambungan pelayanan.

Soal 27

Jemaah dengan diabetes membawa insulin tetapi menyimpannya di lokasi yang terkena suhu ekstrem. Petugas seharusnya ….

A. Menambah dosis insulin
B. Menggunakan tanpa pemeriksaan
C. Mengevaluasi kondisi penyimpanan, kemungkinan penurunan potensi, dan memastikan penggantian bila tidak layak digunakan
D. Membekukan insulin
E. Mengencerkan insulin

Jawaban: C

Pembahasan:
Insulin sensitif terhadap kondisi penyimpanan yang tidak sesuai. Paparan panas berlebihan atau pembekuan dapat menurunkan kualitas sediaan.

Soal 28

Jemaah lansia mengalami penurunan kesadaran. Keluarga meminta petugas langsung memberikan obat yang biasa diminum jemaah. Tindakan terbaik adalah ….

A. Memberikan seluruh obat rutin
B. Membiarkan keluarga memberi obat
C. Memberikan satu obat saja
D. Menilai ABCDE dan penyebab penurunan kesadaran terlebih dahulu sebelum pemberian obat oral
E. Memberikan air sebanyak mungkin

Jawaban: D

Pembahasan:
Pada penurunan kesadaran, pemberian obat atau cairan oral dapat meningkatkan risiko aspirasi. Stabilitas fungsi vital harus dinilai terlebih dahulu.

Soal 29

Petugas mengetahui informasi diagnosis salah satu jemaah kemudian ditanya oleh anggota rombongan lain karena penasaran. Respons paling tepat adalah ….

A. Menjelaskan agar rombongan waspada
B. Memberikan informasi tanpa nama
C. Menunjukkan catatan kesehatan
D. Mengumumkan di grup
E. Menjaga kerahasiaan informasi dan hanya menyampaikan sesuai kebutuhan pelayanan

Jawaban: E

Pembahasan:
Informasi kesehatan bersifat rahasia. Penyampaian hanya dilakukan kepada pihak yang berwenang atau jika dibutuhkan untuk keselamatan pelayanan sesuai ketentuan.

Soal 30

Jemaah mengalami henti napas dan tidak terdapat tanda sirkulasi normal. Langkah utama yang harus dilakukan adalah ….

A. Memulai bantuan hidup dasar dan mengaktifkan sistem bantuan darurat
B. Memberikan minum
C. Mengukur tekanan darah berulang kali
D. Menunggu keluarga
E. Memindahkan pasien tanpa penilaian

Jawaban: A

Pembahasan:
Henti jantung atau henti napas membutuhkan respons segera berupa bantuan hidup dasar dan aktivasi sistem pertolongan lanjutan.

Soal 31

Pada fase Armuzna, jemaah dengan gagal jantung mulai mengalami sesak saat istirahat, edema tungkai bertambah, dan sulit tidur telentang. Kondisi ini paling mencurigakan terhadap ….

A. ISPA ringan
B. Perburukan gagal jantung
C. Heat exhaustion ringan
D. Myalgia
E. Dehidrasi sederhana

Jawaban: B

Pembahasan:
Sesak saat istirahat, orthopnea, dan edema yang bertambah dapat menunjukkan dekompensasi gagal jantung dan membutuhkan evaluasi serta penanganan segera.

Soal 32

Jemaah mengalami luka robek cukup dalam dengan perdarahan aktif. Prioritas awal adalah ….

A. Membersihkan luka selama 20 menit terlebih dahulu
B. Menanyakan status vaksinasi
C. Mengendalikan perdarahan sambil menilai kondisi sirkulasi
D. Memberikan antibiotik oral
E. Memotret luka untuk dokumentasi

Jawaban: C

Pembahasan:
Perdarahan aktif dapat mengancam sirkulasi. Kontrol perdarahan menjadi prioritas sebelum tindakan lanjutan.

Soal 33

Jemaah lansia tampak mengantuk setelah menerima obat antihistamin dari rekannya. Obat tersebut ternyata memiliki efek sedatif kuat. Langkah paling tepat adalah ….

A. Membiarkan tidur
B. Memberikan kopi
C. Meminta jemaah berjalan
D. Menilai tingkat kesadaran, risiko jatuh, interaksi obat, dan kebutuhan observasi
E. Menambah antihistamin agar gejala alergi cepat hilang

Jawaban: D

Pembahasan:
Obat sedatif pada lansia dapat meningkatkan risiko delirium, jatuh, serta interaksi dengan obat lain. Evaluasi klinis dan keamanan harus dilakukan.

Soal 34

Jemaah pneumonia yang sedang dirawat mengalami penurunan saturasi, tekanan darah turun, nadi cepat, dan kesadaran memburuk. Kondisi tersebut menunjukkan ….

A. Perbaikan terapi
B. Efek biasa antibiotik
C. Dehidrasi ringan saja
D. Myalgia berat
E. Kemungkinan sepsis atau kegawatan sistemik yang membutuhkan penanganan segera

Jawaban: E

Pembahasan:
Infeksi disertai hipotensi, hipoksemia, takikardia, dan perubahan kesadaran dapat menunjukkan sepsis atau syok. Kondisi ini membutuhkan eskalasi pelayanan segera.

Soal 35

Jemaah yang memiliki hipertensi bertanya apakah obat rutin perlu dihentikan selama kegiatan Armuzna karena aktivitas sangat padat. Respons terbaik adalah ….

A. Menjelaskan bahwa obat rutin tidak dihentikan sembarangan dan perlu disesuaikan berdasarkan kondisi klinis serta arahan tenaga kesehatan
B. Menghentikan seluruh obat
C. Mengurangi dosis menjadi setengah
D. Minum hanya jika pusing
E. Mengganti dengan herbal

Jawaban: A

Pembahasan:
Penyakit kronis membutuhkan kontinuitas terapi. Perubahan regimen perlu didasarkan pada evaluasi klinis, bukan sekadar karena perubahan aktivitas.

Soal 36

Petugas menemukan stok obat dengan tanggal kedaluwarsa yang hampir habis dan jumlah terbatas, sementara kebutuhan meningkat. Prinsip pengelolaan yang tepat adalah ….

A. Menggunakan stok terbaru terlebih dahulu
B. Menerapkan prinsip FEFO sambil memastikan obat masih layak dan sesuai kebutuhan klinis
C. Mencampur stok lama dengan stok baru
D. Menghapus tanggal kedaluwarsa
E. Membagikan sebanyak mungkin sebelum habis masa berlaku

Jawaban: B

Pembahasan:
FEFO berarti first expired, first out. Obat dengan masa kedaluwarsa paling dekat digunakan lebih dulu selama masih memenuhi persyaratan mutu dan sesuai indikasi.

Soal 37

Jemaah dengan demam tinggi, batuk, dan sesak berada satu kamar dengan beberapa lansia berkomorbid. Tindakan paling tepat adalah ….

A. Mengabaikan karena semua sudah berada dalam satu rombongan
B. Membagikan antibiotik kepada semua
C. Memisahkan atau membatasi kontak sesuai kebutuhan, menerapkan pencegahan infeksi, dan mengevaluasi kondisi klinis jemaah
D. Memindahkan lansia ke ruang terbuka
E. Membiarkan jemaah tetap mengikuti kegiatan

Jawaban: C

Pembahasan:
Jemaah dengan gejala infeksi saluran napas perlu dinilai sekaligus dilakukan upaya mengurangi transmisi, terutama karena kelompok lansia dan komorbid berisiko mengalami komplikasi lebih berat.

Soal 38

Jemaah menolak dirujuk meskipun memiliki tanda bahaya. Ia masih sadar penuh dan mampu memahami informasi. Pendekatan paling tepat adalah ….

A. Memaksa tanpa penjelasan
B. Membiarkan tanpa dokumentasi
C. Meminta keluarga menandatangani apa pun
D. Menjelaskan kondisi, risiko, manfaat rujukan, memastikan kapasitas pengambilan keputusan, dan mendokumentasikan keputusan
E. Mengancam agar mau dirujuk

Jawaban: D

Pembahasan:
Informed consent dan informed refusal membutuhkan pemberian informasi yang memadai. Kemampuan pasien memahami konsekuensi keputusan juga perlu dipastikan.

Soal 39

Jemaah dengan nyeri dada tiba-tiba memburuk dan tidak responsif. Rekan petugas sedang menangani jemaah lain. Apa tindakan terbaik?

A. Menunggu petugas senior
B. Memanggil keluarga
C. Memeriksa tekanan darah saja
D. Memberikan obat oral
E. Segera menilai respons, pernapasan, sirkulasi, mengaktifkan bantuan, dan memulai BLS jika indikasi terpenuhi

Jawaban: E

Pembahasan:
Penurunan kesadaran mendadak pada pasien nyeri dada berpotensi menunjukkan henti jantung. Respons cepat sesuai prinsip bantuan hidup dasar sangat menentukan.

Soal 40

Di Mina terjadi beberapa kasus secara bersamaan: satu jemaah mengalami heat stroke dengan gangguan kesadaran, satu jemaah mengalami luka lecet, satu lainnya meminta obat hipertensi rutin, dan satu jemaah mengeluh pegal. Sebagai PHD Pelayanan Kesehatan, prioritas utama adalah ….

A. Menangani jemaah dengan heat stroke terlebih dahulu sambil mendelegasikan kasus yang lebih ringan kepada petugas lain
B. Melayani berdasarkan urutan kedatangan
C. Memberikan obat hipertensi lebih dahulu
D. Menangani luka lecet terlebih dahulu
E. Menangani keluhan pegal karena paling mudah diselesaikan

Jawaban: A

Pembahasan:
Heat stroke dengan gangguan kesadaran merupakan kondisi yang dapat mengancam nyawa. Prinsip triage menempatkan kasus dengan ancaman terhadap fungsi vital sebagai prioritas utama, sementara kasus lebih ringan dapat didelegasikan sesuai kapasitas tim.

Maksimalkan Persiapan Seleksi PHD Pelayanan Kesehatan

Perkuat kemampuan Anda melalui latihan soal kegawatdaruratan, triage, heat stroke, pelayanan jemaah lansia dan risti, farmakologi, pencegahan infeksi, serta penanganan kasus di Armuzna. Di fungsional.id, tersedia latihan Soal Rekrutmen PHD Petugas Haji Daerah Pelayanan Kesehatan lengkap dengan kunci jawaban dan pembahasan untuk membantu persiapan CAT lebih terarah.

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Picture of Tim Asn

Tim Asn

Tim ASN adalah kelompok profesional yang terbiasa menyusun soal. Kami terdiri dari ahli berbagai bidang, berkomitmen menciptakan soal berkualitas tinggi yang relevan dengan kompetensi jabatan.
Butuh Paket Soal Ini?
Akses Sekarang!